
Tidak lama setelah Dokter keluar seorang Suster Senior memanggilku dan menyerahkan untuk mengikuti dari belakang menuju suatu ruangan tidak jauh dari tempat ruangan Ibu.
Aku hanya berjalan, seperti melayang-layang jiwaku dan perasaanku saat ini. Kacau balau dan gelaplah pokok nya, kalau disenggol orang mungkin aku akan tumbang dan terjatuh karena terlalu rapuh. Selama itu pula tanya dihatiku membesar dan memanjang.
Sepanjang jalan kenangan, kurasa? π
'Apa yang terjadi? Kenapa aku dipanggil? Apa karena dia saudara Ibu kali ya? Ah....ah....sial pula aku siang ini. Kalo ditanya apa yang harus kujawab?!!! Pura-pura **** saja. Apa katanya aku diem saja. Itulah mungkin yang terbaik. Atau memang benar sakit Ibuku parah. Oh ya tuhan! Kenapa harus Ibu? Kenapa tidak aku saja karena ibu harus mengurus adik-adik. Apa yang harus aku katakan nanti kalo ditanya. Kenapa bukan mimpi saja, kenapa harus nyata. Ya Allah kasihanilah hambamu yang kerdil ini seperti Batang Lidi...!'.
Gumamku sepanjang jalan.
Suster mengetuk pintu sembari meminta ijin masuk kedalam ruangan.
"Bawa saja dia masuk dan tinggalkan kami. Tolong bawakan teh hangat dan makanan, aku yang bayar. Kamu juga boleh makan! Saya traktir. Terimakasih ya....!!!?".
Pinta nya pada Suster itu.
" Silahkan masuk dek...! Sudah ditunggu Dokter!!! Awas hati-hati ya, dimakan sama Dokter yang ganteng dan tampan!!!".
Suster senyum dan menyilahkan aku masuk.
Aku masuk dan dipersilahkan duduk tepat dihadapan nya.
Dokter menyapaku dengan lembut dan hangat seperti sudah kenal lama.
" Hai....? Lama tak jumpa? Sudah gadis dan cantik sekarang ya? Kau buat aku hampir tak percaya melihatmu! He.....he....eee!!!?".
Dia berkata demikian dengan santai sekali,
What......????π±π±
Itulah yang terbesit dlm hatiku dengan wajah datar ku tanpa arti dan makna.
"Dulu kau masih sekecil jentik kelingking ku, sekarang kamu mempesona dan menarik. Hampir saja aku tak percaya itu kamu Ulan?".
Dia memandangku dengan wajah agak sedih.
"Iya...".
Jawabku tegas dan singkat.
Hanya itu yang bisa aku katakan sambil tertunduk didepannya dengan mata sedih.
' Dia kok tahu namaku ya?'.
Gumamku.
"Tenang saja. Ibumu akan dapat perawatan yang terbaik. Aku sendiri yang akan menangani kasus Ibumu. Tidak mungkin aku membiarkan begitu saja, Oke???".
Kata nya dengan wajah meyakinkan dan membuatku agak sedikit lega akhirnya.
Aku melihat seketika karena kaget dengan ucapan yang keluar dari mulutnya. Tak lama setelah itu makan dan minum datang.
Tok.....tok....tok....!!!!π’
__ADS_1
Suara pintu diketuk dari luar.
"Masuk saja...!!!" Katanya.
Suster yang tadi membawakan makan dan minum kedalam dan meletakkan nya.
" Ini Struknya nya Dok...? Saya juga sudah mengambil bagian saya. Makasih Dok".
Kata Suster sembari tersenyum bahagia.
"Ini tolong kamu bayarkan. Sisanya buatmu saja. Sekalian pastikan pasien tadi apakah keluarganya sudah datang. Kamu kabari setelah melihat ya? Terimakasih banyak!".
Senyum nya sambil melambaikan tangan dengan manja kepada Suster yang genit itu.
Suster itu keluar dengan hati riang dan bahagia sedunia. Bagaimana tidak? Berbicara dan dekat dengan Dokter ter-Baik dan ter-Tampan dirumah sakit ini. Dokter yang dihadapanku ini Pujaaan semua orang.
Oh Dewi Fortuna berpihak padaku...!!!π
" Makanlah. Mungkin Ulan belum makan siang, nanti pingsan loh...? Kan ribet jadinya...? Tidak lucu tahu???!!!".
Katanya dengan nada menggodaku dan main mata kepadaku dengan genitnya.
' Aaaih? Ini Dokter kenapa sih ngeselin sekali? Pake kedip mata segala lagi. Emang ini Dokter lumayan juga sih. Tapi norak! Huh seram?!'.
