
Semua pandangan mata tertuju pada Killa dan Marvin. Ketika mereka berdua baru saja memasuki pintu masuk. Seluruh wartawan juga tidak mau terlewatkan momen berharga itu. Mereka mengambil gambar Killa dan juga Marvin yang sedang berjalan berdampingan.
Dari kejauhan Marvin tak sengaja menangkap pemandangan yang dia rasa kurang enak. Saat melihat Justin tak berhenti menatap ke arah istrinya. Tentu saja Marvin tidak terima, ia pun menghampiri pria tersebut. Karena meja mereka jadi satu.
"Selamat malam Tuan Justin," sapa Marvin pada Justin.
"Malam Tuan Marvin," sapa Justin balik dengan tersenyum.
Namun tiba-tiba saja tangannya terulur tepat didepan Killa. Justin menyeringai penuh arti sambil berkata, " Lama tidak berjumpa Nona Killa."
Dasar brengsek sialan, persetan dengan senyuman licik mu itu! Batin Killa.
Killa menoleh menatap wajah suaminya yang ternyata juga sedang menatap dirinya. Marvin mengangguk kan kepalanya, isyarat bahwa dia mengizinkan Killa untuk menerima jabatan tangan Justin.
Dengan hati yang masih ragu Killa meraih tangan Justin. Mereka berdua saling berjabatan. Tersenyum dengan isi pikiran masing-masing.
Rasanya masih sama Killa, apa kah kau sudah benar-benar melupakan kenangan kita? Batin Justin.
Aku sangat membencimu Justin, enyah lah dari hidupku! Batin Killa.
__ADS_1
Si brengsek ini sungguh tidak tahu diri. Apa dia tidak bisa menghargai aku yang sekarang disini sebagai suami Killa. Matanya tak berhenti menatap gadisku! Batin Marvin.
Kakak ipar sudah terbakar api cemburu! Batin Naya.
Aku rasa pesta ini akan sedingin di Kutub Utara, sama seperti waktu di restauran! Batin Ken.
"Marvin," sapa seseorang yang baru saja datang.
Lamunan semua orang seketika buyar dan menoleh bersamaan ke arah sumber suara.
"Ayah," ucap Marvin saat mendapati Ayah Kevin tengah berdiri dibelakangnya bersama dengan Gavin dan Reghata.
"Jadilah anak yang baik," ucapnya tersenyum.
Deg!
Naya terkejut mendapat perlakuan hangat dari orang asing yang belum pernah dia temui. Tidak pernah dia merasakan seperti sekarang ini. Sosok ayah dalam diri Kevin, membuatnya ingin menangis. Naya sangat merindukan, bahkan sangat menginginkan sosok ayah dalam hidupnya. Karena dari kecil dia tidak pernah mendapat kasih sayang orang tua.
"Terima kasih paman," ucap Naya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kenapa kau memanggilku paman, panggil aku ayah. Karena ayahmu adalah orang yang berjasa dia banyak membantuku. Kakak mu juga sudah menjadi menantuku, kau boleh memanggilku sama seperti dia memanggilku."
"Benarkah paman, tidak maksudku ayah."
Naya benar-benar tidak percaya bertemu dengan seseorang yang baru bertemu sudah sangat hangat memperlakukan nya. Tidak salah dia merestui hubungan Killa dan Juga Marvin. Karena Marvin sendiri memiliki keluarga yang hangat, mereka tidak memandang orang lain dari segi apapun.
"Kemari lah," ucap Ayah Kevin seraya merentangkan tangan nya.
Naya pun segera menghambur memeluk Ayah Kevin. Betapa hangat dan penuh kasih sayang pelukan nya. Membuat Naya begitu bahagia, akhirnya dia memiliki seseorang yang bisa dia panggil dengan sebutan 'ayah'.
Killa yang melihat sang adik begitu emosional. Tanpa sadar meneteskan air mata. Perasaan nya campur aduk. Killa bahagia melihat Kevin bisa memperlakukan adiknya dengan baik. Namun dia juga merasa sangat sedih dan bersalah, karena selama delapan belas tahun ini membuat sang adik hidup tanpa kasih sayang orang tua.
"Kenapa kau menangis, berhentilah mengeluarkan air mata. Jika dia melihatmu seperti itu, dia pasti akan menertawakan mu habis-habisan," bisik Marvin di telinga Killa. Sembari tangannya menunjuk ke arah Naya.
Killa pun tersenyum dan langsung mengusap air matanya. Dia pun menyandarkan kepalanya di pundak Marvin. Pria dingin itu selalu bisa membuatnya tersenyum.
Sedangkan disisi lain. Marvin tersenyum penuh kemenangan seraya melirik sinis Justin. Aku adalah pemenangnya, dan kau yang harus mundur!
...🌹Jangan lupa like🌹...
__ADS_1