
Rumah Nek Iyah di penuhi para tetangga. Beberapa orang pria memasang tenda di belakang rumah, tepat di halaman kost. Semua nampak sibuk membantu mempersiapkan segalanya. Para ibu sibuk persiapan memandikan jenazah Mbak Wati, sedangkan para bapak mempersiapkan kursi, membersihkan halaman, membuat kayu nisan, dan lainnya.
Aku masuk ke dalam kamar, mengganti baju yang ku pinjam dari Mas Gun dengan baju koko. Setelahnya aku menuju rumah Nek Iyah, untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa. Di depan rumah, aku berpapasan dengan Bang Oji.
"Bang, Mbak Wati meninggal jam berapa?" tanyaku.
Bang Oji tak menjawab, bahkan raut wajahnya nampak seperti orang kesal. Ia berlalu meninggalkanku tanpa menjawab pertanyaanku. Ada apa dengannya? Bang Oji tak ku gubris. Aku pun masuk ke dalam rumah Nek Iyah.
Di dalam rumah nampak beberapa ibu-ibu sedang menemani Nek Iyah duduk di sofa ruang keluarga, ada yang menenangkan, ada juga yang menyiapkan tikar yang di atasnya di gelar kain kafan. Aku menghampiri Nek Iyah, mencium tangannya dan mengucapkan bela sungkawa. Nek Iyah memegang erat tanganku, cengkramannya kuat, tenaganya bukan seperti seorang nenek tua. Aku di peluk oleh Nek Iyah, ia menangis tersedu-sedu.
"Turut berduka cita nek. Semoga amal ibadah almarhumah di terima Allah." ucapku pelan dalam pelukan Nek Iyah.
Tiba-tiba Nek Iyah berbisik di telingaku pelan.
"Gara-gara kau, anakku yang jadi penggantinya."
Deg!
Aku terkejut dengan ucapan Nek Iyah. Gara-gara aku? Apa yang telah ku perbuat? Aku melepaskan pelukan Nek Iyah.
"Makasih dek." ucap Nek Iyah, seketika raut wajahnya berubah dengan ramahnya.
Aku keluar dari rumah Nek Iyah membawa seonggok pertanyaan. Apa maksud perkataan Nek Iyah? Apa ada kaitannya dengan mimpiku semalam? Aku pun kembali ke kamar kost, pintu ku buka lebar. Aku duduk di ruang depan, ku lihat beberapa orang sibuk lalu lalang. Tak terkecuali Kang Ujang, ia berjalan menuju kamarku.
"Assalamualaikum dek." sapa Kang Ujang.
"Waalaikumsalam kang."
"Dek Adi, mohon kesediannya untuk ikut menyolatkan jenazah. Bisa?" tanya Kang Ujang.
"Oh. Bisa kang. Sudah mau di shalatin ya?"
"Iya dek."
"Sebentar saya ganti baju dulu kang." ucapku.
"Saya duluan ya dek. Jenazah di shalatkan di mushola depan sana. Tahu kan?" Kang Ujang memberi tahu.
"Oh, iya saya tahu kang." balasku. Musholla tempat ku shalat maghrib dulu saat pertama kali ku temukan Kost Pak Thamrin.
Aku bergegas menuju mushola dekat gang. Setelah melewati halaman, ku lihat Nek Iyah berdiri di balik jendela rumahnya, ia menatapku dalam, mulutnya komat-kamit seperti berbicara dengan seseorang yang ada di sampingnya. Namun seseorang yang berinteraksi dengannya tak dapat ku lihat. Aku pun bergegas menuju mushola.
Sesampainya, sudah ramai warga yang ikut menshalati jenazah Mbak Wati, Bang Oji ada di barisan paling depan. Kang Ujang pun nampak. Ada seorang bapak perwakilan dari keluarga yang menyampaikan permohonan maaf bagi almarhumah, juga menyampaikan permasalahan utang-piutang, namun aku tak mengenalnya.
Shalat jenazah pun di mulai. Semua nampak khusyuk dan hidmat. Setelah shalat jenazah selesai, keranda pun di angkat menuju mobil untuk di antar kembali ke rumah Nek Iyah. Rencananya, jenazah akan di makamkan di kebun samping kamar 11a.
Iring-iringan keranda jenazah berjalan pelan menuju rumah Nek Iyah, aku ikut berjalan di barisan paling belakang.
"Adek ini yang kost di rumah Nek Iyah ya?" tanya seorang bapak yang berjalan di sebelahku.
__ADS_1
"Iya pak." jawabku sembari melempar senyum.
"Adek sudah berapa lama tinggal di sana?" tanya si bapak kembali.
"Sekitar dua minggu pak. Bapak asli warga sini?" tanyaku.
"Oh dua minggu, lama juga ya,"
"Saya asli warga sini dek. Kebetulan tinggal dekat rumah Ujang, kenal kan sama Ujang?" jelas si bapak.
"Kang Ujang?" tanyaku.
"Iya, Kang Ujang yang bekerja di rumah Nek Iyah." jawab si bapak.
"Kenal pak."
"Terus, kalau yang kemarin meninggal di rumah kosong depan situ, dia kost di sana juga?" tanya si bapak kembali.
"Ooh yang di temuin di rumah kosong itu pak, itu bukan penghuni kost. Itu teman kuliah saya pak."
"Hah, bukan penghuni?" wajah si bapak nampak terkejut mendengar penjelasanku.
