
"Jadi kalian berdua nggak mau cerita ke gue nih?" tanya Tika.
"Itu Adi yang akan cerita Tik." balas Mas Gun.
"Di, buruan ceritain ke Tika. Ayo cepet! Jangan sampai Tika lama nunggu." Mas Gun menyuruhku seenaknya.
"Iya iya. Sebentar Tik, gue minum kopi dulu." ujarku.
"Sabar ya Tik. Habis minum kopi, Adi mau cuci baju. Terus nyapu, ngepel, kuras bak mandi, potong rumput, bersihin selokan. Naaaahh, baru habis itu cerita." tukas Mas Gun.
Tika hanya cengengesan mendengar Mas Gun berkelakar.
"Tenang Tik, gue nggak akan ngelakuin hal-hal yang tadi disebutkan Mas Gun. Lo akan gue ceritakan tanpa syarat apapun." ucapku pada Tika.
Mas Gun membuang muka mendengar ucapanku.
"Cih. Kalau perlakuan ke cewek memang harus beda. Bisa aja lo Di." tukas Mas Gun.
"Udah udah. Kapan ceritanya nih? Ayo buruan! Gue penasaran nih." potong Tika.
Aku mulai menceritakan tentang selesainya masalah Yuda dengan polisi. Yuda terbukti tidak bersalah atas tuduhan, laporan, dan tuntutan keluarga korban atas penjualan mobil tidak standar nasional.
Lalu kuceritakan soal penemuan jenazah wanita dengan kondisi tubuh sama persis dengan korban kecelakaan. Yang mana, kondisi jenazah tersebut membuktikan kalau kuntilanak merah masih saja mencari tumbal. Kuterangkan pula pada Tika soal jenazah Mbak Wati dan Pak Rahmat, yang lebih dulu menjadi korban tumbal kuntilanak merah.
"Tunggu! Sebelum lo lanjutkan cerita, boleh gue tebak akhirnya?" tanya Tika.
"Silakan Tik." balasku.
"Sebentar lagi kita akan menghadapi dua demit korban tumbal kuntilanak merah itu kan? Korban kecelakaan mobil dan wanita yang tewas itu. Iya?" tanya Tika.
Ctakk. Mas Gun menjentikkan jari.
"Tepat sekali!" sahut Mas Gun.
"Benar Tik. Cepat atau lambat, dua demit yang menjadi korban tumbal akan menjadi demit pengikut kuntilanak merah. Dan yang pasti akan segera menyerang kita." sambungku.
Tika duduk bersandar pada dinding kamar. Tatapannya kosong melihat ke langit-langit kamar.
"Tik," panggilku.
Tika menoleh ke arahku.
"Jujur, gue nggak ada rencana sama sekali. Kalau dibilang pasrah, gue sama sekali nggak pasrah. Gue akan melawan kuntilanak merah itu sekuat dan semampu gue. Sampai titik darah penghabisan. Tik, apa lo ada rencana? Atau punya rencana barangkali?" tanyaku.
Tika tersenyum padaku. Senyumnya manis tak seperti biasa.
Tika menghela napas.
"Gue pun nggak ada rencana sama sekali Di. Kita berdua sama, hanya mengandalkan kekuatan dan mustika yang kita miliki. Meminta bantuan dengan Kanjeng Ratu Sekar Dara pun rasanya nggak mungkin, malah mustahil kayaknya." balas Tika.
Aku balas tersenyum.
"Kalaupun kita ingin meminta bantuan pada Kanjeng, bagaimana cara kita menemuinya? Gue yakin nggak sembarangan orang yang bisa bertemu dengan Kanjeng Ratu Sekar." ujarku.
"Siapa? Kanjeng Ratu siapa?" tanya Mas Gun.
Aku dan Tika menatap ke Mas Gun.
"Kanjeng Ratu Sekar Dara." jawabku.
__ADS_1
"Memang dia siapa? Dukun? Paranormal? Atau orang pintar?" tanya Mas Gun.
"Dia sebangsa jin, Kanjeng Ratu Sekar adalah penguasa Gunung Komang. Kanjeng Ratu Sekar Dara juga yang memberikan mustika ini pada Kakek Badrun." jelas Tika.
"Apa? Penguasa Gunung Komang?" tanya Mas Gun dengan terkejut.
Mas Gun menelan ludah. Ia menatapku dan Tika dalam.
"Lo berdua ketemu penguasa Gunung Komang?" tanya Mas Gun lagi.
Tika mengangguk.
Aku menjawab, "Iya Mas."
"Se-serius Di?" Mas Gun bertanya lagi.
"Serius Mas. Buat apa gue bohong, nggak ada gunanya." jawabku.
"Kayak apa bentuknya?"
"Hah? Kok kayak apa bentuknya? Pertanyaan lo aneh deh Mas." ucap Tika.
"Eh. Emm. M-maksud gue, kayak gimana orangnya?" tanya Mas Gun.
"Kanjeng Ratu Sekar terlihat seperti wanita pada umumnya Mas. Parasnya cantik, kulitnya putih dan halus. Memakai mahkota emas di atas kepalanya dengan taburan batu permata. Nada bicaranya juga lembut dan santun." jelasku.
"Dan sangat sakti." Tika menambahkan.
"Kalian nggak takut ketemu jin seperti itu? Salah-salah kan bisa berabe " tanya Mas Gun.
"Justru Kanjeng Ratu Sekar yang datang menolong kita, saat kita terpojok melawan Banaspati. Tak bisa dipungkiri, ilmu kanuragannya benar-benar luar biasa." jawabku.
Semilir angin malam menerpa wajahku. Angin masuk melalui pintu yang terbuka lebar. Bulan bertengger di gelapnya langit. Bintang terlihat jarang, kelipannya mengedip sesekali.
