
"Var,gue heran,kenapa fifi marah sama tino"ucap dinda,yang sedang berbaring bersama varo di kamarnya.Awalnya saat varo nyelonong ke kamarnya.ketahuan oleh bibi,dan berakhir perdebatan kecil. Namun varo tetap varo.Dia memang pria pemaksa!.
"Hmm"varo hanya berdehem seraya menikmati aktivitasnya di leher gadisnya.
Kebiasaan!.Sedangkan dinda,dia sedang memainkan ponselnya.Tak lupa televisi yang menyala, menonton kemesraan mereka.Setiap saat varo terus menempel padanya, menyalurkan kerinduan setelah beberapa lama ini.
"Sampe ga mau ketemu lagi"ucap dinda.
"Hmm"lagi lagi varo hanya berdehem, yang membuat dinda kesal karenanya.
"Ham hem ham hem mulu deh!,ga seru lo!"kesal dinda.
"Apa sayang"balas varo.
"Udahlah,awas!"ucap dinda menyuruhnya untuk menyingkir darinya.
"Kenapa?"tanya varo seraya mendongakkan kepalanya menatap dinda.Astaga,apa sesulit ini membuatnya mengerti?.
"Huh!gue mau keluar varo"balas dinda.
"Keluarkan aja sayang"ucap varo terdengar sedikit ambigu bukan?. Membuat pikiran dinda traveling entah kemana.
"Mikir apa hayukk?!"goda varo menoel pipi gadisnya.
"Eng-enggak!,ya udah lo awas!gue mau keluar!"usir dinda sambil mendorong pelan bahu varo.
"Gue bilang keluarkan aja sayang"ucap varo yang sedang menahan tawanya.
"Iiih lo mesum!!"pekik dinda sambil memukul dada nya.Sedangkan yang dipukul hanya tertawa renyah,melihat betapa menggemaskannya gadisnya ini.
"Stop!"tekan dinda,dia pun mendorong varo hingga menyingkir darinya,lalu dia pun beranjak dari tempatnya.Kemudian dia pun memakai Hoodie nya.Dengan santainya,varo menyaksikan apa yang gadisnya lakukan.
"Tunggu sini!jangan ikutin gue!"perintah dinda,sudah seperti ibu yang sedang menasehati anaknya. Membuat varo terkekeh kecil.
Dinda hanya meliriknya sebal,seraya melenggang pergi keluar kamarnya.
Saat ingin masuk ke kamar fifi,dia melihat betapa sedihnya tino.Dia sedang duduk terdiam di ruang tengah,dengan di temani oleh para temannya.Membuat dirinya merasa,kalau dirinya harus membantu menyelesaikan masalah ini.
Cklekkk
Saat masuk ke kamar fifi, terlihatlah dia sedang duduk bersandar di ranjang, dengan tatapan kosong ke depan.Apalagi makan malamnya yang ada di sampingnya belum juga di sentuh.Dinda dia kenapa napa.
"Fifi..kok ga dimakan,lo kan harus minum obat"ucap dinda lembut,dia pun duduk disampingnya.
"Kenapa ini terjadi din?!"ucap fifi lirih.Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
"Gue juga masih tidak menyangka fi"
ucap dinda.
__ADS_1
"Kenapa lo ada disini!,lo menghancurkan hidup gue!lo-"
"Eh fifi fifi!!,jangan kayak gini!,stop!"ucap dinda menghentikan tindakan fifi yang terus memukul perutnya.
"Hiks hiks!,hidup gue hancur din!"tangis fifi.
"Hustt!,jangan bilang seperti ini, hidup lo ga hancur,hanya hidup lo akan berubah...,
lo pasti akan lebih bahagia karena anak lo ini"ucap dinda seraya memeluk sahabatnya itu,sambil mengelus perutnya yang masih datar.
"Engga!,gue menderita karena anak ini!hiks"ucap fifi.
"Heyy!,engga boleh bicara seperti itu!"
peringat dinda,dia menangkup wajahnya,
lalu mengusap air matanya.
"Anak adalah sebuah anugerah dari Tuhan yang harus kita jaga,anak itu bagaikan rezeki dan harta yang paling berharga dari yang lainnya"tutur dinda menggenggam kedua tangan fifi.
"Tidak ada yang akan menolak titipan tuhan ini,bahkan banyak wanita yang sangat menginginkannya"lanjut dinda.
Fifi mendengarkannya dengan baik,bukan hanya telinganya tapi juga hatinya.
