
"Da, rumah lo enak banget. Gue sih mau kalau di suruh tinggal di sini." kataku sambil merebahkan badan di ranjang Yuda.
"Emang siapa yang suruh lo tinggal di sini? Hahahahaha." ledek Yuda.
Kamar Yuda luas, kasurnya tak memakai ranjang. Segala perabotan di dalam kamar tertata sangat rapi. Layar komputer cukup besar, bahkan tv yang menempel di dinding pun besar. Puas rasanya jika menonton film dengan tv sebesar ini.
Lemari berwarna putih, dengan cermin di sisi pintu sebelah kirinya. Ada karpet dengan bulu halus terhampar di tengah kamar, dan dua buah bantal yang cukup besar pula.
"Da, ini bantalnya gede banget." aku meletakkan kepalaku di atasnya.
"Itu bukan bantal Di, itu tempat duduk." jawab Yuda sambil menghisap rokoknya.
"Tempat duduk? Tempat duduk apaan kayak begini?" tanyaku heran.
"Haduuh, dasar ndeso. Ini namanya bean bag. Duduknya gini nih!" Yuda duduk berselonjor kaki di atas bantal besar yang di sebut bean bag.
Aku mencobanya, waaahh belum pernah kurasakan sebelumnya duduk di bean bag. Nyaman sekali. Aku terus mengeksplor segala perabotan yang belum pernah kulihat dan kugunakan sebelumnya, baik di kamar Yuda maupun di ruang keluarga, juga dapurnya.
Setelah shalat maghrib, Yuda mengajakku makan. Asisten rumah tangga yang di panggil bibi sudah membuat masakan untuk kami makan malam. Ayam goreng, sayur sop, di tambah tempe dan tahu goreng. Kami pun makan malam.
Setelah makan malam, Yuda mengajakku keluar rumah.
"Nih, lo pakai kemeja gue!" Yuda melemparkan selembar kemeja kotak kotak berwarna biru.
"Buat apaan kemeja? Emang mau kemana sih?" tanyaku menyambar kemeja.
"Udah ganti baju aja dulu. Buruan." ucap Yuda, ia telah rapi memakai kemeja biru dongker dan celana hitam, menyemprotkan parfum ke badannya.
"Nih, pakai sepatu gue!" Yuda menyerahkan kotak sepatu.
"Ngapain pakai sepatu segala sih Da?" tanyaku yang masih keheranan.
__ADS_1
"Udah, pakai buruan." suruh Yuda. Dan kupakai sepatu pinjaman dari Yuda.
"Naaahh, gitu kan keren. Nggak kelihatan mahasiswa perantau. Hehehehe." Yuda melihatku dari atas hingga bawah.
"Yuk cabut!" ajak Yuda.
"Sebenernya kita mau kemana Da?" tanyaku.
"Nanti juga lo tahu." Yuda mengedipkan sebelah matanya.
Mobil menerjang lalu lintas malam kota. Lampu gemerlap di jalan membuat pemandangan lebih indah. Sekitar dua puluh menit kami sampai di sebuah...
Tempat apa ini?
"Yuk turun." ajak Yuda.
Nampak muda mudi antre membuat barisan, lelaki dan perempuan. Di ujung barisan berdiri lelaki kekar memamerkan ototnya. Pelan-pelan barisan maju selangkah demi selangkah.
Dadaku seperti di hantam, telingaku tak nyaman, mataku terasa perih. Nampak muda mudi berjoget layaknya orang kesetanan di iringi musik. Saling berdekatan, saling merangkul, ada yang memeluk.
"Ini namanya clubbing." bisik Yuda ke telingaku.
"Kita ngapain ke sini Da?" aku teriak dekat telinga Yuda. Ia hanya menggoyangkan badannya mengikuti irama musik.
Yuda berbisik ke seorang perempuan, lagi-lagi si perempuan mengangguk dan mengajak Yuda ke sebuah sofa setengah melingkar dengan meja bulat di tengahnya. Cahanya remang, hampir nampak gelap.
Aku dan Yuda duduk di sofa, tak lama seorang pelayan perempuan datang membawa dua botol berukuran jumbo ke meja kami.
"Ini apaan Da?" tanyaku.
"Kita enjoy dulu Di, biar kita nggak terlalu tegang hadapin masalah." sahut Yuda.
__ADS_1
Yuda menuangkan minuman dari botol ke dua buah gelas kecil, mengambil satu dan memberikanku segelas.
"Ayo tos!" ajaknya.
"Ini bikin mabuk nggak Da?" tanyaku dengan polosnya.
"Enggak Di, bikin enak pokoknya. Ayo tos!"
Dan kami pun saling menghantamkan kedua gelas dengan pelan, Yuda menenggak minuman. Aku menyicipi sedikit. Huek, rasa apa ini? Tidak keruan dan aneh. Membuat leherku panas.
"Habisin Di." aku pun meminumnya dengan terpaksa.
Yuda kembali menuangkan minuman. Lagi, lagi, dan lagi. Hingga tersisa setengah botol. Kepalaku pusing. Semua yang kulihat terasa samar dan berputar. Aku hanya duduk bersandar, tak berbuat apa-apa.
"Lo kenapa Di? Hahahahaha." Yuda menertawaiku.
"Muka lo merah. Hahahahaha." lanjutnya.
"Parah lo Da, udah bikin gue mabuk begini. Gue ke toilet dulu ah." ujarku, lalu bangun dari sofa.
Hingar bingar musik membuat kepalaku mau pecah rasanya. Tiap sudut di penuhi orang, hingga jalan ke toilet pun saling bersenggolan. Aneh, kenapa orang-orang ini sangat suka di sini? Mereka nampak ceria, saling tertawa, bergoyang bersama.
Sebuah lampu menyorot mataku. Silau, tanganku menutup mata. Menguceknya pelan. Lalu, ada sosok wanita yang tak asing bagiku. Ia berdiri di sudut ruangan, terlihat samar namun jelas. Wajah dan tubuhnya menghadap dinding. Tapi, gaun putih lusuhnya amat kukenal.
Dukk!
Seseorang menabrak lenganku, cukup keras. Aku melihat ke sisi tempat sosok tadi berdiri, namun sudah tak ada. Ah, bodo amat. Kuacuhkan. Aku pun menuju toilet.
Setelah keluar dari toilet, kembali kulihat sosok tadi. Kali ini ia tak menghadap dinding. Ia berdiri tepat di seberangku. Senyumnya menyeringai lebar, matanya terbelalak menyeramkan. Tatapannya tajam ke mataku. Aku menelan ludah. Aku ketakutan.
Aku membuang muka. Tapi sosok wanita tersebut sudah berpindah ke tempat lain dan mataku tertuju kepadanya. Wajahnya masih sama, matanya terbelalak dan senyum menyeringai lebar. Amat menyeramkan. Diakah almarhumah adik Pak Thamrin? Mbak penunggu rumah depan?
__ADS_1