
Seperti biasa, setelah tahlil selesai kami yang hadir di suguhkan kue-kue dan camilan untuk di nikmati. Hendra nampak sibuk menyapa warga terdekat, sambil sesekali mengatur piring-piring camilan untuk warga yang belum kedapatan.
"Dek, besok malam tahlil terakhir di sini. Ikut lagi ya." pinta Kang Ujang.
"Oh sama dengan tahlil di rumah Nek Iyah ya kang, cuma tiga malam. Insya Allah saya hadir." balasku.
"Kang, semalam ada fenomena aneh di rumah Nek Iyah saat saya pulang."
"Fenomena aneh gimana?" tanya Kang Ujang dengan mulut penuh kue.
"Belum sampai saya di rumah Nek Iyah, ada angin kencang di dekat kebun kosong situ. Terus, begitu saya sampai di halaman kost, anginnya makin kencang sampai membuat pusaran gitu kang."
Kang Ujang mendengarkan ceritaku sambil terus mengunyah kacang goreng.
"Tiba-tiba hawanya terasa dingin banget, mirip di puncak gitu kang. Akhirnya saya masuk ke dalam kamar, tapi tetap mengintip dari balik gordyn. Yang lebih aneh menurut saya, di atas genteng rumah Nek Iyah ada kilatan cahaya putih, cahayanya menyambar-nyambar." ceritaku.
Kang Ujang makin gragas mengunyah kacang goreng.
"Terus?" tanya Kang Ujang.
"Di lantai dua rumah Nek Iyah, ada sebuah jendela yang tepat menghadap ke kost, betul kan?" tanyaku.
"Iya, saya tahu." jawab Kang Ujang.
"Ada cahaya seperti lilin, lalu saya lihat siluet tangan yang bergetar hebat. Terus, saya dengar suara teriakan dari lantai atas itu." sambungku.
"Kang, apa benar Nek Iyah mempraktekkan ilmu hitam?" tanyaku.
Wajah Kang Ujang nampak terganggu dengan pertanyaanku. Ia celingak-celinguk melihat sekitar.
"Ssshhh." Kang Ujang menaruh telunjuknya di depan bibir, memberi kode padaku untuk diam.
"Jangan kuat-kuat ngomongnya." lanjut Kang Ujang.
"Lho, kenapa kang?" tanyaku penasaran.
"Dek, soal ini nanti saya jelaskan. Tapi nggak di tempat ramai seperti ini. Bisa bahaya." tutur Kang Ujang.
Aku sontak kaget dengan ucapan Kang Ujang.
"Kang Ujang, Bang Adi. Makasih udah datang lagi." Hendra menyapa kami dengan senyum ramahnya. Aku tak jadi bertanya soal Nek Iyah lagi.
"Iya Dra, sama-sama." jawab Kang Ujang
"Udah ada kopinya belum?" tanya Hendra pada kami.
"Udah bang," jawabku.
__ADS_1
"Emm, bang. Keluarga dari Cirebon sudah pulang?" tanyaku.
"Eh, i-iya sudah pulang tiga orang. Yang tiga orang lagi masih ada, tuh di dalam rumah." jawab Hendra.
"Semalam itu, mereka mau ngapain Dra?" Kang Ujang bertanya.
Hendra berkata dengan suara pelan, hampir seperti berbisik, "Itu kang, seperti yang saya kasih tahu kemarin malam. Mereka mau ritual balas dendam sama kuntilanak merah yang membuat bapak jadi bernasib seperti itu."
"Tapi berhasil balas dendam bang?" tanyaku dengan suara pelan juga.
"Kita ngobrol di depan sana saja yuk!" ajak Hendra.
Hendra mengajak kami untuk mengobrol jauh dari kerumunan warga, ada apa sebenarnya? Aku heran. Kami mengobrol tepat di pinggir jalan. Hendra celinguk melihat sekitar, wajahnya nampak risau. Seperti ada rahasia yang ingin di jelaskan pada kami, dan tak ingin ada orang lain yang ikut mendengarnya.
"Kang, kita sama-sama sudah tahu kalau Nek Iyah itu siapa." ucap Hendra, Kang Ujang mengangguk.
"Cuma Adi ini orang luar, yang kebetulan saja kost di tempat Nek Iyah. Bahaya jika sampai terdengar oleh peliharaan Nek Iyah kang." lanjut Hendra. Kang Ujang mengangguk lagi.
Peliharaan Nek Iyah? Apa maksudnya itu?
"Apa aman saya cerita kalau ada Adi di sini kang?" tanya Hendra ke Kang Ujang.
"Insya Allah aman. Dek Adi juga sering mengalami kejadian-kejadian aneh selama tinggal di kost sana. Benar kan dek?" tanya Kang Ujang.
"Iya." jawabku. "Bang, memang kenapa kalau saya orang luar? Apa saya nggak berhak tahu?" tanyaku ke Hendra.
"Saya sudah bukan di incar lagi bang. Kata orang pintar, saya malah sudah di tandai. Saya akan di celakai, tapi saya nggak tahu siapa yang mau mencelakai saya." balasku.
Hendra dan Kang Ujang terkejut mendengar perkataanku. Yang semula Kang Ujang berdiri di sampingku, ia kini menghadapku tepat di samping Hendra.
"Dek Adi se-serius?" tanya Kang Ujang gagap.
