Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 106 : Jangan lupa vote, pliss


__ADS_3

Mamah Anna mengajak Killa dan Marvin untuk makan siang bersama. Karena sudah lama sekali Mamah Anna tidak membuatkan makanan untuk anak kesayangannya itu.


"Mamah juga mengajak Gavin dan juga Reghata ikut makan siang bareng disini! Tapi ayahmu tidak bisa datang, dia masih banyak urusan yang mesti dilakukan!" Ucap Mamah Anna pada Marvin. Tapi hanya dibalas dengan sebuah deheman oleh pria dingin itu.


Cih! Dia sangat cuek, bahkan kepada orang tuanya! Dia adalah pria yang sangat membingungkan ku! Batin Killa.


"Marvin panggilkan Papah Arsen untuk membantu menyiapkan meja makan kita di teras belakang!" Teriak Mamah Anna pada Marvin yang sibuk dengan ponselnya.


"Kenapa tidak memanggilnya sendiri? Aku sangat sibuk!" Sahut Marvin dingin dan ketus. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nya dengan kasar.


Aku tidak mau bertemu dengannya! Apalagi harus menyapanya! Batin Marvin memikirkan sosok Papah Arsen.


Killa yang melihat sikap Marvin yang tiba-tiba dingin itu merasa ada yang aneh. Wajahnya ditekuk dan menatap tajam layar ponsel. Bahkan perkataanya juga sangat ketus. Ada apa sebenarnya?


"Killa! Tidak apa-apa sayang! Tidak perlu memperdulikan sikap Marvin! Dia memang seperti itu! Dia tidak pernah akur dengan Papah Arsen!" Ucap Mamah Anna sembari menyentuh pundak Killa yang bengong menatap Marvin.


Kini posisinya Killa tengah membantu Mamah Anna memotong-motong sayuran untuk dimasak. Dari balik pantry Killa bisa melihat dengan jelas Marvin yang tengah duduk dikursi di ruang makan.


"Tapi kenapa?" Tanya Killa penasaran. Mamah Anna tak menjawab dan hanya tersenyum.


"Kau akan tahu secepatnya alasan pria dingin itu seperti ini!" Ucap Mamah Anna yang kembali berkutat dengan alat masak nya.


Ada apa sebenarnya denganmu Marvin? Batin Killa. Menatap sendu Marvin dari kejauhan dengan tangan yang masih sibuk memotong sayuran. Sampai pada akhirnya, karena kurangnya kefokusan. Jari tangan Killa tak sengaja tersayat pisau yang sangat tajam itu.


"Awwh, Shit!" Pekiknya pelan sembari memegangi jarinya yang berdarah itu.


"Kau bisa bekerja dengan benar tidak?"


Entah dari kapan Marvin sudah ada di samping Killa. Pria itu nampak sangat marah. Diraihnya tangan kiri Killa yang jarinya berdarah. Lalu mengeluarkan sapu tangan dan melilitkannya dijari Killa yang berdarah.


"Dasar gadis bodoh! Kau itu bisanya apa sih? Memotong ini saja kau sampai melukai jarimu? Bagaimana jika kau harus memotong sebuah daging? Apa kau akan memotong tanganmu sendiri?" Marvin memarahi Killa dengan kata-katanya yang ketus dan kasar.


"Yah, aku tidak sengaja! Aku tidak tahu akan jadi seperti ini! Kenapa kau jadi marah-marah padaku? Marah saja pada pisaunya!" Killa marah balik pada Marvin. Karena tidak terima mendapat omelan ketus dari Marvin.


"Kau menyuruhku untuk menjadi orang gila? Berbicara dan memarahi pisau, kau sudah tidak waras! Dasar bodoh! Kau harus banyak-banyak meminum suplemen bergizi! Biar otakmu itu bisa pintar dan berjalan dengan baik!" Masih dengan omelannya, Marvin mencuci tangan Killa diair dingin keran wastafel.


"Kau itu tidak bisa apa, tidak mengeluarkan kata-kata kasar! Aku sangat membencimu Marvin Louis!" Sahut Killa.

__ADS_1


"Terserah! Memang kau adalah gadis bodoh! Mau terima apa tidak, itu tidak akan mengubah apapun! Bagiku kau adalah gadis paling bodoh yang pernah ku kenal!"


"Cihh! Kau bahkan tidak pernah dekat dengan gadis manapun! Tidak usah bangga hati!"


"Kau! Tutup mulutmu itu! Apa kau mau terus membantahku?" Marvin menunjuk bibir Killa.


Keduanya saling menatap dengan tajam. Bertengkar karena jari yang berdarah. Mereka berdua melupakan jika disana mereka tidak sendirian. Tapi ada Mamah Anna yang memperhatikan mereka bertengkar. Seperti menonton film kartun Tom and Jerry. Tidak pernah akur sama sekali.


"Eehhm!" Mamah Anna berdehem. Untuk menyadarkan sepasang suami istri itu.


Keduanya sama-sama terkejut dan menoleh. Killa langsung menarik tangannya dari Marvin lalu berjalan pergi.


"Maaf Mamah Anna! Killa tidak seharusnya membiarkan Mamah Anna melihat pertengkaran ini! Hanya saja pria dingin itu selalu saja mengajakku ribut!" Ucap Killa saat melewati Mamah Anna dan segera pergi.


"Killa!" Lirih Mamah Anna menatap kepergian gadis itu yang keluar keteras belakang.


Mamah Anna mengedar menatap Marvin. Pria itu menunduk menatap air keran wastafel yang masih menyala. Kemudian dia mengusap wajah dengan kasar. Frustasi dengan sikapnya yang terlalu berlebihan kepada Killa.


"Marvin sayang!" Mamah Anna menghampiri Marvin dan menyentuh pundaknya.