"Iya. Memang ada apa pak?" tanyaku dengan penasaran.
Si bapak menarik lenganku, ia menghentikan langkahnya, langkahku pun terhenti.
"Ada apa pak?" tanyaku.
"Kamu lebih baik cepat-cepat pindah dari sana. Sebelum kamu jadi korban selanjutnya." si bapak berkata.
"Korban? Memang korban apa pak?" tanyaku makin penasaran.
"Dek, Nek Iyah itu terkenal punya ilmu hitam dan mempraktekkan ilmunya. Sudah jadi rahasia umum bagi warga sini. Dan menurut cerita, banyak penghuni kost-nya yang menjadi tumbal untuk kesaktian Nek Iyah. Kamu kan orang luar yang kost di sana, lebih baik kamu cepat pindah. Saya takut terjadi apa-apa sama kamu dek." jelas si bapak.
Aku masih mencerna informasi dari si bapak. Sudah beberapa orang yang menyarankan padaku untuk segera pindah dari kost itu. Namun, apa yang menjadi misteri di kost itu? Kalau hanya Nek Iyah yang mempunyai ilmu hitam, rasanya kurang tepat alasan untukku pindah dari sana. Toh, aku tak mengganggunya. Tapi kalau soal penghuni kost yang sering menjadi tumbal, jelas aku harus segara angkat kaki dari sana.
"Memang ada bukti kalau penghuni kost yang jadi tumbal pak?" tanyaku.
"Tahun lalu ada yang kost di sana, dia orang Sumatra. Sekitar sem.."
"Pak Rahmat!" panggil seseorang, lalu si bapak tak meneruskan perkataannya. Kami menoleh ke arah suara.
Bang Oji.
Bang Oji berdiri tak jauh dari tempatku dan si bapak berdiri. Wajahnya nampak angkuh. Sorot matanya tajam.
"Eh, Oji. Kenapa Ji?" tanya si bapak yang di panggil Pak Rahmat.
"Jangan sembarangan ngomong kalau nggak tahu yang sebenarnya!" tukas Bang Oji.
__ADS_1
Pak Rahmat kikuk.
"Eh, em, sa..saya nggak ngomong apa-apa kok." Pak Rahmat nampak gagap.
Bang Oji menatap sinis ke arah Pak Rahmat. Lalu berjalan pelan mendekat ke arah kami.
"Bapak ini kan RT, bapak kan pejabat. Nggak baik kalau ngomong yang tidak-tidak, apa lagi sampai memfitnah." ujar Bang Oji. Pak Rahmat diam, wajahnya tertunduk.
"Saya..saya nggak ngomong yang apa-apa Ji." balas Pak Rahmat.
Bang Oji menatap dalam ke mata Pak Rahmat.
"Bapak di tunggu Pak RW di rumah Nek Iyah, sekarang." ucap Bang Oji, masih dengan tatapan sinisnya.
"Oh iya iya. Kalau begitu saya permisi duluan." kata Pak Rahmat, lalu berlalu meninggalkanku dan Bang Oji.
Bang Oji kini menatapku.
"Lo udah di kasih tahu sama Nek Iyah kan?" tanya Bang Oji.
"Di kasih tahu soal apa bang?" tanyaku dengan santai, aku tak merasa segan dengan tatapan Bang Oji yang begitu sinis kepadaku.
"Jangan percaya dengan orang yang baru lo kenal, apa lagi sampai kasih sesuatu ke lo!" jelasnya.
Aku diam, apa yang Bang Oji maksud Kek Badrun?
"Kok lo bisa tahu Nek Iyah bilang soal itu ke gue?" tanyaku dengan nada sedikit menantang.
"Soal gue tahu dari mana bukan urusan lo. Lo tinggal di kost itu, lo harus ikut aturan Nek Iyah. Paham lo?" Bang Oji membalas dengan nada tinggi.
"Oke bang, gue akan ikut aturan kost-an. Tapi nggak usah bentak-bentak gue, gue bukan anak kecil." balasku lagi.
Bang Oji senyum sinis.
"Sekarang, mana jimat yang masih lo pegang?" tanya Bang Oji.
Hah, jimat? Dari mana ia tahu aku memegang jimat pemberian Kek Badrun. Aku menaruh curiga ke Bang Oji.
"Jimat apa?" tanyaku.
"Berlagak bego, mana jimat yang kakek sialan itu kasih ke lo??" bentaknya lagi.
Terik panas matahari membuat otak Bang Oji tak waras sepertinya.
"Gue nggak ngerti yang lo maksud bang. Jimat apa? Gue bukan dukun, mana punya jimat!" sergahku.
Bang Oji diam, sepertinya amarahnya memuncak. Aku tetap bersikap tenang.
"Oke kalau lo nggak mau kasih. Suatu saat, gue akan ambil jimat itu dari lo. Ingat baik-baik, lo udah bikin Nek Iyah marah, lo udah bikin Si Merah murka. Tunggu aja balasannya!" ucap Bang Oji pelan.
__ADS_1
Bang Oji berlalu meninggalkanku.
Aku diam, berdiri mematung. Perkataan Bang Oji membuatku sedikit syok. Kenapa Bang Oji semarah itu? Ada apa dengannya? Dan, kenapa ia bawa-bawa nama Nek Iyah dan Si Merah? Aku harus tetap tenang dengan ancaman Bang Oji, aku tak boleh gentar sedikit pun.