Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 136


__ADS_3

"Di, gue mau tanya sesuatu sama lo." ucap Tika.


"Tanya apaan? Jangan tanya yang susah ya, gue bukan dosen Tik. Hehehehehe." jawabku nyeleneh.


"Enggak kok, gue juga tahu kapasitas otak lo. Hahahahahahaha." balasan Tika menghujam jantungku. Jleb.


"Mau tanya apa?"


"Kalau menurut lo, demit apa yang menjahili Mas Gun? Gue yakin, lo pasti udah tahu." ujar Tika memancingku.


Mas Gun langsung melirik ke arahku.


"Lo tahu Di?" tanya Mas Gun dengan cepat.


"Emm, anu mas. Eng-enggak tahu jelas sih. Tapi menurut gue, demit yang mengganggu lo itu genderuwo penunggu kebun belakang kost." jawabku kikuk.


"Busyet! Genderuwo! Yang bener lo Di?" Mas Gun terkejut.


"Kan gue bilang nggak tahu jelasnya, mungkin demit lain." sahutku.


Mas Gun terdiam. Aku dan Tika saling pandang. Entah apa yang akan kukatakan selanjutnya. Aku memang tahu dari Kubil kalau yang menjahili Mas Gun adalah Genderuwo, dan aku yakin Tika pun tahu.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam. Eh, Kang Ujang. Masuk kang!" ucapku.


"Nggak usah dek. Ini saya mau antar nasi bungkus. Tadi ada ojol di depan gerbang, katanya ada yang pesan nasi pakai aplikasi. Siapa ya?" tanya Kang Ujang.


"Oohh, itu saya kang." jawab Tika.


Tika beranjak dan segera keluar mengambil plastik berisi dua bungkus nasi.


"Makasih ya kang." ucap Tika.


"Sama-sama." balas Kang Ujang. "Dek Adi, maaf tadi subuh saya kabur ketakutan. Temannya sudah baikan dek?" tanya Kang Ujang.


"Iya nggak apa-apa kang. Tadi sudah di urut, tangannya juga sudah di gips biar nggak banyak gerak. Mudah-mudahan sebulan sudah baikan." jawabku.


"Alhamdulillah kalau begitu. Yasudah, saya permisi ya. Masih ada kerjaan di halaman. Mari dek." pamit Kang Ujang.


"Iya kang mari." balasku.


Tika mengeluarkan dua bungkus nasi padang.


"Nih makan! Gue balik ke kampus lagi ya, ada jam kuliah nih sebentar lagi." ujar Tika.


"Oohh lo pesan nasi buat gue sama Adi. Waahh makasih banyak ya Tika. Alhamdulillah ada orang baik yang datang di saat gue kesusahan." ungkap Mas Gun.


"Iya sama-sama mas. Habisin ya mas, habis itu istirahat." jawab Tika.


Tika pun keluar dari kamar, aku mengantarnya sampai di teras depan kost.


"Tik, makasih banyak ya." ucapku.


Tika tersenyum. Manis. Sungguh manis.


"Sama-sama Di." jawabnya seraya tersenyum.


"Tik, menurut lo demit apa yang mengganggu Mas Gun? Apa demit itu juga ada kaitannya dengan kuntilanak merah?" tanyaku dengan suara pelan.


Tika mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Yang jelas demit itu memang Genderuwo. Tapi kalau lo tanya ada kaitan atau enggaknya dengan kuntilanak merah, jujur gue sama sekali nggak tahu." jawab Tika.


"Apa musuh kita bakal bertambah Tik?" tanyaku lagi.


"Bisa jadi. Siapin aja diri lo. Bilang ke Mas Gun, jangan lupa zikir sehabis shalat, agar ada perlindungan dari Yang Maha Kuasa." ujar Tika.


"Iya, nanti gue sampaikan ke Mas Gun." balasku.


Tika menatapku dengan tajam.


"Bukan Genderuwo itu yang mesti kita khawatirkan Di." ucap Tika.


"Hah! Terus apa Tik?" tanyaku.


Tika diam.


"Diiii, Adiiii! Ngomongin apa sih sama Tika? Ayo makan!" Mas Gun teriak dari dalam kamar.


"Iya mas, makan aja duluan!" sahutku.


"Ooohh gue tahu niiihh. Lo lagi pedekate ya? Hahahahaha. Maaf maaf. Lanjutin deh!" Mas Gun berceloteh asal dari dalam.


Tika masih diam. Aku menunggu Tika memberi tahu tentang hal yang mesti kami khawatirkan.


"Apa yang mesti di khawatirkan?" tanyaku lagi.


"Dua arwah penasaran yang Mas Gun lihat tadi malam." jawab Tika.


Deg.


Dua arwah yang Mas Gun lihat tadi malam, jangan-jangan arwah Mbak Wati dan Bang Oji. Dari ciri-ciri yang Mas Gun ceritakan memang tampak seperti Mbak Wati dan Bang Oji.


"Karena mereka merupakan tumbal untuk kuntilanak merah, jelas mereka akan patuh dan menurut dengan tuannya, si kuntilanak merah itu." jawab Tika.


Seketika bulu kudukku merinding. Jantungku berdebar tak keruan.


"Sedangkan lo sudah tahu, kalau kuntilanak merah adalah musuh kita bersama. Dan gue yakin ia akan menuntut balas atas kejadian beberapa waktu lalu, saat kita menyelamatkan Yuda." lanjut Tika.


"Lalu apa hubungannya dengan arwah Mbak Wati dan Bang Oji?" tanyaku.


Tika tersenyum.


"Jelas ada hubungannya Adi. Kuntilanak merah akan mengirim kedua arwah penasaran itu untuk mengganggu kita. Sebelum kita menghadapinya. Dengan kata lain, kedua arwah itu akan membuat kita lemah terlebih dahulu sebelum ia menyerang kita. Paham?" jelas Tika.


