Kisah Cinta Sang Dokter

Kisah Cinta Sang Dokter
Nothing Else


__ADS_3

Sampai kamar hotel, Jojo alias suamiku genit menyuruhku mengganti pakaian alias disuruhnya aku pake bikini merah yang dibelinya on line tadi. Kupakai saja biar tidak banyak bacot... Melihatku keluar kamar mandi mata si genit terbelalak dan melotot tidak kedip-kedip sedetikpun....!


Seakan-akan ences jigongnya keluar menetes deras. Aku melihatnya terheran dan kudekati dia sembari memetik jariku diwajahnya.


" Ctaaak....Hei....!!! Jojo Genit, sumpah jangan melihatku seperti melihat hantu. Ini kan pilihan kamu, warnanya norak tapi nyaman kok.... Hi.... Hi....hiiii....!".


Aku cengar-cengir sambil mengelus perutku dan aku duduk di sofa mengarah ke jendela.


Kumelihat pemandangan malam yang indah dimana-mana banyak lampu jalan warna warni yang menghiasi jalanan.


" Ah....? Sungguh indah malam ini. Anakku sayang... Andai kalian bisa melihatnya. Seperti bintang-bintang dilangit yang bertaburan, cahaya berlian yang indah...!!!"


Kataku sambil mengelus-elus perutku dan tersenyum melirik perutku.


Jojo menghampiriku dan dan duduk disamping sambil menggenggam tanganku dengan erat sangat hangat.


" Ah...benar katamu sayang. Lihat berlian bertaburan... Simalam hari. Kamu suka berlian tak sayanh?".


Tanya Jojo padaku.


" Ah untuk mimpi punya berlian saja aku tak pernah loh... Lagian bentuk berlian saja aku tidak tahu. Mungkin seperti kaca bening... He... He....eeee, uhuy....??!".


Kataku sambil bercanda, ya sejujurnya aku tak tahu berlian itu seperti apa.


" Ya nanti aku belikan, oke....!".


Kata Jojo memandangi pemandangan yang sama indahnya seperti mataku memandang.


Sejenak aku meliriknya dengan senyuman kecil, berharap anakku jika cowok seperti parasnya. Setidaknya meskipun tak 100% ya separuhnya saja pun tidak apalah. Yang penting sehat...


" Hei genit...? Kenapa ya selalu saja kamu yang disosor orang? Ah aku pusing nih...?!".


Tanyaku padanya.


" Hm...mm mana tau? Mereka saja yang tidak tahu malu dan keras kepala. Padahal aku tak pernah janji loh....!".


Katanya menjelaskan singkat.


" Seandainya aku yang ada diposisi itu?".


Kataku menggantung ucapanku namun aku masih melihat kearah jendela.


Jojo tertawa dan mengelus perutnya,


" Sayang... Kamu tuh tak ada potensi apapun. Lagian kamu itu lucu... Jangan begitu lagi ah... Aku bisa mati cemburu...!!".


Kata Jojo dengan santai dan polos.


" Tahu tidak? Untuk jaga diriku saja aku tidak bisa... Bagaimana anak kita?".


Kataku padanya mengakui kalau aku itu lemah dan manja.


" Aku kan bisa membantumu, itu mudah sayang. Carikan saja baby sister... Setelah itu kita buat lagi, aku mau anak selusin... Kan masa tuaku indah kelak?".


Katanya dengan santai tanpa difilter, ketahuan sekali bahwa dia memang suami yang genit.


Aku hanya melotot melihat Jojo yang genit


" Kamu masih muda sayang, jadi punya anak banyak pun kan tidak apalah. Sedangkan aku 15 tahun lagi sudah jadi kakek tua, nah kamu baru 35 tahun ya kan?".


Katanya menjelaskan tentang perbedaan umur kami dengan jelas sekali. Aku tertawa geli mendengar nya begitu.


" Ah sayang kamu menggodaku dengan pakaian sexy ini... Ada rencana tidak olahraga ringan malam ini?".


