Kisah Cinta Sang Dokter

Kisah Cinta Sang Dokter
Ciuman penghancur


__ADS_3

Subuh yang dingin menggetarkan kulitku. Bergitu dingin dan menusuk kulitku lewat pori-pori ku, membuatku terbangun.


Kumulai sadar dari mimpi yang indah tadi, kutepuk dada dan bertanya dalam hati,


" Aku anak kuat, Aku hebat, Apapun rintangan akan kuhadapi dengan sekuat tenaga!!! Semangat Ulan, Semangat.....!".


Seruku dipagi hari dengan lantang.


Kuseret langkah membangunkan adik-adikku yang masih berada didunia lain terlelap. Kami melaksanakan solat berjamaah dengan dipimpin oleh Fajar. Memang awalnya ia enggan tapi setelah keberikan pengertian ia mau juga. Setelah itu kamipun bersiap-siap untuk kesekolah.


Aku berperang didapur menyiapkan sarapan mereka. Selesai itu barulah kuseret langkah kekamarku untuk mandi dan ganti baju.


Pagi begitu cerahnya matahari menyapa kami dengan hangat. Sinarnya menyapa setiap Insan dimuka bumi ini. Meski tanpa orang tua, kuseret langkah untuk mengantar Fajar kesekolah setelah itu aku barulah berangkat ke kampus.


Hari ini aku ujian IAD ( Ilmu Alam Dasar) hari ini ujian terakhirku. Ujian nya tidak sulitku hanya seperti mengarang lah alias buat Laporan saja, dan itulah keahlianku.


Setelah istirahat kusempatkan untuk Wa adikku sekedar memberitahu saja ๐Ÿ’ฌ


"Dek, pulang sekolah ganti baju dulu baru kerumah sakit. Bawakan kakak baju ganti ya?. Kalian berangkat bersama saja, kalau sempat tunggu Fajar sekolah juga kasian dia dek! Siap ujian kakak juga langsung nyusul kok, bawa makan siang kalian. Oke honeyku, muuuac......ch!!!!. I love you ๐Ÿ’—!!".


Isi pesan dari Wa ku kepada mereka.


Hatiku kacau balau dan tidak taulah raut muka ku juga datar saja sejak tadi. Ternyata ada yang memperhatikanku sedari tadi,


" Hai beb...!!! Kenapa kusut itu wajahmu, ditekuk kayak jeruk purut. Bauk dan jelek lah, kecut sekali kupandang dari tadi...?".


Sembari Natanael teman sekelas ku D


datang dan merangkulku.


"Lagi gak enak hatilah beb...!!! Taulah dunia ini kacau kayak mana? Aih... Otakku hampir Eror gara-gara ujian ini. Maklum, sama nya kita ujian nya?!!".


Kataku mengelak dari Nael agar ia tak curiga padaku.


" Pulang ini kami mau makan bakso bareng mereka, ikut kan beb? Biar hilang dulu sedikit unek-unek dan galau dihati ini....!!!".


Kata Nael sembari menunjuk teman yang lain sambil tertawa lebar mengejekku.


"Kalian saja lah. Aku lagi tak enak badan beb, sebab Ibuku masuk rumah sakit...!! Huh?".


Tegasku padanya dengan pandangan yang sayu dan datar.


"Ah...!!? Yang benarlah beb? Jantungan aku kau buat lah, jangan bercandalah beb? Gak lucu kau bercanda...! Aku jadi takut lah beb......! Serius ini?!!".


Dengan nada agak tinggi Nael melotot dan mengelus dadanya.


Kuperhatikan wajah Nael yang mulai berubah dan menjadi panik begitu mendengarkan ucapanku tadi.


Wajar saja....


"Gak usah panik begitu kenapa, akupun takut kau buat gitu. Kecilkan nadamu tahu, lebih jantungan aku lagi lihat wajah panikmu!?".


Kataku sambil menghela nafas yang berat.


"Sabar ya beb! Semoga bibi cepat sembuh. Mau kuantar nanti?".


Ia menawarkan diri, seperti biasa dia begitu baik hati dan perhatian padaku.


" Tak usah aku bawa motor sendiri lah beb. Udah...?!!!! Aman itu...!?".


Senyumku kecil seraya menarik hidung nya yang mancung sambil gemes dan geram.


