Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 66


__ADS_3

Aku melayat bersama Kang Ujang ke rumah Pak Rahmat. Sudah banyak warga memenuhi rumahnya, bapak-bapak dan ibu-ibu. Karena Pak Rahmat seorang tokoh di daerah ini, pelayat yang datang pun lebih banyak ketimbang saat almarhumah Mbak Wati meninggal. Segerombolan pemuda pun sedang sibuk memasang tenda di depan rumah Pak Rahmat.


Kang Ujang mengantarku masuk ke dalam ruang tamu, tempat jenazah Pak Rahmat di semayamkan, tubuh kakunya di tutup kain transparan berwarna putih. Aku duduk bersimpuh di samping jenazahnya. Lalu menyalami istri almarhum yang menangis sejak tadi, pipinya banjir air mata, matanya sembab, kesedihan terasa amat mendalam baginya.


"Turut berduka cita bu." aku mengucap bela sungkawa.


Istri almarhum membalas, "Iya dek, terima kasih. Maaf kalau bapak ada salah-salah."


Setelah ku ucapkan bela sungkawa, aku membuka kain penutup wajah Pak Rahmat, untuk melihat wajahnya yang terakhir kali.


Sret.


Astagfirullah, aku kaget melihat wajah Pak Rahmat. Matanya masih terbelalak, guratan urat berwarna merah terlihat jelas di bola matanya. Mulutnya menganga lebar, sambil lidahnya terjulur keluar. Urat berwarna kebiruan di sekitaran dahi nampak menonjol, membuatku merinding melihat kondisi jenazah Pak Rahmat.


Kembali ku tutup wajahnya dengan kain. Lalu beranjak ke luar. Kang Ujang duduk menungguku di teras rumah, ku hampiri Kang Ujang.


"Sudah dek?" tanya Kang Ujang.


Ku jawab, "Sudah kang."


"Mau pulang dek? Kan ada tahlil di rumah Nek Iyah."


"Iya kang, tapi saya penasaran. Kenapa kondisi jenazah Pak Rahmat mirip dengan jenazah Mbak Wati ya?" gumamku.


"Itu yang saya bingung dek."


"Kang Ujang sibuk nggak?" tanyaku.


"Saya mau bantu-bantu di sini, setelah itu ke rumah Nek Iyah untuk tahlil." jawab Kang Ujang.


"Oke deh kang. Eh kang, Kang Ujang tahu nggak anak Pak Rahmat yang mana?" tanyaku.


"Anak Pak Rahmat? Mau apa dek? Saya tahu sih." balas Kang Ujang.


"Tunjukin dong kang, ada yang mau saya tanyain sedikit." ucapku sambil tersenyum.


"Dek Adi ini seperti detektip aja. Itu tuh, yang pakai baju warna biru. Ayo saya antar." ajak Kang Ujang.


Kami mendekati lelaki muda, umurnya nampak sepantar denganku. Tubuhnya tinggi jangkung, dengan rambut ikal.


"Dra." panggil Kang Ujang.


"Eh kang." Kang Ujang bersalaman dengan anak Pak Rahmat, aku pun ikut bersalaman dengannya.


"Maafin bapak ya kang, kalau ada salah-salah." ucap si jangkung.


"Iya Dra semoga amal ibadah bapak di terima Alloh ya. Eh Dra, ini teman saya Adi, mau tanya sesuatu sama Hendra." ucap Kang Ujang memperkenalkanku ke Hendra.

__ADS_1


"Oh iya bang." ucap Hendra padaku.


"Saya kost di rumah Nek Iyah bang, kebetulan kenal sama bapak saat pemakaman almarhumah Mbak Wati kemarin." ujarku.


"Boleh tanya sedikit bang soal almarhum?"


"Boleh boleh. Mau tanya apa bang?"


"Sebelum bapak meninggal, ada sakit tertentu nggak bang?" tanyaku.


Hendra mikir sejenak.


"Nggak ada deh kayaknya, sakit bapak cuma masuk angin biasa aja bang. Semalam pulang tahlil dari rumah Nek Iyah kelihatan masih segar bugar." jawabnya.


"Ooh gitu. Em, terus?" tanyaku.


"Malah minta bikinin kopi sama saya semalam. Ngopi segelas di depan rumah sendirian sambil ngerokok, kebetulan saya di ruang tamu lagi main game. Tapi bapak sempat, tanya ke saya sih."


"Tanya apa bang?"


Aku dan Kang Ujang menyimak cerita Hendra.


"Bapak tanya soal pohon mangga di samping rumah. Sudah berbuah atau belum, karena saat bapak lagi ngopi, dia dengar suara kayak mangga jatuh menimpa genteng. Bug Bug Bug, gitu suaranya.."


Hendra meneruskan, "Saya bilang ke bapak, besok di lihat. Eh bapak panggil saya lagi tuh, karena saya sedang main game, jadi nggak saya gubris, saya cuekin."


"Bapak bilang apa memangnya Dra?" tanya Kang Ujang.


"Tapi lo udah cek pohon mangga bang? Udah berbuah atau belum?" tanyaku.


"Nah, itu dia bang. Tadi pagi gue lihat pohon mangga, boro-boro berbuah, pentilnya aja nggak ada. Tapi bapak dengar suara seperti mangga jatuh semalam, saya juga heran sih." jawab Hendra.


"Terus bapak ada tunjukin gejala apa lagi sebelum meninggal?" tanyaku lagi.