Kata Jojo menggodaku sambil mencium pipiku dengan hangat.


Aku tersipu malu dan merah pipiku,


" Hm......mm".


Hanya itu saja jawabku.


Seketika dia menggendongku dan kami berada dikasur yang empuk. Meskipun sudah sangat memuncak, seperti biasa dia akan menutupi tubuhku dengan selimut. Katanya Haram bersetubuh telanjang bulat tanpa sehelai benangpun.


Matanya begitu hitam dan enak dipandang walau dalam waktu yg lama, kalau wajah udah tidak usah sangsi lagi A+ lah nilainya. Badannya atletis loh...


" Perutmu itu, jangan terlalu menempel padaku. Kamu diatas saja....!".


Kata Jojo lembut.


Yup....asik...asik....jos....mantap woy...!! πŸ˜„


Karena agak lelah hanya 30menit....end.


Jojo menutupi tubuh ku dengan bed cover dan dia tidur diranjang sebelah. Karena kami memesan kamar dengan 2 ranjang. Meskipun aku sudah tertidur Jojo masih terjaga dan mengobati lukaku, dia juga memperbaiki beberapa perban yang longgar.


Dia melakukannya dengan lembut, sehingga aku tidak terbangun dan terganggu sedikitpun.


Wah...emang ya...? Itulah keahlian suamiku.


Kulirik jam HP... Sudah jam 5 pagi. Aku mandi wajib kan kubangunkan dia dengan lembut dan ramah.


" Sayang ayo bangun. Sudah subuh, kita cari masjid dan sarapan. Aku lapar!!!".


Teriakku padanya.


Jojo hanya membalikkan badannya dan tidur kembali dengan manja. Menggeliat seperti cacing saja kulihat.


" Sayang...! Aku lapar. Kamu bangun yuk?".


Kataku pelan lagi membangunkan dia.


" Hm........mmm iya sebentar!?".


Hanya itu katanya dan kembali tidur Bangkong.


" Ah sayang...? Kalian kelaparan ya???".


Kataku sedikit menggodanya licik.


Yup berhasil membuatnya panik dan langsung mandi.


" Hi....hi....iii rasain. Makanya jangan suka usilin aku sih... Memang enak???!".


Kataku pelan berbisik.


Aku kemudian mengganti baju dan langsung berpakaian rapi. Sementara Jojo memakai pakaian seadanya, yang ada di bagasi mobilnya. Cuma pakai kaos longgar dan celana training saja, meskipun begitu dia tetap saja kelihatan ganteng banget loh...


Apapun yanh dipakainya kelihatan modis dan baguslah, seperti gantungan baju.


Ada pepatah lama di kampung ku,....


orang yang ganteng meskipun keluar dari kandang ayam... Tetap saja ganteng. Karena memang udah dari sananya... Takdir orang ganteng memang akan selalu ganteng dilihat meski keluar dari tempat yang tak semestinya....


Pagi jam 7.30 aku sudah sampai dikampus, yup aku cuma bawa tas tapi tak ada isinya. Kertas dan pulpen yan kuambil dari tas Jojo, setelah sarapan dia mengantarkan aku ke kampus. Dia juga memberikan aku uang jajan 200 ribu.


Kuambil HP dan kucari anak ayamku, πŸ“²


Lalu chat mereka... πŸ’¬


" Hei dimana? Kok tidak ada?".


Tanyaku di chat.


" Memang kenapa beb? Aku dikost? ".


Jawab Salman.


" Aku sudah dikampus, kangen deh?".


Jawabku.


" Ah benar beb? Tumben kamu masuk kampus lagi. Tunggu aku segera kesana Oke beb!!!".


Kata Salman lalu mengakhiri chat.


Aku duduk dikantin seperti orang **** saja lah, semua mata memandangku heran. Apa lagi mahasiswa baru, heran dan menatapku dengan aneh saja...


Eh kok ada mahasiswa yang bawa drum band ke kampus. Heran deh, tidak malu?


Waduh. Mak Bun kuliah? Jijik banget deh.


