Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 50


__ADS_3

Suasana amat gelap, ku lihat sekeliling hanya terlihat warna hitam pekat. Apa ini? Tetapi ada setitik cahaya redup di ujung, terlihat sangat jauh. Aku mendekat ke arah cahaya itu. Berjalan pelan, namun seolah tak sampai. Aku mempercepat langkahku, titik cahaya itu tak berubah, aku berlari namun tak teraih. Aku membungkuk kelelahan.


Tiba-tiba suara gaduh bermunculan, sama seperti kemarin. Teriakan, erangan, tangisan, makian, dan tawa bercampur jadi satu. Lalu samar-samar ku lihat sosok Nek Iyah memakai gaun merah panjang. Tubuhnya tak terlihat bungkuk, malah nampak segar bugar. Rambutnya panjang terurai, hitam lebat mengilap.


"Nek Iyah." panggilku.


Nek Iyah menggeram, layaknya binatang. Menyeramkan. Mulutnya terbuka menyeringai, giginya tajam berjejer. Liur menetes tak henti-hentinya. Sesaat kemudian, itu bukan Nek Iyah yang ku kenal. Wajahnya berubah lebih menyeramkan. Bola matanya berwarna merah. Kuku-kukunya tumbuh amat panjang menghitam dan tajam. Rambut lebatnya mengembang dan berantakan.


"Buang!!!" Nek Iyah membentakku.


"Buang!!!"


"Buang!!!"


Lalu suara gaduh yang ku dengar tadi seketika riuh meneriakkan "buang!!!" dengan amat kerasnya.


"Buang!!!"


"Buang!!!"


"Buang!!!"


Syuuuu.. seketika menjadi hening.


Aku kaget.



Aku membuka mata. Hanya mimpi ternyata. Keringat di dahiku penuh, bulatan-bulatannya tergambar jelas. Aku menyeka keringat yang memenuhi dahiku, lalu bangun dan duduk. Nek Iyah? Mengapa Nek Iyah?



Aku melihat jam di ponselku, 03:03. Hei, tak ada suara tangis bayi. Hampir dua minggu aku tinggal di kost ini, dan baru malam ini aku tak mendengar suara tangis bayi. Mungkin bayi itu sudah bosan menangis, pikiranku nyeleneh.



Aku pun kembali tidur, tak ada alasan untukku tetap terjaga.



\*\*\*



Hari ini hari sabtu, syukurnya tak ada kuliah. Aku bebas melakukan apa pun. Dan yang paling membuatku bahagia adalah, tak ada suara tangis bayi tadi malam, juga tak ada cairan hitam yang mengotori ruang tengah kamarku. Jadwalku hari ini telah ku susun dengan seksama, di awali mencuci baju, merapikan kamar kost, dan malas-malasan. Ah nikmatnya hari sabtu. Susunan kegiatanku hari ini di mulai pukul 08:05.



Pukul 09:40 semua kegiatan hari ini sudah ku lakukan. Baju sudah ku jemur, beruntungnya hari ini matahari cukup terik. Kamar kost pun sudah ku rapikan. Aku merebahkan diri di atas lantai di ruang depan kamarku. Angin sepoi-sepoi masuk dari pintu yang ku buka lebar serta dari celah jendela, menenangkan sekaligus menyegarkan.


"Assalamualaikum."


Salam Kang Ujang mengagetkanku. Aku bangun dari rebahku.


"Waalaikumsalam kang." jawabku.


"Dek, lagi libur kuliah?" tanya Kang Ujang.


Aku keluar kamar menemui Kang Ujang di teras depan kamarku.


"Ada apa kang?" tanyaku.


"Dek Adi, adek di panggil Nek Iyah tuh. Di tunggu di depan rumah ya." tutur Kang Ujang.


"Oh iya kang, nanti saya ke sana."


"Sekarang ya dek." ucapnya lagi.


"Iya iya kang."


Kang Ujang pun berlalu. Ku tutup pintu kamar dan menyambangi Nek Iyah yang menungguku di depan rumahnya.


