
Suasana semakin menegangkan.Wajah yang penuh kekhawatiran,keringat dingin mulai bercucuran,dan terus gelisah di tempatnya.Terutama suami dari bunda.
Karena sangat cintanya,dia setia menunggunya di depan pintu,sambil menggendong zelo yang sedang tertidur.
Pagi pagi sudah tidur.Sepertinya dia karena bosan.
"Sini yah,biar aku yang gendong aja"ucap dinda.
"Ga papa Dinda,biar ayah aja"balas ayah varo.
"Sini yah,ayah pasti capek"ucap dinda sedikit memaksa.
Akhirnya ayahnya varo pun memberikan zelo kepadanya.Setelah itu,dinda membawanya duduk di sebelah berli yang sedang diam melamun.Sedangkan varo,dia yang tadinya berdiri,dia menghampiri dinda dan duduk disampingnya.
"Hussttt sayaang,...hustt"dinda terus menenangkannya, karena hampir terbangun.Padahal ada baby sitter ada disana.Tapi mereka tidak memberikannya padanya.
"Kamu itu disuruh nenangin aku,bukan mereka!"ucap varo.
"Kata siapa?"tanya dinda heran.
"Kata aku!"ucap varo.
"Dih apaan,lagian mereka lebih penting dari pada kamu"ucap dinda.
"Jadi,aku ga penting bagi kamu?"tanya varo.
"Engga,canda elah...kamu yang sabar aja,
berdoa agar bunda lancar lahirannya"
ucap dinda.
"Kayak gitu doang?"tanya varo menginginkan pelukannya.
"Emang apa lagi?"tanya dinda.
Mombuat varo mendengkus kesal.
"Udah kak,ga usah diladeni...dia orang aneh,banyak maunya!"cibir berli.
"Nyaut aja kamu!"kesal varo.
"Biarin wleek!"balas berli.
Dinda yang ada di tengah tengah mereka,
hanya menggelengkan kepalanya heran.
Di saat seperti aja, mereka masih sempat
sempatnya ribut.
Mereka kembali memijat pelipisnya yang terasa pening,karena memikirkan bunda yang sedang berjuang melahirkan adiknya.Tentu saja sangat khawatir, apalagi sekarang,lebih tepatnya bulan ini bukanlah waktu bunda lahiran.Namun,
karena kecelakaan kecil di kamar mandi,
mengakibatkan si bayi harus dikeluarkan hari ini juga.
"Pak,detak jantungnya melemah"
DegDegDeg
Jantung mereka berdetak kencang, tangan saling bertautan, keringat dingin terus mengalir.Sudah dua jam, mereka menunggu.Tentu saja itu jauh dari batas umum waktu operasi caesar.Apakah ada sesuatu terjadi pada mereka?.
OeeeekkOeeeek
Seketika senyum terbit di wajah mereka,
__ADS_1
saat mendengar tangisan bayi dari dalam.Mereka langsung beranjak dari duduknya,dan menghampiri ayahnya yang masih setia berdiri di depan pintu.
Mereka menantikan keluarnya mereka.
"Ayaah,kok bunda ga keluar keluar si"
gerutu berli.
"Sebentar lagi sayang"balas ayah sambil memeluk anaknya.
"Pengin liat baby deh"ucap berli.
"Sabar dong"
Setelah memastikan zelo sudah pergi dengan baby sitter nya, untuk jalan jalan keluar.Dinda pun menghampiri mereka.
Dia ikut menunggunya di depan pintu,
yang selalu mereka harapkan agar terbuka, menampilkan wajah berseri-seri sang bunda.
"Ayah, operasinya sudah selesai"ucap berli yang melihat lampunya mati,yang tandanya operasi sudah selesai.
Ckleeek
Dan saat itu juga,mereka dikejutkan dengan kondisi bunda yang masih tertidur,dengan alat bantu pernapasan, tak lain adalah ventilator,tak lupa dengan segala selang menempel pada tubuhnya. Tidak,mereka harus berpikir positif.Bisa saja obat tidurnya masih berjalan.
"Dokter,bunda saya kenapa!!"ucap berli sambil menggenggam tangan sang bunda.
"Bunda saya baik baik aja kan dok?"tanya ayah.
Membuat sang dokter menarik napasnya panjang.
"Jawab dok!,bunda ga papa kan!"tekan varo dengan nada cukup tinggi.
"Varo,sabar!"ucap dinda sambil mengelus lengannya.
membuat mereka bernapas lega.
"Tapi..."
Kata tapi itu, membuat mereka kembali
antusias.
"Tapi apa dok!"ucap berli.
