
Seisi ruangan semua pandangan mata tak lepas dari Killa. Meskipun tidak ada yang berkata-kata tentang Killa. Atau pun membicarakan tentang pesta makan malam itu. Namun sangat jelas Killa bisa merasakan jika mereka tidak nyaman dengan keberadaan nya di sana. Ia memilih tidak menghiraukan nya
Ponselnya bergetar, tanda masuk sebuah email. Dengan segera ia membuka isi email tersebut. Karena sudah tidak sabar untuk melihat kebenaran.
Tanpa sadar ia meremas pulpen yang tengah ia genggam, hingga patah menjadi dua. Ia merapatkan bibir dan terdengar suara gigi yang menggeretak.
"Ternyata kau begitu bodoh, kau sudah menggali lubang kematian mu sendiri. Kau pikir wanita jalang itu akan membantumu? Kau salah, kau akan mati ditangan ku," gumam nya pelan dengan seringaian licik.
"Huh," desahnya seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. "Sudah lama sekali rasanya, membayangkan nya saja aku sudah begitu bersemangat. Hanna terimalah hadiah untuk kerja keras mu."
"Dan kau Kikan ... tunggu dan lihat bagaimana aku membuatmu hancur." Tangan nya kembali meremas pulpen yang sudah patah itu.
***
Disisi lain, Marvin tengah berdiri menatap ke arah luar gedung. Melalui dinding kaca ruangan kerjanya. Ia terus memikirkan tentang Killa. Ia bisa merasakan jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Killa.
"Kau melupakan kebiasaan pagi kita Killa. Sebenarnya apa yang membuatmu resah? Aku tahu jika kejadian semalam bukanlah hal yang berat hingga terus kau pikirkan. Pasti ada hal yang lainnya, tapi apa? Kenapa kau tidak bisa mengatakan nya padaku? Apakah kau belum bisa percaya seutuhnya denganku? Kalau begitu apa arti cinta kita Killa?"
Ia mendengar suara langkah kaki berjalan mendekat, ia pun segera berbalik badan. Lalu kembali duduk dikursi kerjanya.
"Apa yang sedang dilakukannya Ken?" tanya nya pada Ken yang sudah berdiri sigap di depan meja kerjanya.
__ADS_1
"Tidak ada yang mencurigakan Tuan, Nona Killa seperti biasa mengerjakan pekerjaan nya," jawab Ken.
"Benarkah?" Ia menumpu dagu dengan tangan nya diatas meja. Masih merasa ada yang tidak beres.
"Hanya saja--." Ken tidak melanjutkan perkataannya.
Marvin mengerinyit dan menatap wajah Ken. "Ada apa?"
"Dua kali Nona Killa berbicara dengan seseorang di panggilan telpon nya. Saat itu raut wajah Nona Killa mengeras, saya bisa merasakan jika Nona Killa geram."
"Apa kau mendengar apa yang dia bicarakan?"
"Tidak Tuan, karena jarak nya terlalu jauh. Dan juga Nona Killa berbicara dengan pelan."
"Baik Tuan." Ken pun bergegas keluar dari ruangan Marvin. Sebelumnya dia membungkuk hormat dan menutup pintu dengan rapat.
"Siapa yang menelpon mu Killa? Apa yang kau sembunyikan dibelakang ku?" Ia terlihat marah, wajahnya merah padam. Tangan nya mengepal lalu memijit tengkuk leher yang menegang.
***
Siang harinya. Waktu nya jam makan siang. Kantor terlihat sepi, semua karyawan pergi untuk makan siang. Tapi tidak dengan Killa, ia masih duduk di meja kerja.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ponselnya berdering. Killa melihat nama kontak panggilan masuk adalah Marvin. Segera ia menjawab panggilan itu.
"Kau dimana?" Marvin memulai percakapan lebih dulu.
"Aku masih di kantor, ada apa?" jawab nya.
"Maaf tidak bisa menemanimu makan siang hari ini." Suara Marvin terdengar lirih.
"Tidak apa-apa, kita masih bisa makan malam bersama bukan?" Mencoba tegar agar Marvin merasa tidak semakin bersalah.
"Hmm, kau memang yang terbaik Killa. Kalau begitu sampai jumpa dirumah, pertemuan nya akan segera dimulai sebentar lagi."
"Bye."
"Bye."
Panggilan pun terputus. Ia menghela nafas dan mengusap wajahnya. Ia merasa perasaan nya pada Marvin semakin besar. Bahkan setiap detik ia selalu merindukan pria dingin itu. Namun dia sadar, dia bukanlah anak kecil. Kenapa harus berpikiran kekanakan seperti itu.
Tap tap tap!
Suara langkah kaki yang terdengar familiar, sekaligus yang sedari tadi ia tunggu. Ia terus memperhatikan langkah Hanna yang berjalan melewatinya menuju pantry dapur.
__ADS_1
"Kena kau," gumam nya sambil menyeringai. Ia pun beranjak dan mengikuti langkah Hanna menuju pantry. Dengan perlahan sambil menoleh kiri dan kanan. Memastikan tidak ada orang.
...🌹 Jangan lupa follow Instagram author : @Muss.prvt🌹...