Itu hanya sebagian saja yang kudengar, tapi aku cuek saja dan duduk diam saja.

__ADS_1


Ibu kantin menghampiriku dengan secangkir susu panas yang kupesan tadi.


" Ah nak Ulan. Mulai ngampus lagi?".


Tanya ramah ibu kantin.


" Iya buk. Tidak enak dirumah terus... Bosan deh. Disini sih asik... Aku senang banget disini tenang dan nyaman!".


Kataku polos.


" Iya sih. Sudah berapa bulan usianya sayang?".


Tanya ibu kantin lagi.


" Empat bulan Bu... Tak terasa sebentar lagi Bongkar mesin nih....!!".


Kataku sambil tersenyum.


" Ya ibu doakan saja sayang, nunggu anak geng ya...!!! Jam segini belum ada....!!".


Kata ibu kantin memberitahuku.


" Ah dulu jam segini sudah rame kok?".


Kataku pelan.


" Semenjak nak Ulan tak ada. Mereka jarang kemari, hanya beberapa saja yang datang dan mampir. Tak tahu kenapa?".


kata ibu kantin bingung.


" Makasih ya buk. Ada keripik?".


Tanyaku lagi.


Ibu kantin mengambilkan 2 bungkus keripik pisang. Ku keluarkan uang 100 ribu untuk membayar tapi ibu kantin menolak. Katanya gratis untuk ibu hamil.


Aku hanya tersenyum kecil sambil menikmati keripik tadi, seketika mataku menatap sosok yang dulu kukagumi.


" Haidir... Tumben masuk pagi? Sebelahnya siapa ya?".


Aku terheran dan terus menatapnya tajam saja tanpa berkedip.


Tak lama makan keripik Salman datang dan menghampiriku.


" Sudah lama nunggu maaf ya. Tadi aku isi minyak dulu. Takut nyorong aku...!".


Katanya sambil duduk disebelahku.


Aku hanya terkekeh melihat keringatnya bercucuran seperti dikejar setan saja


Salman merogoh Hpnya dan ngeChat semua anak ayamku... Tidak sampai 15 menit menunggu semua anak ayam ku sudah lengkap sak baret-baret nya.


" Tumben ngampus beb? Ada apa?".


Tanya Darwis heran.


" Aku aja kaget tiba-tiba nelpon dikampus katanya. Kupikir bohong lah..!".


Kata Salman senang.


" Apa lagi aku, tak sempat sisiran. Sangkin senangnya hatiku ini. Hi....hi....!".


Kata Naek kegirangan.


" Rindu saja kalian semua...".


Kujulurkan lidahku dan tertawa gelak.


" Kenapa kepalamu, pipimu itu?".


Tanya Seto curiga.


" Aku tidur sambil jalan. Jatuh nabrak kursi. Inilah bukti nya...he...he...eee!".


Aku hanya cengar cengir saja melihat mereka, bahagia dan enteng banget. perasaanku saat ini.


Rasanya hilang semua bebanku ini, tidak teringat apapun apalagi Jojo... Lewatlah pokoknya.


Sekarang sih....jauh lah....!!!?


Aku hidup saja itu sudah syukur... Kalau ingat masalah dalam waktu 4 bulan ini...


Haiiis.....aiiiisss,....!!!? πŸ˜”


Tidak bisa kukatakan....😭😭😭


Jam 8 pagi jam pelajaran dimulai, terkadang dosen melirikku dan hanya tersenyum melihat aku. Tapi aku santai saja seperti tak terjadi apa-apa.


Selesai jam belajarku 11 siang, kami masih nonggok dikelas saja.


Kubuka keheningan dengan rencana ku.


" Aku punya rencana, buat party yok?".


Kataku riang gembira.


Mereka terkaget dan mencoba memegang kening ku dan kening mereka.


" Tidak panas kok...?".


Kata Salman.


" Hei aku salah dengar mungkin ya?".


Kata Nael.


" Tidak loh. Aku juga dengar!".


Kata Seto.


