Kisah Cinta Sang Dokter

Kisah Cinta Sang Dokter
Kunjungan sahabatku


__ADS_3

Sampai diruangan kami duduk disofa dan mulai bercanda. Seperti biasa Nael yang aktif itu menggodaku sampai aku kesal.


" Ngerih ah....dah jadi emak-emak si kawan awak ini. Jadi panggil Mama lah kami? He... He....eee ya kan Beby?".


Kata Nael dan Dia mulai menggodaku dengan serius. Sungguh menjengkelkan.


" Iya suka hati kalian saja lah. Bawa apa sih kok besar sekali plastik yang kalian bawa? Seperti orang yang pindah saja kulihat?".


Protesku pada mereka, melihat plastik yang begitu besarnya.


" Diajaknya kami ke Baby Shop. Entah apa saja dibelinya....! Palak aku!!!".


Kata Darwis menggerutu parah.


Kumulai membuka bungkusan plastik yang dibawa mereka, ya dibantu mereka juga.


Alangkah terkejut hatiku melihat mereka membelikan semua yang berhubungan dengan bayi dan lucu banget lah menurutku.


" Ha... Ha....aa!! Dari mana pula kalian tahu yang beginian? Sejak kapan sih???".


Kataku sambil tertawa bahagia, ternyata mereka perhatian sekali padaku.


" Sudah seminggu yang lalu aku dan Sari ke Baby Shop...! Buat lahiranmu lah. Dia kan calon bidan, ya tahulah dia...!!!".


Kata Nael memuji dirinya sangat pintar.


Aku kaget mendengar penjelasan Nael, tak kusangka Sari begitu peduli denganku dan bayiku. Alangkah bahagianya aku.


" Seumur hidupku baru beginian. Sumpah aku gugup tadi....!! Mana aku tahu masalah bayi!".


Kata Seto lagi kesal dengan sikap memaksa Nael. Mereka jadi tak bisa nolak.


" Ha.... Ha...aaa!! Makasih ya kawan awak ini. Kalian peduli samaku....!!! Terimakasih...!".


Kataku berterimakasih pada mereka semua yang begitu peduli.


Kulihat senyum dan tawa Anak ayamku bermekaran juga akhirnya. Puasnya hatiku melihat mereka ternyata begitu bahagia selama aku tidak ada dikampus.


" Mana anakmu Beby?".


Tanya Maretno.


" Iya bentar biar diantar kemari. Sabar ya.... Mereka bentar lagi datang kok!!!".


Kataku pada mereka.


Ku telpon saja si Papa dan minta tolong agar anak-anak diantar keruangan ku karena temanku datang menjenguk.


Tidak kusangka si Papa yang langsung mengantar si kembar keruanganku.


" Ini sayang.... Jagoan kita???!".


Katanya dengan ringan dan enteng.


" Beby.... Mirip sekali sama suamimu? Kaget aku...! Tidak ada mirip Beby?".


Kata Nael dengan sangat bangga dan terkejut melihat anakku.


" Alhamdulillah sehat semua ya?".


Kata Seto mengelus dadanya.


" Sumpah lucu banget lah Beby?".


Kata Maretno meneteskan air mata terharu.


" Ah... Lucunya lah anakmu....!!! Udah dikasi nama? Kira-kira siapa namanya...?".


Tanya Yudi pada kami.


" Sudah dong, nanti tunggu saja pas syukuran. Kalian datang ya... Oke. Saya mau dinas dulu, sejam lagi bayinya akan dibawa kembali ke ruangan bayi.... Puas-puasin kalian lihat jagoanku yang tampan dan keren seperti Papanya.....!!!".


Kata si Papa pergi dengan tertawa karena bangga dengan buah hati kami.


" Hei lucukan woy? Tak kusangka belum setahun aku sudah jadi mama. Hah? Aku masih tidak bisa percaya lah?".


Keluh ku pada mereka.

__ADS_1


" Syukuri saja lah. Mau gimana lagi? Sudah begitu suratan takdirmu... Sabar!!!"


Kata Darwis dan Dia mencoba menguatkan aku yang lemah.


" Nasihatku untukmu beb.... Jangan kau ingat lagi yanh sudah berlalu. Biarlah jadi rahasia dihatimu, tak maukan kamu kehilangan si kembar...? Apalagi suamimu kan?".


Perkataan Seto membuat suasana hening yang alot diruanganku.


" Jaga mulutmu Seto.....!!!! Mau kubunuh kau....? Lantam sekali lidahmu!!".


Suara Nael meninggi dan aku terkejut.


" Sudahlah. Ini hari kita harus bahagia, lupakan semuanya ya...!!!".


Kata Maretno sambil bertepuk tangan.


" Kita sahabat, harus saling mendukung dan menguatkan. Semua benar dan semua salah. Oke...cukup!! Jangan bahas itu lagi nanti!!".


Kata Salman lagi.


" Makasih ya. Kalian memang baik dan sahabat baikku. Jangan kalian lupakan aku sampai kapanpun....?? Aku sayang kalian...!".


Kataku sambil menahan air mata yang ingin terjatuh sejak tadi.


Mereka semua hanya mengangguk, Mereka bergantian menggendong si Kembar. Nael yang paling heboh... Tidak mau gantian dan membuat Yudi dan Salman kesat separuh mampus akhirnya.


Tawa dan canda kami dirungan begitu akrab dan ikhlas ya. Tak ada beban dan tak ada pikiran buruk. Semua begitu jujur dan lepas begitu saja. Seperti tenangnya air yang mengalir meliuk-liuk diBumi.