"Jadi gimana?" tanya Tika memecah kesunyian.
Mas Gun melirik. Aku pun sama.
"Gimana apanya Tik?" tanya Mas Gun.
"Ya gimana kelanjutannya?" ucap Tika.
"Kita harus siap melawan kuntilanak merah dan pengikutnya Tik. Memang apa lagi?" sahutku.
Tika mengangguk dengan pelan.
"Kalau begitu, persiapkan diri kalian. Adi, kasih makan mustika lo setiap saat. Mas Gun, latih kekuatan lo sesekali. Mudah-mudah kita sudah siap begitu serangan datang. Karena serangan dari mereka bisa datang kapan pun." ujar Tika dengan raut wajah serius.
Aku mengangguk pasti.
"Siap!" Mas Gun menjawab.
Kami kembali mengobrol soal permasalahan yang dihadapi Yuda. Membahas kemungkinan tentang kecelakaan yang menewaskan Mas Steve. Juga membicarakan si wanita yang tewas dengan kondisi yang sama dengan Mas Steve.
Obrolan kami terhenti ketika Ela dan Dini lewat di depan kamar seraya menyapa kami.
"Bang Adi. Mas. Mbak. Permisi." ucap Ela melempar senyum.
"Iya silakan." jawabku.
__ADS_1
"Itu penghuni kamar 11d ya?" tanya Mas Gun.
"Iya Mas." jawabku.
"Kok jarang kelihatan ya? Sejak gue kost disini, hanya beberapa kali gue lihat mereka." ungkap Mas Gun.
"Entahlah. Gue pun kadang heran, kerja apa mereka sampai jarang terlihat disini." sahutku.
Kami pun diam.
"Di." panggil Tika.
"Kalau gue pribadi, gue merasa curiga dengan mereka. Siapa tahu mereka masuk ke dalam komplotan Nek Iyah. Menurut lo gimana?" ujar Tika.
"Komplotan Nek Iyah. Mungkin juga sih. Gue ingat dengan pernyataan dari Hendra anak Pak Rahmat saat tahlilan waktu itu." ucapku.
"Memang apa yang anak Pak Rahmat bilang?" tanya Mas Gun.
"Nek Iyah mempunyai banyak kaki tangan di daerah ini. Banyak yang masih percaya dengan Nek Iyah, karena Nek Iyah mempraktekkan ilmu hitam. Anggapan masyarakat sini kalau Nek Iyah adalah orang yang sakti." jelasku.
"Masa sih sampai segitunya?" tanya Mas Gun.
"Nggak tahu Mas, itu kan kata Hendra. Ia kan orang asli sini." balasku.
"Apa Kang Ujang juga termasuk kaki tangan Nek Iyah? Gue pun curiga dengannya." tanya Tika.
"Itu yang masih menjadi perdebatan dalam hati gue Tik."
"Lho, kenapa?" tanya Tika lagi.
"Di satu sisi, Kang Ujang adalah orang dalam Nek Iyah. Ia jelas tahu apa yang juragannya lakukan. Baik maupun buruknya, gue yakin Kang Ujang tahu. Tapi di sisi lain, rasanya nggak mungkin kalau Kang Ujang masuk ke dalam komplotan mereka." jelasku.
"Apa alasannya?" tanya Tika lagi.
"Dulu saat keluarga Pak Rahmat yang berasal dari Cirebon ingin mengadakan ritual balas dendam pada kuntilanak merah, Kang Ujang menolak untuk menyaksikan dan hadir disana. Ia takut terseret dan terbawa-bawa jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan." terangku.
"Sesuatu yang nggak diingankan itu apa? Kok nggak jelas gitu alasannya." sahut Mas Gun.
"Gini Mas, itu kan ritual gaib. Gue pun nggak tahu dan sama sekali nggak mengerti tentang ritual balas dendamnya seperti apa. Jika ternyata ada korban jatuh dari pihak keluarga Pak Rahmat ataupun dari pihak Nek Iyah, Kang Ujang takut kami akan ikut terseret. Itu yang Kang Ujang bilang. Sampai akhirnya, gue dan Kang Ujang walk out dari forum ritual balas dendam malam itu." jelasku dengan detil.
"Iya sih. Di negara kita memang belum ada undang-undang yang menerangkan tentang perbuatan merugikan orang lain yang berkaitan dengan hal mistis maupun gaib. Santet, teluh, dan lainnya." sambut Tika.
"Kalau gue di posisi lo, mungkin gue juga akan pergi. Nggak mau juga ikut disalahkan, sedangkan kita hanya sebagai saksi ataupun hanya menyaksikan. Benar nggak?" tambah Tika lagi.
"Jadi kesimpulannya, Kang Ujang bukan bagian dari komplotan Nek Iyah? Gitu?" tanya Mas Gun.
"Nggak tahu gue kalau Kang Ujang. Gerak-geriknya juga nggak menunjukkan kalau ia ikut andil dalam kejahatan Nek Iyah." jawabku.
"Yang gue tahu dari cerita Kang Ujang, ia mengabdi pada Nek Iyah hanya untuk membalas budi." lanjutku.
"Balas budi? Balas budi apa?" tanya Tika.
"Panjang ceritanya Tik." jawabku.
"Ya ceritain aja Di. Emang nggak bisa lo rangkum cerita Kang Ujang? Intinya aja, nggak usah semuanya." tukas Mas Gun.
"Rangkum. Lo pikir bikin makalah bisa di rangkum? Hahahahaha." sahutku.
Tika tertawa lepas. Raut wajah Mas Gun tak enak. Aku pun tertawa melihat wajah Mas Gun.
__ADS_1