Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 52


__ADS_3

Bang Dede baru sampai kedai, anehnya ia tak seriang kemarin. Wajahnya datar tak berekspresi. Ada apa ya? Kak Nia pun begitu, nampak tak bersemangat. Apa mungkin mereka sedang ada masalah? Ah biar saja, toh bukan urusanku.


"Balik yuk! Udah sore nih." ajak Mas Gun.


"Yuk, gue juga ada urusan mendadak nih." sahut llham.


"Urusan apaan sih Ham? Urusan perem yaaa. Hahahahaha." ledek Mas Gun.


llham hanya senyum tak berkata.


"Bener kan Ham? Lagi deketin anak mana nih? Ada temennya nggak yang jomblo juga Ham?" oceh Mas Gun merepet mirip knalpot bajaj.


"Enggak Gun. Bukan urusan cewek, kan lo tahu gue juga jomblo. Hehehehehe." balas llham.


Mereka berbincang menuju kasir, aku tetap duduk di luar. Mas Gun mentraktir kami siang ini. Aneh, Bang Dede dan Kak Nia apa tidak menyadari kehadiranku siang ini? Melirik saja pun tidak. Hanya Wahyu yang ramah seperti biasa.


"Di, makasih lo sama llham, hari ini dia yang traktir. Hehehehe." suruh Mas Gun.


"Yang bener Ham? Waahh, sering-sering traktir yaa. Hehehehe." sahutku. llham hanya senyum menanggapi ocehanku dan Mas Gun.


"Gun, Di, gue balik duluan ya. Makasih rekomendasi tempat ngopinya, mantap!" pamit llham, sembari menghidupkan motor.


"Iya Ham, makasih yaaa!" lambai tangan Mas Gun, llham memacu motor dan pergi meninggalkan kami.


"Lo mau gue antar ke kost?" tanya Mas Gun.


"Boleh mas, sampai depan gang aja ya." jawabku.


Mas Gun menekan gas motor, aku membonceng di belakang. Motor melaju menuju belakang kampus. Tak lama, sampailah kami di depan gang, aku turun dan mengucapkan terima kasih ke Mas Gun, lalu ia ngeloyor pergi meninggalkanku.


Trinngg. Ada pesan masuk di ponselku.


llham.


- Kita ketemuan malam ini. Bisa? - tanya llham.

__ADS_1


- Bisa Ham. Lapangan belakang kampus ya - balasku.


- Oke. Jam 7 malam. - balas llham lagi.


- Oke. - ku balas.


Pertemuanku dengan llham nanti malam jam tujuh, tapi jantungku sudah berdegup cepat sejak sore ini. Ada apa ya? Apa llham benar-benar ingin membantuku? Aku sengaja tak cerita tentang persoalan jimat ini ke Mas Gun, aku takut Mas Gun malah tak percaya. Jadi, lebih baik tak usah ku ceritakan.


Aku berjalan menuju kamar kost, di halaman rumah Nek Iyah aku berpapasan dengan Bang Oji.


"Bang, mau kemana?" tanyaku.


"Oi Di, mau ke sana." jawabnya singkat lalu ia berlari, wajahnya nampak tak biasa. Seperti terburu-buru mengejar sesuatu, atau terburu-buru menghindari sesuatu. Aneh.


Kenapa semua orang hari ini nampak aneh bagiku? Apa gara-gara jimat yang ku bawa? Apa harus ku buang jimat ini? Nanti saja deh, ku tunggu saran dari llham saja. Mungkin dia lebih mengerti soal jimat ini.


Aku berjalan ke kamar kost melewati garasi dan mobil tua. Lagi-lagi ku temui hal yang ganjil, sekitar lima ekor kucing berbaris memanjang di depan mobil. Menatapku dengan sinis, namun wajah mereka tertunduk. Aku tak menggubrisnya, barangkali kucing daerah sini memang tertib berkelompok.


Sampailah aku di depan kamar, ku buka pintu kamar lalu masuk. Aku langsung menuju ruang tengah, memeriksa apakah cairan hitam masih mengotori ruang tengah kamarku. Alhamdulillah, ternyata permasalahan cairan hitam sudah selesai. Aku duduk di ruang depan kamarku, sambil mengingat-ngingat kembali semua perkataan mulai dari kakek yang memberiku jimat, ucapan Nek Iyah, sampai ku ingat kembali ucapan llham tadi. Apa semuanya terhubung? Apa ada kaitan dengan kematian kawanku, Bagas? Ah, rasanya tak mungkin.


