
"Bahaya yang mengintai? Apa itu kek?" tanyaku makin penasaran.
Kakek Badrun mendekat ke arahku. Matanya masih menatap tajam, menusuk ke dalam mataku.
"Akan ada seseorang yang menjadi tumbal." jawab Kakek Badrun.
Deg deg deg deg.
Tiba-tiba saja jantungku berdebar.
Akan ada seseorang yang menjadi tumbal. Jelas sangat berbahaya, bisa saja aku, atau siapapun.
"Kek, bagaimana kita tahu kalau Nek Iyah sudah menggunakan mustika itu saat ritualnya? Apa ada tanda-tandanya?" tanyaku.
"Ada tanda paling mudah yang sangat jelas terlihat." ucap Kakek Badrun. "Badriyah akan terlihat jauh lebih muda setelah melakukan ritual itu, sangat jauh berbeda dari sebelumnya." jelas Kakek Badrun.
"Hah, terlihat jauh lebih muda? Apa bisa seperti itu kek?" tanyaku lagi.
"Memang itu tujuannya, ia ingin tetap awet muda, ia ingin hidup lebih lama. Itulah tujuan jika kau bersekutu dengan iblis." terang Kakek Badrun. "Auranya akan tampak berbeda, bagi orang awam yang melihatnya, ia akan terpesona dan bisa saja manut oleh perintahnya. Tapi, bagi orang yang tahu dan memiliki kelebihan dapat melihat hal gaib, wajahnya akan terlihat menyeramkan." lanjut Kakek Badrun.
"Astaga, saya tak habis pikir kek. Bisa sampai seperti itu ya. Apa cuma itu tanda-tanda yang bisa di lihat kek?"
"Ada. Tanda-tanda alam yang sangat jelas terlihat dan kau rasakan." ucap Kakek Badrun.
"Apa? Tanda-tanda alam, apa itu kek?"
"Langit akan mendung selama tujuh hari tujuh malam, dan awan gelap akan menyelimuti di sekitar rumahnya. Namun tak akan turun hujan selama itu. Bagi orang awam yang tinggal di sekitar rumahnya, akan merasa tidak betah karena suasana yang tidak enak akibat aura iblis." jelas Kakek Badrun.
"Jika sampai itu terjadi, maka bersiaplah.."
Jantungku masih berdebar, kali ini makin kencang.
"Bersiap apa kek?" aku bertanya karena makin penasaran.
"Akan terjadi bencana alam hebat di negri ini."
Kengerian menjalar ke seluruh pembuluh darah di dalam tubuhku, bulu kudukku berdiri merinding. Apa sebegitu besarnya kekuatan yang bisa di timbulkan oleh mustika itu? Apa benar semua yang Kakek Badrun jelaskan padaku? Saat ini aku tak ingin menebak-nebak, mau benar atau tidak yang jelas saat ini keselamatanku sedang terancam. Aku harus ambil kembali mustika itu dari tangan Nek Iyah.
"Kakek yakin kamu ragu dengan apa yang kakek ceritakan, tapi percayalah mustika itu bukan mustika sembarangan. Kekuatannya berasal dari hal gaib. Dan semua keselamatan kita sedang terancam, bukan hanya kamu Nak Adi." ujar Kakek Badrun.
Kakek Badrun bisa membaca isi hatiku?
__ADS_1
"Kek, lalu kapan saya harus segera mengambil mustika itu? Dan apa yang harus saya lakukan kek? Jujur, saya sangat bingung saat ini."
"Malam jumat di minggu ini nak! Malam jumat ini bertepatan dengan minggu kedua bulan purnama, tepat malam jumat kliwon. Kau harus cari mustika itu di rumah Badriyah." ujar Kakek Badrun. "Sementara kakek cari cara lain, kau jangan lupa untuk selalu berdoa pada Yang Maha Kuasa. Dan ingat, shalat tahajud jangan sampai terlewat. Selelah apa pun, jangan sampai kau tinggalkan shalat itu nak. Mengerti?"
"Baik kek." ucapku. "Kek, boleh saya tanya sesuatu?"
"Tanyalah yang ingin kau tanyakan nak."
"Mengapa mustika itu begitu penting? Apa hubungannya dengan Nek Iyah?" tanyaku.
Kakek Badrun menghela nafas panjang. Ia duduk di sebuah batu di pinggir lapangan.
"Semua itu karena Tati, semua bencana di keluarga Thamrin adalah karena Tati. Bukan karena Badriyah." ujar Kakek Badrun, matanya menatap ke langit yang terang karena bulan purnama.
"Tati? Apa yang di maksud itu Bi Tati kek? Tukang masak di keluarga Pak Thamrin itu?" tanyaku.
"Iya. Si tukang masak yang berpura-pura menjadi orang biasa, padahal dia adalah seorang sakti."
"Apa, orang sakti?" aku terkejut.
"Iya, dia adalah penganut ilmu putih. Tati sakit hati dengan Thamrin, terutama dengan Badriyah. Karena Thamrin menikah lagi dengan Badriyah, sebelum kepergian istrinya, Nyai Asih. Mereka semua menyalahkan Badriyah yang tidak tahu apa-apa." jelas Kakek Badrun.
"Nak Adi, kau tahu siapa Nyai Asih itu sebenarnya?"
"Memang siapa kek?"
"Nyai Asih adalah anak kandung dari Tati. Umur Thamrin dengan Nyai Asih terpaut sangat jauh, layaknya bapak dan anak. Tapi kenapa Thamrin bisa mengawini Nyai Asih?"
Aku terperanjat dengan cerita Kakek Badrun. Aku menggeleng menjawab pertanyaan Kakek Badrun.
