
Siang harinya di Restauran Hotel. Nampak dua orang pria tampan yang berpakaian rapi. Sedang makan siang bersama. Sambil membicarakan masalah pekerjaan. Namun entah dari mana datangnya ketegangan. Suasana diruangan VIP itu seketika dingin mencekam seperti berada diantara balok-balok es.
"Tuan Justin, sepertinya anda tidak mengerti dengan konsep yang baru saja saya jelaskan. Cobalah untuk mengerti dan menerimanya." Ucap Marvin santai tapi sedikit menyindir.
Justin mengerinyit, kemudian ia tertawa renyah. "Hahaha, maafkan saya Tuan Marvin. Saya tidak terbiasa dengan konsep murahan seperti itu, saya menginginkan pesta yang lebih mewah."
"Benar, benar sekali yang anda katakan Tuan Justin. Pesta makan malam nanti akan mengikuti konsep mewah yang anda inginkan. Karena anda adalah bosnya, apapun itu kami akan membuat anda terkesan." Sahut Marvin yang diiringi senyuman tipis.
"Baguslah Tuan Marvin, jika anda mengerti apa yang saya inginkan. Karena jika saya sudah menginginkan sesuatu, saya tidak perduli pada siapapun. Saya pasti akan mendapatkannya." Pungkas Justin dengan percaya diri.
"Itu bagus, sebagai seorang pria kita harus memiliki keteguhan hati yang besar. Begitu pun dengan saya, saya tidak akan melepaskan sesuatu yang sangat penting dan berharga milik saya. Kepada seseorang dengan mudahnya, saya akan mempertahankan nya walaupun nyawa saya yang akan jadi taruhannya." Tutur Marvin panjang lebar sambil meminum segelas wine yang menjadi pendamping cocok steak yang mereka makan.
Justin kembali mengerinyit. Dia tersenyum miring dengan rahang yang menegang. Telinganya seketika panas mendengar penuturan kata-kata Marvin. Yang jelas-jelas sedang menyindir telak dirinya.
__ADS_1
"Tapi Tuan Marvin, anda melupakan satu hal," sahut Justin tersenyum.
"Apa itu Tuan Justin? Apa yang sudah saya lupakan?" Tanya Marvin yang tidak mengerti.
"Anda lupa, jika sesuatu yang awalnya bukan milik kita. Pasti akan kembali pada pemilik lamanya. Bukankah itu pepatah lama." Jawab Justin tersenyum puas. Merasa sudah memenangkan perdebatan sengit itu.
"Hahaha, anda benar Tuan Justin." Marvin tertawa renyah lalu seketika kembali dingin.
"Namun itu berlaku jika si pemilik tidak sengaja menghilangkannya. Berbeda dengan halnya, jika si pemilik sengaja membuangnya. Atau menyia-nyiakan nya." Lanjutnya tersenyum samar.
Seakan tertembak di bagian dada sebelah kirinya saat itu juga. Saat Marvin menuturkan kata-kata sindiran yang kena telak menembus jantungnya.
BRAK!
__ADS_1
Justin menggebrak meja dengan kuat. Lalu menggerak-gerakkan lehernya ke kanan dan kiri. Untuk merilekskan otot-otot lehernya yang menegang.
Ken dan juga sekertaris pribadi Justin, yang juga ada didalam ruangan itu namun berbeda meja. Sudah bersiap-siap untuk menghalau kedua bos mereka. Jika terjadi suatu perkelahian.
Karena sedari tadi mereka sudah sangat was-was, ketika pembicaraan dua pria berdarah dingin itu. Menyeleweng entah kemana, sampai-sampai seisi ruangan membeku kedinginan. Begitu juga dengan mereka berdua.
Ken melirik sebuah garpu dan pisau kecil untuk memotong daging yang tergeletak diatas meja Marvin dan Justin. Bisa gawat jika salah satu pria dingin itu mengambilnya dan menyerang satu sama lain. Tentu saja Ken tidak ingin itu terjadi.
Namun tiba-tiba saja. Kedua pria berdarah dingin itu tertawa bersamaan. Akan tetapi meskipun keduanya sedang tertawa, masih sangat jelas sebuah kebencian tergambar disorot mata mereka masing-masing.
"Terima kasih untuk makan siangnya Tuan Marvin, sampai bertemu," Justin menyodorkan tangannya pada Marvin.
Marvin pun berdiri dan merapikan jasnya. Lalu meraih tangan Justin. "Sama-sama Tuan Justin, sampai bertemu kembali."
__ADS_1
Mereka saling berjabatan dan saling menatap dengan tajam. Tersenyum diluar tapi memaki di dalam. Itulah yang jelas-jelas tergambar diwajah keduanya. Sungguh mereka berdua sama-sama memiliki darah yang sedingin es. Juga sama-sama keras dan tidak mau kalah.