Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 51


__ADS_3

Tubuhku lemas, perut belum terisi makanan malah muntah akibat melihat penampakan demit di dalam warung. Aku duduk di motor Mas Gun, menunggu Mas Gun selesai makan. Akhirnya yang di tunggu pun keluar dari warung nasi. Nampak raut puas terpancar dari wajah Mas Gun. Dahi, pipi, kepala botaknya, hingga lehernya basah oleh keringat. Mas Gun menenteng plastik merah, di dalamnya ada sebungkus nasi.


"Kenapa sih nggak mau masuk? Bilangnya tadi lapar, aneh lo Di." ujar Mas Gun.


"Nggak tahu nih kenapa tiba-tiba perut gue mual, kepala pening. Kalau gue masuk ke dalam, bisa-bisa muntah di dalam warung mas." jawabku.


"Lo sakit?" tanya Mas Gun.


"Iya mas, kayaknya ada yang nggak beres nih sama badan gue."


"Nih!" Mas Gun menyerahkan plastik merah berisi sebungkus nasi.


Aaahh, melihat bungkus nasi membuatku kembali membayangkan tetesan liur makhluk bersar berbulu, menjijikkan. Ku ambil plastik merah dari tangan Mas Gun.


"Langsung ngopi aja yuk!" ajak Mas Gun.


"Boleh."


"Lo yang bawa motor lah, kan lo yang tahu tempatnya." perintah Mas Gun.


Sejujurnya badanku sangat lemas, belum ada asupan makanan yang masuk ke dalam perutku. Di samping kedai kopi memang ada beberapa warung nasi, cuma bagaimana nasib nasi bungkus pemberian Mas Gun ini? Apa aku harus berpura-pura tersandung dan nasi bungkus itu jatuh ke selokan? Ah tidak tidak, aku tak pandai berakting.


Kami pun bergegas menuju Kedai Kopi Satu Arah. Begitu sampai, aku alasan perutku terasa mulas mendadak harus segera buang air. Mas Gun memilih meja luar, lalu Wahyu pramusaji berbadan gempal mendekati Mas Gun. Aku bergegas mencari warung nasi terdekat. Masuk dan makan dengan cepatnya, lalu kembali ke kedai dengan cepat.


"Pesan kopi apa mas?" tanyaku.


"Ini kopinya para pecinta kopi Di. Dijamin lo nggak bakal doyan deh." sombong Mas Gun.


"Mana sini gue coba." aku mengambil cangkir kopi Mas Gun, menyeruputnya sedikit.


"Hueekk, apaan nih? Rasanya nggak jelas gini."


"Hahahahahaha. Kan gue bilang, ini cuma buat pecinta kopi Di, lo mah anak bawang di dunia perkopian." Mas Gun kembali menyombongkan dirinya.


Rasanya kecut bercampur pahit, jelas aku tak suka.


"Sana pesan!" suruh Mas Gun.


Aku melambai ke arah Wahyu. Lelaki gempal itu menghampiriku.


"Eh, Mas Adi. Gimana mas kondisi asmara-nya? Lancar kan?" sapa Wahyu.


"Hehehehehe. Lagi kurang lancar nih Mas Wahyu. Eh, gue pesan es kopi susu gula aren dong." ujarku.


"Oke Mas Adi, segera di antar es kopi susu gula aren-nya. Mohon tunggu ya, tapi kalau ini pasti lho, yang nggak pasti mending tinggalin aja. Hehehehehe." ucap Wahyu sambil canda.


Mas Gun menyeruput kopinya dengan mata terpejam menikmati. Aku hanya melihat raut wajah puasnya.


"Aaaahhhh, nikmaaaatt." gumam Mas Gun setelah menyeruput kopi.


"Cocok Di, ini baru cocok buat gue. Nggak nyesel gue di ajak ke sini." sambar Mas Gun.


"Alhamdulillah kalau cocok buat lo." sahutku.

__ADS_1


"Eh Di, gue boleh undang kawan gue nggak? Biar bareng ngopi sama kita. Soalnya dia penggemar, pecinta, dan penikmat kopi banget." pinta Mas Gun.


"Ya monggo mas, kenapa harus izin sama gue sih? Kedai ini kan tempat umum, siapa aja boleh datang. Hehehehehe." jawabku.


Mas Gun menghubungi kawannya, wajahnya sumringah menemukan tempat ngopi enak, seperti menemukan harta karun di dasar samudera.


Es kopi susu gula aren pesananku pun datang. Gelasnya tinggi, perpaduan warnanya pun cantik. Hitam kopi di bagian permukaan, putih susu di bagian tengah, dan warna khas gula aren yang kecoklatan di bagian dasar. Tak lupa Wahyu memberikanku sedotan stainless.


"Lho, sedotannya kok beda Yu?" tanyaku.


"Iya Mas Adi, kedai kita mendukung program pemerintah, Go Green. Mangurangi pemakaian plastik. Keren nggak?" jelas Wahyu.


"Wuiihhh, mantap! Ide siapa ini?" tanyaku lagi.


"Idenya cosmos. Hehehehehe." jawab Wahyu nyeleneh.


"Bang Dede tuh yang punya ide. Silakan di nikmati, jangan lupa kalau di kedai kita nggak sedia WiFi yaa, karena sejatinya ngopi itu bersosialisasi. Hehehehe." sambung Wahyu.


"Hahahahaha. Bisa aja lo!" sahut Mas Gun.


Ku nikmati segelas es kopi di gelas besar. Dingin, nikmat, dan mengobati dahaga. Mas Gun pun tak henti-hentinya bergumam soal kopi yang di nikmatinya, ia bilang ini baru kopi.


