
Naiklah aku membonceng di belakang llham. Ada setitik keraguan, ada perasaan tak enak, ada sesuatu yang mengganjal. Tapi aku tak tahu apa itu. llham memacu motornya, melewati jalan raya, entah aku mau di bawa kemana. Di langit, kilat nampak menyambar. Cahayanya bak retakan berwarna putih di atas langit yang hitam, sepintas kilatannya bagai membelah pekatnya malam. Gemuruh suara terdengar di kejauhan, entah di mana hujan sudah turun dengan lebatnya.
Diam-diam aku mengirim pesan ke Mas Gun, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu nanti. Tak ada balasan dari Mas Gun. Sial, di saat seperti ini Mas Gun tak merespon.
"Ham, kita mau kemana sebenarnya?" tanyaku.
"Udah diam aja, nanti lo bakal tahu." jawab llham. Ia menekan pedal gas kuat, motornya melaju cepat, melesat membelah lalu lintas malam.
Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku pasrah di bawa kemana. Aku hanya bisa berdoa, semoga llham benar tulus membantuku. Motor berbelok kiri, masuk ke sebuah jalan perumahan dan terus lurus. Hingga sampai di ujung jalan, ada sebuah pertigaan. Motor berbelok ke kiri dan masuk ke sebuah gang kecil di sisi kanan jalan. Ada sebuah kebun pisang lebat. Gelap. Kami melewati jalan bebatuan dan tanah. Titik-titik air turun, gerimis.
Kami masih jalan lurus dengan kondisi jalanan yang tak bagus. Hingga sampailah kami di sebuah rumah pondok, dengan dinding terbuat dari kayu, dan lampu berwarna kuning di atap terasnya. llham menghentikan motornya.
"Yuk turun!" ucap llham.
Aku turun dari motor, sembari melihat ke sekeliling. Rumah ini jauh di keramaian, tepat berada di tengah perkebunan pisang, ada bale bambu di depan rumah. Gawat, kalau ada apa-apa bagaimana meminta pertolongan ke warga sekitar. Bahkan, polisi saja susah menemukan tempat ini.
"Ini rumah siapa Ham?" tanyaku.
"Ini rumah guru gue. Yuk masuk!" ajak llham.
llham mengetuk pintu pelan.
"Assalamualaikum Ki,"
"Waalaikumsalam. Aaaarrrgghhh.. eta saha?" ucap seorang kakek tua dengan janggut putih panjang sampai menyentuh dada.
"Ini teman saya Ki, namanya Adi." ucap llham.
"Antosan ti luar!!" ucap kakek itu.
(tunggu di luar)
"Di, lo tunggu aja di luar ya." ucap llham. Pintu pun di tutup.
Aku mengangguk, lalu mundur perlahan. Aku berdiri di depan rumah gubuk. Suasananya menyeramkan, nuansa mistis amat kental terasa. Rintik gerimis masih saja turun, belum begitu deras.
Tak berapa lama, llham keluar bersama kakek. Si kakek bertubuh bungkuk, jalannya tertatih menggunakan tongkat kayu, di ujung pegangan tongkatnya ada sebuah batu hitam berbentuk bulat. Si kakek mengenak kaus putih dan celana hitam.
"Muridku telah menjelaskan padaku," ucap si kakek membuka percakapan.
"Siapa yang memberi mustika keramat itu nak?" tanya si kakek.
"Sebelum saya jawab, boleh saya bertanya dulu kek?" balasku.
__ADS_1
Si kakek mengangguk pelan. llham hanya diam memandangku.
"Sebenarnya ini jimat apa kek?"
"Itu bukan jimat nak, itu mustika Batu Dewa Danawa. Mustika itu banyak di cari orang, auranya saja sanggup mengusir hal-hal yang tidak baik atau jahat. Apalagi kalau di gunakan, bisa-bisa orang itu menjadi tersohor dan masyhur." jelas si kakek.
Aku diam, jimat masih berada di kantongku.
"Siapa yang memberikanmu mustika itu nak?"
"Seorang kakek yang ingin membantuku." jawabku.
"Hehehehe. Jelas ia ingin membantumu nak, jelas sekali," si kakek terkekeh.
"Dalam darah kau mengalir aura yang sangat kuat, mustika itu akan lebih berkhasiat di tangan orang yang mempunyai aura sepertimu. Setelah mustika itu berkhasiat, maka ia akan kembali mengambilnya darimu dengan cara apa pun," jelas si kakek.
"Bahkan dengan membunuhnya sekalipun."
Aku sempat terkaget mendengar si kakek menjelaskan soal mustika ini. Mana yang harus ku percaya? Nek Iyah, si kakek pemberi mustika, atau kakek guru dari llham? Aku tak dapat berpikir jernih saat ini.
