Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 176


__ADS_3

Jika polanya saling berkaitan antara masa lalu dan sekarang. Lalu kenapa Pak Rahmat menjadi korban tumbal kuntilanak merah? Ini yang patut dipertanyakan.


"Kang, saya mau tanya lagi nih." ucapku.


"Mangga atuh Dek. Dek Adi ini cocoknya jadi wartawan kalau saya bilang, selalu banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan." sahut Kang Ujang sambil tersenyum.


"Saya menemukan pola yang terjadi antara masa lalu dengan masa sekarang, terkait korban tumbal kuntilanak merah." ucapku membuka opini.


"Aduh Di. Bahasa lo bikin gue pusing. Langsung aja ke inti pertanyaan! Pakai pola segala. Kayak tukang jahit lo." Mas Gun menyahut.


"Ini pembukaan pengantar sebelum ke inti pertanyaan Mas. Kalau kata orang barat bridging sebutannya. Percuma juga gue ngomong English, lo pasti nggak ngerti." balasku seraya terkekeh.


"Yasudah, lanjut atuh. Dek Adi mau ngomong apa?"


"Jadi polanya itu saling berpasangan. Di masa lalu Mbak Ajeng meninggal bunuh diri, dan di masa sekarang Bang Oji yang meninggal bunuh diri. Di masa lalu Mbak Gendis mengalami gangguan jiwa, lalu meninggal. Sekarang terjadi pada Tarjo yang mengalami gangguan jiwa, kemudian tewas. Benar nggak kesimpulan saya? Kejadian dengan pola yang sama antara masa lalu dengan masa sekarang." jelasku.


Wajah Kang Ujang sumringah.


"Waaahh iya ya. Benar Dek, saya baru sadar. Kejadian masa lalu terulang lagi di masa sekarang ya." ungkap Kang Ujang.


"Wuih, otak lo sampai mikir kesana ya Di. Keren juga lo, nggak sia-sia dulu ikut pramuka. Gue baru ngeh lho." Mas Gun menimpali.


Apa hubungannya pramuka dengan kesimpulan instingku? Dasar Mas Gun asal jeplak.


Kang Ujang berdecak.


"Dek Adi meni hebat pisan euy. Mirip dektektip iyeu mah."


"D-E-T-E-K-T-I-F Kang. Bukan dektektip. Hehehehehe." ucap Mas Gun membetulkan.


"Apalah itu Gun. Bodo teuing. Terus Dek?" Kang Ujang bertanya.


"Kalau merujuk pada pola yang terjadi antara masa lalu dan sekarang, apa alasan Pak Rahmat menjadi tumbal? Sedangkan tak ada kejadian yang sama di masa lalu dengan Pak Rahmat di masa sekarang." tanyaku.


Kang Ujang tampak berpikir.


Mas Gun pun diam.


"Atau karena ulah Bang Oji?" ucapku.


"Oji? Kenapa dengan Oji?"


Kuceritakan pada Kang Ujang dan Mas Gun soal Bang Oji yang memergoki Pak Rahmat menyuruhku untuk pergi dari kost itu, sesaat setelah menyolatkan jenazah Mbak Wati.


"Saat itu Bang Oji tampak kesal dan nada bicaranya tinggi. Berbeda jauh dengan Bang Oji yang supel dan lucu. Apa mungkin itu penyebabnya?" tambahku.


Kang Ujang belum berkomentar.


Mas Gun hanya diam sambil menghisap rokoknya.


"Kesimpulannya apa Kang? Soal kematian Pak Rahmat." ucapku.


"Saya tidak tahu kalau itu Dek. Pemilihan calon korban tumbal adalah ranah yang sangat saya hindari. Saya takut. Saya nggak mau berurusan dengan yang macam itu." ujar Kang Ujang.


"Mungkin juga Oji yang memilih Pak Rahmat untuk menjadi korban tumbal, dengan alasan karena Oji takut Dek Adi mengikuti saran dari Pak Rahmat untuk pergi dari kost itu. Sebelum Dek Adi memutuskannya, lebih baik Pak Rahmat segera dihabisi." sambung Kang Ujang.


