
"Buruan tanya ke Kang Ujang Di! Cari informasi selengkap-lengkapnya." suruh Mas Gun.
"Ya kali malam-malam begini ke rumahnya Mas. Bukan dikasih info, malah dikasih kultum. nanti. Besok aja, nggak mungkin kalau Kang Ujang nggak datang ke rumah Nek Iyah." balasku.
Mas Gun membuat secangkir kopi. Terdengar shalawat dari kejauhan, suara seorang Kakek. Suaranya parau, tapi bernada. Ah, sebentar lagi masuk waktu subuh. Kulihat jam di ponselku, pukul 03:25.
Dug.
Dug.
"Eh, suara apa tuh Di?" tanya Mas Gun.
Dug.
"Iya ya. Suara apa ya?" sahutku.
Dug.
Dug.
"Seperti suara sesuatu yang dibenturkan ke dinding ya Mas." ucapku.
"Iya. Apaan ya?"
Mas Gun beranjak dari tempat duduknya. Ia membuka pintu dengan lebar, lalu melihat ke sekeliling.
Dug.
Dug.
"Asal suaranya seperti dari ujung kamar 11e deh!" ucap Mas Gun.
Aku bangun dari duduk. Lalu keluar kamar dan berdiri di teras kost.
"Iya. Seperti dari kamar almarhum Bang Oji deh." ucapku sambil melihat ke arah kamar 11e.
"Almarhum? Memang dulu kamar ujung sana ada penghuninya?" tanya Mas Gun.
"Ada Mas. Dia yang meninggal bunuh diri itu lho. Terus di makamin di ujung kamar 11a itu." tunjukku.
"Idiiihhh. Serem amat meninggal bunuh diri. Masuk yuk Di. Perasaan gue nggak enak deh." ajak Mas Gun.
Kami pun masuk kamar. Pintu kamar kututup rapat. Suara benturan masih saja terdengar. Kali ini lebih jarang. Namun tetap mengganggu.
"Di, jangan-jangan sekarang juga mereka mulai menyerang." ucap Mas Gun.
Kuambil ponselku. Kirim pesan ke Tika.
- Tik, udah bangun? -
Tak ada balasan dari Tika.
"Lo kirim pesan ke siapa?" tanya Mas Gun.
"Tika,"
"Siapa tahu dia udah bangun." jawabku.
"Mau ngapain kirim pesan ke Tika?" Mas Gun kembali bertanya.
"Mau kasih tahu dia, agar bersiap. Perasaan gue juga rada nggak enak nih Mas." balasku.
"Bismillahirrahmanirrahiem." Mas Gun bergumam pelan.
Pukul 03:30.
Tak ada tanda-tanda kalau kuntilanak merah dan begundalnya akan datang menyerang. Suara benturan yang kami dengar sudah tak ada lagi.
Pukul 03:40.
__ADS_1
Aku dan Mas Gun masih duduk saling berhadapan. Menunggu dengan was-was.
"Di." panggil Mas Gun.
"Apa Mas?"
"Gue ngantuk nih." tutur Mas Gun.
"Tahan Mas. Sebentar lagi subuh kok. Masa lo mau tidur lagi." balasku.
Pukul 03:50.
Mas Gun duduk bersandar pada dinding. Ia tertidur dengan tangan menyilang di depan perutnya.
Tiba-tiba..
Dug.
"Eh, suaranya terdengar lagi Mas. Mas. Mas Gun." ucapku seraya membangunkan Mas Gun.
Mas Gun membuka mata. Ia tampak gelagapan.
"Aduuuhh. Bikin kaget aja sih Di." sungut Mas Gun.
Dug.
Dug.
"Tuh Mas! Lo dengar kan?" tanyaku.
"Iya iya gue dengar. Asli, gue penasaran Di." ucap Mas Gun.
"Terus lo mau ngapain?" tanyaku.
Mas Gun bangun dari duduknya. Ia membuka pintu dan ngeloyor melangkah keluar kamar.
"Mas. Mas, lo mau kemana Mas?" tanyaku sedikit panik.
Aku berdiri dan menyusul Mas Gun keluar kamar.
Shalawat di kejauhan masih terdengar sayup. Angin bertiup pelan.
Mas Gun melangkah pelan menuju kamar ujung, kamar 11e. Aku mengekor di belakangnya.
Dug.
Dug.
Kupasang telinga baik-baik. Mencari sumber suara tersebut. Mas Gun berjalan pelan sambil tengak-tengok. Memindai penglihatannya ke segala penjuru.
Dug.
Dug.
Kami sampai di depan kamar 11e. Suara benturan masih terdengar. Mas Gun merapatkan telinganya ke pintu kamar 11e. Aku mencoba mengintip ke dalam kamar melalui celah tirai jendela yang terbuka sedikit. Suasana di dalam kamar tampak sangat gelap. Sudah lebih sebulan kamar ini selalu gelap dan tak pernah di masuki. Pintunya di kunci, bahkan di gembok.
"Sepertinya asal suara bukan dari sini Di." ucap Mas Gun.
Dug.
Dug.
Dug.
"Mas. Kayaknya dari kamar Ela dan Dini deh!" tuturku.
