Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 151


__ADS_3

"Di, berarti semua kejadian mistis yang kalian alami memang ulah kuntilanak merah?" tanya Mas Gun.


Aku dan Tika saling pandang.


"Iya mas." jawabku singkat.


"Jadi, semua hal yang nggak wajar dan berkaitan dengan supranatural di kost ini memang ulah kuntilanak merah. Juga ulah.." tambah Tika.


Tika diam, ia tak melanjutkan kata-katanya.


"Ulah siapa lagi Tik?" tanya Mas Gun.


Tika diam.


"Tika! Ulah siapa lagi? Hah?" tanya Mas Gun memaksa.


"Ulah demit pengikutnya Mas. Kuntilanak merah itu punya banyak pengikut." sergahku cepat.


Mas Gun diam. Kami semua diam tak saling pandang.


"Berarti cerita lo soal menjadi incaran kuntilanak merah benar Di?" tanya Mas Gun lagi.


Aku menghela nafas.


"Haduuuhh. Lo masih nggak percaya Mas? Waktu itu kan gue udah cerita panjang lebar sama lo. Kalau lo nggak percaya, buat apa lo sampai pindah kesini?" sahutku.


"Bukan nggak percaya, gue hanya memastikan aja. Berarti kita dalam bahaya dong!" ungkap Mas Gun.


"Emm, bisa dibilang gitu Mas." ucap Tika.


Mas Gun diam. Raut wajahnya tak sedap dipandang.


"Di, Tik. Apa kalian punya rencana biar kita bisa lepas dari ancaman kuntilanak merah itu?" tanya Mas Gun.


Aku mengangkat bahu. Tika hanya diam.


"Bersyukurnya, kita udah memusnahkan empat pengikutnya. Tapi kita nggak tahu, kedepannya akan ada serangan lagi atau enggak dari demit-demit itu." ujar Tika.


Mas Gun tampak cemas.


"Di, lo punya mustika pemberian Kakek itu kan? Itu bisa dipakai kan?" tanya Mas Gun.


"Buat perlindungan kita." tambahnya.


"Hehehehehe." aku terkekeh.


"Heh! Kenapa ketawa lo? Emang ada yang lucu?" tanya Mas Gun.


"Lucu aja mas." sahutku.


"Apa yang lucu? Kita dalam bahaya lo bilang lucu. Lucu apanya?" tukas Mas Gun.


"Hehehehe. Dulu lo bilang jangan bergantung dengan jimat dan sebagainya. Musyrik. Sekarang lo malah menggantungkan keselamatan pada mustika ini. Hehehehe." ujarku.


Mas Gun diam. Wajahnya semakin cemas.


"Ya terus gimana Di? Memang ada cara lain?" tanya Mas Gun.


Aku tak dapat menjawab pertanyaan Mas Gun. Mas Gun terlihat lemas, sampai ia menyandarkan tubuh besarnya pada dinding. Raut wajahnya terlihat pasrah.


"Mas," panggilku pelan. Mas Gun melirik ke arahku.


"Mustika itu memang sangat berguna bagi gue. Mustika itu sudah memberi kekuatan yang belum pernah gue rasakan sebelumnya. Memberi perlindungan bagi gue. Namun tetap saja, hanya pada Tuhan kita meminta perlindungan dan pertolongan. Ya mungkin mustika itu yang menjadi wasilah atau perantara untuk saat ini. Insya Allah kita semua bisa terhindar dari ancaman jahat." ujarku mencoba menenangkan Mas Gun.


"Iya Mas. Tenang saja. Kita nggak boleh pasrah dengan keadaan ini. Kita harus melawan. Lo nggak sendirian Mas. Ada gue dan Adi." tambah Tika.


"Iya Tik. Tapi Di, apa lo punya rencana untuk melawan kuntilanak itu? Kita nggak mungkin melawan tanpa adanya persiapan dan rencana matang. Tanpa ada rencana, kita sama saja bunuh diri. Benar kan?" ungkap Mas Gun.


Benar. Apa yang Mas Gun bilang memang sangat benar. Tanpa ada rencana, aku sama saja mengantar nyawaku pada kuntilanak merah itu.


"Rencana untuk saat ini, mungkin kita harus lebih mempersiapkan kekuatan mustika kita masing-masing. Ingat Di, mustika yang kita simpan harus diberi makan." ucap Tika.


