Kisah Cinta Queen Mafia

Kisah Cinta Queen Mafia
episode 106


__ADS_3

Suasana malam ini dipenuhi dengan kesedihan yang menegangkan.Memang masalahnya menuju ke penyelesaian,


namun caranya yang membuat mereka tegang.Lebih tepatnya kebenaran yang membuat mereka sangat penasaran.


"Maksud lo?"tanya tino,dia pun berdiri,


segera menghampiri fifi.Namun fifi tidak memperbolehkannya.


"Diam disitu!"tekan fifi tanpa menatapnya.


Dengan menghela napasnya panjang,


tino terpaksa mengikutinya.Dia ingin sekali memeluknya, seperti biasanya di saat dia sedih,capek ataupun sakit.Hal itu sudah kebiasaannya.Mereka sama dengan yang lainnya,mereka sudah sangat dekat di sekolah maupun di rumah.


"Lo lupa?atau pura pura lupa?"tanya fifi,


dinda yang disampingnya,dia masih menggenggam tangannya, untuk menenangkannya.


"Malam itu?,kapan fi?"tanya tino bingung.


"Gue sebenernya malu mengatakan hal ini tino!,gue malu karena lo!"ucap fifi.


"Please,jangan buat gue ngerasa bersalah kayak gini"ucap tino.


Sepertinya,dinda dan yang lainnya harus keluar deh.Mereka merasa tidak enak menyaksikan perdebatan mereka,yang tentunya itu masalah mereka.


"Pessttt"nita mengisyaratkan untuk keluar dengan bisikan dan matanya.Tak lama teman temannya pun keluar dari kamarnya.


"Gue kepo anjir"celetuk anya saat sudah di luar.


"Lo kebiasaan deh, suka liat orang berantem"balas nita.


"Paling suka,saat tetangganya yang berantem,huh... cepetnya minta ampun"


sahut dito,yang langsung mendapatkan tampolan dari anya di lengannya.Hahaha.


"Nguping kuy"ajak bima mulai menjerumuskan teman temannya ke hal hal yang menambah dosa.


Dan anehnya,mereka tetap aja di depan pintu kamar fifi.Bahkan bima,dito,nita, dan anya menempelkan telinganya di pintu,yang membuat varo dan dinda menggelengkan kepalanya.Sangat lucu.


"Ingat lagi!, waktu gue nginep di apartemen lo satu bulan yang lalu!"


ucap fifi.


Tino mulai mengingatnya.Saat itu fifi sedang menginap di apartemennya.Itu sudah sering,saat ayahnya sedang tidak ada di rumah.Lagian itu juga suruhan dari ayahnya,agar dirinya bisa menjaga anak tunggalnya.

__ADS_1


"Lo ninggalin gue keluar untuk main memang udah biasa!,tapi saat lo pulang..."fifi tidak bisa melanjutkan ceritanya yang membuat dadanya sesak.


Malam itu, dirinya pergi keluar untuk berkumpul dengan teman temannya di klub.Sebelum itu,dia sudah di beri izin oleh fifi.Saat di klub,dirinya sangat bersenang-senang dengan para temannya.Minum banyak adalah salah satu kesenangannya.


Bahkan,sampai tino sangat mabuk,jalan pun sempoyongan.Akhirnya teman temannya yang mengantarkannya.Saat itu juga, dirinya tidak mengingat apapun.


Entah ketiduran atau gimana, dirinya sungguh tidak ingat apa yang terjadi padanya setelahnya.


"Gu-gue mabuk, tidur sampai pagi, sampai sampai gue ga tau kalo lo pulang waktu itu?!"ucap tino yang masih berusaha mengingatnya.


"Kalo ini?...lo lupa?"tanya fifi seraya menunjukkan sebuah bekas luka seperti cakaran di lengannya.Membuat tino mengenyritkan alisnya.


Tunggu!.******* itu?,ciuman?, lingkaran merah di kulit?, teriakan?,tangisan?,luka itu?dan yang paling ia ingat suara rintihan sakit.Astaga apa ini?!.


"Tidak mungkin!"ucap tino menggelengkan kepalanya.Dia tidak percaya ini terjadi karenanya.


"Lo bilang tidak mungkin?!hah!"teriak fifi mulai kehabisan kesabaran.


"Engga mungkin gue bisa nyakitin lo kayak gini!!!,engga!ini tidak benar!!"ucap tino seraya duduk di ranjang sambil menjambak rambutnya.Sepertinya itu sudah kebiasaan seorang pria.


"Lo jahat no!,lo tega mengambilnya paksa!,lo kasar!,bahkan lo tidak peduli sama gue waktu itu!,lo hanya mikirin napsu lo!"ucap fifi,membuat tino menatapnya nanar.


