Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 112 : Rumah sakit.


__ADS_3

Tiba-tiba saja diperjalanan, hujan turun dengan sangat deras. Supir melajukan mobil dengan kecepatan sedang agar lebih berhati-hati dan tentunya selamat sampai rumah utama.


Killa terbangun, matanya mengerjap beberapa kali. Dia terkejut ketika mengedar ke sebelah kanan. Mendapati wajah Marvin yang sangat dekat dengan wajahnya. Sontak Killa langsung menarik kepalanya dari pundak kiri Marvin.


"Maaf! Apa aku ketiduran?" Ucap Killa gelagapan dan gugup, karena sudah tertidur dipundak kiri Marvin.


"Hmm!" Jawab Marvin singkat hanya dengan deheman.


"Hujannya sangat deras, apa masih jauh perjalanan kita?" Tanya Killa sembari menatap keluar jendela.


"Ada apa?" Tanya Marvin balik, ia menoleh menatap gadis itu.


"Tidak apa!" Sahutnya singkat.


"Katakan!" Ucap Marvin dengan tatapan tajamnya.


"Ada apa denganmu? Santai saja! Aku hanya bertanya, karena perutku sakit!" Ucap Killa dengan kesal, karena Marvin menatap nya tajam.


"Oh! Kau sakit perut karena ingin ke toilet lagi, seperti waktu itu? Kau sangat jorok!" Marvin tersenyum miring meledek.


"Tidak, kali ini berbeda! Entah kenapa perutku terasa sakit!" Ucap Killa wajahnya pucat seperti menahan sakit.


Mendengar perkataan Killa Marvin langsung menoleh dan menatap wajah gadis itu dengan lekat. Dia sangat pucat, apa dia benar-benar merasa sakit? Tidak biasanya dia mengeluh seperti ini! Batin Marvin.


"Kalau begitu kita kerumah sakit sekarang!" Ucap Marvin sembari memegangi perut Killa. Raut wajah pria itu nampak sekali jika dia sedang khawatir dan cemas.


Karena sudah merasa tidak kuat lagi. Killa pun mengangguk dengan lemah. Ia menuruti perkataan Marvin, meskipun dirinya tidak pernah suka berada dirumah sakit.


"Putar balik, cepat antar kami kerumah sakit terdekat!" Titah Marvin kepada sang supir. Supir pun dengan sigap dan tanggap, langsung memutar haluan menuju rumah sakit terdekat.


Sesampainya dirumah sakit. Marvin langsung menggendong Killa menuju ruang Unit Gawat Darurat. Dokter dan beberapa perawat dengan tanggap, langsung memeriksa keadaan Killa.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Marvin pada Dokter yang sedang memeriksa keadaan Killa.


"Luka yang ada diperut Nona Killa harus mendapat perawatan yang lebih! Karena sayatan nya terbuka kembali! Selebihnya tidak ada yang serius! Tapi saran saya agar Nona Killa mendapat perawatan intensif di rumah sakit dalam beberapa hari!" Jelas sang Dokter.


"Aku tidak ma---" Sahut Killa yang terhenti, ketika Marvin memotongnya.


"Baiklah, saya mau perawatan yang terbaik untuk istri saya!" Ucap Marvin.


"Kalau begitu saya akan memberikan obat penahan rasa sakit sementara! Selagi kami menyiapkan ruangan operasi untuk Nona Killa!" Ucap Dokter.


"Ruang operasi? Untuk apa?" Tanya Killa bingung. Dengan wajah pucat pasi, karena menahan sakit yang sangat-sangat.


"Luka diperut Nona Killa, harus segera dijahit dengan benar! Jika tidak luka itu tidak akan pernah sembuh, karena diameternya sangat dalam dan lebar!" Jawab Dokter.


"Baik Dok, anda boleh pergi!" Marvin mempersilahkan dokter itu pergi. Karena dia tidak mau menunda operasi tersebut lebih lama. Karena Killa akan merasa sakit terlalu lama nantinya.

__ADS_1


"Kau itu terlalu bising! Turuti saja perintah dokter! Karena itu untuk kebaikanmu juga!" Ucap Marvin pada Killa.


"Hmm , iya aku tau! Tak usah mengomel!" Gerutu Killa dengan wajah sinis menatap Marvin.


"Kau ini! Dasar tukang bantah!" Ucap Marvin sembari duduk di kursi yang ada disebelah tempat tidur rumah sakit tempat Killa berbaring.


