
"Dinda,apa ada berli disini?"tanya varo mengejutkan dinda yang sedang fokus dengan laptopnya.Bagaimana tidak,tiba tiba varo ada di ruangannya,tanpa permisi atau suara orang masuk.
"Apa kamu tidak melihat bel di samping pintu?"tanya dinda.
"Maaf tidak ada waktu"balas varo membuat dinda mencebikkan bibirnya.
Dasar songong.
"Mana berli?"tanya varo.
Dari wajahnya membuat dinda tidak ingin memberitahunya.Karena dirinya tidak mau ada keributan di antara mereka. Sebab sepertinya dia sedang marah kepada adiknya.Dinda tau alasan varo terlihat marah seperti ini.Ya karena kelakuan adiknya itu.
Menurut dinda,varo sudah melakukan yang terbaik untuk menjaga adik adiknya.
Dia memperhatikannya dengan ketat,
terutama di pendidikannya yang sangat penting.Namun,dia juga tidak seharusnya marah marah kepada adiknya hanya karena satu kesalahan yang menurutnya itu masih wajar.
"Dia sedang tidur di kamar"balas dinda seraya menunjuk ke kamar pribadinya.
Maksudnya,itu kamar untuk dirinya istirahat, bahkan tidur malam.
"Jangan!,dia baru saja tidur!"cegah dinda menahan tangannya yang hendak pergi ke dalam.
"Aku mau bicara dengannya"ucap varo.
"Jangan sekarang!kasihan!"ucap dinda.
Membuat varo menatapnya.Kalo bukan karena dinda, sudah nangis dia.Varo pun duduk di sofa.Dia masih mencoba memendam amarahnya.Membuat dinda merasa,kalo dirinya harus meluruskan masalahnya.
"Dia kesini hanya nunjukin ini kepadaku"
ucap dinda.
Dia mengambil kertas ulangan berli,lalu memberikannya kepadanya.Dia ingin dia tau,berli bukan hanya nakal,tapi juga pintar.Karena dinda tau,dulu nilai berli hanya pas pas an.Bahkan ada yang sangat rendah.
"Se-seratus?"gumam varo tak percaya.
Apakah adiknya sepintar ini?.Yang biasanya nilainya hanya 50 bahkan 30,
sekarang melonjak sangat pesat.
Langsung 100!.Apakah masuk akal?.
Tapi melihat dinda, membuatnya percaya.
"Iyaa,itu bukti kalo berli tidak berhak dimarahi sama kamu"balas dinda.
"kamu memang guru yang baik"ucap varo tersenyum.Uh senyumnya!!!....tidak!.
"Hmm"dinda hanya berdehem.Mungkin pipinya sudah seperti kepiting rebus.
"Jangan lah terlalu keras mendidiknya,
namanya juga masih remaja,dia masih ingin bersenang-senang dan bergaul dengan temannya"tutur dinda.
"Tapi,dia sangat keterlaluan,setiap hari kerjaannya hanya bolos,malas malasan,
dan terus bermain ponsel"ucap varo.
__ADS_1
"Memang,tapi...pasti ada bosannya,dia akan berhenti saat bosan nanti, ibaratnya otaknya masih kecil...dia akan berpikir dewasa nanti...."
Varo terus menatapnya yang sedang berbicara kepadanya.Namun ucapannya masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.Dia tidak mendengarnya dengan seksama,tapi dia terbengong-bengong sambil melihat wajahnya yang cantik.Semakin dewasa,dia semakin cantik.Membuatnya tak fokus mendengarkan ucapannya.
"Kamu denger ga si?"tanya dinda dengan nada yang lumayan tinggi.Membuat varo sedikit terjingkat.
"Ya?"tanya varo.
"Kamu denger aku ngomong ga si?!"tanya dinda.
"I-iya aku denger kok"balas varo berbohong.Kalau tidak,pasti dinda kesal kepadanya.
"Hmm"dinda hanya berdehem.
Tentu saja membuat varo lega.
"Kakaaak sini deh!"teriak berli dari dalam kamar.
"I-iya ber"balas dinda seraya beranjak dari duduknya.Namun saat hendak masuk,
dirinya keduluan oleh varo.Mmebuatnya menggelengkan kepalanya.Sifatnya masih sama saja.
"Kakaaak,tadi kan kakak tidur di samping aku,kok sekarang eng-"
Seketika ucapannya terhenti saat melihat kakaknya ada di depannya.Wajah yang datar dan sorot matanya yang tajam, pertanda dia marah padanya.Dengan cepat,berli berlari menghampiri dinda,dan bersembunyi di belakangnya seakan meminta perlindungannya.
