Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 169 : Kata "Terima kasih" untuk Justin.


__ADS_3

Malam hari nya.


Marvin mengusap wajahnya beberapa kali dan menghela nafas dengan gusar. Panik karena Killa yang tidak bisa dihubungi. Padahal Killa Sudah berjanji untuk menemaninya malam ini. Ia pun menghubungi Ken.


"Ken? Kau dimana?"


"Saya masih di kantor Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Pergilah ke rumah ku dan lihat apa Killa ada dirumah? Aku menunggunya dari tadi." Ia menggaruk-garuk kepalanya karena bingung.


"Baik Tuan."


Saat hendak memutuskan panggilan. Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka masuklah Killa sambil membawa sebuket bunga di tangan nya. Marvin tak bisa menahan diri untuk tersenyum. Hatinya lega setelah melihat wajah teduh Killa. Saling melemparkan senyuman, Killa berjalan mendekati Marvin.


"Kenapa wajah mu seperti itu? Apa kau sedang menunggu seseorang?" tanya Killa.


Marvin menyipitkan mata. "Ya, aku sedang menunggu seseorang. Gadis bodoh yang wajah nya sangat jelek."


"Cih, dasar pria dingin. Kau sangat kekanak-kanakan," ucap Killa terkekeh dengan tingkah Marvin.


"Kemari lah," panggilnya.


Killa pun mendekat dan langsung memeluk tubuh Marvin. Lalu memberikan sebuket bunga itu padanya. Marvin meraih bunga tersebut dan tersenyum.


"Kenapa membawa bunga? Ini bukan hari pemakaman ku."


"Ish, apa-apaan kau ini. Yang bilang ini hari pemakaman mu siapa? Jangan sembarang bicara," dengus Killa kesal.


"Hahaha, aku hanya bercanda. Aku sangat merindukan mu." Marvin tertawa dan kembali memeluk erat Killa. Gadis itu membalas pelukan Marvin.


"Aku juga merindukan mu," balas Killa.


Sedangkan disisi lain. Di sebrang panggilan yang masih tersambung. Ken tersenyum mendengar keromantisan sang bos. Ken pun mengakhiri panggilan. Karena tak ingin mengganggu momen mereka berdua.


Kini posisi nya Killa duduk membelakangi Marvin dan dipeluk dari belakang oleh pria dingin itu. Marvin menumpu dagunya di bahu kanan Killa. Killa menggerakkan sedikit bahunya. Marvin sadar pasti Killa sedang menahan sakit pada lukanya. Marvin pun mengangkat dagunya.


"Kenapa kau tak cerita padaku?"


"Tentang apa?"


"Tentang ini ... " Marvin menyibakkan rambut Killa kebelakang lalu membuka sedikit baju bagian bahu kanan Killa. Memperlihatkan luka yang Killa dapat dari tusukan pisau Hanna.


Killa terkejut namun mencoba untuk tidak gugup. "Kau sudah tahu?" Ia memperbaiki kembali bajunya.


"Tentu aku tahu, kau adalah segalanya bagiku Killa. Aku tidak mau seseorang melukaimu."

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir. Apa karena itu kau juga mengikuti ku malam itu?"


Killa berbalik menatap Marvin dengan kesal. "Kau tahu betapa berbahaya nya disana? Aku terus menyalahkan diriku atas apa yang terjadi padamu Marvin."


"Karena aku tahu itu berbahaya, jadi aku menyusul mu. Aku tidak mau kau terluka Killa. Meskipun nyawaku taruhan nya, aku tidak perduli."


"Bodoh." Killa memukul pelan lengan kiri Marvin. "Dasar pria bodoh, berhenti mengatakan aku gadis bodoh. Karena yang bodoh itu adalah kau. Untuk apa kau mempertaruhkan nyawa demi aku?"


"Karena aku sangat mencintaimu."


Marvin langsung mencium bibir Killa dengan sangat lembut lalu melepaskan nya. "Katakan jika kau juga mencintaiku Killa?"


Terharu hingga mata nya berkaca-kaca. Killa mengangguk pelan. Marvin tersenyum dan mengelus wajah Killa. Lalu kembali mengecup lembut penuh kehangatan bibir Killa. Saling membalas dan bertukar saliva. Mereka terbuai dalam suasana romantis itu. Sampai-sampai tidak sadar ada seseorang yang mengetuk pintu dan membukanya.


"Eehmm ... " deheman seorang pria dari ambang pintu. Membuat keduanya terkesiap dan melepaskan diri masing-masing.


"Ruangan ini terasa begitu panas, Tuan Marvin bagaimana kabar mu?" Pria itu menghela nafas sembari berjalan mendekat.


"Tuan Justin." Marvin mengerinyit mendapati pria itu adalah Justin.


Mendengar Marvin menyebut nama Justin. Sontak Killa langsung menoleh. Benar saja, kini Justin tengah berada disisi lain tempat tidur.


Killa dan Justin saling melempar pandang. Marvin menyadari akan hal itu. "Eehmm," dehem nya untuk memecah suasana canggung itu.


