Kisah Cinta Sang Dokter

Kisah Cinta Sang Dokter
Mencairnya gunung es


__ADS_3

Selesai mengobati luka, Jojo menyuruhku untuk kembali keruangan Ibu.


" Bagaimana? Sudah ketemu apa belum? Apa kata Om tadi sayang?".


Tanya Bapak dengan serius.


"Udah aman Pak, tadi sepintas aku baca berkas Ibu. Semua biaya sudah ditanggung Om yang jumlahnya fantastis begitu. Om baik ya Pak....! Ternyata orang baik itu pasti akan dapat pertolongan dari Allah. Alhamdulilah nasib kita baik untungnya Pak....!!!".


Sembari tersenyum kepada Bapak.


"Kamu sudah makan?".


Tanya Bapak kembali.


" Belom Pak. Ini mau makanlah ceritanya".


Aku melahap makan siangku dengan cepat yang kubeli tadi.


Nasi Padang...!!!?🀀


Oh lezat nya....!!!🀀


Dalam benakku masih terdapat tanda tanya besar segunung Sibayak, kukira hanya mimpi saja. Tapi setelah kulirik dan kusentuh kantong ku kartu ATM yang diberikan Jojo itu nyata,


Oh My God....!!!!😨 itulah kata yang terbesit sekarang ini dalam hatiku.


Selesai makan kurebahkan diri dan mencoba bersenda gurau bersama adikku. Yang kurasakan belakangan ini semakin jauh, entah apa sebabnya.


" Kak? Sudah pernah lihat istri Om tak?".


Tanya Nem dengan nada lembut dan polos.


" Iih lucu kau. Baru jumpa pun tanya begitu. Kau tanya saja lah sendiri sama Om. Masa kau tanya sama kami. Memang kami ini siapa nya. Dah penger kau...!! Gak waras!".


Ketus Aya sambil ketawa geli bukan main.


" Oh kak. Ayok lah kita beli Jeruk. Aku mau makan buah kak...! Bosan aku makan kue saja, mau yang manis begitu...?".


Fajar mulai menggerutu pada kami.


" Besok saja kenapa. Kakak capek kali nih dek, banyak masalah ini hari. Untung saja aku tidak kenapa-kenapa. Kak mau istirahat sebentar saja...!!! Ok?".


Ketusku sembari memejamkan mata.


Ibu terbangun dan tersenyum melihat tingkah kami tadi yang mengusiknya.


" Pak? Apa anak kita baik terus tinggal dirumah sakit? Aku takut mereka ikut sakit karena lingkungan sini banyak penyakit lalu lalang...! Suruh mereka pulang saja. Malam ini biarkan Ulan yang menemaniku!!!".


Tegas Ibu sambil tersenyum.


" Baiklah kalau itu kemauan mu asalkan kamu senang saja!! Yah...!".


Pasrah Bapak sambil geleng kepala melihat kami bersenda gurau.


Sementara aku masih menjelajahi dunia mimpi yang panjang dan tak kunjung bangun.


Habis Ashar Bapak dan adikku pulang kerumah, Bapak tidak membangunkan aku yang terlelap dalam mimpi itu.


" Biarkan saja. Nanti ibu yang jelaskan!".


Kata Ibu sambil tersenyum kecil.


Bapak berlalu bersama adikku, dan aku masih terjaga dalam tidurku dikasur tepatnya disebelah Ibuku.

__ADS_1


Om masuk kedalam ruangan dan mengganti infus Ibu dengan yang lain.


" Dia tidur kak? Oh...! Kasihan sekali!".


Tanya Om seraya melirikku.


" Kamu sudah menikah Jo?".


Ibu menggoda Jojo sambil tertawa lebar.


" Belum kak. Tak ada jodoh kali!!. Maklum orang jelek mana ada yang mau, kak???".


Jawab Jojo tegas sambil kekeh sendiri.


" Bukalah hatimu sedikit saja. Mau wanita yang gimana lagi? Jangan cari yang sempurna karena sempurna itu hanya ada pada Siti Khadijah istri Nabi, Zaman sekarang mana ada...! Ayolah Jo, sampai kapan?!?".


Sambil Ibu mengelus tangan Jojo.


"Iya kak belum ada yang cocok saja. Ya mau bagaimana lagi? Tuhan belum mengijinkan!!".


Tertawa kecil Jojo karenanya.


" Kamu mendekati kata sempurna mana mungkin? Aku tidak percaya lah. Diluar sana pasti sudah banyak yang antri calon istri mu..!Percayalah, jalani saja. Hidup tidak sesulit yang kamu bayangkan Jojo....???!".


Ibu tertawa geli sambil menatap Jojo.


"Kakak tidak percaya. Mau bagaimana lagi coba? Aku belum ketemu yang pas saja...!".


Tanya Jojo pada Ibu sambil manyun, sesekali dia melirikku yang masih tertidur pulas.


" Ah jangan bercanda. Ayolah Jo mau sampai kapan lagi? Anakku saja sudah besar...! Nah kamu bagaimana? Mau sampai kapan melajang terus? Tidak baik loh Jo?".


Tanya Ibu dan memperhatikan Jojo yang kadang melirik aku secara diam-diam sambil senyum.


" Belum kak. Aku juga masih mencari. Belum ada wanita yang mampu menggetarkan hatiku. Tak seorangpun...!!!".


Entah mimpi apa aku sehingga tidur sambil tersenyum. Ibu memperhatikan sikap manis dan lembut yang diberikan Jojo padaku, Ibu agak terkejut aja melihat wajah Jojo yang bahagia ketika mengelus kepalaku.


"Dia masih kecil. Apa dia begitu manis dan menarik perhatianmu?".