Tidak lama kemudian Dokter tadi kembali datang. Ia menyuntikan obat penahan rasa sakit kepada Killa dan memasang selang infus ditangan kiri gadis itu. Kemudian segera membawa Killa masuk kedalam ruang operasi. Tak menunggu lama hanya sekitar satu jam, Killa telah selesai diobati. Kini dia sudah berada di dalam kamar VVIP 001 dirumah sakit itu. Dia masih terlelap karena obat bius yang disuntikkan padanya.


Ketika terbangun. Dia tidak menemukan seseorang pun didalam kamar tempat dia berada. Lampu ruangan gelap, pencahayaannya sangat minim. Karena sengaja dimatikan, hanya lampu kecil berwarna kuning yang berada diatas tempat tidur yang menyala.


"Dimana pria dingin itu? Kenapa dia meninggalkan ku sendirian sih? Tega sekali dia!" Gerutu Killa sembari menatap kearah pintu. Berharap ada seseorang yang datang untuk menemaninya. Meskipun dia lebih berharap jika yang datang adalah Marvin.


***


Diluar ruangan VVIP 001. Marvin tengah berbicara dengan seorang pria paruh baya, yang mengenakan setelan jas putih panjang lengkap dengan kaca mata. Di Id Card yang menggantung dipakaiannya tertulis Tara Louis. Ia adalah kepala pemilik rumah sakit tersebut. Dia Paman Marvin, adik kandung Ayah Kevin.


Setelah berbincang mengenai Killa dan mengenai sesuatu yang penting tentang dirinya. Marvin segera berpamitan dengan sopan. Ia membungkuk lalu pergi meninggalkan Pamannya itu. Masuk kedalam kamar tempat Killa berada.


Cklek!


Pintu terbuka, masuklah Marvin dengan membawa bungkusan ditangan kirinya. Ia pun berjalan menghampiri gadis yang tadi dia lihat sudah membuka mata. Namun ketika dia masuk gadis itu berpura-pura menutup mata dan kembali tidur.


Sunggingan senyuman tercipta, Marvin tidak bisa menahan senyumannya. Melihat tingkah Killa yang menurutnya sangat lucu.


"Sepertinya dia sudah tertidur! Apakah sebaiknya aku buang saja makanan ini? Sayang sekali!" Ucapnya dengan pelan seraya tersenyum. Dia sedang menjebak Killa agar bangun dari pura-pura tidurnya. Marvin tahu jika saat ini Killa pasti sangat lapar, karena belum makan malam.


"Jangan pergi!" Teriak Killa yang langsung membuka mata dan menoleh kearah Marvin. "Kau, membohongiku!" Lanjutnya cemberut.


"Makanlah dulu, aku tahu kau pasti lapar!" Ucap Marvin memberikan bungkusan yang dia bawa tadi.


"Ini apa?" Tanya Killa.


"Roti! Makanlah yang ada, diluar hujan sangat deras! Aku tak tega meminta supir untuk membelikan makanan ditempat lain!" Ucap Marvin.


"Ohh, pria dingin aku tak menyangka kau miliki hati yang begitu besar!" Ucap Killa. Tangannya terulur meraih pipi Marvin lalu mencubitnya.


Mendengar pujian dari Killa, sontak membuat wajah Marvin memerah. Tersipu karena malu. "Lepaskan tanganmu!"


Marvin menepis tangan Killa. "Cih, dasar pria dingin dan kaku! Kau tidak bisa diajak bercanda!" Gerutu Killa sembari memutar bola matanya.


"Makanlah cepat!" Sahut Marvin ketus. Mencoba memperbaiki posisi duduknya dan memegangi pipinya yang dicubit oleh Killa.


"Iya aku tahu!" Killa pun membuka bungkusan tadi dan langsung memakan roti tersebut. Karena perutnya yang memang sedari tadi sedang mengamuk, meminta makanan. Dengan lahapnya Killa menghabiskan semua roti itu. Tanpa meninggalkan satu pun.


"Oh iya! Bagaimana dengan kabar Naya? Aku belum sempat menghubunginya! Apa kau sudah menghubungi Ken! Dia sekarang adalah adikmu, kau harus lebih perduli padanya juga!" Ucap Killa tidak jelas, karena sambil mengunyah roti.


"Iya iya cerewet! Aku tahu, tanpa kau mengatakannya! Aku sudah menghubungi Ken dan menanyakan kabar Naya! Dia baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir!" Ucap Marvin sembari membukakan tutup botol air mineral dan memberikannya pada Killa.

