
Di rooftop.
Dinda lagi duduk sambil memejamkan mata.
Ucapan amel tadi membuatnya teringat dengan mommy nya.Bercandaan waktu itu,seketika berubah menjadi kebencian baginya.Dia tak menyangka, daddy nya lebih mempercayai orang itu yang baru saja kenal dengannya.
Bukan!. Daddynya sudah dari dulu kenal dengan minda.Hanya saja dia tidak mengenal wajah baru dari minda.Dia tau semua itu,karena waktu itu,dia menyaksikan percakapan mereka dari ambang pintu.Dia harap,di suatu hari nanti,dia melihat betapa menyesalnya daddynya dan abang abangnya.Jujur,
dia juga rindu dengan mereka.
"Dinda lo ga papa"ucap nita dari arah belakang.
Mereka duduk di samping dinda.Dia sudah tau kebiasaan dinda,Jadi dia tau kemana dinda pergi tadi.
"Gue ga papa"balas dinda.
"Jujur,gue ga nyangka apa yang tadi lo lakuin"
ucap fifi.
"Hmm,ini gue yang sekarang"balas dinda.
"Apa yang bikin lo berbeda din?"tanya anya.
Apa dinda harus menceritakan semuanya kepada mereka.Dinda pikir,itu ga penting.
"Lo masih anggap kita teman lo kan?"tanya nita,
dia mengelus punggung dinda.Dia orangnya dewasa dan peka dengan keadaan.
"Gue tidak akan melupakan kalian"balas dinda serba singkat.
"Kalo gitu,lo kasih tau kita apa yang terjadi dengan lo"ucap nita,dan yang lainnya hanya menyimak.
Walaupun waktu itu mereka masih 10 tahun, tapi mereka sudah memahami itu.
"Kita terus tanya kepada keluarga lo,tapi mereka seperti malas untuk menjawabnya, abang abang lo aja ga tau,lo dimana!"ucap fifi.
"Apalagi waktu penguburan mommy lo,lo ga ada"ucap anya.
Dinda hanya diam,membuat mereka sedikit merasa kecewa.Persahabatan mereka terjalin waktu masih sd.Memang mereka masih kecil kecil,tapi mereka menjujung tinggi rasa kekeluargaan.Ya walaupun mereka kadang akur kadang seperti tikus dan kucing.
"Owh ya udah,ga papa kalo lo ga mau cerita"ucap nita.
"Aku tidak mau setelah kalian tau tentang gue,
kalian ga mau temenan sama gue lagi!"ucap dinda.Dia sadar,betapa buruknya dirinya.
Melakukan apa yang seharusnya tidak untuk dilakukan.Tapi dinda sudah terbiasa dengan kehidupan itu.
"Aku memang anak yang jahat dan tega,
meninggalkan mommy gue waktu dia meninggal"lanjut dinda dengan wajah datarnya.
"Tapi itu ada alasannya gue pergi dan meninggalkan kalian semua"ucap dinda.
"Waktu itu gue sangat hancur setelah kejadian yang menimpa mommy gue,gue kecewa kepada mereka!"ucap dinda tanpa berekspresi apa apa.
"Kita akan jadi pendengar yang baik buat lo"ucap nita seraya mengelus punggung dinda kembali,
dia pikir hal itu membuatnya tenang.
"Jauhkan tangan lo!gue bukan orang lemah anjing!"
sarkas dinda,dia tidak suka ada orang yang mengasihi dirinya.Dia beranggapan seperti itu.
__ADS_1
Hal itu membuat teman temannya terkejut.Hanya seperti itu saja dia marah?.Nita hanya berniat baik kepadanya,kenapa dia marah seperti itu?.
Sungguh berbeda.
"Ma-maaf"nita pun menjauhkan tangannya dari dinda.Dia sangat shock dengan ucapan dinda yang tajam seakan menusuk hatinya.
"Lo kenapa si din!nita hanya memenangkan lo aja!apa salahnya?sampai lo marah begitu"
ucap anya dengan nada yang cukup tinggi,dia merasa tidak terima dengan sikap dinda kepada teman temannya.
"Gue bukan orang lemah!"tekan dinda.
"Siapa yang bilang lo lemah!lo aneh banget sumpah, sekarang lo bukan dinda yang kita kenal tau gak!"kesal anya.
"Gue memang seperti ini?pemarah dan egois,
gue sudah duga,kalian memang tidak bisa menerima gue"ucap dinda dengan wajah yang tidak berubah,membuat teman temannya merasa bersalah.Awalnya mereka setuju dengan ucapan anya,tapi sekarang mereka akan memakluminya.
"Kalian bisa pergi!tinggalkan gue!"lanjut dinda.
Lagi lagi mereka dibuatnya semakin merasa bersalah dan mereka merasa jahag kepada temannya dekat mereka.
"Ma-maaf"cicit anya,dia menggigit bibir bawahnya.
Membuat dinda tersenyum kecut.
"Tak apa,gue sudah biasa seperti ini"ucap dinda.
"Bolehkah kita memelukmu?"izin fifi.
"Tidak usah!"tolak dinda dengan wajah jijik.membuat teman temannya semakin ingin menggodanya.Sepertinya dia sangat sulit untuk di ajak berpelukan ataupun bermesraan.
"Aaa ayolah"goda anya seraya merentangkan tangannya.
"Aaa ayolah,satu kali saja din,kita kan sudah lama ga seperti ini"ucap nita memohon.
