Kisah Cinta Sang Dokter

Kisah Cinta Sang Dokter
Lamaran Untuk Ku


__ADS_3

Aku hanya terdiam. Haidir akhirnya tertawa,


"Ha....ha....aaa! Tak usah tegang begitu sayang. Abang tak akan paksakan lagi, kalo adek sesudah setuju kasih kabar saja biar Abang lamar resmi bersama orang tua Abang. Tidak masalah, kapan adik setuju saja kok. Abang paham maksud adek...!!! Aku tetap mencintaimu. Ayo kita pulang sudah sore...! Nanti kemalaman sampai rumah!".


Ketus haidir dengan nada agak kesal tapi ia tutupi karena memikirkan bagaimana perasaanku ini.


Disepanjang jalan hatiku terus gelisah dan kacau akibat perhataan Haidir yang membuat jiwaku terguncang hebatnya. Aku berhenti di Halte bis Kampung Lalang karena aku harus sambung naik angkot lagi.


Disebelah ku ada mobil berhenti,


" Huh siapa lagi ini? Kok sangat Familiar?".


Kataku pelan.


Yup mobil siapa lagi yang Alphard kalau bukan mobil Om Jojo. Hatiku berdebar kencang seperti genderang takbir lebaran bergema


"Ayo masuk...!!!".


Katanya tegas sambil Om membuka kaca.


Aku langsung masuk dan duduk diam manis seperti Ratu Elisabeth tanpa ada perlawanan ini dan itu dari mulutku.


" Sudah berapa lama tidak tukar kabar? Aku rindu kamu sayang...!!?".


Kata Om dengan menggodaku sambil tersenyum hangat.


" Hm....mmmm!".


Kataku dengan nada datar dan wajah tidak senang begitu. πŸ˜’


" Kamu tidak suka bertemu denganku sayang? Apa aku masih menakutkan kamu?".


Ketusnya agak kesal dan tidak tenang.


" Iya...??". πŸ˜”


Kataku dengan nada datar.


" Aku rindu banget sama kamu...! Aku dengan cepat menyelesaikan semua masalah di Malaysia agar bisa bertemu dengan kamu cintaku! Aku tidak bisa jauh dari kamu...!". Katanya dengan sedih.


" Sudahlah Om...! Om ada perlu apa samaku?" Ketusku padanya dengan kesal.


"Aku sudah bilang kan akan menyelesaikan masalah kita dengan cepat, dan semua sudah kelar. Dalam Minggu ini juga orang tuaku akan datang melamar mu sayang? Apa kau senang?".


Tanya nya kepadaku,


Kulihat sekilas wajah lelah dan capeknya tergambar jelas diwajah tampan nya yang mulai kusut dan kusam, mungkin akibat bergadang malam terus menerus ya.


Kurasa sih???🀣


"Aku tidak keberatan, semua terserah orang tuaku. Apapun itu keputusan mereka aku ikut saja...! Begitulah keputusanku, Om...!?".


Kataku sambil kecewa, marah dan kesal serta takut sekali.


" Aku mencintaimu, aku akan bahagiakan kamu. Tidak akan kubiarkan kamu menderita apa lagi menangis. Jadilah Ratu dalam hatiku, jangan takut lagi padaku karena kamu sebentar lagi jadi istriku sayang...!".


Kata Om membelai kepalaku dengan lembut sambil menyetir.


Mobil Im melaju kencang dan mengantarkan aku tepat didepan rumah kami. Ibu dan Bapak terkejut melihat aku keluar dari dalam mobil bersamaan dengan Om.


Om turun dari mobil dan menyapa orang tuaku dengan ramah seperti tidak terjadi apa-apa saja diantara mereka.


" Apa kabar Kakak dan Abang? Sudah agak mendingan...? Ayo aku periksa dulu tekanan darah nya?".


Kata Om, sembari om mengeluarkan alat kesehatannya.


Dan menuju kedalam rumah kami dengan tenang. Aku langsung saja menuju kamarku dan segera mandi, Aya menyuguhkan teh dan kue untuk tamu kami itu. Fajar dan Nem juga keluar kamar, mereka senang melihat Om datang.


Selesai memeriksa IBu, Om meminum tehnya dan menenangkan diri.


" Tumben hari ini bisa barengan dengan Ulan, jumpa dimana?".

__ADS_1


Tanya ibu dengan nada curiga dan melirik tajam kepada Om.


" Oh jumpa di tengah jalan. Ulan lagi nunggu angkot kok...!".


Katanya tulus.


" Ada tujuan apa?".


Tanya Ibu tepat pada sasaran, pool.


" Kami mengetahui belakangan ini ada yang berbeda dengan anak kami? Apa itu ada hubungan nya dengan Om".


Tanya Bapak tegas dan singkat.


BTL.... Batak Tembak Langsung...πŸ‘


Om menganggukkan kepala dan menarik nafas panjang dan kasar.


" Huuuft!!!! Baiklah aku bicara pada intinya karena awalnya Kakak sudah tahu jelas!". Kata Om serius memandang kedua orang tuaku dengan intens sekali.


" Anakku pergi kebelakang sana. Orang tua mau bicara penting! Ayo cepat...!!".


Kata Bapak pada kami.


Nem dan Aya hanya cemberut dah pergi, Fajar juga mengikuti mereka dari belakang. Aya dan Nem masuk ke kamarku dan berkeluh kesal kepadaku atas sikap Bapak dan Ibu.


Namun Fajar bersembunyi dibelakang pintu sambil menguping pembicaraan.


'Aku harus tahu ada apa sebenarnya ini? Pasti ini seru banget...!!! Hi...Hi.....!!!!'.


