Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 91


__ADS_3

Terus kubaca ayat kursi dalam hati, sambil tetap tenang dan mata terpejam. Suara Tika masih terdengar di telingaku. Aku bernafas dengan normal, sesak di dadaku hilang. Tapi ayat kursi masih kulantunkan dalam hati.


Kubuka mata perlahan.


Alhamdulillah, hilang. Pocong Bang Oji hilang. Namun jantungku masih berdebar.


"Adiiiii!" Tika memanggil namaku tak henti. Aku beranjak dari kasurku menuju ruang depan dan kubuka pintu.


Tika, dengan keringat membasahi dahinya menatapku cemas. Tubuhku lemas.


"Di, lo nggak apa-apa?" tanya Tika.


Aku ambruk, jatuh terduduk. Tika masuk ke dalam kamar mengambil segelas air dan memberikannya padaku. Segelas air cukup menyegarkanku.


"Di, istighfar Di." ucap Tika.


"Tika.. hah.. hah. Ma-makasih ya. Hah.. hah." aku terengah.


"Di, lo di incar Di. Lo sadarkan lo di incar?" Tika berujar. "Lo bukan orang sembarangan Di. Lo punya aura yang berbeda, kalau mereka bisa dapatkan jiwa lo, mereka kekal Di. Mereka nggak terkalahkan." lanjut Tika dengan suara pelan.


"Tika, gue nggak ngerti maksud lo apa." balasku dengan lemas. "Terus apa yang harus gue lakuin Tika?" tanyaku.


"Pikiran lo jangan kosong Di. Mereka nunggu lo lemah." Tika memelankan suaranya.


Aku diam. Bukan mauku semua hal ini terjadi, aku cuma anak kampung yang tak punya hal spesial dan menonjol bagi kebanyakan orang. Apa hebatnya aku? Apa yang sebenarnya ada di dalam diriku? Aura? Melihatnya saja aku tak pernah, apalagi sampai memiliki aura berbeda. Aura Kasih? Pfffttt, omong kosong.


"Jam berapa sekarang Tik?" tanyaku.


"Setengah empat."


Aku diam, duduk bersandar pada dinding kamar.


"Apa karena gue kost di sini, semua ini terjadi sama gue?" aku bergumam sambil menatap langit kamar.


Tika duduk di depanku, ia menghela nafas.


"Di, semua sudah di atur sama Yang Maha Kuasa. Walaupun kadang menurut nalar kita rasa-rasanya nggak mungkin ini takdir, tapi memang begitulah takdir. Jodoh, maut, rejeki, itu semua sudah di atur. Bahkan malam ini kita ngobrol mungkin sudah jalannya." jelas Tika.


"Tika."


"Ya."


"Makasih ya." ucapku.


Tika tersenyum, manis.


"Iya, sama-sama." jawabnya. "Di, gue pesan sama lo. Lo harus kuat, jangan lemah. Mereka punya berbagai macam cara untuk bikin lo goyang. Ingat, manusia derajatnya lebih tinggi ketimbang mereka." lanjut Tika.


"Gue balik ke kamar ya, nggak enak malam-malam masuk kamar cowok, nanti lo kena fitnah lagi. Hehehehe."


"Makasih banyak ya Tika." balasku sembari melempar senyum.


Tika pun meninggalkanku. Aku masih duduk bersandar, memikirkan omongan Tika. Aku harus kuat, aku tak boleh lemah. Mereka punya berbagai macam cara untuk melemahkanku.


Baiklah, sampai di mana kekuatanmu makhluk sial! Ayo kita adu kuat! Aku atau kau yang kalah, aku menyemangati diriku dalam hati.


Aku berwudhu dan melaksanakan shalat tahajud dua rakaat. Aku berdoa pada Yang Maha Kuasa, agar senantiasa melindungiku dalam keadaan apa pun, di mana pun, dan kapan pun.


***


Siang hari setelah kuliah selesai, aku duduk di taman fakultas, duduk pada sebuah bangku semen panjang di bawah pohon. Yuda tak kuliah hari ini, kemana bocah sial itu? Janji ingin mengembalikan kalungku, malah tak masuk kuliah. Pesanku pun tak di balasnya. Kuhubungi tak menjawab.


