Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 144


__ADS_3

Sore hari sepulang kuliah.


Sempat kuhubungi Mas Gun, menanyakan tentang gado-gado pesanannya. Ia bilang sudah memesan via ojek online. Masalah pun beres.


Kubuka gerbang kost dan kembali menutupnya. Eh, ada Nek Iyah sedang duduk di teras rumah. Ia melambaikan tangannya menyuruhku datang menghampirinya. Ada apa ini?


Wajah Nek Iyah terlihat sayu, tak cerah. Sore ini ia mengenakan daster panjang berwarna hitam motif batik.


"Ada apa Nek?" tanyaku.


Nek Iyah mempersilakanku duduk. Kami duduk berhadapan.


"Nggak ada apa-apa Dek. Nenek cuma ingin mengobrol saja dengan Dek Adi. Gimana kuliah kamu lancar?" tanya Nek Iyah.


Cuma mau mengobrol? Aku curiga jadinya.


"Emm, Alhamdulillah lancar Nek." jawabku.


"Nak Adi, kamu itu anak yang pemberani dan kuat. Nenek tahu kamu sedang dalam masalah besar." ucap Nek Iyah dengan sorot mata tajam.


"Tapi kamu tetap tenang. Nenek salut denganmu Nak." lanjutnya.


Ada apa dengan Nek Iyah? Tiba-tiba bicara seperti ini. Masalah yang menimpaku itu gara-gara kau Nenek tua.


"Nenek harap kamu tidak salah dalam mengambil segala keputusan tentang masalah kamu hadapi. Dan jangan gegabah dalam bertindak." sambung Nek Iyah.


Ada gerangan apa Nek Iyah berbicara seperti ini? Apa ia sedang kerasukan?


"Ma-maaf Nek. Saya nggak ngerti dengan yang Nenek bicarakan. Apa maksudnya?" tanyaku memancing.


Nek Iyah tersenyum. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Nenek nggak minta kamu ngerti dengan apa yang Nenek bicarakan. Nenek harap kamu dapat lebih jeli melihat masalah yang kamu hadapi, dalam berbagai sudut pandang." ucapnya.


"Emm, tapi jujur saya nggak ngerti maksud pembicaraan Nek Iyah." tukasku.


"Nak Adi,"


"Nenek sudah capek dengan semuanya. Nenek sudah jenuh dengan segala sesuatu." ucap Nek Iyah. Kemudian Nek Iyah mendekat ke arah meja.


"Tapi kamu dan Nenek sudah masuk ke dalam jurang yang sama. Jadi, mari kita selesaikan." tambah Nek Iyah dengan suara pelan dan senyum menyeringai.


Aku menelan ludah.


Setelah ucapan terakhirnya, Nek Iyah menyudahi obrolan singkat kami. Aku pun undur diri menuju kamar.


Tanda tanya masih menggelayut di kepalaku. Gerangan apa yang membuat Nek Iyah berbicara seperti itu? Kurasa tadi itu bukan Nek Iyah. Ia tampak berbeda. Kuyakin ia sedang kerasukan.


Aku masuk kamar mengucapkan salam. Menaruh tas di ruang depan, lalu masuk ke ruang tengah. Kulihat Mas Gun sedang tidur meringkuk. Tapi kudengar ia seperti sedang berbicara dengan pelan, lebih seperti berbisik.


"Mas. Mas Gun." panggilku.


Kudengar ia masih berbisik dengan mata terpejam. Namun tak jelas yang sedang ia suarakan.


"Mas Gun," kutepuk lengannya.


Mas Gun terkejut. Ia bangun dan menoleh ke arahku. Kulit Mas Gun pucat. Kantung matanya menghitam. Wajahnya nampak tak sehat.


"Mas, lo sakit Mas. Yuk kita ke klinik." ajakku.


Mas Gun hanya menggeleng pelan.


"Ayo Mas. Lo harus ke dokter. Yuk gue temenin!" aku memaksa.


"Nggak!" bentaknya. Membuatku kaget.


Mas Gun kembali merebahkan badannya. Ia kembali meringkuk di atas kasur. Aneh.


"Gue cuma mau tidur." ucap Mas Gun.


Aneh. Akhir-akhir ini Mas Gun tampak aneh. Dalam tidurnya ia suka berbicara sendiri. Tapi bukan mengigau. Lebih seperti berbincang dengan seseorang dalam tidurnya.