" Ayo kita buat pesta syukuran...!".


Kataku lagi.


Mereka tertawa terbahak, Darwis masih heran dan memetikkan jarinya diwajahku.


" Kapan mau buatnya beb?".


Tanya Seto.


" Ya kapan. Kami oke saja kok?".


Kata Maretno lagi.


" 2 minggu lagi yuk, Jojo juga sudah kasih ijin kok. Katanya aku undang 400 mahasiswa dikampus...!!".


Kataku dengan polosnya.


" Undang aja satu kampus beb? Lengket kan saja di mading kampus...!".


Ide Darwis cemerlang. Aku terkagum juga, namun yang lain menatap kami heran.


" Rencana nya...Haidir undang ya...?".


Kataku keceplosan.


" Gila kau beb... Nau dibunuh suami mu... Kau undang pula dia??? Sakit jiwa....!!?".


Kata Nael protes akan ide gilaku.


" Jojo yang suruh loh, makanya aku heran... Mana berani aku tanpa ijin Jojo?".


Kataku lagi.


" Tumben suami mu itu tak marah. Tumben dia berbesar hati? Yakin beb?".


Tanya Darwis meyakinkan lagi.


Kami semua hening dan saling menatap.


" Sudahlah...undang saja. Biar senang hati kalian. Gampang kan?".


Kata Seto.

__ADS_1


" Kuserahkan masalah undangan pada kalian ya. Dosen juga undang. Nanti kukasi pun undangan nya sama kalian...!".


Kataku.


" Oke beb...aman itulah. Oke...??!".


Kata Nael lagi sambil memberikan aku dua jempolnya.


Ku chat si Jojo genit yang over protektif itu, langsung saja dibalasnya. Tapi aku suruh nunggu dulu sejam lagi. Karena dia mau rapat dulu katanya...


" Ayo temani aku ke Pajus... Aku mau lihat-lihat dulu. Oke... Tapi jangan minta apa-apa ya. Uangku dikit, sekedar minum boleh lah....hi....he....!!".


Kataku tersenyum kecil.


Anak Ayamku kembali semangat dan kuseret kakiku bersama mereka.


Kusudah lama tak mampir ke Pajus, banyak perubahan dan makin banyak saja pedagang nya. Nael tidak mau lepas gandengan nya, karena memang dari dulu kalau tidak Nael pasti Darwis yang gandeng aku dimana pun kami berada...


Asik lihat sana...sini, pegang sana dan coba sini. Anak Ayamku itu tak bisa dipercaya sih, akhirnya aku membelikan mereka gantungan kunci yang unik sekali. Terpaksa harus beli 7biji.... Rugi aku jadinya gara-gara ulah mereka. Memang sih mereka tak minta traktir minum. Mereka pakai uang sendiri saja katanya...


" Aku mulai lelah lah...mana si Jojo? Awas saja kalau telat, tidur diluar dia. Sial!".


Kataku agak kesal.


HP ku berbunyi dan kubaca chat nya


" Aku sudah mau sampai, kamu dimana?".


Tanya Jojo padaku.


" Jemput saja dipintu Pajus pas pinggir jalan. Aku dah nonggok nih loh?".


Kataku.


" Ok 5 menit sampai sayang!".


Jawab Jojo.


Anak Ayamku juga ikut menunggu aku untuk dijeput. Nael masih saja menggandengku, ya aku sih tak keberatan. Kalau digandengnya setidaknya bebanku berjalan agak berkurang.


Waktu kami minum dicafe tadi, aku menyandarkan kepalaku di pundaknya.


Memang dulu selalu begitu, Nael selalu jadi sandaranku jika aku lelah. Dari semester 1 sampai sekarang kami masih jadi sahabat baik, tak ada dendam dan cinlok.


Mereka lah pelindungku selama dikampus, mereka selalu membuatku nyaman dan damai bersama mereka.