Aku kembali masuk kelas pukul 15:00, hari ini perkuliahan sampai sore. Yuda pun tak kunjung datang sampai kuliah terakhir di mulai. Astaga, aku baru ingat hari ini ia berniat mengambil mobil yang telah di belinya dari Nek Iyah. Kenapa aku bisa lupa? Hari ini ia sibuk mengurus mobil antik itu.


Pukul 16:45 kuliah terakhir hari ini selesai.

__ADS_1


Kriiiiinnnggg. Ponselku berdering, Yuda.


"Woi, kemana lo nggak kuliah?" tanyaku.


"Hari ini gue sibuk urus mobil, tadi siang gue ke kost lo ambil mobil. Lo dimana Di?"


"Masih di kampus nih, baru kelar kuliah." jawabku.


"Sini ke Satu Arah! Ngopi dulu. Gue mau kasih sesuatu ke lo. Hehehehe." suruh Yuda.


"Wiiihh apaan tuh? Jadi penasaran gue. Yaudah gue jalan ke kedai sekarang." jawabku kemudian kuakhiri panggilan.


Aku bergegas menuju kedai kopi. Rasa penasaranku mengalahkan lelahku menuntut ilmu hari ini. Apa yang sebenarnya Yuda ingin berikan? Ah sial, bikin penasaran saja bocah tengik itu.


"Adiiiii!" aku menoleh, seseorang memanggilku.


Tika.


"Eh Tika." aku menghentikan langkahku. Tika berjalan cepat menghampiriku.


"Udah kelar kuliah lo?" tanya Tika.


"Udah. Lo kelar sore juga?" tanyaku.


"Iya nih. Mau balik ke kosan?"


"Enggak, mau ngopi dulu. Ikut yuk!" aku mengajak Tika.


"Ngopi? Dimana?"


"Samping kampus, kedai kopi langganan gue. Yuk!" ajakku.


Tika diam.


"Asiiikkk. Nggak ada maksud apa-apa kan lo traktir gue?"


"Nggak ada."


"Bukan pedekate kan nih? Hehehehe." canda Tika.


"Hahahahahaha. Nggak ada niat gue pedekate sama lo." jawabku.


Aku dan Tika menuju kedai kopi.


Tika, perempuan dengan kulit putih dan sepasang lesung pipi dengan senyum manis. Dua gigi taringnya terlihat besar. Tinggi badannya sama denganku.


Kami pun sampai di kedai kopi, seperti biasa Yuda mengambil meja luar untuk dapat merokok. Bang Dede duduk menemaninya.


"Siapa tuuuhhh? Hehehehehe." tanya Yuda meledek.


"Ganti lagi aja pacarnya. Yang kemaren mana Di?" tambah Bang Dede.


"Lo berdua apaan sih, ini tetangga kost gue namanya Tika. Tika duduk Tik, maklumin kawan gue ya mulutnya pada iseng. Ini temen kelas gue Yuda. Kalau ini office boy di kedai kopi sini, Bang Dede. Hehehehe" ujarku memperkenalkan Yuda dan Bang Dede pada Tika.


"Hahahaha. Halo. Tika." Tika bersalaman dengan Yuda dan Bang Dede.


Tika duduk di sebelahku.


"Tik, mau pesan apa? Tuh, menunya ada di papan tulis di atas tembok." tunjukku ke arah tembok tepat di atas gerobak kopi.


"Emm, es teh manis aja deh." ucap Tika.


"Yaaaahhh, es teh manis. Neng, ini kedai kopi masa pesan es teh manis. Ke warkop aja dah! Hahahahaha." Bang Dede meledek Tika.


"Hahahahaha. Apa bedanya kedai kopi sama warkop kalau lo jual es teh manis juga. Harusnya lo hapus aja menu es teh manis bang." sahut Tika.

__ADS_1


"Iya ya, bener juga lo. Hehehehehe." ucap Bang Dede.