"Apa? Mustika harus diberi makan? Lo nggak salah ngomong kan Tik?" tukas Mas Gun.


"Enggak Mas. Yang Tika bilang benar. Mustika yang kita simpan memang harus selalu diberi makan. Seperti handphone saja, harus selalu di charge agar tetap berfungsi. Benar kan Tik?"


"Iya benar." jawab Tika.


"La-lalu, gimana cara kasih makannya? Memang mustika makan apa?" Mas Gun makin penasaran.

__ADS_1


"Tergantung mustikanya. Berbeda mustika, berbeda makanannya. Mustika yang gue dan Adi simpan makanannya adalah shalat tahajud. Entah mustika lainnya." jelas Tika.


Mas Gun mengangguk. Raut wajahnya kini berubah menjadi serius.


"Terus, apa yang bisa gue bantu untuk lebih menguatkan mustika itu Tik?" tanya Mas Gun.


Tika tersenyum.


"Lo nggak harus ikut bantu apa-apa Mas. Karena si pemegang mustikalah yang berkewajiban memberi makan. Lo cukup memperkuat tameng diri lo aja." jelas Tika.


"Gimana caranya?"


Tika menoleh ke arahku.


"Kenapa malah lihat gue?" tanyaku.


Tika diam, ia melihat wajah Mas Gun dengan seksama. Mas Gun salah tingkah.


"Penjamin mata lo Mas!" pinta Tika.


"Ulurin tangan kanan!"


Mas Gun mengulurkan tangan kanannya sambil memejamkan mata.


Tika memegang tangan Mas Gun. Ia ikut memejamkan matanya. Sebelumnya ia menghela nafas panjang. Aku hanya diam melihat mereka. Entah apa yang sedang mereka lakukan.


Tak lama Tika membuka matanya. Nafasnya sedikit terengah.


"Lo kenapa Tik?" tanyaku.


Mas Gun membuka matanya. Ia kebingungan melihat Tika terengah-engah.


"Eng-enggak apa-apa kok." jawab Tika singkat.


Aku mengambil segelas air untuk Tika. Tika meneguk sedikit air. Kini ia lebih baik.


"Kenapa Tik?" tanyaku.


"Dalam diri Mas Gun ada kekuatan yang tersimpan Di. Kekuatan itu berasal dari pendahulunya, entah Kakek atau Kakek Buyutnya. Cuma Mas Gun nggak bisa memakainya." jelas Tika.


"Apa? Jadi gue ada keturunan orang sakti gitu?" tanya Mas Gun terkejut.


"Apa kekuatan itu bisa dipakai oleh Mas Gun Tik?" tanyaku.


"Emmm, kemungkinan bisa. Cuma gue nggak tahu cara mengaktifkannya." jawab Tika.


"Wahh. Kalau memang bisa dipakai, lumayan buat bantu-bantu untuk melawan kuntilanak merah itu. Iya kan!" sahut Mas Gun.


Aku dan Tika tak menanggapi.


"Sepertinya kita harus ketemu dengan Kakek Badrun. Sudah lama juga ia tak muncul. Setidaknya ia bisa memberi saran bagaimana cara untuk mengalahkan kuntilanak merah itu." ujarku.


"Benar Di. Mungkin Kakek Badrun juga bisa membantu untuk mengaktifkan kekuatan dalam diri Mas Gun. Kalau Mas Gun bisa memakai kekuatannya, ia bisa membantu kita. Setidaknya bisa melawan demit-demit pengikut kuntilanak merah itu." balas Tika.


"Apa? Melawan demit? Enggak enggak enggak. Gue takut. Apa nggak ada pilihan lain Tik? Masa melawan demit sih." ujar Mas Gun.


"Terus lo mau bantu apa Mas? Nyapu? Ngepel? Hehehehehe." sahutku.


Aku dan Tika tertawa, Mas Gun terlihat jengkel.


"Tapi bagaimana cara kita menghubungi Kakek Badrun Tik? Sementara, keberadaannya saja kita nggak tahu." tanyaku pada Tika.


"Komunikasi gaib kan bisa Di." jawab Tika.


"Komunikasi gaib? Gimana caranya Tik? Gue nggak ngerti." sahutku bingung.


"Ambil wudhu sana! Nanti gue kasih tahu." Tika menyuruhku berwudhu. Ia pun ke kamar mandi untuk berwudhu juga.