Natanael itu anaknya ganteng, putih, baik dan kaya.... Ya iyalah orang Bapaknya Jaksa Pengadilan Negeri Medan. Kekampus naik mobil, dia juga baik hati dan mudah bergabung. Dulunya ia pernah suka padaku tapi kutolak alasan sekelas jadi kita teman saja. Dia orangnya tinggi besar dan badannya berisilah, enak dipandang lah intinya. Nael suka bercanda denganku. Dia manja dan sering memelukku dan aku sering menganggap dia anak kucing, gimana tidak sih? Manja bukan main? ๐Ÿˆ


Kadang dia mengikuti ku kemanapun aku pergi dan suka cemburu tak jelas kalau aku didekati anak cowok, alasannya katanya takut aku tak sayang dia lagi setelah punya pacar. Hah? Sialan dan gergetan kan? Tiap kali aku sedang diskusi dengan teman kelas lain dia pasti ada, akukan risih. Tapi aku tahu dia tak pernah punya niat jahat padaku, itulah yang membuat aku tenang.


Oh ya berhubung hanya aku sendiri yang paling cantik diruangan ku dikarenakan cuma aku cewek yang dikelas teknik.


Yup benar sekali....๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘


Aku ambil jurusan Teknik Komputer, keren kan??? Aku masuk teknik karena aku suka dari SMA dan emang cita-citaku dari dulu.


Diruanganku ada 40 Mahasiswa, Dosen sering bilang aku anak muda India karena cuma aku perempuan muridnya.


Selesai ujian aku buru-buru lari keparkiran dan mencari dimana motorku yang terparkir tadi. Dari belakang ada tangan yang menepuk pundak ku dan berhasil membuatku terkejut setengah mati.


Yup....!!!๐Ÿ˜ฑ


Siapa lagi kalo bukan Pacarku yang diam-diam aku sembunyikan sudah hampir setahun lebih lah kami jadian.


Cie....cie....laku juga aku ya....!!!!๐Ÿ˜„


Ha...ha...aaa....๐Ÿ˜‚


Kalo Nael tahu mungkin dia akan berontak dan lebih lengket lagi samaku selagi dikampus. Kami sering jumpa diam-diam di Musollah sembari solat bersama, saat itulah kami sering bercanda dan ketemu.


Haidir....namanya. Anaknya tak ganteng tapi manis, baik dan Royallah menurutku. Dia selalu menjadi solusi keuangan dan tugas-tugas di kampusku, bagaimana tidak?


Tulisannya rapi benget kayak tulisan sambung. Rapi dan cantik jadi dia sering aku mintai tolong buat kerjakan tugasku yang berhubungan dengan tulisan tangan. Sering juga Dosen protes dan heran kubuat, Ya tulisanku Cakar Ayam kok bisa rapi dan bagus. Ya kujawab saja jujur bukan aku yang tulis, tapi itu pemikiran dari otakku. Hanya tulisan saja yang beda, memang Dosen tak ada protes. Karena dia tahu kalo jawabanku selalu ringkas dan padat.


" Deek kok buru-buru? Mau kemana sih? Sibuk sendiri dari tadi Abang perhatikan?".


Kata Haidir heran melihatku.


"Ya mau kerumah sakit, Ibu sakit bang...!!!". Tegasku sambil meneteskan air mata berharap ia iba dan kasian padaku.


Yup... Aku berhasil meyakinkan nya loh. Matanya berkaca-kaca dan mengelus kepalaku dengan lembut

__ADS_1


" Ya sudahlah. Ayo Abang temani, lagian Abang sudah siap ujian juga kok!!".


Katanya dengan lembut sembari memberikan ku senyum nya yang manis.


Kupeluk dia dari belakang dengan erat, kadang ia tersenyum kecil. Bagaimana begitu, pelukan diatas motor romantis banget kan?


Kayak serial drama Dilan 1990, ๐Ÿ˜‚


Sebelum sampai ditengah jalan kami membeli nasi bungkus untuk makan siang,


" Abang? Kok cuma 4...!? Abang tak makan?" Tanya ku dengan wajah bingung.


" Nanti Abang langsung saja pulang, Abang kuatir kamu naik motor tak konsen takut ada apa dengan kamu. Lagian Abang harus pulang cepat karena sebenarnya ayah juga masuk rumah sakit. Maaf ya???".


Katanya sembari menepuk pundak ku.


"Kok Abang tak bilang? Kan aku jadi tak enak lah sama bang. Jahat sekali Abang lah???!"


Bibirku manyung dan agak kecewa.


Haidir hanya tersenyum manis sambil mencubit manja pipiku, ala-ala princes gitu. Hatiku tersipu malu terlihat dari merahnya pipiku seketika. Belum jauh berjalan kami naik motor terdengar klakson mobil dari belakang kami.


