Kisah Cinta Sang Dokter

Kisah Cinta Sang Dokter
Apa Mau om?


__ADS_3

Setelah kejadian terkutuk itu terjadi padaku, HP ku berbunyi πŸ“²


" Kak dimana? Kami lapar?".


Kata Aya merengek padaku.


Nem juga nyambung,


" Kak jangan bilang kak lupa lagi kan? Sumpah kak aku lapar tidak ketolongan lah. Kak dimana? Kak dimana sih??".


Ketusnya sambil marah.


"Iya ini sudah sampai kok, sabar!!!".


Jawabku singkat dan memutuskan sepihak.


Aku masih tidak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi padaku, Oh Tuhan apalah salah dan dosaku sehingga aku harus mengalaminya seperti ini. Apa yang salah denganku? Kenapa harus aku? Itulah yang terbesit dalam hatiku. Dalam ruangan Ibu ternyata Om sudah datang dahulu dan memberikan penjelasan pada Bapak, dan hanya keheningan yang ada.


"Mau bagaimana lagi? Kita harus cepat operasi besar untuk pemasangan cincin jantung, setidaknya dalam Minggu ini juga. Karena bisa berakibat fatal bang!!".


Tegasnya.


Bapak hanya meneteskan air mata,


"Lalu biayanya bagaimana? Pasti sangat mahalkan? Bagaimana ini?".


Air mata bapak menetes juga.


" Pak...! Jangan gitu kan ada Om Jojo yang nolong kita. Ya kan Om?".


Fajar yang polos itu berkata seperti semua itu mudah saja diapun nangis sambil peluk Ibu.


"Aku gak akan biarkan Ibu sakit, Ibu harus sembuh. Aku yak mau lah disini karena Ibu tak ada dirumah. Aku temani Ibu sampai sembuh ya? Bapak jangan nangis!!!".


Aya Tangisnya pecah begitu saja.


" Tenang aja. Kan ada Om, lagian kan Om tak mungkin tinggal diam saja kok. Percayalah Om akan selamatkan Ibu secepat nya, Ok akan bantu kalian. Sudah jangan nangis lagi....!!! Cup....cup...!!?".


Kata Om sambil memeluk adik-adikku.


Aku sudah sampai di depan pintu, dan ragu membuka pintu. Hatiku benar-benar hancur dan duniaku yang semula indah seperti pelangi berubah jadi gelap gulita.


Ancaman Om berhasil membuatku takut dan tak berdaya, entah kenapa bisa begitu. Yang jelas hidupku sudah berakhir saat ini juga, lalu kenapa aku harus hidup. Untuk siapa?


Beribu tanda tanya berhamburan dalam otakku dan pikiranku.


Bagaimana tidak? Orang yang kusegani dan kuhormati ternyata menaruh hati padaku.


Kubuka pintu dan tertunduk melihat Om sudah ada didalam ruangan, kuletakkan dimeja makan siang kami. Adikku menyambutku dengan senang dan rasa bahagia karena rasa laparnya akan segera hilang, tapi tahukan mereka bagaimana keadaanku yang sangat kasihan ini karena ditindas hingga tak berdaya.

__ADS_1


Wajah Om tidak menunjukkan bahwa dia baru saja melakukan kesalahan padaku, seperti sedang mencoba ku untuk mengajaknya bermain sandiwara.


"Oh sudah datang? Makan dulu biar semangat, nanti Om jelaskan tentang penyakit Ibu...!".


Tegasnya dengan menebar senyum.


' Iblis berwujud manusia, sok baik didepan orang tuaku. Padahal dia baru saja ingin membunuhku dan sekarang ingin mengajak aku main sandiwara didepan orang banyak. Maaf saja aku tak sebaik Om layaknya aktor sinetron, yang memiliki sejuta rasa dan beribu wajah sesuai peran yang dimainkan. Melihatmu seperti itu ingin saja menguburmu hidup-hidup kedasar laut Antartika. Dasar ********...!!! Kau pikir dengan senyum bisa merubah perlakuanmu tadi? Meski Om bisa menutupi dari mereka tapi Allah Maha Tahu dan Maha Besar...!'.


Gumamku dengan segunung rasa dendam dihati.


Om ternyata menyadari sorot mataku yang tajam penuh dendam. Tapi Om seolah tidak perduli dan masih main sandiwara.


" Aku butuh bantuan diruanganku untuk mencari hasil Medical Cheak-up tadi. Bisa Ulan bantu Om?".


Pintanya pada Bapak seperti tidak merasa bersalah.


' Beraninya masih mau menindasku? Apa kejadian tadi belum cukup membuat mu puas? Mau diapakan lagi aku? Bunuh saja aku biar puas hatimu itu...! Ya kan?'.


Gumamku sambil menggigit bibirku dan melotot padanya.


" Cepat bantu Om sana?".


Pinta bapak dengan lembut padaku.


Aku hanya terpaku dan menunduk. Bapak menarikku keluar rungan dan mencoba memberikan pengertian padaku tentang sakit Ibu yang sebenarnya.


