
Pagi ini aku sengaja datang terlambat, aku tak ingin bertemu Yuda sebelum kelas di mulai. Rasa mangkel dalam hatiku masih menyisa. Dosen sudah membuka perkuliahan pagi ini. Aku duduk di barisan paling depan, saat masuk kelas tak kulirik sosok Yuda sedikit pun. Entah ia duduk di mana, sudah pasti posisi andalannya di barisan paling belakang.
Dari semalam pun Yuda tak mencoba menghubungiku untuk sekedar minta maaf, jadi kusimpulkan kalau ia memang menjauh dariku. Oke baiklah, tak berteman dengannya aku tak merugi sedikit pun. Justru aku yang merasa di rugikan. Keselamatanku terancam karena kalung pemberian Kakek Badrun sudah tak kusimpan. Dan lagi, jika Kakek Badrun tahu kalau kalung pemberiannya sudah tak ada mungkin ia akan mencap aku sebagai anak yang tak amanah. Ah sial, semua gara-gara anak manja bermata duitan itu.
Tapi, dalam benakku saat ini selalu memikirkan sosok pocong berwajah Yuda. Entah pertanda apa itu, semoga saja bukan pertanda buruk untukku maupun Yuda. Semoga hanya halusinasiku saja, karena aku sebal dengan Yuda, mungkin imajinasi dan sugesti alam bawah sadarku menampilkan wajah Yuda pada sosok pocong semalam.
Tring. Ada pesan masuk di ponselku.
Yuda? Mau apa dia? Aku pun membaca pesan dari Yuda.
- Di, gue minta maaf soal kalung lo. Nanti gue mau coba minta kembali kalung itu dari ibu kost, dan uangnya gue balikin. Sorry ya Di. -
Ada angin apa dia? Ingin mengembalikan uang sebesar lima juta ke Nek Iyah demi kalung itu, aku rasa tidak mungkin. Setahuku, otaknya hanya di penuhi nilai rupiah. Aku tak membalas pesan dari Yuda. Sana kau coba ambil, jika berhasil aku menaruh salut padamu. Yuda tidak tahu kalau itu bukan sembarang kalung, itu mustika Batu Dewa Dawana. Orang yang mengerti menggunakannya bisa menjadi orang sakti.
Biarlah dia mencoba meminta kembali kalung itu dari Nek Iyah. Tapi aku tak yakin Nek Iyah mau memberikan kalung itu cuma-cuma.
* * *
Siang ini aku janji bertemu dengan Tika di kantin gedung fakultasku, entah apa yang akan kita bicarakan nanti, yang jelas aku hanya ingin bertemu dengannya. Aku duduk di pojok dekat tiang.
"Duaarr!"
"Waaa!"
"Hahahahahaha. Kaget ya!"
Kemala?
Ia duduk di hadapanku. Tawanya masih tergelak. Hari ini ia memakai kerudung kuning, seragam dengan kemeja kotak-kotak yang ia kenakan. Manis.
"Aaahh rese lo!" sungutku.
"Lagian bengong! Ngapain sih siang-siang gini bengong? Hahahaha." tanya Kemala.
"Masa sih gue bengong?" sahutku.
"Ngelamunin apa Di?" tanya Kemala lagi. "Nggak ngelamunin gue kan? Hahahahaha."
"Yeee ngapain gue ngelamunin cewek yang udah punya pacar. Mending ngelamunin Pevita Pearce. Hehehehehe." balasku.
"Hahahahahaha. Lo pikir Pevita Pearce jomblo? Adiiii Adi, yang enggak-enggak aja sih." sahut Kemala. "Eh, lo ngapain sendirian? Biasanya kemana-mana barengan sama Yuda." tanya Kemala.
"Nggak apa-apa sih, lagi pingin sendiri aja. Masa bareng sama Yuda terus, nanti orang-orang curiga lagi. Lo kenapa sendiri? Biasanya bareng sama genk berisik. Hahahahaha." aku balas bertanya.
"Emmm, lagi pingin sendiri juga."
"Cowok lo mana?" tanyaku.
Kemala diam. Raut wajahnya berubah.
__ADS_1
"Kenapa La? Ada masalah?" tanyaku.
"Eng-enggak apa-apa kok. Kan lagi pingin sendiri aja, ya berarti nggak sama siapa-siapa dong." jawab Kemala. "Eh Di, temenin gue yuk!"
"Kemana?"
"Toko buku. Gramedio. Yuk!" ajak Kemala.
Aku menggaruk kepala yang tak gatal.
"Ayolaaahh. Gue bete nih. Yuk!"
"Aduuhh gimana ya?"
Aku bingung, sejujurnya aku hanya ingin bertemu dengan Tika. Kemala sudah tak menjadi prioritas paling atas saat ini. Tapi ajakannya tak mungkin juga kutolak.
Tring. Ada pesan masuk di ponselku.