Tin....tin....tin....๐Ÿ’ฅ


Klakson mobil dari belakang berbunyi keras,


"Woy! Terbang saja dari atas. Dasar orang kaya...! Tak pakai mata kalau jalan...!!".


Suaraku berteriak kencang.


Sehingga banyak orang yang memperhatikan kami ditengah jalan. Kesal sekali lah hatiku dibuatnya, Eh gak lama itu mobil itu memotong jalan kami dan menghadang tepat didepan kami.


Gleeek......gleeek...!!!๐Ÿ˜ฒ


Aku menelan air liurku lagi,


' Mati aku berhenti lah mobil tadi. Kurasa dengarlah yang kukatakan tadi ya...? Mampuslah aku dimasa yang punya mobil, kena pasal Pencemaran nama baik....?!!'.


Gumamaku sambil ketakutan dengan wajah pucat pasi.


Duaaa.......aaarโšกโšกโšก๐Ÿ˜ฎ


Meledak jantungku melihat orang dari mobil keluar, aku makin kencang memeluk Abang Haidir karena ketakutan melihat sosok itu.


'Mampus aku....Mampus lah. Matilah aku kali ini ketahuan sama pacar...!!!'.


Gumamku lagi dgn wajah datar pucat.


Aku ingin seketika dunia kiamat saja, atau dicabut lah nyawaku saat itu juga oleh malaikat. Wajarlah aku ketakutan seperti ketahuan seorang pencuri yang ketangkap basah, seperti tidak mijak Bumi lah kurasakan saat ini.


Seram oooiy......!!! ๐Ÿ˜ฑ


Yang keluar dari mobil itu Om Jojo dengan mata yang penuh amarah seakan-akan ada orang yang sedang mencuri darinya. Tapi entah apa yang dicuri akupun tak Taulah??? Karena saat ini otakku dan jantungku hampir berhenti bekerja.


Om menghampiri kami dan hanya menatapku dengan tatapan mata ingin membunuh dan menelanku hidup-hidup saat ini juga.


" Sudah pulang kuliah ya? Jangan keluyuran, tidak ada faedahnya!!!".


Ketus Om sembari menatap dengan mata yang penuh amarah itu.


" Iya Om ini juga mau OTW kerumah sakit tapi aku beli makan buat adik dulu. Oh ya Om.... Kenalkan ini dia orang yang kubilang semalam. Salim Om ya Abang...!"


Pintaku pada Haidir dengan lembut.


Mereka bersalaman tapi Om tetap saja menatap dengan penuh amarah dan wajah yang ketat. Seperti ketahuan mencuri saja Awak ini, padahal tidak....!!!


Parah ah.....???๐Ÿ˜ญ


' Ya Allah ada apa dengan Om? Kok dia beda banget ya? Kan aku gak salah apapun!? Apa dia marah aku boncengan dengan Haidir ya? Apa hak nya marah apalagi cemburu...? Gila sudah dia. Ya suka-suka hatiku yang punya badan kok aku bukan dia!!! Huh...!?'.


Gumamku kesal dalam hati.


Om kembali kemobil dan melaju kencang tanpa pamitan. Jelas sekali kalau Om marah besar padaku. Ya mana kupeduli memang dia siapa pula marah samaku, diakan cuma Om yang genit, mesum dan jelasnya sudah gila.


Pikirannya tidak bisa ditebak lah, sebentar marah sebentar bahagia entahlah pusing aku dibuat nya. Kami juga melanjutkan perjalanan hingga sampailah kami dirumah sakit. Abang Haidir langsung pamitan pulang, dan aku juga menunggu dia untuk naik angkot.


Jauh dari itu semua ada sepasang mata menatapku dengan penuh kemarahan dan kecemburuan. Siapa dia??? Ya sudah pasti jawabnya....Om Jojo lah.


"Sialan aku keduluan,,,! Dasar anak nakal. Apa dia tidak sadar akan perkataan ku semalam? Apa kurangnya aku coba? Apa yg bisa dibandingkan antara aku dengan cowok ingusan itu? Aku dewasa, mapan dan jauh lebih baik dari anak ingusan itu, apa matanya gak bisa melihat ketulusanku? Apa harus mendesaknya dan menyudutkan nya? Tidak habis pikir aku bagaimana mata anak zaman sekarang? Huh, kesalnya aku....?!!!".


Bisiknya pelan dengan nada kecewa dan marah.