"Sudah ke berapa kali berli?!"tanya varo tajam.
"Ma-maaf bang,...ta-tadi karena terlalu senang,aku kabur gitu aja...oh iya abang harus liat hasil ulangan aku"ucap berli.
Dia berlari keluar untuk mengambil kertas itu,lalu dia masuk kembali dan menunjukannya kepada kakaknya dengan semangatnya.Melihat itu, membuat varo tak tega memarahinya.
"Hah?seratus?"tanya varo tak kalah semangatnya.
"Iyaaa dong,bagus kan?!"balas berli.
"Banget banget dong,abang ga nyangka kebodohan mu hilang begitu aja"ucap varo seraya memeluk adiknya.
"Ihhh abang maaahhh....mulai deh!!"kesal berli sambil tertawa.
Tanpa mereka sadari,dinda tersenyum melihatnya.Varo melakukannya dengan benar.Dia juga tak menyangka dia melakukan apa yang dirinya katakan.
Apa dia sudah menjadi pria yang penurut?.Hmm, sepertinya ada perubahan di sikapnya.
"Jangan ulangi lagi!"peringat varo.
"Iya iya,tapi ga janji hehe"balas berli.
"Hih dasar anak kecil!"cibir varo seraya menoel pelan hidungnya sambil tertawa.
Lagi lagi hal itu membuat dinda tertawa pelan.Varo itu pria yang sulit menerima orang baru di kehidupannya.Sangat beruntung ayah dan berli,karena bisa diterima baik olehnya.Hingga tatapannya bertemu dengan tatapan varo, membuat dinda memasang wajah biasa lagi.
Kenapa jadi salah tingkah seperti ini?.
Apalagi, terlihat varo yang masih menatapnya dengan senyumannya.
Membuatnya semakin malu dan gugup.
Untuk menghilangkan rasa itu,dia mengambil ponselnya yang ada di sakunya.Untung saja ada pesan masuk yang harus dia balas.
__ADS_1
"Ya udah abang,kakak aku pulang yah"
pamit berli.
"Pulang sama siapa?kakak antar yah"
balas dinda.
"Itu mah gampang kak,naik taksi atau engga naik angkutan umum"balas berli.
Saat itu juga,dinda tau,dia wanita yang sederhana, walaupun kehidupannya sangat mewah.
"Sama abang aja berli"ucap varo.
"Engga abang,abang ke kantor aja,cari uang yang banyak buat modal nikah sama kakak"balas berli terkekeh kecil.
Dia memakai sepatunya dan mengambil tasnya.
"Sama abang aja!,nanti kamu ga pulang beneran!"ucap varo.
"Ih abang ga percayaan banget si,aku langsung pulang bang,beneran deh...ya udah ya byeee!"ucap berli.
Dengan cepat dia keluar dari kamar itu.
"Kalian berdua yang akur ya didalem"
ucap berli seraya tersenyum miring.
"Maksud kamu apa berli?"tanya dinda curiga.
"Maaf ya kak...bye"ucap berli seraya menutup pintu dan menguncinya.Yah itulah rencananya.Dia hanya ingin mereka berdua mengobrol lebih luas,dan dapat akur kembali.
"Hey berli!!bukain pintunya!!woy!!"teriak dinda panik.Sedangkan varo,dia diam saja di tempat.Dia panik tapi fisiknya tenang.
"Ga usah teriak mulu,nanti tenggorokan kamu serak, karena itu hanya sia sia"ucap varo pasrah.
Namun membuat dinda menatapnya.
Memang sia sia,karena dirinya tidak membawa kunci cadangan,dan tentu saja berli sudah pergi dari ruangannya.
Tapi,dinda curiga varo ikut dalam rencananya.Lihat saja wajahnya sangat santai.
"Apa?"tanya varo.
"Kamu kan-"
"Aku ga tau apapun,ini sepenuhnya rencana berli"potong varo.
Dinda menyipitkan matanya, mencari kebohongan di wajahnya.
"Bener dinda,... kebetulan aku ngantuk,
mending tidur aja"ucap varo.Dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang tidak besar,tapi empuk dan menurutnya sangat nyaman.Wanginya khas parfum milik dinda dan suasananya bikin dirinya betah.
Hal itu membuat dinda menatapnya kesal.
"Sini ikut,nanti aku peluk"ucap varo seraya terkekeh.Suaranya memang terdengar bercanda,tapi sebenarnya dia ingin sekali seperti dulu.Berpelukan dan menciumnya.
"Dih engga!"
__ADS_1