Hmm. Masuk akal. Kesimpulan yang mendekati sempurna dari Kang Ujang. Karena Bang Oji yang mempunyai kuasa atas pemilihan calon korban tumbal, maka ia berhak menentukan siapa yang akan menjadi target selanjutnya. Siapapun oranganya. Ya ya ya.


"KANG, PISANG GORENG KANG!" ucap Mas Gun.


Aku terkejut, Kang Ujang lari tunggang langgang menuju dapur.


"Aduuuhh, bikin kaget aja sih Mas." tuturku.


"Yeeee, daripada kita makan pisang goreng hangus. Mending gue teriak. Pilih mana hayoo?" balas Mas Gun.


Tak berapa lama Kang Ujang kembali, dengan membawa sepiring penuh pisang goreng.


"Ayo dimakan, mumpung masih panas. Untung Guntur teriak, kalau keasikan mengobrol mungkin hangus nih pisang." ucap Kang Ujang sembari menaruh piring di hadapan kami.


Pisang goreng dengan ukuran sedang. Warnanya coklat keemasan. Wangi pisang memenuhi ruangan. Membuat liurku banjir. Pisang goreng memang jodohnya dengan kopi. Tak ada yang lain.

__ADS_1


Mas Gun mencomot sepotong, lalu menggigitnya. Ia tampak kepanasan sambil memegang pisang goreng. Asap tipis mengepul dari pisang yang sudah digigitnya.


"Sabar Mas. Itu pisang kan baru diangkat dari penggorengan, main gigit aja." ucapku.


Mas Gun tak menimpali, ia mangap-mangap mengeluarkan uap panas dari potongan pisang yang ada di dalam mulutnya.


Aku mencomot sepotong. Meniupnya pelan. Lalu menggigitnya sedikit.


"Habiskan Gun. Masih banyak kok di belakang. Nanti kalau kurang, kita goreng lagi." ujar Kang Ujang.


"Kang Ujang tadi kerja?" tanyaku.


"Iya Dek. Lagi repot betulin atap kamar 11c. Takut nanti ada yang mau kost. Makanya dibetulin." jawab Kang Ujang.


"Kang Ujang ketemu dengan Nek Iyah hari ini?" tanyaku lagi.


"Ketemu. Memang kenapa Dek?" Kang Ujang balik bertanya.


"Apa Kang Ujang nggak curiga melihat Nek Iyah?"


Kang Ujang diam, ia tampak tak mengerti maksudku.


"Curiga? Apa yang mesti dicurigai Dek?"


Aku menyeruput kopi.


"Kang Ujang bilang kalau Nek Iyah bersekutu dengan kuntilanak merah untuk kesaktian, kekayaan, dan awet muda. Lalu kenapa setelah mendapatkan tumbal, wajah dan tubuh Nek Iyah tidak berubah sedikit pun? Ia malah terlihat sakit sekarang." ujarku.


"Apa perjanjian dengan kuntilanak merah telah berakhir? Sehingga sebanyak apapun tumbal yang didapatkan tak akan berpengaruh pada Nek Iyah." tanyaku.


"Iya juga sih. Saya lihat Nek Iyah memang tampak kurang sehat." jawab Kang Ujang.


"Kalau soal perjanjian, saya tidak tahu menahu Dek. Semua ini kan salah Kakek Badrun. Ia yang memberikan kuntilanak merah itu pada Nek Iyah. Yang niat awalnya hanya sebagai penjaga. Entah kenapa kuntilanak merah itu menjadi mesin pembunuh yang sangat menakutkan di tangan Nek Iyah." terang Kang Ujang.


Ya, kalau cerita soal Kakek Badrun memberikan kuntilanak merah untuk menjaga Nek Iyah memang sudah kuketahui.


"Saya kira, kuntilanak merah sudah mendapatkan Tuan yang baru." sahut Mas Gun.


