
Smith akhirnya meninggalkan rumah sakit, setelah melodrama di jemput paksa sang mami karena Dion dan sang papi sudah kewalahan.
Senyuman mami Smith masih membekas di pelupuk mata Abigail.
Dan secarik kertas Smith selipkan ke Snelli/ Medicals wears / kantong jas dokter Abigail .
Snelli/ Medicals wears yang satu ini sudah cukup dikenal orang-orang sebagai identitas seorang dokter. Biasanya dokter mengenakan jas yang umumnya berwarna putih ini saat melakukan praktik atau berada di lingkungan rumah sakit.
Abigail kembali ke ruangan dimana pasiennya sedang membutuhkan transpalasi paru paru,untuk bertahan hidup, pasien masih di ruang ICU.
" Jika limfagioma masih di tahap awal, dan paru paru masih berfungsi, kehamilan normal tidak masalah.Tetapi pasien , sudah dalam stadium lanjut, jika kehamilan dilanjutkan, pasien akan kemungkinan mati Bi, karena gagal nafas, " ujar Dokter Evan pada Abi.
" Itu sebabnya bagian dokter kandungan menganjurkan bayi dalam kandungan berusia 24 minggu,jika mengakhiri kandungan, terlalu kejam.Tidak mengakhiri kehamilan, si ibu juga dalam bahaya.Dia mengalami hipoksemia, hal ini menyebabkan stres dan hambatan pertumbuhan janin" ujar Abi.
" Jika bayi lahir, bisa mati lemas atau bahkan meninggal, terlebih obat untuk limfagioma paru, berdampak bisa membuat cedera pada bayi, walau dia berhasil melahirkan, ada besar kemungkinan anaknya tidak sehat, dari sudut pandang pasien, atau bayi, pediatri merekomendasikan mengakhiri kehamilan , departemen OBGIN memutuskan demikian Bi."
" Kita tidak boleh mempertaruhkan nyawa ibu demi kehamilan dan bayinya, namun banyak ibu melakukan apapun demi anaknya dok," ujar Abi.
Abi dan dokter Evan pin kembali ke ruangan mereka.Ruangan Abi dan dokter koas lainnya sama dalam sebuah ruangan besar.
Abi mempelajari beberapa kasus limfagioma.
__ADS_1
Tidak berapa lama, perawat berlari ke ruangan , memanggil dokter, yang kebetulan hanya ada Abi dan Bams disana.
" Dok, pasien limfagioma anfal, " ujar sang perawat.
Jarak ICU ,UGD dengan ruangan mereka sangat dekat, Abi dan Bams berlari, memberikan pertolongan.Detak jantung pasien berhenti, mereka menggunakan alat kejut jantung, bolak balik mengusahakan kedadaran pasien, namun Tuhan berkata lain, pasien tidak bisa di selamatkan.Dan disana , pada saat proses penyelamatan, dokter Evan berada di tengah tengah mereka.
Di depan suami pasien, Abi pun menguatkan hatinya, menetapkan kematian nya.
Dokter OBIGIN mendeteksi sang bayi dalam perut pun sudah tidak bernyawa, apalagi habya 24 minggu.
Abi tidak berhenti melihat, sang suami, kedua orangtua dan mertua pasien menangis pilu.Abi pun meninggalkan ruang ICU dan berlari ke kamar mandi.
Abi membasahi seluruh wajahnya, air mata Abi pun mengalir.Terngiang ucapan sang ibu, ingin melihat wajah sang anak.
Mereka sudah mengupayakan selama ini , mendiskusikan penanganan pasien, namun tidak membuahkan hasil.
Dokter bukanlah penyambung nyawa, hanya manusia biasa yang punya batasan perjuangan dan kemampuan.
Ketika Airin keluar dari kamar mandi , se sosok pria kokoh, rapi, memandang Abi.
Tubuh itu memeluk Abi tiba tiba.
__ADS_1
" Maaf, aku melihat mu berlari, dan mengetahui pasien yang kamu tangani meninggal. Menangislah zBi, agar rasa itu plog."
Dekapan itu begitu erat, menghangatkan Abi.
Ketika Abi sudah tenang, mereka pun duduk di kursi sepanjang koridor.
" Anaknya juga tidak bisa di selamatkan Smith, sungguh aku sangat sedih."
" Semua makhluk yang bernafas akan mati Bi, kamu bisa menikmati hari dengan orang yang kamu sayang ".
Abi mengangguk.
" Beliau tidak sakit lagi Bi, masa kontraknya di dunia sudah habis."
Abi kembali menghapus air matanya
🙄🧐🧐🙄🤭
jangan lupa
LikE
__ADS_1
Vote