Gumamku dalam hati karena kesal.
"Cepat habiskan. Setelah ini kita lihat Ibumu bersama. Aku harus cek sesuatu lagi...!" Katanya dengan lembut. Aku hanya diam dan diam. Tak kusentuh sedikitpun makanan dimeja.
Dia tertawa kecil. Aku menatap wajahnya dengan intens dan serius.
"Jangan menatapku begitu, inilah karya Allah. Ganteng, tampang, dan jenius lagi. Bener gak ucapan ku??".
Katanya dengan menyombongkan diri.
Aku terkejut dan melotot saja melihat ekspresinya itu yang sok sombong.
' Iiih mampus. Sumpah kesel aku? Ya Tuhan kenapa tak adil padaku. Meski dia tampan tapi tak begitu juga kali....!!!'.
Gumamku dalam hati kecil.
Masih dengan wajah bingung sih?.
' Entah apa yang terjadi dengan hari ini, masalah Ibu membuatku berhalusinasi saja ini. Aduh...Aduh...Aduh....!!!?'.
Gumamku tak percaya dalam hati.
"Mau disuapi makanya?".
Katanya sambil meraih tisu diatas meja.
Aku menggelengkan kepala saja, dan mulai takut akan apa yang akan terjadi.
"Ya sudah mulailah makan. Biar semakin cepat semakin baik kita cek kesehatan Ibumu. Akan kuberikan yang terbaik. Tenang saja ya!. Percayalah saya yang terbaik!!!".
__ADS_1
Katanya sambil meyakinkan aku lalu mengelus kepalaku sambil tersenyum.
Aku memulai makan, dia hanya menatapku saja. Aku agak merasa risih sih! Berhubung lapar ya kumakan saja. Kata orang tua dulu Mubazir makanan dibuang. Berdosa besar, karena diluar sana banyak yang yak makan. Mengingat itu akupun nafsu makan.
Tak lama setelah itu telpon berbunyi.
Ting....tong...!!! π²
" Iya. Iya...Oke saya segera kesana!!! Oke!!".
Dia langsung berdiri dan menyiapkan diri.
"Habiskan makanmu. Kalau sudah habis temui saya di ruangan Ibumu. Jangan melamun kalo sambil makan. Cepat ya...!!".
Dia bergegas keluar sembari berlarian kecil.
Aku makan dengan cepat seperti Kilat dan berlari menuju ruangan Ibu.
Diluar pintu kudapati adikku Fajar menangis keras sambil dipeluk Aya. Nem menangis juga setelah melihatku.
" Kak? Ibu tidak matikan kak? Kita kayak mana kak? Hiks.....hiks.....!!!!".
Katanya Fajar sambil menangis.
" Kak? Ibu kok belom bangun juga? Apa karena kita nakal, Allah marah kak?".
Wajahnya Nem cemas dan sedih.
"Bukan dek!!! Sabar ya! Hanya doa kita yang dibutuhkan Ibu. Dokter sedang bekerja keras. Kita cuma bisa doa dek...!!!".
Kataku menenangkan mereka sambil memeluk Fajar, akupun menangis sedih.
'Ya Allah jagalah Ibuku, kami masih butuh Ibu. Ya Allah dengarlah doaku, Ya Rabb!!!'.
Gumamku dalam hati kecilku yg begitu rapuhnya karena sedih bukan main.
Sementara itu masih saja menangis terisak-isak karena Ibu. Wajar saja dia yang paling dekat dengan Ibuku. Entah apa yang direncanakan Sang Penncipta untuk kami. Hanya dialah yang tahu karena Dia Maha memiliki segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit.
Kita hanya bisa menjalani karena dia yang punya rencana dan yang paling berhak untuk menentukan ini dan itu.
Walau kita sudah berusaha tapi dia yang punya rencana, walau kita memiliki tapi hanya dia yang mempunyai segala sesuatu yang ada di Bumi dan di Langit ini bukan? Jadi berikanlah dan lakukanlah yang terbaik menurut hatimu dan jadilah dirimu sendiri.
Tuhan punya rencana dibalik bencana yang kita alami didunia ini. Kita hanya bisa menjalani dengan sepenuh hati. The Power of Doa...is the Best.
β₯οΈππ€ππ€ππβ€οΈπβ₯οΈππππ
Jangan lupa like dan komen ya kak
Karena like dan komen itu penting dan Gratis....!!!!
Jangan lupa untuk vote ya kak...!! πmohon dukungannya kak,
πSelamat membaca ya..π€π€π€
__ADS_1