" Tolong Bapak? Bisa".


" Ikuti saja Om mu sayangku. Dia sudah mau menanggung biaya pengobatan Ibu, dalam Minggu ini Ibu harus operasi Cincin Jantung dan butuh biaya besar. Semua sudah ditanggung oleh Om Jojo jadi bersikaplah lembut dan manis. Bisa Ulan patuhi Bapak kali ini saja...?".


Bapak meneteskan air mata dan menangis sengkukan, itu membuatku takut.


Aku hanya menganggukkan kepala seraya setuju dengan permintaan bapak, Ya inilah awal mula dari penderitaan ku. Apakah aku mampu jadi seperti yang Bapak pinta barusan.


"Terimakasih sayangku...! Kamu anak kesayangan Bapak!".


Senyum bapak mekar bagai mentari pagi hari yang bersinar .


' Baik bagi Bapak dan Ibu tapi buruk bagiku. Sudah dimulai, kehidupan yang seperti dineraka. Namun akan kujalani dengan mencoba ikhlas saja, demi keluargaku dan keutuhan kami semua. Ya Allah... Aku berharap ini semua akan segera berakhir ketika aku membuka mata esok hari' Gumamku dengan hati hancur.


Bapak kembali keruangan dan tidak lama Om Jojo keluar.


"Ikut dengan ku...!".


Sambil berjalan dan aku mengikutinya dari belakang.


Sampai diruangan Om membuka sebuah map merah dan menyuruhku membaca kertas itu sampai habis. Mengalir lah sungai keujung jalan, air mataku tak terhindari.


*Tidak....tidak....tidak....!!!* mungkin teriak ku

__ADS_1


' Ibu sakit jantung, dan harus dipasangi Cincin Jantung secepatnya karena terjadi pembengkakan. Total biayanya hingga ratusan juta. Darimana Bapak dapat uang sebanyak itu, kami tidak punya harta sebanyak itu. Lalu bagaimana nasib Ibuku? Bagaimana dengan adikku? Tolong, jangan! Tidak ..tidak....tidak...!! Apalagi cobaan yang diberikan oleh Mu Sang Pencipta?'.


Gumamku dalam hati.


"Aku bisa membantumu itu mudah bagiku. Tapi aku punya permintaan!".


Katanya dengan senyuman kecil.


"Apa mau Om? Katakan saja!!!?".


Tanyaku dengan air mata berderai dan senggukan.


" Sudah ku utarakan mau ku. Masih belum paham? Perlu kuperjelas lagi...? Hah?".


Tanya Om padaku sambil menggenggam tangan ku dan menatapku dengan iba.


"Tidak Om Hiks....hiks....!!! Itu terlarang bagi kita. Seharusnya Om melindungi dan mengayomiku bukan? Hiks....hiks....hiks.....!!! tolong...!! hiks....!!! Jangan bercanda dan menjadikan Ibu sebagai alasan mendekatiku. Sadarkah Om...? Hiks...hiks..!!! Dengan ucapan Om itu? Bacalah ayat kursi maka setan akan enggan singgah dihatimu...!" Dengan nada dingin aku menolaknya.


" Aku tulus tanpa ingin balasan, tapi hatiku ini sudah jadi milik orang lain sayang???!".


Katanya dengan nada agak marah.


"Jangan bercanda Om, ini bukan saatnya kita bersandiwara seolah-olah sedang syuting sinetron. Aku benci...!!!".


Tegasku dengan wajah datar.


" Baiklah coba ulan pikirkan sendiri jalan keluar masalah Ibumu...!!!".


Katanya dengan nada mengancam ku.


"Lelucon apa lagi ini Om???".


Tanyaku sambil tersenyum pahit.


' Kau anggap aku ini apa sialan? Mau diapakan lagi aku setelah ini. Aku hanya boneka bagimu bukan? Berapa banyak wanitaku diluar sana menunggumu, apa aku akan jadi salah satunya? Huh!!!?'.


Gumamku dalam hati penuh kebencian padanya.


Hati yang terluka mampu meruntuhkan gunung yang tinggi dan kebencian akan selalu menemani seiring waktu. Jangan biarkan benci memeluk dirimu, biarkan angin kedamaian menggigil kan hati nuranimu lalu menghangatkanmu dengan segala rasa cinta dihati.


Hidup ini seperti telenovela, Allah sudah merencanakan segala sesuatunya dengan baik untuk kita. Sumpah aku juga begitu kok....mantapkan?? πŸ˜‚πŸ˜‚


β™₯οΈπŸ’›πŸ–€πŸ’œπŸ–€πŸ’›πŸ’šβ€οΈπŸ’β™₯οΈπŸ’™πŸ’šπŸ’”πŸ’›


Jangan lupa like dan komen ya kak


Karena like dan komen itu penting dan Gratis....!!!!


Jangan lupa untuk vote ya kak...!! 😊mohon dukungannya kak,

__ADS_1


πŸ’žSelamat membaca ya..πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2