
Abi menggendong sang anak, memandang sekeliling dan ada ranjang kosong di bagian tengah. Kembali Abi mengambil stetoskop, memeriksa detail sang anak.
Abi melihat ada aliran tetesan darah dari bagian lengan sang anak.
Abi menggunting dengan sigap bagian lebgan baju sang anak. Sang ibu pun menjerit, menangis melihat luka itu sangat lebar.
Abi memeriksanya, dengan teliti.
" Ibu, saya akan membersihkan luka, menghentikan pendarahan dan menjait luka anak ibu.Apa ibu ijinkan ?".
Sang ibu memegang tangan Abi.
" Lakukanlah dokter, anda saja yang menangani anak saya, saya serahkan pada dokter, apapun terjadi ,saya terima ,tolong anak saya, " ujar sang ibu menangis.
Abi mengangguk.
Seorang perawat berdiri di samping Abi.
" Ambilkan saya 1 ampul penghenti pendarahan, benang ,perban Jarum jait steril."
" Baik, " sang perawat pun bergegas mengambil.
Abi dengan cekatan membersihkan luka, setelah terlebih dahulu menyuntikkan penghentian pendarahan.
Dengan sabar Abi menjait dengan rapi ,luka sang anak, apa yang di lakukan Abi, detail di saksikan beberapa dokter senior. Mereka detail melihat apa saja yang Abi lakukan.
Sang anak kelihatan takut ,namun sesekali Abi melawannya bicara, menanyakan dia sekolah kelas berapa, sampai membuat lelucon dalam bahasa Jerman.
Abi menyarankan sang ibu melakukan City scan agar dipastikan sang anak bagian kepalanya tidak terbentur.
Abi juga memeriksa sang ibu, merawat luka ringan nya.
Abi membersihkan luka di siku dan lutut sang ibu, memberi obat luka.
" Apa ada bagian perut ibu sakit ?".
__ADS_1
" Tidak dokter."
" Bagian kepala saya cek ya bu, apa sakit ?".
" Tidak dokter."
" Baiklah Bu, lukanya ibu , hanya luka ringan, tetapi lengan anak ibu ,lukanya lumayan serius.Tetapi saya sudah meminimalkan bekasnya, saya sudah belajar menjait pada bedah kecantikan dan susah lulus ,luka itu akan samar," ujar Abi tersenyum manis.
Sang ibu sangat bahagia mend3ngar ucapan Abi.
Mereka pun permisi dan ke bagian city scan.
Abi menggantungkan stetoskop lalu perlahan terbengong menatap beberapa dokter mengarahkan pandangannya pada Abi.
Abi hanya menunduk dan perlahan hendak keluar dari ruang UGD.
" Kamu sini," ujar seorang dokter.
Abi menunjuk dirinya dengan tangan ke arahnya.
" Iya kamu, kemari."
Abi oun perlahan datang.
" Bantu saya menangani pasien ini, jait lukanya."
Abi mengangguk.
Abi membersihkan tangannya ,lalu membersihkan luka pasien dan perlahan menjaitnya.Dokter sudah menyuntikkan penghentian pendarahan.
Sang dokter detail melihat cara Abi menjahit dari dekat.
Seperti di plonco aja guys, detail nyimak, jangan ada salah, memang kalau soal nyawa, penghargaan orang luar lebih, mereka berdedikasi, disiplin dan benar benar total kemanusiaannya super tinggi.
Beberapa dokter bahkan mendekat melihat Abi menjahit dengan tenang. Mereka saling memandang dan memberi kode, entah apalah itu maksud mereka, Abi disuruh jait yah jait.
__ADS_1
Ketika sudah selesai, dengan rapi Abi memasang perban anti air. Juga ramah kepada pasien.
Beberapa perawat tersenyum pada Abi. Abi sangat kocak, membuat pasien santai yang tadinya panik menjadi lebih tenang.
Selesai menjait tangan pasien, Abi membantu mencukur rambut pasien, bagian kepalanya terluka. Abi membantu perawat menangani pasien, walau pakaian nya terkena noda sarah, Abi lebih mengutamakan penanganan pasien di depannya.Abi serapi mungkin mencukur daerah yang luka, membersihkan luka, menjait luka tersebut dan memberi perban.
" Rambut anda sangat tebal nyonya, bagaimana jika saya merapikan rambut Anda, agar tidak kelihatan perban dan lebih tertutupi, apa anda beraedia nyonya, jangan ragu, saya juga sudah kursus menggunting rambut, saya biasa menggunting rambut di panti jompo. Tenang saja nyonya ,mau model mana ,saya bisa sulap".
Abi memberi beberapa model, dan sang nyonya tersenyum menunjuk sebuah foto.
" Baiklah nyonya, kita agak ke ujung duduk, agar rambut nya gak kemana mana yah".
Sang nyonya mengangguk.
Abi mengambil gunting menguji ketajamannya. Kemudian perlahan memotong rambut sang nyonya, para perawat, dokter semakin bengong melihat ulah Abi yang rada aneh. Setelah selesai menggunting rambut, Abi membawa sang nyonya sebuah cermin dan luar biasa sang nyonya sangat bahagia.
" Terima kasih, saya memang sangat sedih tadi, rambut saya di potong di daerah yang terluka, takut terlihat orang, dan kamu menyulapnya sangat baik," sang nyonya memeluk Abi.
" Nyonya banyak kehilangan darah, apa sudah makan ?".
Sang nyonya menggeleng.
Abi menyuruh sang perawat memesan makanan buat sang nyonya. Abi menuliskan resep buat Luka kepala agar mengering ,obat biar jangan infeksi, juga obat buat penambah darah.Abi menunjukkan resepnya pada seorang dokter. Sang dokter membuat tanda oke, Abi memberikan pada sang perawat.
" Saya pamit dulu ya nyonya, mau bersih bersih dulu."
Sang nyonya pun mengangguk kembali.
🥰😍🤩🥰😍🤩🥰😋🤩
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment