Kisah Cinta Queen Mafia

Kisah Cinta Queen Mafia
episode 115


__ADS_3

"Hiksss bundaaa,dia ga pergi kan!!ini ga mungkin!"racau dinda dalam tangisnya,


sambil memeluk erat bunda varo.


"Dindaa, dengerin bunda..."bunda varo menangkup wajahnya dan menghapus air matanya.


"Enggak!aku ingin varo kembali bundaa!,


dia ga boleh pergi!!"tangis dinda semakin keras.


"Hey hey!!,dindaa kamu harus menerima semuanya,bunda yakin varo akan kembali ke kamu,setelah dia tenang"ucap bunda.


Bunda tau dinda sangat terpukul setelah ditinggalkan oleh varo.Maksudnya,varo pergi ke luar negeri untuk sementara waktu.Lebih tepatnya dia akan menenangkan dirinya,sambil melupakan dinda.Dia melakukan hal itu,karena menurutnya melupakannya adalah yang terbaik.Dia juga ingin dinda hidup bahagia dengan pria yang ia cintai.


Bunda varo sudah berusaha mencegahnya,tapi varo tetap saja kekeh dengan niatnya.Membuatnya tidak bisa memaksanya.Apalagi mendengar, katanya dia akmelanjutkan kuliahnya di sana,dan mensukseskan dirinya di sana.


Menurutnya dengan itulah dia akan bisa melupakannya.


"Engga bunda,dia salah paham!,beri tau aku kemana dia pergi bun!, beritahu aku!"


ucap dinda.


"Maaf...bunda ga bisa beritahu kamu"


balas bunda dengan terpaksa.Ini adalah perintah dari varo.


"Bunda jahat!!,bunda ga sayang aku!, bunda tega!"ucap dinda memberontak di dalam pelukannya.


"Dinda sayaang,tenang dulu...okee"ucap vina seraya memeluk dinda,dan mengelus punggungnya menenangkan.


Sedangkan teman temannya, mereka hanya diam dan berharap dinda memaklumi situasinya.


"Kak,dia ga mungkin tega ninggalin aku kan?, dia ga pergi kan?!"tanya dinda yang masih tak percaya.Melihatnya tentu saja membuat bunda varo sedih.Dia bingung mau gimana lagi.Dia tidak menyalahkan siapapun,tapi dia hanya mau dinda menerima keputusan varo.


"Dinda,kamu harus terima semuanya,


kamu dengerin kata bunda,varo sedang belajar di sana,ga mungkin kan kamu mengganggu dia yang sedang belajar?"


ucap vina.


"Tapi kan-"


"Hustt,sudahlah,tidak seharusnya kamu menangis seperti ini,kamu yakin saja, varo pasti akan kembali menemuimu setelah dia sukses nanti"potong indah.


Dinda pun menangis di pelukan mereka berdua.Sedangkan bunda varo,dia tersenyum kecut melihatnya.Dia yakin dinda akan mengerti.


"Hikss,aku ga bisa...hiks"dinda masih saja menangis.


Dia masih tak percaya se marah ini varo padanya.Kalau waktu bisa diulang,dia berjanji akan menuruti semua apa yang varo katakan dan berusaha menjaga agar varo tidak marah padanya.Dirinya memang salah,setiap varo marah padanya, dirinya menganggapnya hal yang sepele.Namun ternyata dirinya salah,kemarahan varo bukanlah hal yang sepele.


"Eh eh ada apa nih,sumpah gue ga tau,


apa apa woy!"tanya fifi tiba tiba masuk ke ke rumah varo.


"Eh ibu hamil ga boleh ikut campur"sahut bima.

__ADS_1


"Sialan lo!,...eh eh ini dinda kenapa woy!,


astaga lo kenapa dinda"ucap fifi dengan nada khawatirnya,apalagi melihat wajah serius teman temannya.Membuatnya semakin penasaran.


"Sayaang!,duduk dulu!,diam dan denger"


ucap tino mendudukkan fifi di sofa,lalu dirinya juga duduk di sampingnya.


"Pengantin baru, romantis banget dah"


cibir dito.


"Bacot lo!,cepet ceritain apa yang terjadi!"


ucap tino.


"Oke oke,gue yang ceritain"ucap bima.


Mereka pun sibuk sendiri dengan cerita bima yang bisik bisik itu.Sudah seperti ibu ibu sedang ngerumpi.Dan para temannya seakan nyamuk yang menyaksikan mereka ghibah.


"Anjirrrrr,yang bener lo?"pekik fifi membuat semuanya menatapnya.Tino hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya ini.


"Eh-eh sorry"ucap fifi menyengir.


"Ishh kebiasaan tuh mulut!"ucap tino.


"Hustt,bacot lo!"balas fifi.


"Btw, rumah tangga kalian baik baik aja?"


"Maksud lo,lo mau kita cerai gitu?"tanya tino.


"Eh kirain"balas nita mengundang tawa dari semuanya.Bahkan dinda seakan tertarik dengan cerita mereka.


"Lo ga tau yah,kita menikah itu butuh perjuangan"ucap tino.


"Maksud lo?"tanya anya.


"Papahnya ga setuju"balas tino,lagi lagi membuat mereka tertawa.


"Jelas lah,hahah"


"Bangsat kalian!"sarkas tino yang merasa di ejek oleh para teman laknatnya.


Matahari sudah berganti dengan bulan yang menyinari malam yang gelap.Balkon


adalah tempat favorit orang orang.Sama dengan dinda,malam ini dia berada di balkonnya menikmati anginnya malam yang menenangkan.


"Dinda sayang,abang pulang"ucap deni


menghampiri adiknya.


"Eh abang pulang"ucap dinda singkat.


Dia sedang tidak mood hari ini.Bahkan masih ada kesedihan di hatinya.Dia seakan masih tak percaya apa yang terjadi pada dirinya dan varo.Kalau bukan teman temannya dan kakaknya, dirinya tidak akan bisa mengerti.

__ADS_1


"Kok lesu gitu?, semangat dong,kan abang baru pulang setelah beberapa bulan ini"ucap dani.


"Aku lagi sedih bang"ucap dinda seraya memeluk mereka.Lagi lagi air terus menggenangi matanya.


"Abang tau"ucap dani.


Mereka pun duduk dengan menghimpit adiknya di tengah.Mereka saling memeluknya, menenangkan adiknya yang sedang merasakan sakit hati.


Mereka tidak akan ikut campur dengan urusan percintaan adiknya.


"Sudah wajah,dengan kata putus dalam hubungan"ucap deni.


"Aku tau,tapi ga-"


"Husttt,tidak ada tapi tapi, hanya kamu nya aja yang bisa nerima atau tidak,


abang tau kamu belum menerimanya,


tapi,abang harap kamu bisa berusaha mengerti"tutur deni.


"Hmm,aku akan berusaha"balas dinda.


"Ya sudah,abang ke dalem yah,...kamu juga, diluar dingin"ucap deni.


"Iya bang..nanti"balas dinda.


"Abang tinggal yah"pamit dani.


"Hmm"


Mereka pun masuk ke dalam meninggalkan adiknya yang sedang menenangkan dirinya.Mereka tidak mau mengganggunya.


"Langit...bisakah kau turunkan kesempatan satu kali lagi,aku ingin memperbaiki semuanya..."gumam dinda terkekeh geli mendengar ucapannya sendiri.


Namun hatinya terasa sakit.Dirinya tetap saja belum bisa menerimanya.Pikirannya


mengulang kembali ke masa lalu.Yah,dia akui di dalam hubungannya banyak sekali masalah, karena salah paham.Dia rasa,


belum ada rasa kepercayaan di antara kita.


Mungkin karena umur yang masih sangat muda.Pikirannya belum dewasa,dan juga rasa emosinya masih sulit dikendalikan.


Tapi,dinda pikir bukan inilah akhir dari hubungannya.Jujur,dirinya belum siap berpisah dengannya.


Varo memang suka mengekangnya,


mengatur,suka marah marah,dan posesif.Namun dinda sudah biasa akan hal itu.Bahkan,sampai dirinya nyaman dengan sikapnya itu.Hanya saja dirinya yang salah tanggap.Dirinya tidak menurutinya,bahkan sering membuat dia marah padanya.


"Maaf var..."gumamnya.


Sudahlah, dirinya harus menerimanya.


Mungkin,sampai disini saja hubungannya dengan varo.Untuk apa dirinya menangisinya,secara dia telah meninggalkannya.Dia sudah tidak ad di sekitarnya.Dia jauh,dan sepertinya akan mempunyai wanita lain disana.


"I love you varo....."

__ADS_1


__ADS_2