Kami kembali berkumpul di ruang depan kamarku. Wajah Tika terlihat basah. Kami duduk melingkar. Aku, Tika, dan Mas Gun. Kami semua saling berhadapan.


"Setelah berwudhu, lalu apa?" tanyaku.


"Pejamkan mata lo. Lalu niat dalam hati ingin bertemu dengan orang yang ingin lo temui. Konsentrasi. Kita bisa terhubung dengan orang tersebut, asalkan orang itu mempunyai kelebihan juga. Sama seperti kita. Mengerti?" jelas Tika.


"Cuma gitu doang?" tanyaku.


Tika tersenyum.


"Nggak semudah yang lo bayangin. Coba saja!" suruh Tika.

__ADS_1


"Ini butuh konsentrasi yang benar-benar tinggi. Konsentrasi buyar sedikit saja, lo nggak akan bisa terhubung dengan orang tersebut." tambah Tika.


Aku mulai memejamkan mata.


"Ingat, tujuan lo hanya untuk berkomunikasi. Nggak lebih." ucap Tika.


Seketika aku kembali membuka mata.


"Iya iya." sahutku.


Aku kembali memejamkan mata.


"Fokusin aura dari mustika yang lo pakai." Tika kembali berucap.


Aku membuka mata.


"Iya Tika. Boleh gue coba nggak? Dari tadi diganggu terus sama ocehan lo." tukasku.


Tika senyum-senyum.


Aku kembali memejamkan mata. Mencoba berkonsentrasi. Kutarik nafas dalam, lalu kuhela dengan pelan.


Bismillahirrahmanirrahiem.


Hawa panas terasa menjalar pada tubuhku.


BRAKKK!


Syuuuuuu. Hawa panas seketika hilang.


Gangguan apa itu? Fokusku hilang. Konsentrasiku buyar.


"Susah kan?" tanya Tika.


"Suara apaan sih tadi? Bikin fokus hilang aja. Kalau nggak ada gangguan tadi, mungkin gue udah bisa berkomunikasi gaib tuh!" sungutku.


Tika hanya terkekeh.


"Oke. Gue coba lagi." ucapku.


Aku kembali memejamkan mata. Kucoba fokuskan pikiranku pada cincin yang kukenakan. Aku tak ingin konsentrasiku buyar terganggu dengan hal sekitarku. Sembari kutarik nafas dan kuhela dengan pelan. Pikiranku hanya tertuju pada mustika yang kukenakan dan niatku ingin berkomunikasi dengan Kakek Badrun. Sepintas terbayang wajah Kakek Badrun. Seketika hawa panas kembali menyerang tubuhku.


Syuuuuuuuuuuuuutt. Tubuhku terasa berputar.


Sekitarku tak terdengar apapun. Hening.


"Nak Adi." panggil seseorang, suara yang terasa sangat akrab di telingaku. Kakek Badrun.


Aku mencoba membuka mata. Namun yang terlihat hanya warna hitam kelam.


"Kini kau sudah semakin pandai menggunakan kekuatan mustika itu. Hehehehe." ucap Kakek Badrun. Suaranya menggema.


"Kek, Kek Badrun." panggilku.


"Apa yang bisa kubantu Nak?" tanya Kakek Badrun.


"Kek, saya dan Tika merasa buntu dengan rencana untuk melawan kuntilanak merah itu. Kami tak punya rencana apapun Kek. Tolong kami Kek."


"Hehehehehe," Kakek Badrun terkekeh.


"Kita akan segera bertemu Nak." ucap Kakek Badrun.


"Kapan Kek? Kami merasa nasib dan keselamatan kami sedang di ujung tanduk. Kami butuh saran dari Kek Badrun." balasku.


"Segera Nak. Kita akan segera bertemu." sahut Kakek Badrun dengan suara menggema lalu hilang perlahan.


Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnggggggg. Lalu terdengar suara memekakkan telinga.


Syuuuuuuuuuuuuutt. Tubuhku kembali terasa seperti melayang.


Lalu, kubuka mataku perlahan.


Tampak Tika dan Mas Gun duduk di hadapanku. Nafasku sedikit terengah. Tubuhku terasa lemas.


"Gimana Di?" tanya Tika.


"Iya Di. Gimana?" Mas Gun turut bertanya.


"Kakek Badrun akan segera menemui kita." jawabku.

__ADS_1


__ADS_2