Mobil BMW berhenti didepan kami, ternyata ada yang kesal dan marah. Aku sih tidak sadar kenapa si Joji genit itu berubah. Hawa dingin, seram dan menakutkan yang kurasakan, matanya tajam kayak elang yang mau menerkam mangsanya saja. Siapa tahu, eh ternyata penyakit Jojo yang over protektif itu kumat.


Om menarikku dan tangan nya menghempaskan tangan Nael...


" Selow lah bro...? Jangan main kasar. Apa rupanya salah awak????"


Kata Nael dengan nada geram.


" Jangan sentuh istriku. Paham...??".


Kata Jojo dengan tatapan kurang senang dan marah.


" Sudahlah. Nael banyak membantuku tadi, kok malah marah. Kalau aku tadi jatuh tersungkur gimana? Bisa kamu bayangkan coba.....?".


Kataku kesal padanya.


Aku menakutinya dan berhasil membuatnya menghembuskan nafas panjang nya.


"Huuuuft......makasih!!?".


Hanya itu yang dikatakannya pada Nael.


Kami masuk mobil dan segera pulang entah kemana tujuan kami hari ini


Sementara itu anak ayam ku sibuk menertawakan sikap Jojo tadi, yang menurut mereka berlebihan sekali.


" Gila ah. Si Jojo kayak singa?".


Kata Darwis terkekeh sendiri.


" Aku curiga sama lukanya itu?".


Kata Seto penuh kecurigaan sambil saling menatap mereka semua.


" Jangan suhuzon dulu, tanya saja langsung. Kan aman....dosa tahu?".


Kata Salman menepis rasa curiga mereka.


" Kalian nuduh suaminya? Lihat saja Nael tadi hampir diterkam?".


Kata Yudi ketakutan.


" Tapi aku curiga, pasti ada masalah yang ditutupinya. Ya bukan urusan kita juga kan cuy...!".


Kata Maretno cuek.


" Sudahlah. Dia sekarang terikat, bukan kayak dulu. Sabar saja lah...!".


Kata Seto.


Mereka pulang ke kost masing-masing.


Nael masih penasaran, dia ngChat aku.πŸ’¬


" Apa sebenarnya yang terjadi beb? Boleh kutahu kenapa luka di kakimu dan jidatmu itu begitu, wajahmu juga sembab?".


Tanya Nael padaku.


" Tak ada. Hanya jatuh saja saat tidur!".


Kataku.


" Liar. You lie beb, i hate u, u know...! **** you beb...lie...lie....!???".


Kata Nael dengan sangat kecewa.


" Besok kuceritakan ya, maaf ternyata aku memang tak bisa menutupinya dari kalian semua. Maaf ya...besok bahas lagi!".


Kataku.


" Oke. I wait you!".


Jawab Nael.


Kuhapus chat nya dan kulirik Jojo.


" Kita kemana malam ini?".


Tanyaku padanya.


" Kerumah Yang, kemana lagi?".


Katanya.


" Bagaimana pekerjaan mu?".


Tanyaku.


Seketika mata Jojo membulat dan kaget, dia tertawa geli karena aku.


" Tumben tanya begitu? Kaget aku tahu?".


Katanya sambil senang bukan main karena aku perhatian kepadanya.


" Ya sudah lah. Lupakan saja....!".


Kataku cuek lagi.


Kami kerumah Yang, tapi hanya istri nya saja yang ada. Rumah Yang begitu asri dan nyaman, berlantai 2. Simpel tapi kesannya mewah, semua kaca transparant... Indah seperti rumah kaca. Kamar kami dilantai 2, dekat dengan kamar anak-anaknya.


β™₯οΈπŸ’›πŸ–€πŸ’œπŸ–€πŸ’›πŸ’šβ€οΈπŸ’β™₯οΈπŸ’™πŸ’šπŸ’”πŸ’›


Jangan lupa like dan komen ya kak


Karena komen itu penting dan Gratis....!!!! Jangan lupa untuk vote ya kak...!! 😊mohon dukungannya kak,


πŸ’žSelamat membaca ya kak....!!! πŸ’“πŸ’“

__ADS_1


__ADS_2