"Sekarang ku minta, kau serahkan mustika itu padaku." pinta si kakek.
Aku diam tak menggubris.
Ia diam, bibirnya tersenyum.
"Agar kau kembali hidup tenang nak. Agar tak ada lagi demit yang mengincarmu. Aku tahu belakangan ini sering terjadi hal-hal aneh padamu. Benar?"
Mengincarku?
"Apa maksudnya mengincarku kek?"
"Hehehehehe," lagi-lagi si kakek tertawa terkekeh.
"Darah dan jiwamu ini sangat berarti untuk kelangsungan si pemilik kuntilanak merah nak." jelasnya.
Astaga, pemilik kuntilanak merah! Siapa lagi itu?
"Di, udah jangan banyak tanya! Sekarang lo serahin aja mustika itu ke guru gue!" pinta llham dengan paksa.
Petir menggelegar dengan kuatnya, kilatan cahayanya sekali menerangi gelapnya malam. Rintik gerimis di gantikan hujan deras. Airnya dengan cepat membasahi tubuhku.
"Ham, lo bilang mau bantu gue. Maksudnya ini? Nyerahin mustika ini ke guru lo? Iya?" tanyaku dengan sedikit teriak.
__ADS_1
"Mustika itu di tangan lo nggak berguna Di. Lo nggak butuh mustika itu. Sekarang kasih ke guru gue!" balas llham.
Lagi-lagi petir menggelegar dengan dahsyatnya. Angin bertiup sangat kuat. Lalu, aku merasa pundakku di tepuk dengan pelan, aku menoleh ke belakang. Si kakek pemberi mustika?
Hujan masih turun dengan lebatnya. Kilatan petir menghias derasnya hujan. Sesekali gemuruh petir terdengar menggelegar.
"Untung tak kau berikan mustika itu ke dukun sialan itu nak." ucap si kakek pemberi mustika.
"Hehehehehe. Sudah ku duga, ternyata memang kau Badrun." ucap kakek guru.
Badrun? Seperti pernah ku dengar nama ini. Kakek pemberi mustika ini bernama Kek Badrun.
"Angin apa yang membawamu kemari Badrun? Hehehehe." ucap kakek guru lagi.
"Harusnya kau sudah mati di panggil malaikat maut Sona, belum kapok juga kau bersekutu dengan iblis." ucap Kek Badrun.
"Hahahahahaha. Kau itu lucu Badrun, adikmu pun bersekutu dengan iblis. Kau sadarkan dulu adikmu itu! Baru kau boleh mengoceh di depanku Badrun. Hahahahaha." ujar kakek guru.
Kakek Badrun diam.
"Ki Sona, apa perlu saya beri pelajaran kakek tua itu?" ucap llham, bertanya kepada gurunya yang di panggil Ki Sona.
"Kau diamlah, kakek itu bukan tandinganmu! Dasar bocah bau kencur!" bentak Ki Sona.
Gemuruh petir saling sahut.
"Nak Adi, kau mundurlah. Jaga baik-baik mustika itu." Kakek Badrun menyuruhku mundur.
Dalam derasnya hujan, Kakek Badrun memejamkan mata, tangannya bersedekap di depan dada. Ku lihat Ki Sona pun melakukan hal yang sama. Aku dan llham hanya melihat mereka diam, tak melakukan apa-apa, tak bergerak, tak bergeming.
Sepuluh menit berlalu, mereka berdua masih diam sambil memejamkan mata. Tiba-tiba, Ki Sona ambruk ke tanah. Dari mulutnya memuntahkan darah segar cukup banyak, llham menangkapnya, ia terlihat panik. Kakek Badrun membuka matanya perlahan, ada darah keluar dari ujung mulutnya. Namun tak sebanyak Ki Sona.
"Kek, kakek nggak apa-apa?" tanyaku.
Kakek Badrun menyeka darah dari mulutnya. Ia tersenyum melihatku. Ki Sona masih memuntahkan darah dari mulutnya di iringi batuk yang tak berhenti, janggutnya yang putih berubah menjadi merah karena darah. llham masih memegang tubuh Ki Sona.
"Nak Adi, kakek hanya ingin membantumu." ucap Kakek Badrun.
"I..iya kek." sahutku.
"Mari kita pulang. Nanti akan kakek ceritakan kenapa kakek ingin membantumu." ucap Kakek Badrun lagi.
Kami pun berjalan meninggalkan gubuk reyot Ki Sona. Entah apa yang llham lakukan dengan Ki Sona, yang jelas llham sudah menjebakku agar aku menyerahkan mustika ini ke gurunya, Ki Sona.
__ADS_1
Ini pengalaman supranatural paling menegangkan dalam hidupku. Aku berharap tak ada lagi kejadian mengerikan seperti ini lagi. Semoga.