Tidak,tidak seharusnya dirinya egois seperti ini.Dia tau bertanggung jawab adalah sebuah keharusan baginya saat ini.Yang ia pikirkan hanya mental fifi yang terus menurun.Dia tau,betapa tersiksanya dia karenanya.


"Maaf"ucap tino.


"Yaaa!,gue salah besar fi!,gue merusak kebahagiaan lo!,gue jahat!,gue tau lo benci gue!"potong tino.


Jangan!,bukan saatnya dirinya marah seperti ini kepadanya.


"Izinkan gue nikahi lo,dan menjaga anak kita bersama...yah?!"lanjut tino dengan lembut.


Dia pun mendekat ke fifi.Namun fifi membuang muka,seakan jijik melihatnya.


Tino menerimanya.Tapi dia akan memperbaiki semuanya dengan baik baik.Dia akui,dirinya melakukan kesalahan yang sangat besar!.Ini salahnya!.


"Jangan harap!,gue akan menjaga dan merawat anak ini sendiri!,gue ga mau nantinya dia tau kalo ayahnya seorang pria bajingan!"ucap fifi dengan kata katanya yang menusuk.


"Jauhi gue!,jangan pernah temui gue lagi!"tekan fifi.


"Engga!,please beri gue kesempatan lagi,


buat perbaiki kesalahan gue ini fi"ucap tino memohon.


Dia bertekuk lutut di depannya,lalu dia menggenggam tangannya.Walaupun dengan sedikit paksaan,tino sangat mengharapkannya.Sedangkan fifi,dia masih tidak bisa menatapnya.Air matanya terus mengalir mengeluarkan rasa kesedihannya.

__ADS_1


"Maaf,gue bener bener ga sadar waktu itu,gue terlalu mabuk,gue pria bajingan yang dengan mudahnya gue melakukan itu ke lo...gue tau gue kasar,penuh paksaan sampai gue melukai lengan lo ini"jelas tino sedih.


"Tapi maaf,gue akan bertanggung jawab,


memang gue belum begitu yakin dan menerimanya, tapi gue akan berusaha dan mencoba untuk mengembalikan kebahagiaan lo ini semampu gue"ucap tino sambil mengelus tangannya.


Fifi masih diam,masih tak percaya dengan ini semua.


"Demi anak kita!"ucap tino,dia menangkup wajahnya, menghapus semua air matanya,lalu dia memeluknya.


"Hikss,lo jahat!,lo brengsek!,bajingan!,


gue benci lo!!hikss!!"tangis fifi di pelukannya.Dia memukul kecil punggung tino, melampiaskan rasa amarahnya kepadanya.


"Gue tau"ucap tino menerimanya.


Jujur,tidak ada perasaan cinta di antara mereka.Mereka hanya saling menganggap saudara,secara keluarga mereka sudah sangat dekat.Bahkan fifi sudah menganggap dan memanggil ibu tino,adalah ibunya.Namun tino harus tetap bertanggung jawab.


"Sudah jangan nangis lagi"ucap tino melepaskan pelukannya,dan kembali menghapus air matanya.


"Sekarang lo makan yah"ucap tino seraya mengambil makanannya,lalu ia mulai menyuapinya.


"Gu-gue bisa sendiri"tolak fifi hendak merebut piring tersebut.


"Hustt!,diam nikmati saja"ucap tino, membuat fifi tertegun.Kata itu,sama persis seperti apa yang ia ucapkan saat memaksanya!.Tidak!!.


"Ma-maaf,gu-gue..., maksud gue buar gue yang nyuapi lo aja"lanjut tino yang menyadari akan hal itu.Dia pria yang sedikit peka terhadap wanita.


Fifi hanya mengangguk kecil.Ini terdengar canggung bukan?.Memang,


tidak seperti biasanya yang blak blakan dan berantemnya ga ada akhlak. Tapi sekarang, mereka malahan canggung, seakan baru saja kenal.


"Gi-gimana dengan orang tua kita?"tanya fifi.


"Kita harus membicarakan hal ini kepada mereka,ga peduli dengan responnya"


balas tino sambil menyuapinya.


Dengan mulut yang penuh makanan,fifi pun mengangguk setuju.Astaga,apa dirinya baru menyadari,betapa menggemaskan wanita ini.Wanita yang tingkahnya selalu membuat darah tingginya kumat.


"Besok kita nikah!"


Brakkkk


"Awwhhhhh!"

__ADS_1


"Bimaaa kenapa lo buka pintunya!!!"


"Ga sengaja anjir!"


__ADS_2