Aku makin bergidik ngeri. Aku menjadi semakin was-was.


Tika lalu tersenyum.


"Kenapa lo santai banget Tik? Malah senyam-senyum. Memang ada yang lucu?" tanyaku.


"Hehehehehehe." Tika terkekeh. "Tapi itu kan belum tentu benar Di. Gue hanya menduga-duga aja. Hehehehehe." ujar Tika.


"Aaahh rese lo." sungutku.


"Tapi semoga semua yang gue katakan tadi nggak benar. Intinya, kita harus selalu wasapada dan jangan lengah. Oke." tutur Tika mencoba menenangkanku.


"Oke deh." sahutku. "Eh, tapi gue jadi benar-benar kepikiran lho. Penjelasan lo menurut gue cukup masuk akal sih, kalau memang rencana si kuntilanak merah benar-benar seperti itu." ujarku khawatir.


"Yaaa berdoa aja, semoga nggak seperti itu." balas Tika. "Yaudah, gue cabut ke kampus yaa. Lo jangan lupa makan!" ucap Tika.


"Iya Tik. Makasih banyak yaa." balasku.

__ADS_1


Tika pun berlalu meninggalkanku di depan teras kost. Setelah Tika menghilang dari pandanganku, aku pun masuk ke dalam kamar. Mas Gun sudah menyelesaikan makannya. Sebungkus nasi padang sudah ludes tak bersisa. Mas Gun sedang menenggak segelas air dengan cepat, di akhiri dengan sendawa yang cukup keras.


"Aaaahhh nikmaaaatt!" ucapnya.


Setelah mencuci tangan, aku pun membuka bungkus nasi yang di belikan Tika. Sempat terpikir nasi bungkus yang di berikan Dini beberapa waktu lalu, membuatku tak ***** makan dan muntah sejadi-jadinya. Ah, semoga tak kembali terulang kejadian itu.


Syukurlah, nasi bungkus pemberian Tika memang benar-benar berisi nasi dan sepotong ayam bakar. Tampak lezat dan menggugah selera. Aku pun makan dengan lahap. Mas Gun sedang asik menghisap rokok, kegiatan wajibnya setelah makan.


* * *


Malam pun datang, menggantikan siang. Bulan bertengger di pekatnya langit, cahaya redupnya indah berpendar. Malam ini cerah. Bahkan sinar bintang pun dengan genitnya berkelap-kelip. Menambah indahnya langit hitam.


Selepas shalat isya aku duduk santai sembari membaca novel favoritku, entah sudah berapa lama tak lanjut membacanya.


Angin bertiup sepoi, masuk menyeruak ke dalam kamarku. Sejuk. Karena pintu kamar kubuka dengan lebar. Mas Gun sedang asik menatap layar laptopnya.


"Eh Di, gue baru saja ingat sesuatu. Dari tadi mau tanya tapi kelupaan terus." ucap Mas Gun.


"Mau tanya apa mas?"


"Itu bingkai foto apaan sih di pojokan? Dari tadi gue penasaran pingin tanya sama lo." Mas Gun menunjuk bingkai foto kayu yang kuambil dari rumah kosong kemarin malam.


"Mana? Ooh itu. Itu foto dari rumah kosong depan. Sengaja gue ambil, kali aja ada petunjuk yang bisa gue dapat." jawabku.


"Apa? Foto dari rumah kosong depan? Ah, lo cari penyakit aja sih Di. Ngapain bawa barang-barang dari rumah kosong? Balikin deh!" ujar Mas Gun.


"Penyakit apaan sih mas, orang cuma foto doang kok. Mana ada pengaruhnya sih." sahutku.


"Balikin sana! Takut ada apa-apa nanti, gue takut. Gue masih trauma nih!" balas Mas Gun.


"Iya besok gue balikin. Memang takut ada apa hayoooo? Hehehehehe." ucapku sedikit meledek.


"Yeee malah bercanda nih anak. Balikin besok! Pokoknya balikin!" sungut Mas Gun.


"Iya iyaaa. Besok gue balikin." jawabku singkat.


Wuuuuuusssss. Tiba-tiba angin bertiup cukup kencang. Hingga masuk meniup gordyn kamarku.


Prakk. Bingkai foto yang kuletakkan di sudut kamar dengan posisi berdiri dan menyandar di dinding tiba-tiba terjatuh dan membuat kaca di permukaannya retak.


Mas Gun terkejut, aku pun begitu. Kami diam saling pandang.


Angin masih saja bertiup kencang. Menerbangkan dedaunan di halaman kost.


"Di, apa gue bilang. Jangan sembarangan ambil barang dari rumah kosong. Ini tanda-tanda nih." ucap Mas Gun pelan.


Aku diam mencerna ucapan Mas Gun.


"Hahahahahahaha." aku terbahak.


"Heh, kenapa lo?" tanya Mas Gun.


"Hahahahahahaha. Kocak lo mas! Hahahahahahaha. Tanda apaan sih? Ini cuma angin mas." balasku sambil terbahak.


Mas Gun pasang wajah bete.


"Hahahahahahaha. Jangan terlalu parno mas. Insya Allah nggak ada apa-apa. Hehehehehe." ujarku menenangkan.


"Awas kalau sampai ada kejadian lagi ya! Lo tanggung sendiri, gue nggak mau ikut-ikutan." ancam Mas Gun.


Angin di luar memang tampak kencang bertiup. Yang semula sepoi dan menyejukkan, kini berubah menjadi angin yang membuat tubuh kedinginan. Semoga bukan pertanda aneh lagi.

__ADS_1


__ADS_2