"Maaf,bunda kalian harus di rawat di ruang ICU....dia mengalami kritis, kondisinya tidak stabil, sepertinya saat terjatuh,dia mengalami benturan keras di perutnya,lalu terjadi kontraksi hebat di perutnya....dan dia tidak bisa menahannya,membuatnya kondisinya melemah"jelas sang dokter.
Seketika membuat mereka luruh. Menatap sendu sang bunda,dengan mata berkaca-kaca.Dia tidak bisa berbuat apapun lagi,kecuali menyerahkan semuanya kepada dokter.Mau protes kepadanya,itupun hanya sia sia.Mereka harus menerimanya,dan terus berdoa untuk bunda.
"Hikss....bundaa"tangis berli pecah di pelukan ayahnya.
"Apa dulu dia pernah mengalami kritis?"
tanya dokter.
"Pernah dok,sampai bertahun-tahun bunda mengalami kritis"balas varo.
"Hmm, juga yang membuatnya lemah saat ini... psikologisnya maupun fisiknya"
ucap dokter.
Dan tak lama kemudian,seorang suster keluar,dengan membawa bayinya.
"Bayi,akan di masukkan ke ruangan NICU,
untuk menstabilkan kondisi jantungnya"
__ADS_1
ucap dokter.
Mereka mengerti.Sang suster pun membawa bayinya ke ruangan NICU.
Sedangkan,bundanya...dia pun dibawa ke ruangan ICU.
"Saya harap,kalian jangan terlebih dahulu menjenguknya"ucap dokter.
Semuanya hanya mengangguk paham.
Ayah dan berli, mengikuti bunda menuju ruang ICU.Mereka akan menunggunya,
sampai diperbolehkan masuk.Sedangkan varo,dia duduk dengan wajah terpukul nya.Dan dinda,dia berdiri di depannya,
sepertinya, menenangkannya adalah hal yang harus ia lakukan.
"Kamu yang sabar var,bunda hanya butuh
pengawasan yang ketat kok,ibaratnya bunda hanya numpang memakai alat yang lengkap disana,agar bisa menyembuhkan dirinya,abis itu pasti keluar"ucap dinda sambil menepuk bahunya.
Tiba tiba,varo malahan memeluknya,yang membuatnya terkejut.Dia sangat tak menyangka,bisa terjadi seperti ini kepada bunda nya.Tidak mungkin yang bunda alami dulu,terjadi kembali.Dan itu sangat menyakitkan.
"Aku takut,bunda lama lagi disana "ucap varo.
"Tidak,kamu ga boleh gitu dong...bunda pasti ga lama!,apalagi sekarang ada keluarga"ucap dinda sambil mengelus punggungnya.
Varo merasa nyaman memeluknya.
Sepertinya,setiap hari dirinya harus terlihat sedih,agar mendapatkan pelukannya.Heh lucu.Tapi dia yakin, pelukan ini hanya kerena dia kasihan melihatnya seperti ini.
"Var"panggil dinda.
"Hmm"varo hanya berdehem menikmati pelukannya dan aromanya yang sangat ia rindukan.Namun saat ini,dia snagat sukit mendapatkannya lagi.Sepeetinya sudah ga akan mendapatkannya lagi.
"Bisakah kamu lepaskan,ga enak dilihat ga si"ucap dinda yang kurang nyaman dengan posisinya.Apalagi ini rumah sakit,
pasti banyai yang melihatnya.Malu dong.
"Lepaskan apa?"tanya varo pura pura tak tahu.
"Ini,jangan memelukku seperti ini!"ucap dinda.
"Apa karena kita teman,kamu tidak mau memelukku?"tanya varo masih setia memeluknya.Kurang ajar bukan?!.Dasar!.
"Bu-bukan gitu,tapi ga biasa aja"ucap dinda.
"Kan udah biasa dari dulu"ucap varo mengingatkan waktu pacaran dulu.
"Itu kan dulu, sekarang kan kita teman varo"balas dinda.
"Tuh kan artinya teman ga boleh pelukan gitu?"tanya varo.
"Ih ya bukan gitu juga si...ah udahlah pokoknya lepasin aku,aku mau pulang"
ucap dinda kesal.
"Pulang?ngapain?"tanya varo mempererat pelukannya.
"Kamu ga lihat pakaian aku?hah!"kesal dinda karena ternyata dirinya masih memakai baju tidur,rambutnya di cepol berantakan,dan memakai sandal rumah.
"Cantik"ucap varo.
"Cantik?...matamu!,udahlah lepasin aku!,
varo!"tekan dinda.
"Engga, sebentar lagi"balas varo terkekeh pelan.
__ADS_1
"Huaaaa varooo!!!".