"Jadi,lo harus jaga anak ini!,gue dan temen temen selalu ada buat lo fifi"ucap dinda menyakinkan.Fifi pun tersenyum.
Benar,dirinya tidak harus menolak rezeki ini.Dirinya memang bukan calon ibu yang baik.Namun setelah mendengar ucapan dari dinda dan dukungannya, membuatnya menyadari semuanya dan dia akan berusaha untuk menjadi ibu yang baik.
Fifi terdiam,seakan sulit untuk mengungkapkan semuanya.Dia juga takut,ayah dari anak ini tidak mau menganggapnya setelah semuanya terungkap.Awalnya dia berpikir gimana nasibnya?,tapi sekarang tidak,dia berpikir gimana nasih anaknya nanti,dia pasti butuh seorang ayah.
"Sayaaang,gue cari ternyata lo disi-"
Seketika ucapan varo terpotong karena dinda mengarahkan jari tengahnya.
Seketika matanya membulat.Beraninya dia!.
"Dindaa?"tanya varo penuh ketajaman.
Dengan cepat dinda menggantinya dengan jari telunjuknya,dia mengisyaratkan agar dirinya diam.
Varo pun diam,lalu dia menghampiri gadisnya yang sepertinya sangat serius mengobrol dengan fifi.Pastinya dia juga mencuekinya.Shhh,sungguh menyebalkan.
"Siapa fifi?bilang!,lo dilecehkan orang?,
beritahu gue!,gue akan beri pelajaran untuknya!"ucap dinda,membuat varo mendengarkannya dengan serius.
"Teman kita"ucap fifi menunduk.
Otak varo dan dinda langsung paham.
__ADS_1
Varo pun langsung keluar kamar fifi dengan langkah yang cepat.Wajah datarnya dan tatapan tajamnya,membuat fifi panik."VAROO!JANGAAN!"
Fifi hendak menyusulnya,tapi dinda mencegahnya."Jangan fi,lo masih lemes"
Secara tiba tiba,sebuah pukulan keras mengenai wajah tino.Seketika yang lainnya terkejut akan tindakannya.
"Awshhh"rintih tino.
"Hey hey,var lo kenapa?"tanya dito,dia menahan varo yang hendak memberikan pukulan lagi kepada tino.Apa mereka ada perselisihan?.
"Ada masalah apa lo sama gue?,tiba tiba mukul gue gini"ucap tino tepat di hadapan varo.Tentu saja dia tidak terima apa yang varo lakukan padanya.Tanpa sebab dan alasan.
"Ini bukan masalah gue sama lo!,tapi lo sama fifi anjing!"sarkas varo menatap tajam ke arahnya.
"Yah fifi memang sedang marah sama gue,tapi gue ga tau apa masalahnya,yang gue herankan,kenapa lo juga marah sama gue!"ucap tino sedikit emosi.
"Fifi itu temen gue!,dan gue ga terima...
hidup temen gue ini hancur karena lo!"
tekan varo.
Tino dan yang lainnya dibuatnya bingung.
Ada apa si ini!.Baru aja masalah varo sama dinda selesai,tapi masih aja masalah lainnya yang terus muncul.
Berawal dari candaan,dan berakhir jadi keseriusan.Membuat mereka sedikit trauma dengan sikap lawaknya.
"Karena gue?, maksudnya apa var?, astaga...!!Akhhh!!,gue bingung anjir!"
teriak tino frustasi.
"Banyak bacot lo!"varo menarik kerah bajunya,lalu membawanya masuk ke kamar fifi.Sedangkan teman temannya,
mereka hanya mengikutinya.
"Varo?"gumam dinda.
"Jelasin!"sarkas varo seraya mendorong kasar tino sampai tersungkur.Tino masih belum mengerti.
Nita dan anya pun menghampiri fifi dan dinda yang masih diam.Apalagi fifi, dengan wajah pucatnya yang penuh dengan air mata,dia diam seperti sudah tidak ada tujuan hidup.Memang benar,
sudah tidak rasa semangat di dalam diri fifi.
"Maksudnya apa si ini var?"tanya bima sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jelasin bego!"sarkas varo emosi.
"Varoo udah!"peringat dinda.
__ADS_1
Tino yang masih bertekuk lutut,dia hanya diam sambil menatap fifi,yang sama sekali tidak meliriknya.Dia butuh penjelasan darinya.Dirinya seakan pria bodoh yang sangat fifi benci.Sangat berbeda.
"Lo masih ingat malam itu?"