
TingTong
Bel villa dinda berbunyi nyaring di telinga dinda dan para temannya yang sedang berkumpul di depan televisi.Seperti biasa mereka sedang menonton film kesukaannya,dan diselingi ghibah ga berfaedah.
"Hish siapa si yang datang malam malam gini"gerutu nita.
"Buka sana woy!"ucap anya.
"Lo aja sana!"timpal bima.
"Dih.."balas anya menatap bima seakan ada permusuhan di antara mereka.
"Apa lo!"sewot bima.
Tingkah mereka selalu membuat teman temannya pusing.Tiada hari tanpa berantem.Hanya hal kecil seperti ini pasti mereka heboh.Padahal ada bibi yang membukakan pintu,kenapa mereka yang ribut.Aneh.
"Non,ada temen non,katanya mau ketemu non"ucap bibi kepada dinda.
"Siapa bi?"tanya dinda.
Bibi ingin menjawab,tapi dia merasa ada seseorang yang menatapnya dengan sangat serius.Tentu saja pacar majikannya.Membuatnya ragu untuk menjawab.Apalagi dia sudah mendengar betapa posesifnya dia dan cemburuan terhadap majikannya.
Dan dinda menyadarinya.Terlihat bibi gugup sambil melirik varo yang ada disampingnya.Bagaimana tidak gugup, wajah varo nya aja udah kayak macan mau mengamok.Astaga baru gini aja dia udah emosi."Engga papa bi,siapa?"
"Den vinsen non"balas bibi.
Mendengar nama laki laki itu,membuat varo menatap tajam gadisnya.Dia tau, pasti pria bule itu.Sedangkan para temannya penasaran siapa pria itu.
Dalam batin mereka,sudah berapa banyak pria yang udah dighosting dinda?.
"O diaa"ucap dinda,saat hendak berdiri,
varo menahan tangannya.
"Varoo,lo ingat kan kata gue?"tanya dinda.
Varo masih menggenggam tangannya.
"Teman varo,t e m e n!"lanjut dinda menekankan kata temen.Apa pacarnya ini belum tau arti teman?.
"Gue ikut"ucap varo seraya beranjak dari duduknya.Tentu saja membuat dinda memutar bola matanya malas.
"Bawa aja dia din,nanti nangis,bayinya butuh ibunya"cibir dito.
"Bacot lo!"sarkas varo.
"Huh, terserah"ucap dinda melenggang pergi,tak lupa varo yang menggandengnya.
"Varo!diam!"ucap dinda menahan varo yang mau mendahuluinya menemui vinsen yang sedang duduk di ruang tamu.
Bisa bisa ada keributan di antara mereka.
Namun,dinda heran saat melihat pakaian yang vinsen kenakan.Sangat rapi.
"Hay sen"panggil dinda seraya duduk di sofa dengan varo yang terus di sampingnya.
"Oh hay sayang"balas vinsen masih saja bercanda.Membuat dinda tertawa kecil.
"Sa-"
"Hustt,varooo hanya bercanda!"peringat dinda menghentikan varo yang akan memprotesnya.
"Dia siapa din?"tanya vinsen.
"Dia-"
"Gue pacarnya!"ucap varo dengan cepat.
__ADS_1
"O-oh ini pacar brengsek lo din?"tanya vinsen.Seketika mata varo membulat.
Dia tau tentang dirinya?.Ternyata dinda menceritakan kepadanya.
"Varooo!!...sudah sudah,lo mau ngapain kesini?"tanya dinda to the point.
"Apa segini singkatnya?,gue mau pulang lho"balas vinsen.
"Apa lo mau pulang? sekarang?"tanya dinda,spontan dia ingin beranjak dari duduknya untuk pindah ke samping vinsen.Namun lagi lagi varo menahannya.Hish menyebalkan.
"Elah posesif amat mas"cibir vinsen.
"Diem lo!"sarkas varo.
"Huftt,jadi lo mau pulang sekarang?" tanya dinda masih berusaha bersabar.
"Iyaa,orang tua gue nyuruh gue pulang,
sudah beberapa kali gue tidak nurut sama mereka,kasihan juga mereka"
balas vinsen.
Bentar, kelakuannya sangat berubah drastis.Dinda sudah tau semua cerita tentangnya.Tentangnya yang bajingan,
nakal,dan juga durhaka kepada kedua orang tua nya.Yang maksudnya,dia pria yang tidak nurut dan tidak mendengarkan perkataan orang tua.
Contohnya tentang perusahaan.Dengan segala sok jago nya,dia ingin menjalankan perusahaan ayahnya sendiri.Dia bilang,dia yakin dia bisa membuat perusahaannya lebih maju, tanpa bantuan ayahnya.Setiap ayahnya mengajarkan dan menegurnya dalam kesalahan dalam bekerja,namun dia tetap kekeh dengan tindakannya yang menurutnya salah.Berakhir perusahaannya menurun.
"Yah,tindakan lo sangat benar sen,disana nurut sama orang tua"ucap dinda memperingatkan.