...* * *...


Setelah maghrib, sekitar pukul tujuh Kang Ujang datang bertamu ke kamarku. Ia datang membawakan sekantung plastik pisang goreng. Masih panas, seperti baru diangkat dari penggorengan. Asap tipisnya pun masih terlihat mengepul.


"Tumben Kang. Ada apa nih datang-datang bawa pisang goreng segala?" tanyaku.

__ADS_1


"Aah nggak ada apa-apa Dek. Sudah lama kita nggak ngopi sambil ngobrol. Saya suntuk dirumah sendirian." jawab Kang Ujang.


Kubuat dua cangkir kopi. Mas Gun coba kubangunkan. Namun lagi-lagi ia menolak, Mas Gun hanya ingin tidur. Secangkir kopi kusodorkan ke depan Kang Ujang. Kami duduk di teras depan kamar.


"Gimana kabar Mas Gun? Sudah sehat?" tanya Kang Ujang.


"Mas Gun? Oh sudah baikan Kang. Cuma memang masih lemas aja dan kepingin tidur terus bawaannya." jawabku.


"Kepingin tidur terus? Beneran Dek?" tanya Kang Ujang.


"Iya. Kulitnya sampai pucat nggak pernah keluar kamar, nggak pernah kena sinar matahari. Jadi mirip vampir. Hehehehe."


Kang Ujang mengambil cangkir kopinya. Ia meniup pelan. Lalu menyeruputnya sedikit.


"Dek Adi masih ingat dengan Mbak Ajeng dan Mbak Gendis, adik almarhum Pak Thamrin yang pernah saya ceritakan itu?" tanya Kang Ujang.


"Ingat Kang. Memang kenapa tiba-tiba Kang Ujang bertanya itu?" aku heran.


Kang Ujang mencomot sepotong pisang goreng. Aku pun ikut mencomot. Kang Ujang menggeser duduknya mendekat ke arahku.


"Dulu, Mbak Gendis sebelum menjadi gila ia telebih dulu mengurung diri di dalam rumah. Nggak pernah keluar rumah, nggak pernah bersosialisasi dengan tetangga dan keluarga. Lalu ia menjadi nggak waras dan bertingkah seperti orang gila." cerita Kang Ujang.


"Terus? Apa Kang Ujang mau mengait-ngaitkan yang terjadi pada Mbak Gendis dengan yang terjadi dengan Mas Gun sekarang?" tanyaku.


"Tidak juga Dek, saya cuma cerita saja. Tapi kelakuannya sama persis Mas Gun dengan Mbak Gendis." tepis Kang Ujang.


"Sama bukan berarti harus terjadi sama Mas Gun kan?" ucapku.


"Iya. Semoga Mas Gun baik-baik saja. Eh Dek, saya boleh tanya lagi soal Mas Gun?"


Aku mengiyakan.


"Apa Mas Gun sering bicara dalam tidur seperti orang mengigau?" tanya Kang Ujang.


Kang Ujang bertanya soal mengigau. Apa jangan-jangan Mbak Gendis juga seperti itu ya?


"Me-mengigau? Eng-enggak kok. Mas Gun jarang banget mengigau Kang. Ngorok yang sering. Hehehehe." jawabku asal.


"Me-mang kenapa kalau sering mengigau? Apa Mbak Gendis juga dulu seperti itu Kang?" tanyaku.


"Iya dek. Menurut cerita, Mbak Gendis kalau tidur sering bicara dan berdialog. Layaknya orang mengobrol saja." cerita Kang Ujang.


"Dan menurut cerita Juragan. Awalnya seperti mengigau biasa saja. Namun lama-lama seperti orang ngobrol saja, cuma bedanya sambil tidur." tambah Kang Ujang.


"Kang, apa benar Mbak Gendis menjadi tumbal untuk kuntilanak merah?"


Kang Ujang terkejut. Matanya melotot melihatku, jari telunjuknya mengacung ditaruh di depan bbibirnya.


"Kenapa Kang?" tanyaku dengan suara pelan.


Kang Ujang merapatkan duduknya padaku.


"Dek, bahaya nyebut nama kuntilanak itu disini." Kang Ujang setengah berbisik padaku.


"Kenapa Kang?" tanyaku.


"Sudah sudah jangan di bahas lagi."