Tanya Ibu cemas, mulai mencurigai sikap Jojo yang berlebihan itu padaku.


Jojo hanya tersenyum saja dan meninggalkanku sembari Jojo menghampiri Ibu yang mulai gelisah.


"Apa yang harus ku katakan padamu kak?".


Tanya Jojo dengan mata sayu dan sedih.


"Dia tidak cocok, dia masih kecil dan butuh sosok seperti kami. Jangan mengusiknya!!" Kata Ibu tegas dengan menggenggam tangan Jojo dengan penuh kasih sayang.


" Kau tahu benar hatiku, selalu bukan?"


Jojo tersenyum saja.


" Kenapa kau gelisah? Apa ada yang salah dengan ucapan ku tadi?".


Tanya Ibu lagi karena wajah Jojo seperti bingung dan dilema.


'Ya ternyata benar dia kakak ku, dia paham apa yang ku cemaskan dan ku inginkan. Tapi tidak mungkin kukatakan bahwa aku menginginkan putrinya itu. Kuharus bertahan hingga waktunya tiba nanti, sekarang bukan waktu yang tepat. Ah...lebih baik aku diam saja!'.


Gumam Jojo dalam hati.


Tapi meskipun begitu ibu tetap cemas dan kuatir jika Jojo memang memiliki perhatian yang lebih padaku, Ibu masih bertanya tanya apa sebenarnya yang membuat Jojo gelisah seketika. Ibu berharap itu bukan karena aku, karena tidak mungkin Jojo dan aku.

__ADS_1


Aih....aduh. Andai Ibu tahu aku harus bagaimana coba. Bisa-bisa Ibu pingsan dan mati seketika kena serangan jantung.


Bapak juga bisa kena struk berat jika tahu!! Aduh aku jadi dilema ini...! 😡


Tak lama setelah itu aku terbangun dari mimpi yang kujelajahi tadi karena suara Ibu dan Jojo yang keras sedang bersenda gurau.


Aku melotot dan terkejut seketika itu melihat mereka akrab tertawa, Jojo menebar senyum dan itu berhasil membuatku gugup dan memerahlah pipiku.


" Sini mendekatlah....!!!".


Pinta Ibu padaku. Seketika aku beranjak dan duduk disamping Ibu tepatnya disebelah Jojo, dan dia mulai menggodaku dengan manuver ajaibnya.


Yu.....up...!!! Jojo si genit itu menginjak kakiku dengan pelan dan tak bersalah.


"Auuw......!!".


Pekik ku terkejut. Ibu seketika heran melihatku,


"Kenapa sayang?".


Tanya ibu dengan kaget.


"Ah tidak Ibu, aku teringat sesuatu dikampus tadi....???!".


Jawabku sambil tersenyum polos.


' Astafirullah kenapa bisa genit begitu padaku didepan Ibu, mencoba menggodaku dengan seribu cara dan manuver hebatnya itu. Tidak habis pikir aku apa yang dipikirkan ya, apa dia sudah gila kali ya? Sumpah demi Allah, ini orang dah gila. Mau menyeretku bersamanya dalam badai dan memainkan sandiwara secara live didepan Ibuku. Ya Allah lindungilah hambamu ini dari setan yang terkutuk dan iblis yang jahat...!'.


Gumamku dalam hati dengan tabah.


Aku membaca Ayat Kursi dengan lembut dan berhasil membuat Ibu bingung.


Hore....hore....πŸ’•


Akhirnya Ibu tanya ada apa denganku,


" Kamu sedang apa?".


Tanya Ibu bingung sambil mengernyitkan dahi dan menatapku.


"Baca ayat kursi Ibu biar setan, iblis dan jin jahat pergi dari sini dan tidak membahayakan kita. Memang aku salah Ibu?".


Tanyaku dengan wajah polos.


'Rasain kamu, emang enak dikerjain balik. Biar tahu rasa saja Si Jojo genit ini...?! Matilah kau setan jahat. Ayo cepat pergi aku gak mau dekat-dekat dengan orang genit alias mesum. Astaga... Risihnya....!!!!'.


Gumamku dalam hati dengan puas.


' Sialan ini bocah mau main sandiwara samaku. Baru diajari sekali sudah berani balas ya, awas saja ya bocah kecil. Kelak kuberi hukuman yang lebih besar sehingga kamu tidak bisa berkata kata lagi dan memohon ampun padaku. Lihat saja apakah kamu akan segalak ini lagi jika aku memberikanmu pelajaran tambahan!'.


Gumam Jojo dengan kesal dan geram dengan sikap ku.


' Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka? Sungguh mencurigakan sekali. Tapi apa iya kalau Jojo suka sama Ulan? Ah, aku gak boleh menghayal lagi. Pantang....!!'.


Gumam Ibu dalam hatinya yang galau.


Cinta mampu mencairkan gunung es namun bisa membuat orang kehilangan akal sehatnya jika dihadapkan oleh orang yang dicintainya. Karena cinta itu manis seperti coklat dan nikmat seperti Kopi. Namun adakalanya cinta itu membuat kita kehilangan logika dan akal sehat kita, panas dingin lah awak dibuat cinta.


β™₯οΈπŸ’›πŸ–€πŸ’œπŸ–€πŸ’›πŸ’šβ€οΈπŸ’β™₯οΈπŸ’™πŸ’šπŸ’”πŸ’›


Jangan lupa like dan komen ya kak


Karena like dan komen itu penting dan Gratis....!!!!

__ADS_1


Jangan lupa untuk vote ya kak...!! 😊mohon dukungannya kak,


πŸ’žSelamat membaca ya..πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2