
Akhirnya Marvin berhasil membujuk Killa untuk wawancara ekslusif mereka. Jadi berita tentang pernikahan mereka berdua akan diekspos keesokan harinya. Seluruh dunia akan tahu bahwa Marvin Louis dan Killa Roses sudah menikah.
Selesai melakukan wawancara. Setelah semua orang pergi. Killa beranjak dari sofa dan hendak berlalu pergi.
"Jika sudah tidak ada lagi yang harus kulakukan, aku permisi! Karena masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan." Ucap Killa dingin sembari melirik arloji ditangan kirinya.
"Tetaplah disini, kita makan siang bersama." Tahan Marvin yang meraih tangan Killa.
Gadis itu menunduk, menatap pria dingin yang memegang tangannya sedang duduk disofa. "Aku masih belum lapar!"
"Duduklah!" Marvin menarik tangan Killa sedikit kuat. Membuat gadis itu terhuyung dan jatuh di pangkuannya.
Keduanya saling bertatapan. Merasakan jantung masing-masing yang berdetak tidak karuan. Kecanggungan pun tercipta.
"Ma-maafkan aku!" Killa tergagap sembari berusaha untuk berdiri.
"Tidak apa-apa, aku yang aalah sudah mena--" Ucapan Marvin terhenti. Ketika Killa yang sudah berhasil berdiri, terpeleset kembali dan jatuh ke pangkuannya untuk yang kedua kali.
Merah seperti buah jambu. Pipi Killa memanas begitu pun Marvin. Pria itu menelan salivanya beberapa kali. Terdiam bersama tidak bergerak dari posisi tersebut.
Tok tok tok!
Cklek!
Tiba-tiba saja pintu diketuk dan masuklah Ken dan Hanna. Sontak keduanya terkejut saat melihat pemandangan yang tidak seharusnya mereka lihat. Hanna langsung memalingkan wajah kebelakang, begitu pun dengan Ken. Sangat menggemaskan asisten setia itu menutup matanya. Karena tak ingin sang Tuan marah.
“Ken!”
Killa dan Marvin langsung gelagapan. Melepaskan diri masing-masing.
"Maafkan saya Tuan, saya dan Nona Hanna akan kembali lagi," Ken gugup karena sadar telah membuat kesalahan yang fatal.
"Tidak perlu Ken! Kau masuklah, aku sudah akan segera pergi juga!" Sahut Killa.
"Tidak! Kau tidak boleh pergi! Kita makan siang bersama disini!" Teriak Marvin tiba-tiba membuat semuanya tersentak kaget.
"Kau dan Hanna masuklah, kita bahas sambil makan siang disini!" Sambungnya kembali dengan salah tingkah.
Cih, apa-apaan sih dia! Aneh sekali! Batin Killa.
Apa aku harus seperti ini? Mempermalukan diriku sendiri didepan orang lain! Batin Marvin.
***
__ADS_1
Mereka berempat pun makan siang bersama didalam kantor Marvin. Sambil membahas tentang pekerjaan.
"Semua setuju jika weekend ini kita akan mengadakan sebuah pesta makan malam bersama! Bagaimana pendapat anda Tuan!" Ucap Hanna meminta pendapat dari Marvin.
Tapi yang di dapatnya bukanlah pendapat. Hanna dibuat terheran-heran dengan sikap Marvin yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Seorang Marvin Louis, yang terkenal dengan sikap dingin dan acuhnya. Bertingkah sangat aneh didepan seorang wanita.
"Makanlah ini! Ini bagus untuk kesehatan mata!"
"Makanlah ini juga, luka diperut mu akan cepat sembuh!"
"Kau harus banyak makan sayur-sayuran, jika ingin sehat!"
"Seharusnya kau lebih perhatian dengan asupan buat tubuhmu sendiri! Makanlah dengan benar!"
"Kunyah dan jangan langsung menelannya, agar pencernaan mu lancar!"
Killa menghela nafas panjang sambil menatap kesal wajah pria yang tengah duduk disebelahnya itu. Pria itu menaruh ini dan itu kedalam mangkuk nasinya. Ingin rasanya Killa memasukan sebuah brokoli kedalam mulut pria itu, agar dia bisa berhenti bicara.
Killa melirik kearah Ken dan Hanna yang juga terdiam menatap Marvin yang begitu cerewet. Killa ingin marah pada Marvin. Namun diurungkan niatnya itu karena diruangan itu juga ada Ken dan Hanna. Akhirnya mau tidak mau Killa memakan semua makanan yang ada di mangkuk nasinya.
Uhuk uhuk uhuk!
Killa tersedak karena terlalu memaksakan semua makanan masuk kedalam mulutnya.
"Kau yakin kau membelinya sendiri?" Tanya Killa tak percaya.