"Kang Ujang belum jawab pertanyaan saya tadi. Apa betul Mbak Gendis jadi tumbal?" tanyaku masih dengan suara pelan.


Kang Ujang celingak celinguk. Lalu mengangguk pelan.


"Apa ada kaitannya dengan Kakek Badrun?" tanyaku.


Kang Ujang lagi-lagi mengangguk pelan.


"Apa Kang?"


Kang Ujang garuk-garuk kepala yang tak gatal. Ia masih tengak-tengok. Lalu mendekat ke telingaku untuk berbisik.


"Karena Kakek Badrun yang suruh Nek Iyah untuk menumbalkan Gendis."


Aku terkejut bukan main. Kakek Badrun yang menyuruh Nek Iyah.


"Apa Mbak Ajeng menjadi tumbal atas suruhan Kakek Badrun juga?" tanyaku lagi.


"Bukan. Mbak Ajeng jadi tumbal karena murni ide Nek Iyah. Walaupun terlihat damai dengan kedua adik Juragan, tapi Nek Iyah menyimpan dendam kesumat pada Ajeng. Karena Ajeng yang paling keras menolak Juragan menikah dengan Nek Iyah." cerita Kang Ujang.

__ADS_1


Jadi begitu ceritanya. Pelik. Sungguh pelik.


"Lalu kenapa tumbal berikutnya Mbak Gendis? Atas dasar apa Kakek Badrun menyuruh Nek Iyah untuk mengorbankan Mbak Gendis?" tanyaku.


"Kalau itu saya tidak tahu Dek. Makanya dulu pas Dek Adi tanya ke saya, kenal atau tidak dengan Kakek Badrun? Saya kenal betul dengannya, sampai sekarang saya takut kalau dengar namanya. Takut di santet. Hiiiyyy." Kang Ujang bergidik ngeri.


"Apa? Takut di santet? Memang dulu Kakek Badrun tukang santet orang?" tanyaku.


"Bukan. Tapi dia itu dukun. Jahat sekali."


Aku mengangguk mendengar cerita Kang Ujang. Banyak tabir yang sedikit demi sedikit mulai terungkap.


Aku menyeruput kopi dan kembali mencomot pisang goreng. Obrolan kami malam ini sungguh luar biasa. Tak biasanya Kang Ujang sengaja datang menemuiku.


Kang Ujang bercerita tentang kampung halamannya. Desanya terletak di kaki gunung di Jawa Barat. Ia rindu akan kampung halamannya, rindu dengan masyarakat pedesaan yang masih memegang adat istiadat leluhur. Masih saling tegur sapa jika berpapasan di jalan. Suasana kampungnya yang asri, sejuk, dan jauh dari perkotaan. Tak perlu ke pasar jika untuk makan sehari-hari, tinggal ambil di kebun belakang rumah atau ambil ikan di empang. Desanya sangat tentram.


"Kalau kangen kampung, ya pulang atuh Kang." tuturku.


"Mau ketemu siapa disana Dek? Sudah puluhan tahun saya nggak pulang. Saudara mungkin sudah banyak yang merantau juga ke ibu kota." balas Kang Ujang.


"Lho, memang Ayah dan Ibu Kang Ujang dimana? Apa setelah Pak Thamrin menikah dengan Nek Iyah, mereka sudah nggak mengabdi sama Juragan?" tanyaku.


Kang Ujang menunduk. Ia mengambil sebatang rokok. Kulihat tangannya gemetar.


"Kalau Kang Ujang nggak mau cerita nggak apa-apa. Tadi saya spontan bertanya saja. Hehehehe."


Kurasa ada sesuatu yang membuat Kang Ujang tiba-tiba terdiam. Sial, apa aku salah bertanya?


Ia membakar rokoknya. Matanya merah. Di pelupuk mata, menggenang cairan bening menunggu tumpah. Air mata.


"A-ayah," baru sekata keluar dari mulutnya, tiba-tiba Kang Ujang menangis. Terisak sampai sesenggukan. Ada luka yang menyayat di dalam dadanya.


"Maaf Kang. Nggak seharusnya saya bertanya soal orang tua Kang Ujang." ucapku.


Kang Ujang menyeka air matanya. Ia mencoba untuk tak menangis lagi, tapi air mata selanjutnya tumpah makin deras. Aku terenyuh melihatnya. Aku hanya diam tak berkata. Memberikan waktu pada Kang Ujang untuk mengeluarkan emosinya.