"Tapi kalau kuntilanak merah itu sudah mendapatkan Tuan yang baru, nggak mungkin Nek Iyah akan mudah dilepas begitu saja. Pasti Nek Iyah yang akan menjadi tumbal. Betul nggak?" ujarku.


"Iya. Biasanya orang yang sudah bersekutu dengan iblis dan tidak bisa memberikan tumbal, maka jiwa orang tersebut yang akan diambil oleh iblis sebagai pengganti tumbal." tambah Kang Ujang.


"Sedangkan ini berbeda kasus. Kuntilanak merah itu sudah mendapatkan total tiga tumbal, tapi efeknya tak berpengaruh pada Nek Iyah. Mungkin kalau ditelisik lebih jauh, seharusnya Nek Iyah aman dong. Jiwanya tak akan diambil sebagai pengganti, karena kuntilanak merah sudah mendapatkan tumbal. Kecuali Nek Iyah mengalami kasus seperti yang Kang Ujang bilang tadi." ujarku.


Misteri. Masih menjadi misteri mengapa tumbal yang didapat tak berpengaruh pada Nek Iyah. Tanda tanya besar kembali menggelayut di otakku.


"Saya nyerah Kang. Belum ada titik terang soal Nek Iyah. Misterinya terlalu dalam." ucapku.


"Jangan dipikirin atuh Dek. Nanti malah pusing. Mending makan pisang goreng. Tuh, lihat Guntur. Sudah habis empat potong." kata Kang Ujang.


Mas Gun menepuk dadanya bangga. Bangga sudah menghabiskan empat potong pisang goreng.


"Kang, sebelum jadi kamar kost. Area itu dulunya apa sih?" tanya Mas Gun.


"Dulu area belakang rumah Nek Iyah kebun dan gudang. Gudang tempat menaruh barang rongsokan dan alat-alat berkebun. Nah, di dalam gudang itulah Mbak Gendis dipasung." jawab Kang Ujang.


"Kalau makam Mbak Ajeng dan Mbak Gendis dimana Kang?" tanyaku.


"Makam Ajeng dan Gendis. Dimana ya? Saya kurang tahu tepatnya dimana. Tapi yang jelas, mereka di makamkan tak jauh dari rumah Juragan. Masih di sekitar rumah itu, tapi hanya Juragan dan Nek Iyah saja yang tahu." jawab Kang Ujang.


Raut wajahnya tampak mencurigakan. Tak mungkin ia tak tahu. Kang Ujang pasti berbohong.


"Kalau makam bayi dari Nyai Asih dimana Kang?" Mas Gun bertanya.


"Makam bayi Nyai Asih." Kang Ujang tampak berpikir. Ia berpikir sambil mengelus dagunya.


"Kalau saya tidak salah, letak makam bayi Nyai Asih itu ya kamar Dek Adi sekarang." jawab Kang Ujang sedikit ragu.


"Dulu yang mengurus jenazah bayi Nyai Asih, mengurus Nyai Asih, sampai Nyai Asih meninggal adalah Bi Tati. Pasti Bi Tati yang menguburkannya disana." lanjut Kang Ujang.


"Kalau memang makam bayi dari Nyai Asih ada disana, kenapa saat pembangunan kamar kost makam bayi Nyai Asih tak dipindahkan?" aku melayangkan pertanyaan.

__ADS_1


Kang Ujang kembali berpikir.


Mas Gun ikut berpikir, dengan mulut mengunyah.


"Saat itu yang pegang kendali atas semuanya adalah Nek Iyah. Setelah memiliki penjaga, Nek Iyah menjadi semakin jumawa. Bahkan Juragan pun bertekuk lutut dengan Nek Iyah. Mungkin saja kuburan bayi Nyai Asih sudah dipindahkan, tapi letaknya hanya beliaulah yang tahu." jelas Kang Ujang.


"Pak Thamrin jadi suami takut istri dong. Hehehehe." sahut Mas Gun.