"Sama-sama Tuan Marvin," sahut Justin yang pandangan matanya masih tertuju pada Killa.


"Kalau begitu saya permisi dulu, silahkan kalian mengobrol berdua," ucap Killa.


"Tidak usah, kau tetap lah disini." Marvin menarik tubuh Killa hingga menempel padanya. "Tuan Justin, kau tidak keberatan kan jika istriku tetap disini menemani kita?"


Justin tersenyum pasif, walaupun sakit melihat wanita yang ia cintai. Kini sudah tidak bisa ia gapai lagi, karena sudah menjadi milik orang lain. Justin memilih untuk mengalihkan pandangan nya ke lain.


"Tidak apa-apa, saya tidak keberatan. Nona Killa tetap lah disini," ucap Justin.


"Oh iya ini saya bawakan buah-buahan segar untuk Tuan Marvin." Justin menyerahkan sekeranjang buah-buahan kepada Killa.


"Terima kasih Tuan Justin, seharusnya kau tidak perlu repot-repot," ucap Marvin.


"Tidak apa-apa. Bagaimana kondisi anda Tuan Marvin?" tanya Justin.


"Sudah sedikit membaik, berkat istri saya yang sangat telaten merawat saya disini." Marvin tersenyum miring seakan memanas-manasi Justin.


"Baguslah Tuan Marvin, kau sangat beruntung karena memiliki istri seperti Nona Killa. Saya sangat iri pada anda." Justin tersenyum cerah dengan hati yang tegar. Karena dia sudah mencoba untuk merelakan kepergian Killa. Jika itu yang terbaik untuk Killa.


Killa yang mendengar percakapan kedua pria dingin itu yang mengarah pada dirinya. Kini wajahnya merah merona dan menjadi gugup.

__ADS_1


Killa beranjak. "Saya akan meminjam pisau dari pantry rumah sakit untuk mengupas buah. Silahkan kalian mengobrol dengan santai."


Killa pun segera pergi dari ruangan itu. Bernafas lega karena bisa kabur dari kedua pria dingin dan keras kepala itu.


Sedangkan masih di dalam ruangan VIP itu. Kedua pria itu saling melemparkan senyuman palsu. Dan memikirkan hal yang berbeda di dalam benak masing-masing.


"Terima kasih," ucap Marvin pelan, karena ragu-ragu.


"Untuk apa?" tanya Justin mengerinyit.


"Untuk bantuan mu malam itu. Jika kau tidak menelpon ku Killa berada dirumah mu, mungkin aku dan Naya masih kebingungan mencarinya kemana. Aku juga tahu jika kau juga bekerja keras untuk menutup berita itu. Sekali lagi terima kasih," tutur Marvin.


"Aku melakukan nya bukan untuk mu, tapi untuk Killa. Apa pun akan aku lakukan jika itu menyangkut dirinya. Aku tidak mau dia terluka," sahut Justin.


"Apa kejadian di mansion itu kau juga yang meledak kan nya?" tanya Marvin.


"Hmm," Justin mengangguk pelan. "Kikan pantas mendapatkan nya, sekarang dia sedang dalam pengawasan anak buah ku."


"Bagus lah, aku tidak mau dia terus menerus mengganggu Killa," ucap Marvin.


"Tapi maaf, aku belum bisa menangkap orang yang sudah menembak mu malam itu. Mungkin saja itu salah satu anak buah Kikan."


"Tidak masalah, sekarang aku baik-baik saja. Malah aku mengira, kau lah yang sudah menembak ku. Hahaha," ucap Marvin santai lalu tertawa renyah.


"Heh, kau pikir aku serendah itu? Kalau aku mau kau mati, sekarang juga pun aku bisa mencekik mu dan menggantung mu disini. Lalu mengatakan jika kau mati bunuh diri dan membawa Killa pergi sejauh mungkin. Hahaha," tutur Justin yang juga tertawa renyah diakhir kalimatnya.


"Sialan, sini kau kalau berani," Marvin mengumpat dan hendak beranjak dari tempat tidur.


"Kemari, biar aku bisa mencekik mu." Justin juga ikut berdiri.


Tiba-tiba saja pintu terbuka, mereka berdua sama-sama terkejut. Dan panik kembali ketempat masing-masing. Melemparkan senyuman pada Killa yang baru saja masuk.


"Ada apa dengan kalian? Apa kalian berkelahi?" Killa mengerinyit heran.


"Tidak," jawab Marvin.


"Benar, tidak mungkin kami berkelahi." Justin memalingkan wajah, menghindari tatapan menyelidik Killa. Begitu pun juga dengan Marvin.


Justin pun beranjak dan berpamitan. " Kalau begitu saya pamit, Tuan Marvin semoga anda lekas sembuh."


"Terima kasih banyak atas buah nya Tuan Justin," sahut Marvin.


Justin pun pergi. Killa geleng-geleng kepala melihat kedua pria itu.


...🌹 Jangan lupa like 🌹...

__ADS_1


__ADS_2