Kopi kami sudah tak panas. Pisang goreng pun sudah dingin, terigu yang membungkusnya mulai lembek.


"Ma-maaf Dek. Sa-saya sedih kalau i-ingat Ayah dan Ibu." ucap Kang Ujang sesenggukan.


"Saya yang minta maaf Kang, saya sudah bertanya soal Ayah Ibu Kang Ujang. Akhirnya Kang Ujang jadi ingat lagi." balasku merasa bersalah.


"Ng-nggak apa-apa Dek. Tadi Dek Adi tanya apa?"


"Sudah jangan dibahas Kang, kalau memang bikin Kang sedih kayak gini."


Kang Ujang menepis kalau ia akan sedih kembali. Ia akan menceritakan sebuah fakta yang tak pernah ia kisahkan pada siapapun di dunia ini. Dan malam ini, ia akan menceritakan semuanya padaku. Ya, hanya padaku.


Terlebih dulu ia menghirup nafas dalam, lalu dihelanya seketika.


"Dek Adi pasti ingat dengan Bi Tati kan? Tukang masak yang bekerja di rumah Juragan?" Kang Ujang membuka cerita dengan pertanyaan.


"Iya Kang, saya ingat."


"Mungkin Dek Adi sudah tahu sebagian cerita tentang lika-liku keluarga Juragan. Entah dari Kakek Badrun atau dari siapapun. Tapi yang akan saya ceritakan, tak mungkin ada orang lain yang tahu." terang Kang Ujang.


Aku membetulkan posisi duduk, agar lebih nyaman dalam menerima informasi dari Kang Ujang.


"Apa sebelumnya Dek Adi tahu bahwa semua bencana yang terjadi pada keluarga Pak Thamrin adalah ulah Bi Tati?" tanya Kang Ujang lagi.


"Iya Kang. Kakek Badrun yang menceritakannya pada saya."


"Andai tidak ada dendam. Andai waktu itu Juragan menerima dengan lapang dada tentang berita keguguran bayi yang dikandung Nyai Asih. Mungkin semua ini tidak terjadi."


"Ayah dan Ibu sangat keberatan dengan pemecatan Bi Tati oleh Juragan. Karena, bukan sepenuhnya salah Bi Tati jika Nyai Asih sampai keguguran. Ayah dan Ibu sempat membela Bi Tati. Namun keputusan Juragan sudah bulat, ia harus memecat Bi Tati."


"Tapi tidak dengan Ayah dan Ibu. Mereka tetap di pekerjakan di rumah ini. Bi Tati merasa kecewa dengan keputusan Juragan. Ia juga masih sakit hati dengan perlakuan Juragan pada anaknya, Nyai Asih. Ia pun kecewa dengan Ayah dan Ibu. Bi Tati mengira kalau Ayah dan Ibu berada di pihaknya. Namun tahun itu adalah tahun yang berat buat keluarga kami. Jika Ayah dan Ibu harus keluar dari rumah Juragan, berarti Ayah akan kembali menjadi kuli panggul di pasar. Dan itu tidak baik bagi ekonomi keluarga kami."


"Awalnya Bi Tati mengerjai Nek Iyah, ia mengirim teluh atau semacamnya. Beruntungnya Nek Iyah memiliki Kakek Badrun. Nyawanya berhasil terselamatkan."


"Beberapa kali Bi Tati mengirim teluh pada Nek Iyah. Namun selalu gagal, karena Kakek Badrun sudah menjaga Nek Iyah. Sampai pada akhirnya, teluh itu memantul pada Ayah dan Ibu." cerita Kang Ujang.


Ia kemudian kembali menangis. Kuusap lengannya, mencoba menenangkan Kang Ujang.


"Saya. Sa-saya saat itu ma-masih kecil Dek. Be-belum ngerti apa-apa." ucap Kang Ujang sesenggukan. Aku sangat bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh Kang Ujang.


Malam ini cerita Kang Ujang membuat hatiku sedikit gundah. Tak terbayang jika aku ada di posisinya. Ditambah lagi, saat itu Kang Ujang masih kecil dan belum mengerti apa-apa. Hanya karena dendam, bisa merusak kehidupan banyak orang. Sangat tidak berprikemanusiaan.

__ADS_1


__ADS_2