"Mamah tau kau sebenarnya tidak bermaksud untuk berkata kasar terhadap Killa! Tapi sayang, Mamah rasa Killa telah salah paham!" Lanjut Mamah Anna, sembari memutar tubuh Marvin menghadap dirinya. Lalu diusapnya peluh yang membasahi kening Marvin dengan lembut.


"Marvin kau tidak boleh seperti itu! Kau harus mengatakan yang sebenarnya jika kau perduli dan cemas terhadapnya! Mamah yakin Killa juga pasti akan mengerti! Diantara kalian jika sedang bertengkar, harus ada yang mengalah! Mengalah bukan berarti kau kalah sayang, tapi jika kau mengalah demi kebaikan! Kau tidak akan menyesalinya Marvin! Pergilah kejar dia!" Jelas Mamah Anna penuh dengan keyakinan. Ia berharap anak kesayangannya itu akan mengerti.


"Hmm!" Marvin menunduk ragu-ragu untuk pergi mengejar Killa. Baginya harga diri adalah nomor satu. Tapi disisi lain dia juga tidak mau Killa marah terus-menerus padanya.


Akkhh! Apa yang harus aku lakukan? Killa kau selalu membuatku frustasi seperti ini! Batin Marvin berteriak.


"Marvin! Pergilah sayang! Penyesalan akan sangat menyakitkan nak!" Ucap Mamah Anna meyakinkan Marvin agar hatinya terbuka.


"Tapi siapa yang akan membantu Mamah Anna, jika Marvin pergi mengejar gadis bodoh itu!" Ucap Marvin mencari alasan agar tidak dipaksa pergi oleh Mamah Anna.


Namun tiba-tiba saja dari arah ruang tamu, terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Sontak keduanya sama-sama menoleh kearah sumber suara.


"Papah Arsen akan membantu Mamah Anna! Pergilah Marvin, kejar istrimu!" Ucap pria paruh baya dengan senyuman tulus.


Bukannya membalas tersenyum. Marvin malah menghela nafas kasar dan memalingkan wajah. "Marvin pergi mencari Killa!"

__ADS_1


Tanpa pamit Marvin langsung berlari keluar rumah dari teras belakang. Mengikuti nanar kepergian gadis yang dicintainya itu.


"Maaf yah An, aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku!" Ucap Papah Arsen kepada Mamah Anna. Sembari mendekatinya dan memeluk istrinya itu dengan hangat.


"Tidak apa-apa Ars, hanya saja aku sangat sedih! Jika melihat sikap Marvin yang terus-menerus dingin terhadapmu! Dia selalu menatapmu dengan penuh kebencian seperti itu!" Tanpa sadar Mamah Anna meneteskan air matanya.


"Hei An! Anna! Lihatlah aku!" Papah Arsen meraih dagu Mamah Anna dan menegakkan kepalanya. Mengusap air mata itu menggunakan punggung tangan. Mamah Anna menangis terus menerus, air matanya tak mau berhenti.


"Aku tidak apa-apa! Pasti akan ada saatnya dia berubah An! Ini semua juga karena kesalahanku waktu dulu! Aku mengerti dan sangat mengerti bagaimana perasaan Marvin! Akan sangat sulit untuk memaafkan orang yang sudah membunuh ibunya sendiri!" Ucap Papah Arsen tersenyum meskipun dibalik senyuman itu terdapat kesedihan yang mendalam.


"Tapi Ars, itu sudah lama berlalu! Seharusnya Marvin sudah mau mema---"


"Husshhh!" Papah Arsen menghentikan ucapan Mamah Anna. Lalu menggelengkan kepalanya. "Sudah jangan membahas itu lagi, anakmu yang satunya sudah berada diluar bersama istrinya! Apa kau mau dia melihatmu menangis seperti ini!"


"Benarkah? Apa Gavin dan Reghata sudah datang?" Ucap Mamah Anna terkejut. Papah Arsen mengangguk.


Sedetik kemudian masuklah Gavin dan Reghata sambil bergandengan tangan menghampiri mereka.


"Mamah, Papah Arsen? Ada apa ini? Kenapa Mamah menangis?" Ucap Gavin yang terkejut melihat Mamahnya menangis.


"Tidak sayang, Mamah tidak menangis! Hanya kelilipan saat memasak!" Ucap Mamah Anna beralasan. Dia tidak ingin Gavin tahu jika dia menangis karena sikap Marvin yang dingin terhadap Papah Arsen.


"Benarkah?" Gavin seperti tidak percaya.


"Benar sayang! Kamu tidak usah khawatir yah!" Ucap Mamah Anna meyakinkan sang anak.


"Gavin, apa kabar?" Ucap Papah Arsen sembari menghampiri Gavin, berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Baik Pah!" Sahut Gavin singkat dengan pandangan yang masih tertuju pada sang Mamah.


"Vin, aku bantu Mamah masak yah!" Ucap Reghata pada sang suami. Gavin mengangguk Reghata pun menghampiri Mamah Anna untuk membantunya memasak.


"Kalau begitu Gavin, kau bantu Papah untuk menyiapkan meja dan perlengkapan makan nya yah!" Ucap Papah Arsen mengajak Gavin untuk mempersiapkan semuanya.


"Hmm, baiklah Pah!" Ucap Gavin mengikuti langkah Papah Arsen. Tapi sesekali dia terus menatap kearah Mamah Anna. Masih penasaran penyebab sang Mamah menangis.


Aku tahu pasti karena Marvin! Kasihan Mamah dan Papah Arsen! Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Marvin! Dia adalah orang yang paling tersakiti disini! Aku tidak bisa berbuat apa-apa! Batin Gavin.

__ADS_1


🌹Jangan lupa vote mumpung masih hari selasa guys🎉🌹



__ADS_2