Lalu Tika memesan es coklat dan roti bakar dan aku memesan es kopi susu. Bang Dede pun membuatkan pesanan kami. Kak Nia selalu duduk di belakang meja kasir, ia melambaikan tangannya menegurku dan melemparkan senyuman.


"Da, lo mau kasih gue sesuatu apaan sih?" tanyaku seakan tak sabar.


"Nanti dong, tunggu minuman lo datang dulu. Lo minum dulu, biar santai, biar rileks. Hehehehe." jawab Yuda.


Tak lama, minuman pesananku dan Tika pun datang. Aku segera menyedot dengan cepat.


"Nah, gue udah minum nih. Sekarang apaan nih yang mau lo kasih ke gue?" aku menagih, Tika hanya senyum melihatku dan Yuda.


"Tika, sorry ya di cuekin sebentar." ucap Yuda dengan genit ke Tika.


"Hehehehe. Iya nggak apa-apa." jawab Tika.


Yuda mengambil tasnya, membuka dan merogoh sesuatu, kemudian mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat.


"Nih, buat lo!" Yuda menaruh amplop coklat di atas meja. Amplopnya tak terlalu besar, agak tebal mengembung.


"Apaan nih?" aku mengambil amplop. Bentuk dan ukurannya mirip seperti uang. Cukup tebal.


Aku membuka amplop. Benar, uang. Dan cukup banyak.


"Ini uang buat apaan Da?" tanyaku.


Yuda senyum, ia mengambil sebatang rokok dan membakarnya. Menghisapnya dalam, lalu menghembuskan asapnya ke atas. Fuuhh.


"Da, ini uang apa? Ini buat gue?" tanyaku lagi.


"Hehehehe. Iya buat lo. Udah simpan di tas! Nanti ada yang jambret." jawab Yuda.


"Iya, tapi ini uang apa? Kan kemarin bagian buat gue udah lo kasih, terus ini uang apaan?" tanyaku.


Yuda merapatkan kursinya ke meja. Tika hanya senyum-senyum melihatku dan Yuda.


"Ibu kost lo baik banget Di." ucap Yuda.


"Eh, maksudnya gimana Da?" tanyaku dengan heran.


"Jadi begini Di, tadi siang gue ambil mobil yang sudah gue beli kan. Gue sewa mobil derek, karena mobil antiknya memang nggak menyala. Begitu mobil antik di derek menuju bengkel Om Galih dan gue mau pamit pulang ke ibu kost, tiba-tiba gue di panggil sama ibu kost." cerita Yuda.


"Terus?" tanyaku.


"Gue di suguhkan teh hangat. Terus, ibu kost lo menginginkan penawaran baru." lanjut Yuda.


"Penawaran baru? Penawaran apa memangnya?" tanyaku.


"Gini, uang yang telah gue bayarkan ke ibu kost akan di kembalikan sebesar lima juta, asalkan gue mau menukarnya dengan kalung milik lo. Itu penawaran dari ibu kost lo." sambung Yuda.


"Terus?" tanyaku dengan suara lantang. Yuda terkaget. "Terus lo terima tawaran itu?" tanyaku.


"Jelas gue terima tawaran ibu kost lo, lima juta di tukar dengan kalung rongsokan kayak gitu. Lima juta Di! Lo bisa beli kalung yang lebih bagus Di." jawab Yuda dengan lantang juga.


Hatiku mangkel rasanya.


"Lo udah gila Da! Sembarangan main jual barang orang lain. Lo nggak tahu pentingnya kalung itu buat gue, itu pemberian orang Da. Lo nggak bisa sembarangan main jual aja, nggak ada etika lo!" aku meneriakinya.


"Yaelah Di, lo bisa beli lagi pakai uang yang gue kasih tadi. Memang kurang uang segitu?" Yuda ngeles.


"Nggak butuh gue uang lo. Lo makan tuh uang!" kulemparkan amplop coklat ke wajah Yuda, aku pergi meninggalkan kedai.


Tika berlari menyusulku.


"Woi! Adi! Sepenting apa kalung itu sampai lo giniin gue? Woi, Di!" Yuda meneriakiku.

__ADS_1


__ADS_2