"Dek Adi, silakan duduk." Nek Iyah mempersilakanku duduk.


Ada apa ya? Apa aku membuat masalah? Aku bertanya-tanya dalam hati.


"Dek Adi, ada yang mau saya tanyakan. Boleh?"

__ADS_1


"Boleh nek, ngomong-ngomong mau tanya apa nek?" tanyaku.


"Apa Dek Adi baru-baru ini bertemu dengan seorang lelaki tua?" tanya Nek Iyah.


Deg.


Lelaki tua? Apa yang di maksud Nek Iyah itu si kakek tadi malam? Kalau yang di maksud si kakek, tahu dari mana Nek Iyah?


"Me..memang kenapa nek kalau boleh tahu?"


Nek Iyah tersenyum ramah.


"Apa yang lelaki tua itu berikan ke Dek Adi?"


Aku terkejut, lagi-lagi Nek Iyah tahu kalau si kakek memberikan sesuatu kepadaku.


"Bukan apa-apa sih nek, cuma kalung. Memang nenek kenal dengan kakek itu?" tanyaku.


Nek Iyah tertawa terkekeh.


"Saya kasih tahu ke Dek Adi, dia itu orang jahat. Ia mau memanfaatkan kamu untuk bisa mencelakai saya dan anak saya." jelas Nek Iyah.


Aku diam.


Nek Iyah bangun dari duduknya, lalu mendekat ke arahku, tatapan matanya tajam.


"Buang benda itu!" bisik Nek Iyah di telingaku.


Deg deg deg, jantungku berdegup cepat.


Kembali teringat mimpiku tadi malam. Mimpi Nek Iyah yang berubah menjadi menyeramkan dan berteriak "Buang!!!".


Aku menelan ludah. Aku masih diam tak berkata.


Nek Iyah kembali duduk di kursinya. Raut wajahnya cepat berubah, kali ini ia kembali tersenyum ramah.


"Mengerti apa yang saya kasih tahu dek?" tanya Nek Iyah.


Aku mengangguk tanpa berkata apa pun.


"Yasudah, saya cuma mau bicara itu saja. Kamu boleh balik ke kamar." ucap Nek Iyah.


Aku buru-buru melesat ke kamar. Pertanyaan demi pertanyaan berjejal memenuhi tiap sudut sel otak di kepalaku. Siapa yang harus ku percaya? Si kakek atau Nek Iyah? Aku bingung. Hari liburku menjadi gamang, menjadi tak berwarna rasanya.


Aku menghubungi Mas Gun, menanyakan agenda ngopi kami hari ini. Mas Gun menyuruhku untuk datang ke kontrakannya. Tak lupa ku bawa kalung pemberian si kakek tadi malam. Berjaga-jaga, jika aku mengambil keputusan untuk mengikuti saran dari Nek Iyah, bisa langsung ku buang di mana pun.


Aku pun pergi menuju kontrakan Mas Gun.




"Assalamualaikum." aku mengucap salam dan ngeloyor masuk ke kontrakan Mas Gun.



"Waalaikumsalam. Masih pagi Di, mau ngopi sekarang?" tanya Mas Gun yang sedang asik menatap layar laptopnya.



"Nanti saja mas." jawabku.



Aku merebahkan badanku di atas lantai. Melipat kedua tanganku dan menjadikannya alas untuk kepalaku. Ku pandangi langit-langit kamar Mas Gun. Seonggok sarang laba-laba menggantung di sudut. Bercak noda berwarna kecoklatan tergambar akibat air hujan dari genteng yang bocor.



"Kenapa Di? Ada masalah?" tanya Mas Gun melirikku yang sedang diam sembari menatap langit-langit kamarnya.



"Hmm." jawabku singkat sambil menggeleng.



"Udah makan belum Di?" Mas Gun kembali bertanya.

__ADS_1



"Belum mas. Mau ngajak gue makan?"



"Yuk, gue juga laper banget nih. Gue ada langganan warung nasi enak banget Di, warung sunda. Murah, enak, bersih, dan yang paling pentiiiiinnnggg.." Mas Gun tak melanjutkan penjelasannya.