Dirinya memang merasa tidak berhak menasehatinya.Tapi,vinsen selalu minta pendapatnya tentang kehidupannya. Membuatnya mengatakan yang ada di pikirannya tentangnya.Terdengar sok pintar?,itu terserah.Dinda tidak peduli.
Ini memang jalan ceritanya wkwk.
"Lo tau?"tanya vinsen.
"Hehe iya,mommy gue berharap lo yang jadi mantunya katanya"ucap vinsen tentu saja bercanda.
"Keluar lo!"sarkas varo yang sudah tak tahan melihat keakraban mereka.
Telinganya serasa panas,pusing,seakan darah tingginya kumat.Apalagi mereka sudah snagat dekat,bahkan sampai gadisnya kenal dengan orang tua bule itu.
"Din,pawang lo serem deh"cibir vinsen.
"Ya gitu sen,kadang gue juga takut"balas dinda terkekeh.
"Bangsat!"gumam varo,seraya beranjak dari duduknya,lalu melengos pergi.Tak lupa wajah yang cemberut dan wajah yang merah pun menyertainya.
Sedangkan dinda dan vinsen hanya tertawa kecil.Melihat itu,vinsen yakin dinda sudah mendapatkan pria yang tulus kepadanya.Menurutnya dinda adalah sahabat terbaiknya,yang dia tidak bisa membiarkan sahabatnya ini sedih lagi karena cinta.
"Gimana nih din,ngambek dia"ucap vinsen.
"Engga papa,itu sudah biasa...nanti juga baik lagi"balas dinda dengan santainya.
Dia sudah biasa dengan tingkah pacarnya itu.
"Btw lo ke bandara sendiri?"tanya dinda.
"Iya,tadinya gue mau minta anterin lo,tapi ga usah deh,udah malam juga"balas vinsen.
"Eh ga papa malahan gue mau banget kok,ini kan pertemuan terakhir kita"ucap dinda.
"Jangan ngomong gitu deh,gue kan jadi sedih"ucap vinsen murung.Jujur,dia masih ingin di sini,dia takut dirinya tidak bertemu dinda kembali.
"Hey,kapan kapan pasti kita ketemu kok"
ucap dinda.
__ADS_1
"Gue sangat mengharapkan itu"balas vinsen.
"Ya udah,ayok nanti ketinggalan pesawat gimana?"ucap dinda.
"Berarti gue ditakdirkan untuk tetap bersamamu"balas vinsen.
"Dih,gaje lo"ucap dinda terkekeh.
Saat mereka hendak pergi,tiba tiba segerombolan temannya datang.
"Njir,gendakan lo lumayan juga din"celetuk bima.
"Bule lagi,pria mana lagu yang lo dustakan din!"timpal anya.
"Ganteng banget sumpah!,sama ini aja din"ucap nita.
"Ga heran si, tadi muka varo kaya macan ngamok"ucap dito.
Sedangkan vinsen hanya bingung menatap mereka.Dia tidak tau apa yang mereka ucapkan.
"Sen,orang gila,jangan didengerin"ucap dinda,seraya menarik tangannya keluar dari villa.
"Dinda lo mau kemana?!!, jangan bilang mau kawin lari sama tuh bule!"teriak anya.
"Gue mau nganterin vinsen ke bandara!,
bilangin ke varo!"balas dinda juga berteriak.
Setelah itu,dinda dan vinsen pun menuju bandara dengan menaiki mobil milik dinda.Vinsen tidak modal?,dia sudah memesan taksi online,tapi dinda memaksanya.
"Gue pulang yah,jangan lupakan gue!, jangan lupakan nomor gue!,kapan kapan gue ke rumah lo ya"ucap vinsen.
"Iya iya sen,gue gak akan melupakan teman menyebalkan kayak lo"balas dinda tertawa.
"Peluk boleh?"tanya vinsen.
Dinda mengangguk.Mereka pun saling memeluk,menikmati pertemuan yang terakhir.Walaupun awalnya vinsen bukanlah teman yang ia harapkan,
tapi dia merasa sedih berpisah dengannya.
"Makasih,lo udah buat gue jadi pria yang berguna dan dewasa"ucap vinsen seraya mengelus rambutnya.
"Sama sama"balas dinda.
"I love you baby"ucap vinsen.
"I love you to"balas dinda.
Mereka sama sama terkekeh kecil.Kapan darma ini berakhir astaga.
"Ya udah sana masuk"ucap vinsen menyuruhnya masuk ke mobil.
"Lah?, harusnya lo dong yang masuk dulu,abis itu baru gue pulang"ucap dinda.
"Udah,lo masuk terus pulang,hati hati dijalan"ucap vinsen seraya mendorong pelan punggungnya untuk masuk ke mobilnya.
"Pak hati hati bawa mobilnya,jaga cewek gue!"ucap vinsen kepada sang supir.
"Baik den"balasnya.
Di dalam dinda hanya tertawa kecil.
Namun masih ada rasa sedih di hatinya.
"Byee sen,lo juga hati hati yah,kalo udah sampai kabari gue!"ucap dinda dari dalam mobil.
"Okeei siyap baby"
__ADS_1