Gumam Fajar sambil duduk menguping.


" Aku ingin melamar Ulan jadi istriku...!Bagaimana Abang?".


Tanya Om dengan serius tanpa berkedip.


Duaaa.....aaar....,Jedeee.......eeerβš‘πŸ’’


Orang tuaku seperti disambar petir. Mereka hanya saling menatap seakan tak percaya mendengar kalimat yang diucapkan oleh Om.


Gumam Fajar dalam hati karena Fajar belum mengerti dan masih bocah.


" Jangan bercanda Jo...! Dia anakku?".


Kata Ibu kecewa dengan sikap Om.


" Kumohon kak. Aku hampir gila karena dia. Tolonglah kak?!!".


Pinta Om seraya bersujud dikaki orang tuaku.


" Apa-apaan ini. Jangan bercanda lah Om...! Jangan seperti ini lagi!!".


Bapak memapah tubuh Om untuk duduk kembali.


Tapi Om menolak dan tetap bersujud.


" Kalau kalian menolak maka aku lebih baik mati dari pada aku harus gila karena aku tidak memilikinya. Aku mencintainya, tolonglah restui kami?".


Om menangis terisak-isak dan sesak nafas.


" Bagaimana orang tuamu?".


Tanya Ibu lagi.


" Semua keluarga sudah setuju, karena aku berhasil meyakinkan mereka. Jadi tolonglah Kakak dan Abang. Hanya Ulan saja yang kuingin jadi istriku...! Hanya dia saja?".


Kata Om sambil menangis.


" Duduklah disofa, kita bicarakan baik-baik dulu. Jangan buat aku sesak nafas memikirkan kalian!".


Tegas Ibu.

__ADS_1


" Kenapa hanya dia? Bukankah diluar banyak wanita yang lebih cantik dan mapan? Dia masih kecil? Apa yang kamu harapkan dari dia? Aku bingung melihatmu jika seperti ini, apalah yang Om harapkan dari dia???".


Tanya Bapak bingung melihat dan membayangkan apa yang dicari oleh Om padaku.


" Aku tidak tahu! Tiap malam aku tidak bisa tidur memikirkan nya, aku tidak bisa hidup tanpa nya kak. Tolonglah Abang ijinkan aku menikahinya? Aku janji akan membahagiakan dia? Aku mencintai Ulan....!!!".


Kata Om, berjanji pada orang tuaku.


" Kenapa harus anakku?"


Ibu berdecak kesal dan sebel.


"Aku merasakan cinta dan takut kehilangan kak, itu semua karena Ulan. Aku juga gak tahu sejak kapan jatuh cinta pada dia, hatiku sakit kak kala melihat dia sedih. Tolong lah kak!!"


Kata Om sambil meneteskan air mata.


" Dia masih kecil, lihatlah dengan seksama. Perhatikan wajah polosnya...!".


Kata Bapak kelihatan sedih kerena ucapan Om barusan.


" Tapi cintaku padanya besar, aku serius! Aku akan menjaga dan merawatnya!!".


Kata Om tegas untuk meyakinkan orang tuaku.


" Tak tahu lah. Ibu pikir saja sendiri!!".


Kata Bapak akhirnya menyerah dan pasrah.


" Aku tidak menikah dengan siapapun, kecuali dengan Ulan saja. Aku sungguh ingin dia saja, tolonglah Kakak.....!!"


Kata Om sambil meneteskan air matanya.


" Dia masih kecil? Apa yang kau harap darinya? Apa yang kau lihat darinya...?".


Kata Ibu makin kesal.


" Cinta dan kasih sayang saja kak. Aku nyaman memeluknya dan hatiku sakit ketika dia menangis diwaktu itu. Percayalah, aku akan menjaganya sebaik kalian menjaga dia! Tolong lah kak...? Aku mohon pada kalian?"


Kata Om terus menangis sambil memohon.


" Tapi kenapa harus dia sih? Ayolah Jo, jangan seperti ini lagi!!".


Kata Ibu mencoba untuk meyakinkan hati.


" Aku serius kak, aku juga berbicara padanya. Tolonglah kak, aku tidak bisa jauh darinya. Aku tidak pernah bercanda!".


Kata Om meyakinkan orang tuaku.


" Pikir sekali lagi, Om???".


Kata Bapak sambil menatap Ibuku.


" Hatiku sudah mantap! Tidak mau yang lain, Kakak tolonglah aku! Apapun akan kulakukan demi dia, percayalah kak!!".


Kata Om lagi berkeras hati.


" Kelak tanya pada anaknya, apa maunya dan apa katanya! Kalian yang menjalani, bukan kami. Tanya dia dulu....!!!".


Kata Bapak pasrah kepada Ibuku.


Fajar yang mendengarkan nya terkejut dan senang karena Om yang selama ini dikaguminya itu akan menikahi salah satu kakaknya. Fajar mana tahu apa-apa, karena dia masih kecil


Takdir itu sudah dituliskan sejak kecil, mau laripun gak akan bisa menghindar. Cinta itu buta kan? Ya itulah yang terjadi.


Oke aku lanjut biar lebih penasaran bacanya!


β™₯οΈπŸ’›πŸ–€πŸ’œπŸ–€πŸ’›πŸ’šβ€οΈπŸ’β™₯οΈπŸ’™πŸ’šπŸ’”πŸ’›


Jangan lupa like dan komen ya kak


Karena like dan komen itu penting dan Gratis....!!!!

__ADS_1


Jangan lupa untuk vote ya kak...!! 😊mohon dukungannya kak,


πŸ’žSelamat membaca ya..πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2