__ADS_1


"Bagus,!" Sahutnya singkat sambil meneguk air.


"Istirahatlah! Mungkin besok kau sudah bisa pulang!" Ucap Marvin seraya beranjak dan hendak berjalan menuju sofa yang terdapat didalam kamar tersebut.


Namun tiba-tiba saja, langkahnya terhenti. Marvin kembali berbalik badan menghadap Killa. Gadis itu mengerinyit tidak paham dengan tatapannya. "Ada apa?"


"Tempat tidurmu, sengaja dipilihkan yang lebar dan besar oleh pihak rumah sakit!" Ucap Marvin.


"Terus kenapa?" Tanya Killa yang masih tidak paham.


"Itu berarti aku akan tidur bersama mu disana!" Ucap Marvin tersenyum.


"Tidak!" Teriak Killa.


"Kenapa, apa kau mau jika ada keluargaku yang melihat kita tidur terpisah, sangat aneh? Karena sudah disiapkan tempat tidur dengan ukuran besar seperti ini!" Tanya Marvin langkahnya terhenti.


"Aku sedang sakit, aku tidak mau kau ikutan sakit!" Ucap Killa beralasan, agar Marvin tidak tidur diatas tempat tidur bersamanya.


"Memangnya kau sakit apa? Apa kau sakit menular? Tidak bukan! Jadi berhenti mencari alasan!" Ucap Marvin dengan tegas, ia pun segera naik keatas tempat tidur dengan perlahan.


Suasana tiba-tiba menjadi tegang. Keduanya tenggelam dalam keheningan, sama-sama menatap kearah langit-langit kamar.


"Vin!" Panggil Killa pelan.


"Hmm, ada apa?" Jawab Marvin menoleh sekilas.


"Sebenarnya aku ingin memberitahumu sesuatu!" Ucap Killa sedikit ragu-ragu.


"Besok kita bicara lagi, hari ini cukup sampai disini! Kau harus beristirahat, agar lebih cepat pulih! Besok ketika kita pulang kerumah ayah, aku akan mendengarkan semua yang ingin kau katakan padaku!" Ucap Marvin sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


"Baiklah! Apa kau sudah mau tidur?" Tanya Killa yang kini tengah memiringkan tubuh ke kanan menghadap Marvin.


Pria itu pun juga memiringkan tubuhnya ke arah kiri menghadap Killa. Keduanya saling bertatapan lama.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau mau bercinta lebih dulu denganku, baru bisa tertidur?" Marvin tersenyum nakal menggoda Killa.


"Dasar mesum! Siapa yang ingin bercinta denganmu, jangan terlalu percaya diri!" Desis Killa sembari memutar bola matanya malas.


"Ckckck!" Marvin tergelak, melihat raut wajah gadis itu. "Aku hanya bercanda, tidurlah!"


Killa tak mau mendengar ucapan Marvin dia memilih menutup matanya. Karena melihat wajah dingin pria itu membuatnya kesal. Terlebih perkataannya yang tidak pernah baik.


Akan tetapi, tiba-tiba saja Killa merasa sesuatu yang basah dan hangat menyentuh keningnya. Sontak Killa langsung membuka kembali matanya. Ternyata Marvin tengah mengecup keningnya. Jantung Killa berdegup sangat kencang seiring dengan wajahnya yang mulai memerah. Tanpa sadar ia memegangi bekas kecupan hangat itu.


"Ini ciuman selamat malam dariku, agar kau cepat pulih besok pagi! Tidurlah yang nyenyak gadis bodoh!" Ucap Marvin tersenyum dan mengusap lembut pucuk kepala Killa.


Tampan! Senyuman mu sangat indah! Hanya saja, sayang sekali senyuman indah itu tersembunyi dibalik sikap dingin dan kaku mu itu! Aku merasa sekarang kau lebih banyak tersenyum padaku! Entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa diriku juga mulai berubah! Berada didekat mu dan menghabiskan setiap saat bersamamu, menghilangkan sedikit demi sedikit beban hati dan pikiran ku Marvin! Terkadang aku sering berpikir, apakah kita dipertemukan karena takdir? Orang tua kita ternyata saling mengenal dekat, dan aku juga merasa nasib kita hampir tidak jauh berbeda! Sejak kecil kita sama-sama merasa kesepian, dan diam-diam menanggung rasa pedih yang teramat dalam! Aku berharap kau akan selalu diberi kebahagiaan Marvin! Batin Killa.

__ADS_1


__ADS_2