Sejam kemudian setelah aku siap memberi ASI pada si kembar, Suster kembali membawa mereka keruangan bayi. Karena lebih nyaman disana,


HPku bunyi dan kulirik, chat dari Aya...


" Kak. Aku mau OTW nih, share lock ya kak. Biar tak sesat....???!"


Kata Aya padaku.


Aku share lock dan kembali ke perbincangan kami yang seru tadi.


" Semester 6 ini agak berat lah. Ujian nya yang ini agak ribet. Ada festival 3 bulan lagi di kampus kita. Kayak makanan gitu lah kalau tak salah....? Ikut tidak kita??".


Kata Nael bertanya pada kami.


Kata Darwis singkat.


" Sdah kurancang tema nya buat team kita loh. Kalau cocok syukur...!".


Kata Salman dengan rinci.


" Apa temanya? Panasaran aku? Kok aku bisa tidak dapat kabar ya...?".


Tanya Yudi.


" Mmusim bunga lah... cocok tidak woi???? Kita jualan kue yang manja-manja dan seperti cafe gitulah.... Cocok tidak???".


Kata Salman bertanya pada kami.


" Gila kalian...? Siapa yqng masak!? Aku? Meledak kubuat satu kampus nanti???".


Kata Nael dengan kesal.


" Ha... Ha...aaa! Macem betul saja kalian sok ikut daftar, kan dikampus USU itu acaranya!".


Kataku kembali bertanya memastikan saja.


" Iya sih. Lagian masih lama kok?".


Kata Seto.


" Makanya dirancang dari sekarang. Gimana nih woy? Kalau tak ikut sayang...!?".


Kata Salman.


" Kalau 3 bulan lagi, aku ikut lah. Berapa orang satu team? Cukup tidak kita orangnya...?".


Kataku sambil senyum.


" Minimal 6 anggota lah....! Kalau tak salah sih ya? Tapi yakin mau ikutan...?".

__ADS_1


Kata Darwis menjelaskan.


" Aku ikut satu,....!!!".


Kataku lagi.


" Betul lah Beby? Semangat awak...?".


Kata Nael yang mulai semangat.


" Tak harus mahasiswa, umum juga boleh lah. Kan banyak yang daftar, sekalian buat unjuk gigi juga lah....!!!"


Kata Salman.


" Berarti acaranya terbuka dan even besar ya? Wow seru nih.....!!?! Bakal untung banyak...!".


Kataku dengan semangat 45.


" Apa rencana kita? Jangan yang aneh-aneh... Aku tidak mau ya? Curiga aku sama kalian ini....??? Tidak percaya aku!!!!".


Kata Nael menaruh curiga pada kami.


" Iya sih. Kita buat cafe... Siapa yang jadi kokinya? Jangan harapkan aku ya...?".


Kata Yudi menolak capek.


" Aku juga jangan lah. Kalah terus kita sebelum mulai nanti....!!! Hi...hi...iii!!".


Kata Nael lagi.


" Aku dan Seto yang jadi koki, Beby kasir, Nael dan Yudi jadi pelayan, Maretno bagian bersih2-bersih dan Darwis merangkap seperti manager gitulah. Cocok?! Ada yang protes?!".


Kata Salman mengalah menengahi kudeta yang terjadi diantara kami.


Kami terdiam sejenak memikirkan perkataan Salman tadi, semua jadi diam.


" Akulah kalian jadikan tumbal hidup, jahat juga kalian. Kejam.... Ah hidup ini kawan. Tumbal awak....! Kok aku coba...?!!".


Kata Darwis menolak diri secara halus, ya kalau dipikir sih memang dia jadi tumbal.


" Saling membantu kita nanti kalau mau menang woy.... Nanti kubawakan bala bantuan. Pasti suamiku mau, diakan pencemburu berat sih... Aman itu....!!!".


Kataku mendinginkan suasana yang mulai memanas sejak tadi. Mereka kaget mendengar ucapanku, seakan aku bohong saja.


" Jadi kudaftarkan juga dia??".


Salman kaget dan bingung karena ucapanku yang diluar dugaan itu.


" Ya iyalah. Percayalah samaku. Aman..!!".


Kataku meyakinkan mereka.


" Menunya sudah siap dirancang???".


Tanya Yudi lagi, melirik kepada Darwis. Maklum diantara kami semua hanya Darwis yang bisa diharapkan.


" Aku nanti yang buat, kalian tinggal terima bersih saja ok. Yanh penting seminggu sebelum acara kalian kasih tahu. Biar tahu aku gimana mengaturnya!!".


Kataku kepada mereka semua.


Mereka menganggukkan kepala tanya setuju,


" Okelah. Aman itu, dana kita patungan kan? Siapkan saja rinciannya bagaimana bagusnya? Yang penting bisa sukses....!".


Kata Nael


" Ya aku masalah menu saja...? Oke...!!!".


Kataku sambil memberikan jempol pada mereka semua yang sudah mau usaha.


Gak lama setelah itu mereka pulang, aku kembali ketempat tidur dan santai sambil baca majalah. Asyik baca majalah, pintu pun terbuka lebar.


Senyumku mekar dan bahagia melihat sosok yanh datang itu. Sungguh hari yang indah dan panjang sekali.


Mencari kawan itu belum tentu ketemu seumur hidup kita cari, tapi mencari lawan sekejap saja bisa ribuan orang. Jagalah dia, dan pupuk hingga berbunga. Sebab hati siapa tahu seperti apa?


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


Jangan lupa Like n komen ya...


Makasih sudah setia membaca karya ku,


__ADS_2