"Apa yang penting?" tanyaku penasaran.



"Mau tahu banget apa mau tahu aja niiihh." ledek Mas Gun, alisnya naik turun.



"Mau tahu banget deh, biar lo seneng mas. Hehehehe." balasku.



"Yang paling pentiiiiinnnggg, teteh-tetehnya geulis pisaaaannn!" teriak Mas Gun.



Aku kira apa, ternyata seorang teteh yang begitu penting buat Mas Gun.



"Nggak percaya gue, sebelum gue lihat sendiri." gumamku.



"Oke. Tapi lo jangan sampai naksir ya. Awas aja lo!" ancam Mas Gun.



Kami pergi menuju warung sunda pilihan Mas Gun, dengan berbekal perut kosong dan rasa penasaran yang tinggi soal teteh geulis, aku membonceng di belakang Mas Gun. Tak jauh warungnya, mengendarai motor hanya butuh waktu lima menit. Menjelang siang memang agak ramai warung nasi ini.



Aku turun dari motor, Mas Gun tancap gas langsung menuju etalase kaca tempat memajang lauk. Tapi aku merasa ada yang aneh. Begitu mendekat ke pintu masuk warung nasi, perutku terasa mual, kepalaku pening, pandanganku pun berkunang-kunang. Aku pun mundur agak menjauh dari pintu warung. Ketika menjauh, mual dan peningku hilang, pandanganku pun kembali normal. Ada apa ini?



"Di, ayo masuk! Katanya lapar. Ayo!" panggil Mas Gun seraya memamerkan piringnya yang penuh dengan lauk pauk.



"Iya mas." jawabku.



Ah, mungkin tadi hanya perasaanku saja. Aku kembali mendekat ke pintu warung. Selangkah lagi menuju pintu, rasa mual dan pening kembali menyerangku. Kali ini lebih dahsyat. Hampir tak bisa ku tahan, aku berlari menjauh dari warung. Aku muntah sejadi-jadi di bawah pohon. Kenapa ini? Kenapa dengan diriku?



Aku lihat ke dalam warung nasi dari bawah pohon, Mas Gun dengan lahapnya menyuap tiap sendok nasi beserta lauk. Mual kembali menyerangku, aku memuntahkan isi perutku. Ada apa dengan tubuhku? Lemas rasanya.



"Di, kenapa sih? Lo mau makan nggak?" panggil Mas Gun dengan mulut penuh dengan nasi, sampai-sampai pipinya tembam.



"Iya bentar mas, badan gue tiba-tiba nggak enak. Lo makan duluan aja." sahutku. Mas Gun melengos masuk kembali ke dalam warung.



Aku berjalan lemas menuju warung nasi, lalu duduk di atas motor Mas Gun. Menenangkan diri sejenak. Aku kembali melihat ke dalam warung nasi melalui jendela kaca besar.



Astaga, apa itu? Aku terperanjat. Mataku terbelalak saking kagetnya. Aku melihat sosok lelaki tinggi besar sedang berdiri di belakang etalase makanan. Tubuhnya di penuhi bulu hitam. Matanya besar berwarna kemerahan, hidungnya kecil bulat seperti tomat, mulutnya menganga dan lidahnya menjulur amat panjang, dan yang paling menjijikkan adalah liurnya menetes membasahi etalase kaca tempat lauk-pauk di hidangkan.


__ADS_1


Aku bergidik ngeri. Ku perhatikan dengan seksama tiap sudut warung nasi. Innalilahi, apa lagi itu? Belasan pocong berdiri memenuhi warung. Kain kafannya lusuh dan kotor, wajahnya hitam legam, matanya putih, dan dari mulutnya menetes cairan berwarna hijau tua. Menjijikkan. Aku tak dapat menahan mual, aku kembali muntah di bawah pohon. Sedangkan Mas Gun masih asik menyantap makanannya, bahkan sepiring nasi hampir ia habiskan. Aku tak sanggup melihat penampakan demi penampakan yang ada di dalam warung.


__ADS_2