"Sebentar La." aku mengambil ponselku. Melihat pesan masuk.
Tika.
- Di, rencana makan siang bareng, kita undur jadi makan malem bareng mau nggak? Gue ada tugas nih. -
Aaahh, kebetulan yang sangat indah.
- Oke. Nanti malam jangan sampai nggak jadi ya. -
"Yuk!" ajakku.
"Naahh gitu dong! Itu baru namanya sahabat sejati." ujar Kemala.
Aku dan Kemala pun berangkat menuju pusat perbelanjaan, tempat hang out anak muda, tempat nongkrong kaum milenial kebanyakan. Kami melesat menggunakan motor Kemala. Aku mengendarai motor dan Kemala membonceng. Kedua tangannya memegang erat pinggangku. Jantungku berdegup. Rasa bahagia ini tak bisa diungkapkan. Teriknya matahari siang ini tak terasa, di gantikan hawa sejuk karena Kemala. Indah. Siang ini sungguh indah.
* * *
Siang ini aku sangat senang. Kami berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Keliling toko buku, makan siang bersama sambil berbincang santai.
"Di, beli es krim yuk!" ajak Kemala.
"Ayo. Kebetulan udah lama nggak makan es krim nih."
Kami membeli dua es krim, aku suka rasa coklat, sedangkan Kemala rasa vanila.
"Lo mau cobain vanila nggak? Enak banget tahu. Nih cobain deh!" Kemala menyodorkan es krimnya ke mulutku.
Aku mengangguk. Lidahku menjulur ingin menjilat es krim.
Srett. Tiba-tiba Kemala mengoles ujung es krim ke pipiku.
__ADS_1
"Hahahahahaha. Nafsu banget! Hahahahaha." iseng Kemala.
Aku mengusap es krim yang belepotan di pipiku.
"Jail banget jadi orang. Awas lo ya!"
"Kyaaaa!" Kemala teriak lalu berlari menjauh dariku.
Hari ini kami sangat gembira.
"La, kita nonton yuk!" ajakku. Kebetulan uang jatahku dari Yuda masih kusimpan dan belum sama sekali kupakai.
"Emmm, mau nonton apa?" tanya Kemala.
"Lihat aja dulu di bioskop. Kalau ada yang seru kita nonton, kalau nggak ada ya nggak usah."
Kami pun menuju bioskop di lantai paling atas.
"Waahh, ada film horor nih. Kayaknya seru deh Di." Kemala menunjuk poster film horor, tergambar jelas sosok kuntilanak memakai baju putih dengan rambut terurai panjang, sambil menggendong bayi, wajahnya seram.
'Kuntilanak : Untold Story' judul filmnya.
"Lo yakin mau nonton film horor?" tanyaku.
"Kenapa? Lo nggak suka film horor ya?"
"Bukan nggak suka, hidup gue udah terlalu horor La. Takutnya film ini kalah horor, kan jadi nggak seru. Hehehehehe." jawabku.
"Hahahahahaha. Bisa aja lo. Jadi mau nonton apa nih? Terserah lo aja, lo yang ajak lo yang pilih filmnya."
Aku bingung, ada tiga film lainnya. Dua film Hollywood bergenre aksi, dan aku sangat tak berminat memilihnya. Satu lagi film drama petualangan produksi dalam negri.
"Ini aja Di!" tunjuk Kemala ke poster film drama petualangan. "Yang main filmnya Pevita Pearce lho! Hehehehehe."
Ah, sungguh kebetulan yang sangat membahagiakan. Aku adalah fans nomor satu Si Manis Pevita Pearce.
"Cocok! Yuk!" ajakku sembari tersenyum.
"Hahahahahaha. Mentang-mentang ada Pevita Pearce, langsung cocok." ujar Kemala.
Kami pun menonton film '5,5 cm'. Film ini mengisahkan sekelompok remaja yang sudah berteman sekian lama, mereka membuat perjanjian untuk berpisah sementara, dan akan kembali bertemu menjelang perayaan hari kemerdekaan dengan cara naik gunung bersama-sama. Film yang sangat menginspirasi dan meledakkan motivasi, sangat lucu dan menghibur, juga sangat memabukkan. Kenapa memabukkan? Karena ada Si Cantik Pevita Pearce dalam film itu.
Di tengah film, jantungku berdegup sangat cepat. Tiba-tiba saja Kemala menggenggam tanganku erat. Tangannya terasa dingin. Astaga, apa yang harus kulakukan kalau seperti ini?
"Sorry ya Di, gue pegang tangan lo. Habisnya dingin banget." ucapnya pelan.
Aku senyum, "Iya nggak apa-apa."
Hari ini aku sungguh senang, bukan karena Kemala menggenggam tanganku erat, tapi bersama Kemala adalah hal yang sangat kurindukan. Jujur, ada perasaan sayang kepadanya.
__ADS_1
"Kemala, gue sayang sama lo." aku membatin.