
Tak terasa beberapa hari sudah berlalu. Semakin hari Marvin dan Killa semakin dekat. Perasaan cinta mereka pun juga semakin kuat. Sekuat apapun badai yang akan menerpa dan mencoba menggoyahkan cinta mereka, tidak akan mempan.
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Tapi kedua insan itu masih enggan untuk bangun dari mimpinya masing-masing. Hari ini Marvin dan Killa tidak berangkat bekerja. Dari pagi hingga siang, mereka hanya melakukan aktifitas di dalam rumah. Memasak, menonton tv, dan bersih-bersih mereka lakukan bersama. Betapa harmonisnya mereka berdua. Karena begitu kelelahan, mereka pun tertidur disofa depan tv.
"Kakak, kakak ipar." Naya menepuk-nepuk pundak sang kakak.
"Hmm." Killa hanya menggeliat dan mengerjapkan mata sekejap, lalu kembali tidur. Membuat Naya berdecak kesal.
"Kakak ipar," panggil Naya pada kakak iparnya. Paling tidak jika sang kakak tidak mau mendengar, dia harus membangunkan kakak iparnya juga.
Naya menepuk-nepuk juga pundak Marvin. Benar saja, setelah beberapa kali tepukan di pundaknya. Marvin pun bangun dan duduk sambil mengusap wajah nya.
"Kakak ipar, ini sudah jam tujuh. Bagaimana bisa kalian masih tidur," ucap Naya memperlihatkan jam di dinding pada Marvin.
"Ada apa denganmu? Cerewet sekali, pagi-pagi sudah teriak-teriak membangunkan ku." Matanya menutup sebelah menatap jam dinding yang menunjukan pukul tujuh.
"Dasar bodoh, kalian berdua sangat cocok. Sama-sama bodohnya kelewatan." Naya mendengus kesal.
__ADS_1
"Hei, anak kecil. Kau harus sopan jika berbicara pada orang yang lebih tua." Marvin menatap tajam ke arah Naya.
"Cih, bagiku kalian berdua tidak lebih tua dari ku. Karena tingkah kalian berdua seperti anak kecil."
"Apa kau bilang, kau yang anak kecil. Jangan mengatai ku anak kecil atau kau mau uang saku mu aku potong."
"Cih, lagi-lagi ancaman basi. Dasar kekanakan sedikit-sedikit mengancam."
Naya terus berdecih dan memutar bola matanya. Marvin yang tidak terima pun segera beranjak dan berdiri di depan Naya sambil berkacak pinggang. Naya tertawa pelan, melihat keadaan kakak iparnya itu yang berantakan. Pakaiannya, rambutnya, dan wajahnya kusut seperti baju yang belum di setrika.
"Akhhh, ada apa sih pagi-pagi sudah ribut saja. Tidak bisa membuat ku tidur dengan tenang."
"Yaa, kenapa kau malah tertawa? Dasar anak kecil tidak sopan," ucap Killa dengan raut wajah masam dan dahi yang mengkerut.
"Huft, sudah lah! Tidak akan ada habisnya jika berdebat dengan pasangan aneh seperti kalian. Aku hanya mau mengingatkan, jika sudah jam tujuh malam. Apa kalian tetap tidak mau bersiap-siap karena pesta makan malam akan segera di mulai."
Setelah berucap Naya pun langsung berjalan meninggalkan Killa dan Marvin. Karena jika dia terus berlama-lama bersama sepasang suami istri yang sama-sama memiliki sifat keras itu. Bisa-bisa dia naik darah.
__ADS_1
Sedangkan Marvin dan Killa, saat mendengar perkataan Naya. Keduanya langsung terlonjak kaget dan bersamaan memegangi kepala. Hampir saja mereka melupakan pesta makan malam penting itu. Yang sudah direncanakan sejak beberapa hari lalu.
Pesta makan malam untuk merayakan kerja sama antara Marvin dan Justin. Semua pemegang saham dan para petinggi semuanya juga hadir. Begitu pun dengan Ayah Kevin yang datang jauh-jauh dari Beijing. Hanya untuk acara pesta makan malam itu. Dia datang bersama dengan Gavin dan Reghata. Mungkin sekarang mereka sudah berada di Function Hall hotel yang akan menjadi tempat pesta tersebut dilangsungkan.
Killa dan Marvin pun berlari dengan panik ke dalam kamar mereka. Keduanya bersamaan hendak masuk kedalam kamar mandi. Mereka pun terdiam saling menatap.
"Lady First!" ucap Killa.
"No, I'm the Bos." sahut Marvin dengan percaya diri.
"Dasar keras kepala," dengus Killa sangat kesal. Ia pun memilih untuk mengalah. Membiarkan Marvin masuk terlebih dulu. Killa menunggu dengan duduk diatas tempat tidur sambil memainkan ponsel.
Marvin tersenyum dengan lebar, merasa sudah memenangkan perdebatan kali ini. Ia pun segera masuk kedalam kamar mandi dan bersiap-siap terlebih dulu.
...🌹 Slow update 🙏🏻🙏🏻, mohon pengertiannya 🌹...
Bonus.
__ADS_1