"Gue udah meyakinkan diri gue, untuk meninggalkan kopi sachet Di. Karena sebenarnya kopi itu ya seperti ini, gimana menurut lo Di? Hehehehe." Mas Gun berkelar.


"Terserah lo aja mas. Gue nggak ikut campur deh. Tapi awas ya kalau akhir bulan gue lihat lo ngopi sachet." balasku.


"Mana nih Ilham? Bilangnya otewe, sampai sekarang nggak kelihatan batang hidungnya." Mas Gun bicara.


"Kawan lo jadi datang memangnya?" tanyaku.


Tak berapa lama, yang di tunggu Mas Gun datang. Ilham, tubuhnya kurus tak terlalu tinggi. Rambutnya bergelombang, cukup lebat. Mata agak sipit. Dan bibirnya agak maju ke depan. Ilham duduk di samping Mas Gun, begitu datang ia menyodorkan tangan mengajakkua bersalaman.


"Ini kawan gue Di, pecinta kopi sejati. Bener nggak Ham?" Mas Gun memperkenalkan Ilham.


"Ah biasa aja. Udah lama ya?" tanya Ilham.


"Lumayan bang, tapi Mas Gun mau nambah segelas lagi kayaknya tuh!" sahutku sembari senyum.


"Ham, lo mau pesan apa? Kopinya enak Ham, asli nggak bohong gue." ungkap Mas Gun.


Aku melambaikan tangan ke arah Wahyu, dan ia pun menghampiri meja kami.


"Ya Mas Adi, mau pesan lagi atau mau nomor cewek jomblo nih?" tanya Wahyu asal.


"Hahahahahaha. Yang lo bahas cewek terus sih Yu. Ini kawan gue mau pesan."


Wahyu menerangkan menu yang terpampang pada sebuah papan di atas dinding. Setelah Ilham memesan dan Mas Gun nambah secangkir lagi, Wahyu pun pergi menuju gerobak. Hari ini aku tak melihat Bang Dede, kemana ia? Kak Nia pun hanya diam sedari tadi. Tumben sekali, biasanya Kak Nia menyapaku ramah.


Pesanan Mas Gun dan Ilham datang, kami mengobrol dengan santai. Aku pun menjadi akrab dengan Ilham. Mas Gun mengoceh, dan kami tertawa. Ilham melucu, kami pun tertawa.


"Gue ke toilet dulu ya. Ham, lo mau pesan cemilan nggak?" tanya Mas Gun ke Ilham.


"Santai santai, nanti kalau pengen gue pesan kok." jawab Ilham. Mas Gun lalu meninggalkan kami.

__ADS_1


"Di, lo adik kelas Guntur sewaktu mondok dulu?" tanya Ilham.


"Iya bang. Satu desa, satu RW, bahkan satu RT. Hehehehe." jawabku.


"Jangan panggil bang, Ilham aja." ucapnya.


"Masih saudaraan?" tanya Ilham lagi.


"Tetangga, tapi udah gue anggap mas gue sendiri. Mas Gun itu murid ayah gue sewaktu sekolah dulu, murid kesayangan deh." jelasku.


"Ooh gitu." imbuh Ilham.


"Di.." panggil Ilham. Wajahnya nampak ragu hendak berkata sesuatu. Ia melihat sekeliling, melihat ke dalam kedai.


"Kenapa Ham?" tanyaku.


Ia mendekatkan tubuhnya ke arahku.


"Apa yang lo bawa di kantong lo?" tanya Ilham dengan raut wajah serius.


"Eh,"


"Maksudnya?" tanyaku.


"Lo bawa barang apa di kantong lo? Barang yang nggak biasa. Bukan barang sembarangan. Lo bawa apa?" tanya Ilham.


Apa yang di maksud Ilham kalung pemberian si kakek?


"Barang apaan ya?" tanyaku.


"Lo jangan berlagak nggak tahu Di. Ngapain bawa barang seperti itu? Mau ngadu ilmu lo?" llham kembali bertanya, wajahnya makin serius.


"Ngadu ilmu? Ham, gue sama sekali nggak ngerti yang lo maksud. Memang apaan?" tanyaku.


"Di, lo itu bawa jimat. Gue bisa ngerasain sejak gue datang ke sini, jangan bohong sama gue. Maksudnya apa lo bawa-bawa jimat?" llham makin serius.


"Ham, jujur ya. Jimat ini gue nggak tahu sama sekali kegunaannya, gue juga bingung mau cerita ke siapa. Kalau lo ngerti hal-hal mistis dan sebagainya, tolong kasih tahu gue." jelasku.


llham diam, menatap tajam ke arahku.


"Dari mana lo dapat jimat itu?" tanya llham.


"Dari seorang kakek yang nggak gue kenal sama sekali. Dia cuma bilang simpan ini sebagai perlindungan diri buat gue." terangku.


llham kembali melihat sekeliling. Wajahnya menyiratkan sesuatu.


"Simpan nomor gue. Nanti kita bicara lagi soal ini." tutur llham.


Aku pun menyimpan nomor llham. Mas Gun datang, ia menyeka keringat di dahinya, kerah bajunya nampak basah, begitu pun baju bagian lipatan perut.


"Lo kenapa Gun? Habis melahirkan? Hahahaha." ledek llham. Gila, raut wajahnya cepat berubah begitu Mas Gun datang, berubah menjadi seorang llham yang periang dan gemar bercanda.


"Toiletnya sempit banget, gue susah gerak. Hahahaha." ucap Mas Gun.

__ADS_1


Kami pun kembali mengobrol. llham sama sekali tak membahas soal jimat yang ku kantongi, ocehannya mengalir biasa, candanya pun seperti tadi. Dan kami masih tertawa bersama.


__ADS_2