
Killa dan Marvin berjalan menuruni satu-persatu anak tangga. Sambil bergandengan dengan jari yang saling bertautan. Sesekali keduanya juga saling melempar senyuman palsu. Agar terlihat lebih harmonis didepan ayahnya.
"Selamat pagi!" Sapa ayah Kevin ketika Marvin dan Killa sudah berada tepat didepan nya.
Diruang santai yang juga menjadi ruang keluarga. Ayah Kevin tengah duduk santai sambil membaca sebuah koran pagi. Sesekali ia juga menyeruput teh herbal yang sudah disediakan pelayan untuknya.
"Pagi ayah!" Ucap Marvin.
"Pa-pagi--" Killa tergagap bingung harus memanggil Ayah Kevin dengan sebutan apa.
"Ayah mertua!" Bisik Marvin ditelinga Killa.
"Selamat pagi ayah mertua!" Killa menyapa dengan tersenyum dan membungkuk kan sedikit badan nya.
"Duduklah!" Ayah Kevin mempersilahkan Marvin dan Killa untuk duduk bergabung bersamanya.
Marvin dan Killa pun duduk bersama. Masih dengan tangan yang bergandengan. Entah kenapa Killa merasa sangat tegang untuk bertemu dengan Ayah Kevin. Terlebih tatapan pria paruh baya itu. Sangat mencekam, datar, dan dingin. Sama seperti Marvin saat mereka baru pertama kali bertemu.
"Jadi, namamu adalah Killa? Killa Roses! Kau anak kandung Gerry Roses?" Ucap ayah Kevin pada Killa.
"Be-benar ayah mertua! Apakah anda mengenal ayah saya?" Tanya Killa yang terkejut karena ayah Kevin seperti mengenal sosok ayahnya.
__ADS_1
"Jelas! Gerry adalah ketua tim khusus yang dulu pernah bekerja sama dengan saya! Meskipun dia adalah ketua dari geng Roses yang kala itu sangat terkenal! Tapi dia tetap dengan rendah hati mau bekerja sama denganku, membantuku menyelesaikan beberapa kasus!" Tutur ayah Kevin mengingat kembali sosok Gerry dimatanya.
Killa menatap Marvin yang juga menatapnya. Marvin terlihat sangat terkejut, tapi dia masih tetap tenang dan santai. Seolah sudah mengetahuinya didepan ayah Kevin. Padahal Marvin baru tahu, dia sangat terkejut. Ternyata Killa memiliki orang tua yang juga bergelut di dunia gelap dan kejam itu.
"Ayah mertua benar! Ayah ku adalah orang yang sangat rendah hati! Tapi semua itu hanyalah masa lalu, dia telah membuat seluruh keluarganya menjadi terancam! Karena banyaknya musuh yang dendam terhadapnya! Aku, ibu, dan adik ku menjadi sasarannya! Entah aku harus bersyukur apa tidak karena selamat dari pembantaian itu! Aku merasa semua ini adalah salah ayah, ayah yang membuat kami menderita!" Ucap Killa yang tanpa sadar menjadi emosional karena membahas tentang orang tuanya.
Air mata Killa menetes, gadis itu dengan cepat mengusapnya. Dia tidak mau terlihat lemah didepan semua orang. Sedangkan Marvin terlihat tertegun dengan ucapan yang keluar dari mulut Killa. Dia tidak pernah melihat Killa se-emosional seperti itu. Apalagi membicarakan tentang orang tuanya. Semua itu baru Marvin mengetahuinya sekarang. Karena kesibukannya dia sampai melupakan untuk mencari tahu semua tentang Killa. Yang ia tahu orang tua Killa sudah meninggal dan gadis itu memiliki seorang adik berusia delapan belas tahun.
"Maafkan aku ayah mertua! Aku sedikit terbawa suasana! Maaf!" Ucap Killa meminta maaf pada ayah Kevin. Karena merasa sudah sangat lancang berbicara dengan penuh emosi.
"Tidak apa-apa! Aku bisa mengerti!" Sahut ayah Kevin sembari menyeruput teh herbalnya.
Sedangkan Marvin, pria itu tak berhenti menatap ke arah Killa. Tangannya bergerak mengusap sisa tetesan air mata gadis itu dipipinya.
Killa menatap Marvin dengan sendu. Tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Hatinya kembali tersentuh akan perlakuan manis pria dingin itu.
"Terima kasih, Vin!" Killa tersenyum pada Marvin.
Ayah Kevin yang tengah menyeruput teh herbalnya. Terhenti ketika mendengar Killa mengeluarkan kata-kata 'Terima kasih, Vin'. Matanya berkaca-kaca menahan air matanya yang hampir keluar.
Pria paruh baya itu tiba-tiba saja teringat akan istrinya. Sebuah senyuman yang manis tergambar diwajah cantik seorang wanita yang pernah berkata seperti itu padanya.
__ADS_1
Ayah Kevin menatap kepada anak dan menantunya itu. Dia teringat akan dirinya dulu. Terlebih ketika melihat Killa mengenakan dress putih milik sang istri. Entah kenapa ayah Kevin merasa Killa adalah wanita yang tepat untuk Marvin sang anak.
"Baiklah, sudah hampir siang! Apa kau tak mau membuatkan sesuatu untuk ayah mertuamu ini?" Ucap ayah Kevin mencoba memecah suasana haru yang terjadi.
"Hah?" Sepasang suami istri itu menoleh bersamaan.
"Masaklah, aku ingin merasakan masakan dari menantu baruku!" Ucap ayah Kevin tersenyum.
"Tapi---" Killa terkejut sampai tidak bisa berkata.
"Ayah, kenapa kau menyuruh Killa masak! Banyak pelayan dan koki yang handal disini! Untuk apa repot-repot seperti itu!" Marvin protes dengan kemauan sang ayah.
"Tidak apa-apa Vin! Aku akan memasak nasi goreng yang enak untuk anda ayah mertua! Ini adalah sebuah kehormatan untuk ku!" Killa bersemangat dan langsung berlalu menuju dapur meninggalkan Marvin dan ayah Kevin.
Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Dia mau masak apa tadi? Nasi goreng? Tidak mungkin, aku tidak yakin selera ayah akan sama denganku! Batin Marvin cemas.
"Istrimu sangat bersemangat, ayah yakin masakannya akan seenak ibumu!" Ayah Kevin tersenyum menatap kepergian menantunya yang bersemangat itu.
"Aku akan membantu Killa!" Marvin beranjak meninggalkan ayahnya sendiri. Dia menyusul Killa ke dapur, karena cemas istrinya itu akan membuat masakan anehnya.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1
...Note : Maaf lambat, revisi nya lama banget nunggu🙏🏻...