Kisah Cinta Sang Dokter

Kisah Cinta Sang Dokter
Rencana Besar Om


__ADS_3

Tepat pukul 6 Pagi, Om sudah sampai diruangan kami.


"Kak sudah siap kan? Jam 7 kita mulai, jangan takut karena aku bersamamu...! Semua akan baik-baik saja kok. Percayalah! Aku yang terbaik diantara yang paling baik!?".


Kata Om sambil memberikan Ibu semangat untuk harus berani dan tak takut lagi.


"Ulan cepat habiskan sarapanmu dan kita harus mempersiapkan Ibumu???".


Katanya tegas, membuatku gugup dan hanya menurut saja.


Aku hanya mengangguk saja sambil tersenyum dalam hatiku.


Om keluar ruangan dan kembali keruangan, menunggu persiapan selesai.


Sebelumnya Om memintaku untuk membersihkan badan Ibu dibantu oleh seorang Suster. Tentu saja Om yang panggil. Mengelap tubuhnya, memakaikan Ibu baju hanya itu saja menurutku, Ibu merasa agak sehat melihat semangatku yang menggebu-gebu. Semangat 45...!


Kemudian Operasipun dilangsungkan, Ibu dibawa keruangan Operasi.


Ting....tong....!!!πŸ’¬


Om mengirimkan Wa padaku.


" Ulan nanti setelah operasi kita harus bicara, ini penting...!πŸ˜‡".


Kata Om.


" Apa itu om? Hem.....!!!πŸ˜‘".


Tanyaku serius padanya.


" Jangan kaget ya, dan jangan marah? Janji ya Ulan manis...!!?".


Kata Om lagi.


" Iya janji....!!! Apaan sih Om?".


Aku makin penasaran sekali,


" Ibumu sudah tahu...! Se...mua...nya!!?".


Katanya menegaskan dengan perlahan.


Hah???😨😨😨


Ciat.....ciat.....!!!


Ciat.....haiyah......?


Seperti disambar petir, seperti gelas yang jatuh dan hancur berantakan, seperti kendi yang pecah berserakan dibumi.


Air mataku mengalir perlahan dan membasahi pipiku tanpa kusadari. Airmataku jatuh kebumi seperti air hujan.


'Mampus aku? Mampus lah!!'.


Gumamku.


" Kemarin Om masuk dan mencium kening mu. Kemuadian Om gendong kamu yang tidur di sofa. Ibumu lihat. Tenang saja Om akan atasi dengan baik. Jangan kuatir! Tenanglah!".


Kata Om lagi sekedar menjelaskan dengan singkat dan menenangkan hatiku.


Om mematikan HP,


' Huh....huh....!? Terlalu cepat diluar dugaan ku. Anak nakal itu pasti sudah nangis dan kesal padaku sekarang, padahal tak ada niatku begitu jahat padanya. Sepertinya aku harus ambil langkah secepatnya sebelum terlambat? Apa iya bisa begitu? Haduh...!!!gawat otakku tak bisa berpikir lagi. Menghadapi kakak aja aku bingung ini. Terlalu cepat juga jika aku ambil tindakan, pasti anak nakal itu menolak. Hah? Ya Allah mudahkanlah jalanku menuju ridho mu, kuatkan hati dan imanku. Anak nakal itu pasti sudah sangat membenciku karena sudah menghancurkan hidup dan masa depan nya, kenapa bisa jadi begini. Baru saja aku mendapatkan kepercayaan nya sekarang malah gini....Haih? 😡Pusing aku dibuatnya. Ini lebih rumit dari menjadi seorang Dokter yang mampu mengobati berbagai macam penyakit pasien. Apa otakku bermasalah ya?'. Gumam Om dalam hati.


Aku tertunduk diam saja sambil mengikuti Om yang Membawa Ibu keruang operasi.


Ternyata bapak sudah sampai lebih dulu,


"Ibu harus kuat, Bapak sayang Ibu. Oke?". Tanya bapak pada Ibu sambil mengecup kening Ibu.

__ADS_1


Ibu" berdoalah. Aku akan baik baik saja kok. Aku masih punya anak yang harus kita besarkan bersama kan sayang?".


Ibu membelai pipi Bapak dengan lembut.


Om dan Ibu masuk kedalam ruang operasi bersama beberapa Dokter dan Suster, lampu ruang operasi pun dinyalakan. Om berbisik kepada seorang suster,


"Hei jangan bengong saja, cepat kamu dokumentasikan. Ini penting...!".