Kami pun tertawa.


"Berarti wanita yang mengambil bayi di mimpi lo itu Bi Tati Di. Bi Tati yang membawa bayi dan masuk ke dalam kamar. Betul nggak?" ujar Mas Gun.


"Mimpi? Memang Dek Adi mimpi apa?" tanya Kang Ujang.


Kuceritakan mimpiku tadi malam pada Kang Ujang. Kang Ujang menepis kalau mimpi itu hanya bunga tidur, bukan berarti ada suatu pertanda.


"Eh Kang, saya penasaran dengan satu hal nih." ucapku.


"Hahahaha. Apa lagi Dek?"


"Berarti pembangunan kamar kost itu setelah Mbak Ajeng dan Mbak Gendis meninggal karena menjadi korban tumbal kuntilanak merah kan?" tanyaku.


"Iya Dek. Kamar kost itu baru berdiri sekitar enam atau tujuh tahun yang lalu. Sedangkan Ajeng dan Gendis meninggal sekitar sepuluh tahun yang lalu. Kalau hitungan saya tidak salah ya." jawab Kang Ujang.


Hmmm. Apa mungkin jenazah Mbak Ajeng dan Mbak Gendis di makamkan di belakang rumah juga?


"Kang, ada yang ingin saya ungkapkan dengan Kang Ujang." ucapku pelan.


"Soal apa Dek?" tanya Kang Ujang.


"Saya pikir, yang membuat saya menjadi incaran kuntilanak merah itu karena saya tinggal di kamar 11b itu." ujarku.


"Lho, kenapa Dek Adi bilang seperti itu?" tanya Kang Ujang.


"Karena hanya saya yang mengalami kejadian aneh sejak saya tinggal di kamar itu. Berbagai macam gangguan dan penampakan demit menyeramkan sudah saya lihat. Bang Oji yang tinggal di kamar ujung tak pernah mendapatkan gangguan. Mungkin karena dia kaki-tangan Nek Iyah. Tika dan Yuli yang tinggal di kamar 11a, tak pernah mendapat gangguan." terangku.


"Waahh, kalau kesimpulan Dek Adi seperti itu kurang masuk akal atuh Dek." balas Kang Ujang.


"Kenapa nggak masuk akal?" tanyaku.


"Kalau Dek Adi barusan bilang menjadi incaran kuntilanak merah, tentu ada sebabnya bukan. Nah, sebab itulah yang menjadi jawabannya dan harus dicari. Setelah mendapatkan sebabnya, barulah gangguan itu dilancarkan." jelas Kang Ujang.


"Kemana mencari jawaban atas sebab Dek Adi menjadi incaran kuntilanak merah itu? Hanya Oji yang bisa menjawabnya." tambah Kang Ujang.


Buntu. Kesimpulanku yang lalu, dibuat buntu oleh Kang Ujang. Benar. Aku harus mencari penyebabnya, kenapa aku sampai menjadi incaran kuntilanak merah? Terlepas dari darahku yang mengalir darah keturunan orang sakti. Yaitu leluhurku.


Hanya Oji yang tahu jawabannya. Sedangkan Oji sudah terpendam didalam tanah. Demitnya pun sudah musnah. Lalu, kemana aku harus mencari jawabannya?


"Oji sudah dikubur. Lalu, pada siapa Dek Adi harus bertanya?" tutur Kang Ujang.


Aku terdiam.


"Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Du du du du du. Wouo hooo ooo, ooo o oh, ooo o oh, ooo." Mas Gun menimpali dengan sebait lagu.


Aku dan Kang Ujang tertawa terbahak mendengar Mas Gun bernyanyi. Suara fals-nya sangat mengganggu.


...______________...


...segini dulu ya updatenya....


...Insyaallah besok lagi....


...jangan lupa selalu...


...LIKE, KOMEN, FAVORIT...


...kalau berkenan kasih...


...GIFT atau VOTE...


...makasih...

__ADS_1


__ADS_2