Setelah shalat maghrib aku bergegas keluar kamar, memang belum jam tujuh, tapi perutku terasa sangat lapar. Niatku ingin makan di warteg dekat gang depan sana, sembari menunggu llham. Jimat sudah ku kantongi, dompet, dan ponsel pun sudah. Aku jalan.


Aku melewati garasi, dan anehnya lima ekor kucing masih duduk berbaris memanjang di tempat yang sama, tak bergeser sedikit pun. Matanya masih menatapku sinis, seolah ada amarah tersimpan di balik tatapannya. Lagi-lagi ku acuhkan, tak ada waktu memikirkan kucing bodoh yang berbaris sejak sore tadi, pikirku.


Aku berjalan cepat setelah ku tutup gerbang rumah Nek Iyah. Baru sekitar tiga langkah aku menjauh dari gerbang, tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari dalam rumah Nek Iyah. Sangat kencang. Suara perempuan. Aku kembali masuk ke halaman rumah Nek Iyah dengan tergesa.


"Aaaaaaaaa.." suaranya menggema terdengar sampai ke luar halaman.


Aku mengetuk pintu rumah Nek Iyah.


"Nek, Nek Iyah. Ada yang bisa saya bantu nek?" aku mengetuk pintu dengan panik.


Teriakan makin kencang terdengar. Nek Iyah tak membukakan pintu untukku.


"Pergi!!!" tiba-tiba sebuah suara meneriakiku. Suaranya berat, lebih mirip seorang lelaki. Aku terperanjat, dan lari tunggang langgang.

__ADS_1


Di ujung gang, aku membungkuk kehabisan nafas. Apa yang terjadi barusan? Lalu teriakan seorang perempuan di awal itu, apa itu suara Mbak Wati? Nafasku masih terengah-engah. Namun pikiranku melayang memikirkan kejadian barusan. Dan yang meneriakiku "Pergi!!!", siapa itu? Bukankah tak ada lelaki di rumah Nek Iyah?


Rencana makan malam di warteg gagal, sebentar lagi jam tujuh malam. Aku bergegas menuju jalan di pinggir lapangan, ku tunggu llham datang.


Sebuah cahaya bulat mendekat, lampu motor. Dan itu memang llham. llham mengenakan baju serba hitam, sebuah kain merah melilit di pinggangnya. Baju yang di pakainya lebih mirip seragam sebuah perguruan persilatan. Ada sebuah gambar di dada kanannya, gambar seekor elang mengibarkan sayap berwarna merah. llham turun dari motornya.


"Udah lama Di?" tanya llham dengan wajah serius, hilang kesan seorang llham yang supel, gemar bercanda, dan selalu mengoceh. Di gantikan seorang llham yang diam, tenang, dan serius.


"Baru kok, gue baru aja sampai." jawabku.


"Bawa jimatnya?" tanya llham lagi.


"Bawa nih." ku keluarkan jimat dari dalam kantong celanaku.


llham naik ke atas motor.


"Yuk, ikut gue!" ajaknya.


Jujur, aku sedikit ragu. Hendak di ajak kemana aku? Dan lagi, aku belum terlalu mengenal llham. Aku tak langsung naik ke atas motor.


"Kenapa? Takut?" tanya llham.


Aku diam, masih ku genggam jimat di tanganku.


"Masalah lo lebih menakutkan Di. Ayo naik!" ucapnya.


"Sebentar, tolong jelasin ke gue dulu Ham, masalah apa yang sedang gue hadapi? Dan jimat ini apa?" tanyaku.


"Di, lo mau percaya atau nggak sama gue, terserah. Gue cuma bisa kasih tahu, kalau lo lagi di incar, udah itu aja!" jelas llham.


Aku terhenyak. Di incar? Apa maksudnya di incar? Siapa yang mengincarku? Kenapa aku?


"Sekarang, lo mau naik apa nggak? Mau di bantu apa nggak?" tanya llham kembali.


Aku masih ragu dengannya. Ku lihat wajah llham. Tak nampak sedikit keraguan dari wajahnya, hanya terpampang wajah gahar dengan tatapan tajam ke arahku.

__ADS_1


__ADS_2