Om meninju dinding ruangan kaca itu, sehingga Dokter dan orang yang ada disana melihat Om dengan wajah bingung lah.


' Sial...sial....sial....! Kenapa aku harus membandingkan diriku dengan anak ingusan macam itu. Apa kurang nya aku sih Ulan? Baru pertama kali ada gadis yang membuat aku bergetar, jantungku hampir copot dan aku sangat bahagia bila didekatmu. Kenapa ya Allah? Kenapa harus anak sepupuku? Apa salah rasa cintaku padanya? Aku tidak bisa tenang kalau dia jauh dariku, aku tidak bisa tidur sepanjang malam memikirkan dirinya. Senyumnya mencairkan hatiku, Ya Allah berilah petunjuk mu untukku. Kepadamu lah aku meminta petunjuk, pantaskah aku di hatinya? Ulan....aku benar-benar tersakiti melihatmu tersenyum dan tertawa bersama nya. Kenapa begitu ya Allah???'.


Gumam nya dalam hati kecil.


Tidak lama menunggu angkot Abang Haidir pun lewat, segera dia menarikku. Dan mengecup keningku dengan lembut.


Cup......๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


Kiss Love, mendarat dikeningku dan aku tersipu malu.


Angkotnya melaju menjauh dan menghilang dari pandangan mataku.


Kuseret kakiku menuju ruangan Ibu yang masuknya lewat pintu samping, tak jauh dari Lift aku melihat Om berdiri melipat tangan sambil melotot kearah ku. Aku hanya tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Om menarikku kesebuah ruangan dan menyeretku masuk kedalam dengan paksa. Terlalu kuat Om menggenggam tangan ku sehingga aku kesakitan dan memerahlah tanganku. Aku terhempas kesudut ruangan dan dia masih menggenggam tanganku dengan sangat erat sekali.


"Om tolong lepaskan...! Itu membuatku sakit om...??? Auuu......aauuu... Aduh!".


Pintaku padanya dengan meringis kesakitan.


"Sakit? Sakit ya?".


Om semakin kencang memegang tangan ku dan tangan satunya lagi meraih daguku dengan paksa.


"Om sakit loh. Aku bisa memar, biru ini...!!!! nanti.... Aaauu.....Awwww....sakit loh Om. Aduh...! Lepaskan Om, aku takut...!!!!".


Aku masih meringis kesakitan karena di tindas dan tubuhku merapat Kedinding.


"Om ampun! Apa salahku padamu? Ampun Om...!? Hiks....hiks...hiks....! Ampun Om!".


Sambil menangis meneteskan air mata.


"Jangan nangis. Aku bisa lebih kasar lagi. Dengarkan ucapanku...! Kamu ini.....!!!".


Kata Om marah sambil menatapku tajam.


" Aku tidak akan mengulanginya jadi dengarkan lah dengan baik. Mulai sekarang kamu milik ku... Jangan terlalu dekat dengan pria lain. Aku tidak ingin kamu disentuh orang lain karena mulai sekarang kamu milikku..!Paham???!. Aku gak Suka lihat nya....!!!". Katanya dengan tegas dan nada agak tinggi.


Aku terkejut dan kaget seketika melihat dia berkata begitu padaku. Aku tidak percaya dia berkata seperti itu dalam waktu cepat. Tapi aku sedih kenapa harus aku?


"Bohong...! Aku tidak percaya Om. Jangan bohongi aku lagi, aku bukan barang atau mainan buat kalian orang kaya. Aku tidak mau mendengarkan mu... Itulah keputusanku". Tegasku menantang semua perkataan Om.


Seketika dia makin melotot dan wajahnya merah seakan mau menelanku, sumpah aku ketakutan setengah mati karena tatapan matanya yabg tajam dan begitu kejam nya.


Kulihat aura dingin dan gelap terpancar dari matanya dan sekujur tubuhnya.


" Apa yang harus kulakukan agar percaya?" Tanya Om padaku yang masih terus meringis kesakitan.


" Tak ada! Aku benci padamu...! Lepaskan aku. Akan kulaporkan pada Ibu kalau Om kasar dan jahat padaku....!".


Ketusku mengancam dirinya dengan penuh keyakinan dalam hati.


"Jangan uji kesabaranku anak nakal!!! Kesabaranku ada batasnya, jangan menyesal setelah mengatakan kalau membenciku. Jangan salahkan aku jika aku akan mengikatmu hingga tidak bisa bergerak dari sisiku...! Percayalah aku mampu....!!!".