"Huftt,apakah harus?"tanya dinda,dia akan mencoba menjadi teman yang baik bagi mereka.
"Harus dooong!"ucap fifi membuat dinda menghembuskan napasnya panjang.Dia pasrah!, walaupun dia mandiri,tapi dia juga masih butuh para temannya itu.
Dinda pun merentangkan tangannya,dan mereka langsung memeluknya sangat erat.
Melepaskan kerinduan yang selama 6 tahun tidak bertemu.
"Nanti ke rumah gue,gue akan cerita semuanya" ucap dinda.
"Ke rumah om jordi?"tanya fifi.
"Stop bicara tentang dia!"sarkas dinda,
mendengar nama itu, membuatnya ingin sekali mencekik lehernya sekarang juga!.
"Ba-baiklah,kita ke rumah lo nanti pulang sekolah"ucap fifi,dengan mengubah wajah gugupnya menjadi wajah yang sumringah.
Entah ada apa dengan dinda,mereka rasa,itu ada hubungannya dengan keluarganya, terutama dengan om jordi.Mereka menyadari, saat mereka tanya tentang dimana dimda kepadanya,om jordi selalu menjawab dengan sangat cuek, sedangkan abang abang dinda,dia terlihat sedih..
"Wah gue ikut dong"suara laki laki membuat mereka melepaskan pelukannya dan menatap siapa pria itu yang berani mengganggu mereka.
"Ngapain lo!"sewot fifi.
Ternyata yang datang,varo dan teman temannya.Memang mereka cowok cowok keren yang terkenal seantero jagat raya,namun teman teman dinda tidak terlalu menyukainya.Tampan iya,namun ngeselin.Dari kelas satu,sampai kelas dua sekarang,mereka tidak pernah akur.
"Yaelah,lo ga tau,ini itu tempat nongkrong kita!"balas tino tak kalah sewotnya.
"Ini tempat umum woy!"balas fifi,memang si, tempat itu,adalah tempat yang biasanya mereka nongkrong ataupun bolos.
__ADS_1
Di tempat itu hanya diisi dengan tingkah konyol mereka.Perdebatan yang tak kunjung selesai,membuat dinda memutar bola matanya malas.Kenapa teman temannya jadi seperti ini,sangat bar bar.
Dia lumayan tau tentang teman temannya.Dia memantau mereka,dari yang sering bolos,berantem,masuk bk berkali kali,dan masih banyak lagi.Huftt,
memang tak jauh berbeda darinya.
"Bisakah kalian diam!"ucap dinda.
"Hah?cewek keren itu ternyata disini bro!"heboh bima.
"Jaga image anjir"sarkas dito seraya menampol pipi bima.
"Wah tadi lo keren banget sumpah!jago bela diri lagi,so cool"lanjut dito,dia duduk di samping dinda,dengan menyingkirkan anya dari samping dinda,membuat anya mendengkus kesal.
"Nama lo siapa?"tanya tino,dia pun duduk di samping dinda,dengan menyingkirkan fifi dari samping dinda,membuat memukul lengannya.
Hal utu membuat Bima menggelengkan kepalanya.Sedangkan varo,dia masih setia berdiri di tempatnya,dengan tangan bersidakep,tak lupa wajah datarnya.
"Gue dinda"balas dinda,dia tidak menolak orang yang ingin berkenalan dengannya,
kecuali dia belum tau asal usul keluarganya.
"Eh lo dingin gitu gapapa deh,kenalin gue dito tampan"
"Gue bima tampan"
"Gue tino tampan"
Mereka pun mengulurkan tangannya, menunggu dinda menerimanya.
"Din ga usah,bakteri!"sahut nita,seraya menampol semua tangan mereka.
"Kau!!!"
"Ekhemm!"Mendengar deheman itu membuat mereka menatap varo.Varo tidak sengaja berdehem seperti itu, karena itulah kebiasaannya.
"Dinda ga usah kenalan sama dia!dia itu kulkas berjalan,tidak bisa di ajak bicara!"
ucap anya nyinyir.
"Eh iya,nih kenalin varo,si kulkas berjalan punya kita,sama kayak lo...eh engga, siapa tau jodoh"ucap bima seraya merangkul bahu varo, membawanya duduk di samping dinda,lagi lagi dia menyingkirkan juga tino dengan mendorongnya hingga terjungkal.
"Bangsat lo!anying!"sarkas tino.
Sama sama kulkas,dia tidak bisa menolak.Dia hanya tidak peduli dengan apa yang teman temannya lakukan.Ini hanya hal kecil,mereka tidak terlalu mempersalahkan.Mereka masih sibuk dengan dunianya masing-masing.
"Tuh cocok kan,sama sama menyeramkan"ucap dito,dia menempelkan tangan dinda dengan tangan varo.
Membuat mereka berdua terkejut.Hingga tatapan mereka bertemu,membuat dinda dan varo cukup tertegun.
"Mata yang indah"batin varo.
Cukup lama mereka saling bertatapan.
Dinda akhirnya sadar,dan dia berdiri dari duduknya.Tanpa berkata kata lagi,dia keluar dari rooftop itu.
"Menarik"varo membatin kembali.
"Tuhkan pergi!"sahut nita.
"Apa dia marah?"timpal bima,tanpa sadar dia merangkul bahu nita.
"Padahal dia co-"
"Ngambil kesempatan dalam kesempitan!"ucap nita dengan menginjak kaki bima membuat bima meringis.Lalu nita pun menyusul dinda,diikuti teman temannya yang lain.
__ADS_1