Kata Om berbisik pada Suster.


" Ya. Pantes saja aku ikut ternyata disuruh beginian. Apa tidak melanggar etika dan privasi? Untung saja tampan???".


Tanya Suster itu pada Om.


" Ha...ha...!!! makasih loh, kamu juga cantik!".


Om ketawa dan menggoda Suster itu.


" Ah bohong!!! You lie n i hate you!!! Bad boy!"


Suster itu mencubit lengan Om.


"Ini penting jadi bahan pelajaran bagi dunia kita. Sudah dokumentasikan saja sesuai perintahku, ok???".


Perintah Om pada Suster itu.


Proses operasi Ibu berjalan hening dan mencekam bagi kami. Sesekali Bapak menatapku iba dengan air matanya, aku hanya menebar senyum saja. Hatiku masih gelisah dan takut dengan kondisi Ibu, ditambah cemasku dengan pengakuan Om tadi. Tolong.....!!!


Haduh...!Haih.....Gak tau lagi aku. Perasaan aku tidak berpijak bumi ini lagi lah, entah kaki ini kok gak cecah ketanah. Apalah yang harus kulakukan dan kukatakan pada Ibu dan Ayah, aku yang menggoda pamanku? Setelah ini aku pasti dilaknat Allah atas perbuatanku ini, masuk api neraka lah aku. Haduh? Kenapa jadi ribet sih urusan nya? Ini semua gara-gara Om genit itu yang tak bisa kontrol diri dan menyeretku dalam masalah yang dibuatnya sendiri. Coba dia tidak jatuh cinta padaku, hidupku pasti damai dan sentosa tanpa dia. Ya Allah jika ini baik maka ku terima dengan ikhlas, jika ini buruk maka hindarkan lah aku dari setan dan iblis. Ampuni dosaku Ya Allah, ampunilah kami semua....!!! Amin!!!'.


Gumamku dalam hati.


Bapak mondar-mandir didepan pintu, tidak ada tanda bahwa terjadi sesuatu hal buruk.


"Tenang pak. Tidak ada orang yang keluar maka itu pertanda baik karena tidak terjadi sesuatu dengan Ibu kan pak? Jadi bapak tenang dan duduk saja sambil menanti pintu dibuka. Om itu dokter spesialis loh pak, banyak pengalaman dan sudah banyak pasien yang ditolong nya. Jadi Bapak tidak perlu kuatir lagi, percayalah Om pasti berhasil...!".


Bapak agak tenang dan duduk diam, sembari berzikir lembut.


Sementara didalam ruangan, operasi Ibu berjalan lancar dan aman.


Hp ku berbunyi,


Tuing....tiung....!!! πŸ“²


Kubuka dan kubaca isi Wa nya...πŸ’¬


Dengan air mata menetes dengan lembut.


" Anak nakal, operasinya berhasil dan aman kok. Ingat....???! Aku sudah janji...! 😏!".


Kata Om.


" Alhamdulillah Om. Ibu bagaimana?".


Aku bertanya dengan perasaan cemas. Maklumlah aku orang nya Parnook...!!!


" Baik kok, habis bius 6 jam maka Ibu akan sadar!!. Jangan takut ulan manis!!!πŸ˜‚".


Jawab Om.


" Makasih ya sudah selamatkan Ibu. Aku tidak tahu aku harus bilang apa!!! Aku sedikit tenang dan nyaman...!".


Jawabku dengan lega seklai.


" Kamu mau balas Budi begitu? hah?πŸ˜‡".


Tanya Om padaku dengan genit.


" Tak usah geer kenapa Om? Genit iiizzz!πŸ˜‘".

__ADS_1


Kataku dengan agak kesal.


" Kita nikah yuk....! Mau kan?πŸ˜„βœŒοΈ".


Kata Om sambil bercanda padaku, sangat puas dia menggodaku berulang kali.


Duar.....duar.....!!!!⚑⚑⚑


Jantung ku serasa melompat entah kemana dan harus kukutip supaya tak mati. Hampir saja aku lupa bernafas dan malaikat segera mencabut nyawaku ketika membaca Wa Om. Si Om emang sudah benar-benar gila dan jatuh cinta mati padaku, dan otaknya sudah eror menurutku.


Tidk balas Wa nya, Si Om juga mengirimkan video yang tadi saat proses operasi berlangsung. Dan kuterima,


Kemudian keluarlah Sokter dan Suster daei dalam ruangan dan membuka pintu lebar sambil memindahkan Ibuku ke IGD. Aku dan Bapak mengikuti Ibu sampai ke IGD namun hanya Bapak yang diperbolehkan masuk sementara aku kembali keruangan sebelumnya.