"Thamrin seorang kaya raya sejak lahir ke dunia, keluarga Tati yang hanya petani biasa mempunyai hutang yang sangat banyak dengan keluarga Thamrin. Hutang turun temurun yang mustahil untuk di lunasi oleh keluarga Tati. Sampai suatu saat, Tati berucap akan menyerahkan anak gadisnya yang bernama Nyai Asih untuk di kawinkan oleh Thamrin. Untuk itu, sejak kecil Nyai Asih di urus oleh orang lain, semua biaya di tanggung oleh Thamrin. Saat sudah cukup umur, Nyai Asih pun di kawinkan oleh Thamrin. Tati yang masih menganggap Nyai Asih sebagai anaknya dan rindu yang menggebu, melamar kerja menjadi tukang masak di rumah Thamrin. Tujuannya agar Tati bisa lebih dekat dengan Nyai Asih, walaupun hanya sebagai abdi dalam. Rahasia bahwa Tati adalah ibu kandung dari Nyai Asih tertutupi dengan baik sampai akhir hayat Nyai Asih."
Aku mendengarkan cerita Kakek Badrun dengan seksama, tak ingin ada satu kata pun terlewatkan. Semua misteri satu persatu terbongkar.
"Lalu, mengapa semua salah Bi Tati kek?" tanyaku.
"Tati ingin menuntut balas dengan Thamrin dan Badriyah. Thamrin, seorang lelaki serakah, gelap mata oleh harta, dan mata keranjang. Suami yang telah membiarkan anaknya menderita di akhir hayatnya. Dan menuntut balas pada Badriyah yang merebut Thamrin dari anaknya Nyai Asih." jelas Kakek Badrun.
"Jadi semua ini karena balas dendam kek?" tanyaku.
Kakek Badrun mengangguk.
__ADS_1
"Memang dengan cara apa Bi Tati balas dendam pada Pak Thamrin dan Nek Iyah?" tanyaku makin penasaran. Penasaranku bergejolak hebat, mengalahkan lapar perutku.
"Sebulan setelah Tati di pecat oleh Thamrin, Tati menyantet Badriyah. Ia mengirim santet itu ke Badriyah, satu bulan Badriyah terkapar tak berdaya di atas ranjang. Tiap hari Badriyah memuntahkan paku, dan beling. Serta keluar kawat besi dari dalam pusarnya di sertai darah kental berwarna merah kehitaman. Sungguh miris." cerita Kakek Badrun.
"Lalu bagaimana kelanjutannya kek?" tanyaku.
"Aku sebagai saudara kandung Badriyah membuat perhitungan dengan Tati. Aku bertapa tiga hari tiga malam di Gunung Komang, tanpa makan dan minum. Hingga kudapatkan mustika Batu Dewa Dawana itu dan sesosok iblis yang sangat kejam, kuntilanak merah." cerita Kakek Badrun.
Ia pun melanjutkan, "Batu mustika itu kujadikan kalung dan kupakaikan di leher Badriyah. Kubuka aura Badriyah agar ia dapat menyerap seluruh energi dari mustika itu. Kuperintahkan kuntilanak merah itu untuk menjaga Badriyah dan membantu Badriyah. Tiga hari, hanya tiga hari saja. Santet itu pun berbalik menyerang Tati."
"Kau mau tahu, bagaimana nasib Tati?" tanya Kakek Badrun.
Aku menelan ludah, lalu mengangguk.
"Tubuhnya hangus seperti terbakar, kering. Tak ada setetes pun cairan di tubuhnya, bahkan darahnya sekali pun. Ia mati mengenaskan, kesaktiannya tak dapat menahan kekuatan mustika dan kuntilanak merah itu." terang Kakek Badrun.
Menyeramkan.
"Lalu, bagaimana nasib Pak Thamrin? Apa ia sempat terkena santet juga kek?" tanyaku.
"Hahahahahahaha. Lelaki buaya itu beruntung. Ia tak sempat di santet oleh Tati, karena Tati sudah keburu tewas di tangan Badriyah dan kuntilanak merah. Hahahahaha." Kakek Badrun terkekeh.
"Kau tahu Nak Adi, setelahnya Thamrin menjadi sangat takut dengan Badriyah, wibawanya sebagai seorang lelaki hilang. Ia seperti anjing peliharaan Badriyah. Ia sangat menurut apa kata Badriyah. Hahahahahaha." Kakek Badrun tertawa keras.
"Bahkan, jika Thamrin di suruh untuk makan kotoran oleh Badriyah, aku yakin akan di makan olehnya. Hahahahahahaha."
Aku ikut terkekeh mendengar cerita Kakek Badrun.
"Tapi nak, hahahaha. Tapi Badriyah yang menjadi kuat dan mempunya peliharaan yang sangat sakti, membuatnya menjadi gelap mata." lanjut Kakek Badrun, ia menyeka air matanya yang keluar karena tertawa terbahak tadi.
"Gelap mata? Maksudnya apa kek?" tanyaku.
"Kau tahu Nak Adi, bahwasanya Thamrin itu punya dua adik perempuan."
"Iya, saya tahu kek. Ajeng dan Gendis bukan?" tanyaku.
"Iya betul, Ajeng dan Gendis. Mereka menjadi korban untuk memberi makan peliharaan Badriyah, si kuntilanak merah itu." terang Kakek Badrun.
Deg deg deg deg.
Tiba-tiba jantungku berdebar mendengar kata 'memberi makan kuntilanak merah'. Aku menelan ludah, dahiku berkeringat. Kembali terngiang wajah menyeramkan kuntilanak merah yang pernah kulihat di ruang depan kamarku. Tak ingin lagi kulihat penampakan sosok yang satu itu, kuntilanak merah. Hanya membayangkannya saja membuatku bergidik ketakutan.
__ADS_1