Mas Gun menjauh dari kamar 11e. Kami melangkah mendekat ke kamar 11d.
Dug.
__ADS_1
Dug.
Mas Gun menempelkan telinganya di pintu kamar 11d.
"Iya Di. Dari kamar ini asal suaranya." ucap Mas Gun.
Aku mencoba mengintip dari luar. Namun tirai yang menutupi jendela begitu rapat. Tampak lampu di dalam ruangan pun gelap.
Tok tok tok tok. Kuketuk pintu kamar 11d.
"Ela. Dini." kupanggil mereka.
Tak ada jawaban.
Dug.
Dug.
"Elaaa. Buka Laa. Diniiii." panggilku dengan suara lebih keras.
Lagi-lagi tak ada jawaban.
Tok tok tok. Kembali kuketuk pintu kamar 11d.
Terus kupanggil Ela dan Dini. Namun tak ada jawaban dari mereka.
Dug.
Dug.
"Perlu kita dobrak nggak nih?" tanya Mas Gun.
"Jangan Mas."
Dug.
Dug.
Allahu Akbar. Allaaaaaaahu Akbar.
Terdengar adzan subuh di kejauhan.
Seiring adzan berkumandang, suara benturan tak lagi terdengar. Kami masih berdiri di depan kamar 11d. Aku masih mengetuk pintu dan memanggil Ela serta Dini.
Suara benturan benar-benar tak terdengar lagi.
"Udah benar-benar berhenti kayaknya Di." kata Mas Gun.
"Iya. Sepertinya Mas. Udah nggak terdengar lagi kok benturannya." sahutku.
Kami pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan melaksanakan shalat subuh berjamaah. Namun dalam benakku menggantung tanda tanya, gerangan suara benturan apa yang terdengar dari kamar 11d? Apa Ela dan Dini baik-baik saja? Aku takut terjadi hal yang tak baik untuk mereka berdua.
Sejak aku tinggal disini, kedua perempuan itu tak pernah intens mengobrol denganku. Entah ia orang luar yang memang kost disini atau masuk ke dalam komplotan Nek Iyah. Tapi yang menjadi pertanyaanku lagi, apa mereka tak pernah mendapat gangguan selama kost disini?
Aku melamun sambil melangkah menuju kamarku.
Aaaahhhh. Mungkin saja bukan karena gangguannya. Mungkin saja karena kamar yang mereka tempati baik-baik saja. Dan mungkin kamarku yang bermasalah. Kamar nomor 11b ini sumbernya. Buktinya, Bang Oji yang sudah tahunan tinggal di kamar 11e tak pernah mendapat gangguan apapun. Bang Oji malah menertawakanku ketika kutanya soal keangkeran kost ini. Ya, barangkali Bang Oji tak mendapat gangguan karena ia masih ada hubungan saudara dengan Nek Iyah. Bisa jadi kan? Jadi ia tampak tenang-tenang saja.
Lalu Tika dan Yuli, yang menempati kamar 11a. Mereka tak pernah mengeluhkan soal gangguan makhluk halus. Kalau Tika menurutku wajar, karena ia bisa melihat, merasakan, bahkan bisa berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata. Tapi Yuli? Mana pernah kudengar cerita dari Tika, kalau Yuli di ganggu demit. Tak pernah sekalipun. Berarti bukan karena penghuninya kan? Pasti karena kamar mereka yang baik-baik saja.
Sedangkan aku? Aku yang tak pernah seujung kuku pun melihat sebuah penampakan selama hidupku. Merasakan, melihat, dan berkomunikasi seperti Tika. Tak pernah seumur hidupku. Sejak tinggal di kamar 11b, berbagai macam gangguan kualami. Bahkan nyawaku terancam. Entah ini takdir atau garis yang telah Tuhan tetapkan, atau mungkin juga suatu kebetulan. Karena kebetulan aku seorang keturunan Raden Halim yang memiliki mustika paling sakti dan mempunyai kekuatan besar. Terlepas dari itu semua, penyebabnya mungkin aku salah menempati kamar.
Jika sejak awal aku menempati kamar 11a, bisa jadi semua ini tak akan terjadi padaku. Bisa saja hidupku tenteram tak ada gangguan. Mungkin saja aku tak akan pernah mengalami hal gaib macam ini. Dan mungkin juga takdir untuk menumpas kuntilanak merah itu bukan menjadi tanggung jawabku. Bisa jadi orang lain yang tak kukenal. Atau siapapun yang lebih pantas dan memiliki kekuatan yang melebihiku.
Andai saja sejak awal aku tak memilih kamar ini, barangkali sahabatku Bagas masih hidup sampai sekarang, dan kami masih kuliah bersama. Mbak Wati masih setia duduk di kursi rodanya, Bang Oji masih menemaniku ngopi, Pak Rahmat masih mengurus warga sebagai RT. Tarjo si montir masih menjadi andalan di bengkel. Dan Mas Steve mungkin masih sehat, juga wanita yang tak kutahu identitasnya itu.
Sial.
Sial.
__ADS_1
Sial.
Andai saja aku tak tinggal di kamar brengsek ini.