Kurebahkan tubuhku ke kasurku dan kupeluk bantal sambil menangis.


"Kenapa Om jahat, tak mikir perasaanku. Emang aku salah apa sampai hati Om begitu, setelah Ibu sadar aku harus cepat untuk kost Krn mungkin saja Ibu akan mengusirku dan Bapak akan mengeluarkan aku dari Kartu Keluarga. Aku memang anak yang tak tahu diri dan durhaka, sudah tahu sepupu Ibu tapi dipacari juga. Dan sekarang si Om mengajak nikah, sudah gila hidup ini. Nih semua gara-gara Om yang genit itu coba otaknya waras. Tenang dan senang lah hidupku ini, nah sekarang penuh dengan derita dan air mata. Mau kemana aku mengadu lagi?".


Itulah ungkapan kesal dan marahku saat ini.


Om kemudian masuk keruangan dan memelukku dengan sigap.


"Maaf sayang aku yang jahat, aku menyiksamu dengan berbagai tingkah laku ku yang menyulitkanmu. Kali ini aku mohon...!!? Kamu harus memaafkan ku dan memberikan aku kesempatan lagi, boleh??? Hm...mm!??".


Tanya Om padaku dengan lembut.


"Lepaskan aku, jangan kau sentuh aku lagi, pergi. Ini semua karena Om, ini semua maunya Om kan? Apa salah Dan dosaku... Om? Ku mohon pergilah menjauh dariku!". Pintaku padanya dan menatapnya dengan tatapan marah bercampur kecewa.


"Aku tak bisa melakukan itu, setelah berapa hari ini aku terus memikirkanmu. Aku gak bisa tidur nyenyak melihatmu tak disisiku, aku tak akselera makan kalau mengingat kamu belum makan, aku tak bisa konsentrasi kala kau gak ada di hadapanku. Aku hampir gila memikirkanmu sayang. Aku bisa mati kalau kamu pergi dariku, jangan membenciku sayang. Kumohon tenanglah aku akan mengatasi ini semua dan membuatmu bahagia berada disisiku. Setelah ibumu mendingan akan kuutarakan niatku pada mereka dan kita bisa bersama".


Kata Om dengan berharap.


" Jangan membuatku tertawa Om. Mana mungkin orang tuaku setuju dengan ide gila Om ini. Om sudah tidak waras ya...!".


Kataku dengan nada tinggi dan marah.


Aku berusaha keras lepas dari pelukan nya dan itu sia-sia saja karena tenang pria 10x lipat kuat dari cewek.


"Kalau tidak melepaskan ku maka aku akan berteriak biar tahu aja. Lepas tak? Lepas...?".


Ancamku padanya.


Dia masih saja memelukku dengan erat sekali, sampai aku sesak bernafas.


"Tidak mau? Jangan membuat situasi ku tambah sulit Om, ku mohon biarkan aku tenang walau hanya sekejap saja...!!!".


Pintaku pada nya dengan sayu.


" Baiklah. Setelah semua masalah Ibumu usai aku akan datang kerumahmu lengkap dengan keluargaku, aku akan membawamu bersamaku bagaimana pun caranya. Tunggu aku sayang...!Kumohon jangan marah!".


Om melepaskanku dan pergi meninggalkan aku di ruangan seorang diri.


Ternyata percakapan kami tadi didengar oleh seorang Suster senior yang hendak mempersiapkan tempat tidur untuk ibu.


" Tak mungkin? Tak mungkin dokter Joshua suka tipe anak kecil, dasar anak kecil penggoda. Ini berita bagus untuk Dokter Mery. Good job...! Good news!Ha....ha....aaaa!!!".


Kata Suster itu sambil berlari kecil.


Belum selesai masalah lama datang masalah baru pula, apa yang akan dihadapi sudah jelas didepan mataku.


β™₯οΈπŸ’›πŸ–€πŸ’œπŸ–€πŸ’›πŸ’šβ€οΈπŸ’β™₯οΈπŸ’™πŸ’šπŸ’”πŸ’›


Jangan lupa like dan komen ya kak


Karena like dan komen itu penting dan Gratis....!!!!


Jangan lupa untuk vote ya kak...!! 😊mohon dukungannya kak,


πŸ’žSelamat membaca ya..πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2