"Aku membelinya sendiri," ucap Marvin dengan percaya dirinya.
Aku yang membelinya Tuan, percaya atau tidak! Saya rasa anda mencoba untuk merebut kembali hati Nona Killa! Semangat Tuan! Batin Ken.
Selesai makan siang. Marvin masih belum mengizinkan Killa pergi.
"Tetaplah disini, kau tidak usah melanjutkan pekerjaanmu!" Ucap Marvin seraya membaca helaian kertas ditangannya.
"Kau selalu saja seenaknya Marvin Louis!" Decak Killa kesal.
"Kenapa kau marah? Apa kau kesal karena tidak bisa bertemu dengan Smile Prince itu?" Sahut Marvin ketus.
"Smile Prince? Maksudmu ketua tim June?" Mata Killa menyipit menatap Marvin. Lalu dia merampas kertas ditangan Marvin dan menghempaskan nya diatas meja. Membuat Ken dan Hanna terkejut.
"Kau selalu peka jika menyangkut dirinya! Aku heran sekali padamu Nyonya Louis!" Ucap Marvin terdengar menyindir.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Louis, aku yang heran dengan sikap kekanakan mu ini! Tuan pria dingin!" Killa memalingkan wajahnya dan melipat tangan didada.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak boleh memanggilmu dengan sebutan itu? Apa kau tidak senang sudah aku jadikan istri?" Marvin membalikan tubuh Killa menghadap dirinya.
"Cih! Apa kau lupa? Kau yang memaksaku menikah?"
"Apa maksudmu? Jadi kau benar-benar tidak senang memiliki suami seperti ku? Yang penyayang dan penuh perhatian ini!"
"Kau? Penyayang dan perhatian? Hahaha," Killa tergelak.
Marvin mengerinyit kan dahinya. "Kenapa kau tertawa?"
"Jelaslah aku tertawa, perkataan mu sangatlah lucu! Yang ada kau itu tukang pemarah! Sedikit-sedikit marah, tanpa sebab jelas! Dan tidak mau mengerti perasaan ku!"
Hanna menyikut lengan Ken. Lalu menatap Kem dengan mata melotot. Seakan meminta jawaban atas pertunjukan petir dengan awan badai dihadapannya itu. Ken hanya menjawab dengan kepala yang menggeleng.
"Kau tahu banyak wanita diluar sana yang menginginkan berada diposisi mu, sebagai Nyonya Louis! Tapi kau malah tidak senang!" Ucap Marvin.
Killa yang mendengarnya serasa ubun-ubun nya terbakar. Telinganya panas. "Yasudah, kalau begitu minta para wanita itu yabg menjadi istrimu! Aku pergi!"
Killa beranjak dan hendak pergi. Marvin tersentak dan sadar akan perkataannya. Dia langsung berlari mengejar Killa yang sudah hampir sampai di pintu. Dari belakang dia langsung memeluk gadis itu.
"Maafkan aku!" Lirihnya sembari mengeratkan pelukannya. Seakan tidak mengizinkan Killa pergi.
Ken dan Hanna dibuat terkejut, keduanya menganga dan menelan saliva masing-masing. Melihat Marvin yang seperti itu.
Tuan, aku benar-benar yakin! Jika Nona Killa sudah mencairkan hati mu yang sedingin es! Batin Ken.
Apa-apaan ini! Tuan Marvin, kenapa kau seperti ini! Apakah kau sadar jika disini ada orang lain selain kalian berdua! Aku bisa mati kepanasan jika mereka terus seperti ini! Batin Hanna.
"Lepaskan aku! Kau bilang banyak wanita yang menginginkan posisi ku sebagai istri seorang Marvin Louis! Kalau begitu biarkan aku pergi!" Ucap Killa.
"Tidak gadis bodoh! Aku salah, aku minta maaf padamu! Aku minta maaf! Jangan pergi, jangan pergi tinggalkan aku!" Ucap Marvin dengan suara yang bergetar. Dia meneteskan air mata.
"Ken pergilah, tinggalkan kami berdua!" Sambungnya memerintahkan Ken dan Hanna untuk pergi.
"Baik Tuan! Mari Nona Hanna!"
Ken dan Hanna pun keluar dari ruangan kantor Marvin. Diluar ruangan Hanna berdecak kesal. Berkali-kali ia mengusap wajah dan menghela nafas dengan kasar.
"Ada apa Nona Hanna? Kenapa wajahmu merah seperti itu!" Tanya Ken dengan nada menyindir. Dia tahu jika saat ini Hanna pasti sedang terbakar api cemburu. Melihat Marvin dan juga Killa.
"Bukan urusanmu!" Sahut Hanna ketus sembari melenggang pergi dengan dada yang berapi-api.
Ken pun tergelak menatap kepergian Hanna.
__ADS_1
...🌹Jangan lupa like 🌹...