"Kata nyokap, yang biasanya bapak bangun subuh, ini nggak bangun. Tidur sampai pagi. Jam delapan ibu bangunin bapak buat sarapan. Eh pas di bangunin, badan bapak udah kaku, nggak bisa bergerak."


Hendra pun bercerita, saat itu kondisi bapak sudah tak bisa berbuat apa-apa. Tangan dan kakinya tak dapat di gerakkan. Matanya sudah melotot. Hanya saja mulutnya masih bisa bersuara, namun tak jelas yang di bicarakan. Keluarga pun memutuskan untuk membawa Pak Rahmat ke rumah sakit. Istri Pak Rahmat hanya bisa menangisi nasib yang menimpa suaminya.


Aku bertanya ke Hendra, "Terus, kata dokter setelah periksa bapak apa Dra?"


"Dokter bingung, di periksa nggak ada penyakit, sampai akhirnya di rontgen dokter bilang nggak ada apa-apa." ujar Hendra.


"Nggak coba di periksa ke pengobatan alternatif?" tanyaku lagi.


"Nggak sempat bang, pulang dari rumah sakit sudah siang. Nah, pas siang itu bapak berontak-berontak dan kejang-kejang sampai sore, udah mulai nggak bisa ngomong, lidahnya pun udah menjulur keluar. Mungkin bapak sedang mengalami sakarotul maut sore tadi." terang Hendra.


"Niatnya habis shalat maghrib tadi, bapak mau di bawa ke pengobatan alternatif. Eh, memang udah umur kali, pas adzan maghrib bapak meninggal."

__ADS_1


Kejang-kejang? Mungkin sama dengan almarhum Mbak Wati, tapi bedanya almarhumah punya riwayat epilepsi, sedangkan Pak Rahmat hanya masuk angin saja, seperti yang Hendra bilang.


"Oh gitu. Kalau begitu makasih informasinya bang. Sekali lagi saya turut berduka cita ya." ucapku.


"Iya, makasih bang." balas Hendra, dan kami pun bersalaman.


Aku pamit undur diri, adzan isya sudah lewat berkumandang. Mungkin sebagian warga sudah hadir ke acara tahlil Mbak Wati. Malam ini, malam ke dua. Kang Ujang bilang akan menyusul setelah membantu keperluan di rumah Pak Rahmat.


Benar dugaanku, sebagian warga sudah ada yang hadir. Terutama kaum bapak-bapak, berkelompok membuat lingkaran saling bersenda gurau. Aku membuka pintu kamar kost, dan masuk. Bersih-bersih dan berwudhu, lalu mengganti bajuku dengan baju koko, serta peci. Aku siap ikut tahlilan.


Warga telah banyak berkumpul. Ibu-ibu pun telah banyak yang hadir, aku duduk tepat di depan kamarku. Eh, ada Bang Oji. Ia pun duduk tepat di depan kamarnya. Aneh, aku lihat Bang Oji yang aneh. Wajahnya pucat, kantung matanya terlihat kemerahan, bibirnya pun pucat. Tatapannya kosong, entah apa yang ia pandangi. Dan lagi, mengapa kepalanya terus bergerak-gerak? Gerak-geriknya seperti bukan Bang Oji.


Tahlil pun di mulai, tahlil malam ini di pimpin oleh seorang ustad. Kang Ujang pun telah bergabung mengikuti tahlil. Nampak Nek Iyah pun ikut tahlil, ia duduk di kursi tepat dekat pintu belakang rumahnya. Tahlil dan doa bersama di laksanakan dengan khidmat, sesekali mataku melihat ke Bang Oji. Tatapannya masih saja kosong, kepalanya bergerak-gerak tak jelas, seperti kena gangguan syaraf. Aneh, Bang Oji sangat aneh. Itu bukan Bang Oji sepertinya.


Doa penutup kembali di pimpin oleh si ustad. Lalu, hidangan cemilan dan kue-kue pun di keluarkan, tak lupa buah. Aku bangun dari dudukku, menghampiri Bang Oji.


"Bang," tegurku.


"Kemana aja lo? Kemarin malam nggak ikut tahlilan sih?" tanyaku.


Bang Oji tak menjawab, kepalanya terus saja bergerak tak keruan. Tatapan matanya kosong.


"Bang, lo sakit?" aku bertanya kembali.


Tapi Bang Oji tetap tak menjawab. Aku mengusap-usap bahunya pelan, tiba-tiba di tepisnya tanganku.


"Lo kenapa bang?" aku bertanya kembali, ku yakin ia tak akan menjawab.


Aku melihat sekeliling, tak ada yang memperhatikan kami. Ku pegang erat lengan Bang Oji, wajahku mendekat ke arah telinganya.


Aku berbisik pelan di telinga Bang Oji,


"Siapa lo udah berani-berani masuk ke tubuh ini?"


Bang Oji menggeram.


Ia bangun dari duduknya, aku terdorong.


Gerak tubuhnya patah-patah, ia berbalik badan dan membuka pintu kamarnya, lalu masuk. Terdengar pintu di kunci.


Itu jelas bukan Bang Oji, nampaknya ia sudah di rasuki. Aku menunggu momen setelah acara tahlil ini, Kang Ujang harus melanjutkan ceritanya. Wajib.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


*)


*mohon maaf teman2 sekalian, karena libur up 2 hari. authornya sakit, sebetulnya bisa di paksain up, tapi takutnya kurang maksimal dan mempengaruhi gaya bahasa. doakan cepet sehat yaaa..

__ADS_1


salam,


vikryviik*~


__ADS_2