Ancam nya dengan mata yang tajam melotot padaku.


"Aku tidak takut padamu, apa yg harus kutakutkan? Apa yang akan Om lakukan...? Aku tidak takut padamu....! Aku benci padamu...! Aku benci sekali...! Benci....??" Teriakku keras dan membuat dia beringas berubah jadi macan yg menerkam mangsanya.


Seketika dengan cepat dia meraih pinggangku dan menatapku dengan begitu tajam, aku hanya bisa meneguk liurku dengan kasar sangkin takutnya.


Seketika dingin terasa disekitar tubuhku karena aku ketakutan sekali. Aku merapatkan bibirku dan gigiku, sangkin geramnya.


Dia meremas rahangku dengan kuat sambil merapatkan wajahnya kewajahku hingga aku tak bisa bernafas.


"Menjauh lah dariku...! Jahat.....!!!".


Kataku setengah berteriak.


Om memegang dan menarik kepalaku dengan kuat. Karena sesak dan sakitnya desakan yang kudapati, akhirnya aku membuka mulutku dan mencoba bernafas. Belum lagi aku selesai menarik nafas, Om tersenyum menyeringai.


" Kau jahat, aku tidak takut padamu!!".


Kataku dengan nada lemah.


Oh tidak,,,,!!!!


Begitu sakit dan perih kurasakan. Aku meneteskan air mata dan sambil terisak-isak menahan sakitnya, tapi Om masih tetap memelukku dengan paksa. Karena aku sudah kehabisan tenaga untuk melawan akhirnya aku pasrah saja atas perlakuan nya padaku. Karena aku tidak melawan dia ciumku jauh lebih lembut dan hangat, aku terkejut juga karena itu.


Setelah itu akhirnya Om melepaskan bibirku tapi dia tidak puas juga. Lagi Om menatapku tajam dan begitu menakutkan aku, tapi dengan lembut menatapku lagi.


Sekilas kulihat kesedihan dimatanya.


" Aku tidak suka kamu bersama pria manapun, menjauhlah dari mereka. Kalau tidak patuh, maka akan jangan salahkan aku jika bertindak kasar dan sesuka hati padamu sayang. Ok?".


Katanya dengan lembut dan geram padaku.


"Auuw......auuw.....! Sakit. hiks....hiks....perih!".


Kataku dengan hati yang hancur sambil mengelus bibirku yang tegang.


Aku terduduk disudut ruangan, sementara Om menatapku dengan puas.


"Masih belum percaya lagi? Mau bagaimana kubuktikan didepanmu? Ku ingatkan sekali lagi jangan dekati pria manapun. Paham?" Tegasnya dengan nada meninggi.


Aku hanya menundukkan kepala saja sambil menangis, sungguh menyesalnya aku mengenal sosoknya. Kukira dia orang yang baik dan perhatian, dia juga akan menjaga kami. Tapi apa yang kudapat? Hanya sikap yang ingin memiliki aku entah apa sebabnya, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya padaku.


Dimana salahku? Apa yang buat dia begitu marahnya padaku, akupun tidak tahu dengan jelas. Kenapa juga harus aku bukan wanita lain diluar sana yg lebih dewasa dan mapan dariku. Sumpah aku tidak bisa berpikir lagi dengan jernih, hanya rasa sakit yang kudapat akibat gigitan nya yang tersisa dibibirku.


" ingat itu. Aku bisa lebih lagi memberikanmu pelajaran hebat... Paham?".


Kata Om dengan marah dan kecewa sambil meninggalkan aku sendiri diruangan itu.


Hatiku hancur dan hidupku rusak karena ulahnya, aku tidak tega mengadu pada Ibu atas tindakan paman padaku barusan. Bagaimana aku harus mengatakannya pada orang tuaku apa mungkin mereka akan percaya dengan yg kuucapkan? Entahlah...??!


Apapun terjadi pada kita itu sudah ditakdirkan dan tertulis dengan jelas sebelum kita lahir kedunia ini. Tak ada artinya menyesali yang sudah terjadi, karena dia tidak bisa dihindari dan diulangi lagi. Maka jadikanlah dia guru mu untuk menjalani hidupmu didunia ini, jangan tangisi tapi sikapilah dengan tegar dan positif. Cobalah...! Karena saya sudah mengalaminya sebelum anda.


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’žโ™ฅ๏ธ


Jangan lupa Like dan komen ya.


karena like itu penting gratisss...!!!

__ADS_1


__ADS_2