"Kang Ujang mau tanya apa lagi? Apa yang belum saya lihat di kost itu? Semua penampakan sudah saya lihat. Untuk itu saya minta penjelasan dari Kang Ujang soal Kakek Badrun, ingat kan?" tukasku.
Kang Ujang diam, Hendra pun diam.
"Dua malam lalu saya melihat penampakan kuntilanak merah tepat di ruang depan kamar saya. Lalu kemarin malam, saya lihat penampakan wanita memakan kucing di ruang tengah kamar saya. Apa saya nggak berhak tahu juga apa yang mau Bang Hendra sampaikan?" tanyaku ke Hendra.
"Dek, bukan gitu maksud Hendra. Dia cuma takut kalau Dek Adi yang kena batunya. Yang di maksud Hendra 'peliharaan Nek Iyah' itu adalah murid-murid Nek Iyah yang mengabdi pada beliau. Di kampung ini masih banyak orang-orang kepercayaan Nek Iyah, dan mereka juga percaya dan patuh dengan Nek Iyah. Makanya, kita menjauh dari kerumunan itu." jelas Kang Ujang.
Aku diam tertegun. Tak kusangka, ternyata Nek Iyah banyak mempunya kaki tangan di kampung ini. Ia bisa dengan mudah mendapat laporan tentang orang-orang yang benci dan tidak pro dengannya, sehingga bisa dengan mudah ia habiskan. Begitulah kesimpulanku untuk sementara, itu pun belum tentu benar.
Hendra membakar sebatang rokok, di ikuti Kang Ujang.
"Jadi gini," Hendra membuka ceritanya. "Semalam itu keluarga dari Cirebon memang melakukan ritual balas dendam, di tujukan kepada si kuntilanak merah itu. Saat ritual baru saja di mulai, dua orang pria tumbang karena tidak kuat. Saya pun nggak tahu apa maksudnya tidak kuat, cuma mereka saja yang mengerti."
Aku dan Kang Ujang mendengarkan Hendra dengan seksama.
__ADS_1
"Ritual pun di lanjutkan. Saya beserta keluarga dan saudara di perintah oleh paman yang memimpin ritual untuk masuk ke dalam rumah, kami hanya di perbolehkan untuk mengintip. Saat ritual kembali di mulai, angin tiba-tiba kencang."
"Ah, saya ngerasain ada angin kencang semalam." potongku.
"Iya, mirip angin ribut kan bang?" tanya Hendra.
"Iya." tegasku.
"Terus, paman yang memimpin ritual pun membaca mantra-mantra sambi memejamkan mata. Ia ambil tasbih yang menggantung di lehernya, angin masih saja kencang seperti tadi. Saya dan keluarga yang menyaksikan dari dalam rumah kaget ketika ada petir yang menyambar-nyambar di sekitar rumah." terang Hendra.
Persis dengan apa yang kulihat, petir yang menyambar.
"Cukup lama kejadian petir itu, sekitar tiga menitan deh. Terakhir, petir menyambar dengan kuat ke pohon mangga yang ada di samping rumah. Kita sekeluarga kaget bukan main. Tuh, dahan paling besar sampai patah akibat tersambar petir, daun-daunnya hangus." Hendra menunjuk pohon mangga yang tak lagi rimbun. Sebelah dahannya patah, terlihat bekas patah dan hangus akibat sambaran petir.
"Oh iya ya, sampai seperti itu pohonnya." sahut Kang Ujang.
"Terus Dra?" Kang Ujang masih penasaran dengan kelanjutan cerita Hendra.
"Ritual pun selesai, ke empat orang yang menyebar kembali berkumpul di depan rumah. Mereka mengangkat tangan seperti posisi berdoa, setelah selesai mereka berempat menuju ke teras rumah dengan keringat yang bercucuran di dahi. Tapi, saat mereka lengah ada serangan balasan dari kuntilanak merah dan melukai seorang." cerita Hendra.
"Serangan balasan? Memang kayak apa serangannya Dra?" tanya Kang Ujang.
"Saya nggak ngerti seperti apa serangannya kang. Tapi, kondisinya cukup parah. Sama persis dengan kondisi bapak kang." ujar Hendra.
"Kayak apa?" tanya Kang Ujang.
"Seluruh urat di tubuhnya menonjol, warnanya kebiruan. Mulai dari wajah sampai ke kaki, serem lihatnya kang." cerita Hendra.
"Untung sempat di tolong oleh paman, kalau terlambat. Mungkin nasibnya bisa sama seperti bapak." lanjut Hendra.
"Tapi, kuntilanak merahnya berhasil di kalahkan bang?" tanyaku penasaran.
"Kuntilanak itu terlalu kuat bang. Paman tak sanggup mengalahkannya, dengan tumbangnya tiga orang dari anggota, maka berkurang pula kekuatan mereka." terang Hendra.
"Berarti ritula semalam gagal Dra?" Kang Ujang angkat suara.
Hendra kembali membakar sebatang rokok.
"Nggak bisa di bilang gagal kata paman, ritual semalam cukup untuk melukai dan membuatnya lemah." kata Hendra. "Tapi, sewaktu-waktu ia bakal kembali menyerang kalau sudah mendapatkan kekuatannya kembali." sambungnya.
"Dapat kekuatannya kembali? Apa paman lo bilang, dengan cara apa kuntilanak itu bisa dapat kekuatannya lagi bang?" tanyaku yang makin penasaran.
Hendra mengangguk.
"Ada tumbal yang di persembahkan lagi untuknya."
Deg!
__ADS_1
Aku terperanjat kaget.