Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 150 : Lepaskan aku.


__ADS_3

Naya semakin mencengkram lengan Justin. Hingga tidak sadar kuku-kukunya menancap, membuat lengan pria itu berdarah. Sakit, tidak seberapa rasanya untuk Justin. Yang membuatnya marah adalah Naya yang sudah berani menyentuh tangan nya, bahkan membuatnya berdarah.


Berani nya dia, kurang ajar! Batin Justin. Ia tersenyum menyeringai.


Naya tersentak dan tersadar, jika dia sudah melukai tangan Justin. Naya menatap tangan nya yang bergetar karena berlumuran darah. Dia sangat syok.


"Naya," teriak Killa, ketika Naya berlari menjauhi mereka. Entah kemana gadis itu pergi. Naya tetap tidak mau berbalik meskipun dipanggil oleh Killa.


"Nona Naya." Ken beranjak dan hendak mengejar Naya. Namun di tahan oleh Killa.


"Biarkan dia sendiri Ken," ucap Killa pada Ken.


"Tapi Nona, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Nona Naya." Ken menatap nanar kepergian Naya, dia begitu khawatir.


"Dia akan membaik secepatnya," sahut Killa lagi.


Justin yang melihat kekhawatiran di wajah Ken. Malah tertawa pelan seperti meremehkan. "Ternyata ada kisah cinta antara asisten pribadi dan adik ipar bos nya," sindirnya.


"Apa anda mengatakan sesuatu Tuan Justin?" tanya Ken pada Justin. Karena dia jelas mendengar sindiran pria itu.


"Tidak, saya tidak mengatakan apa-apa." Justin tersenyum miring.


"Saya permisi sebentar," pamitnya sembari beranjak dan berjalan meninggalkan meja tersebut. Justin berencana untuk membersihkan lukanya dan mengganti pakaian.

__ADS_1


Setelah selesai ia pun kembali ke pesta. Namun saat melewati koridor depan. Matanya tak sengaja menangkap sosok yang familiar tengah berdiri di pinggiran pagar. Menatap ke arah jalan raya yang jauh dibawah sana. Bahkan kendaraan yang melintas terlihat kecil seperti miniatur.


Entah kenapa Justin malah melangkah kan kaki mendekatinya. "Apa yang kau lakukan disini?"


Sosok itu ternyata adalah Naya. Gadis itu tersentak kaget dan langsung menoleh. "Ka-kau, mau apa kau disini?" ucapnya terbata-bata.


"Ada apa? Kenapa kau jadi gugup dan ketakutan. Dimana gadis yang tadi dengan lantangnya melawan diriku, bahkan dia sempat melukai tanganku?" Justin tersenyum menyeringai sembari melangkah lebih dekat.


Naya menelan salivanya yang keras seperti batu. Tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin saking takutnya dengan Justin. Seiring langkah Justin yang semakin dekat, saat itu juga Naya mundur kebelakang. Dilihatnya pagar sudah semakin dekat, dia ketakutan bagaimana jika dia terjatuh ke bawah sana.


"Jangan mendekat," teriak Naya dengan bibir yang pucat, keningnya basah oleh peluh.


"Kenapa? Apa sekarang kau takut, karena disini tidak ada malaikat penyelamat mu?"


"Apa maksudmu?"


"Maksudmu Ken? Aku tidak menyukainya, plis jangan menganggu ku."


Air mata Naya sudah mengalir, dia semakin ketakutan. Justin pun tertawa menyeramkan, membuat bulu kuduknya seketika merinding.


"Hahaha, bukan kah kau duluan yang menggangguku tadi."


Justin mencengkram leher Naya hingga tubuh gadis itu setengah keluar dari pagar. Naya panik dan ketakutan, tinggi sekali. Jika ia terjatuh, tubuhnya akan terhambur berserakan di tanah.

__ADS_1


"To-tolong, lepaskan aku." Naya mencoba melepaskan cengkraman tangan Justin di lehernya.


"Tidak akan, kau harus membayar akibat luka yang akan membekas selamanya ini," teriak Justin dengan mata melotot yang merah.


"A-ku ti-dak bi-sa ber-nafas," ucap Naya terbata-bata. Dia tidak bisa bernafas. Matanya pun mulai ber kunang-kunang, dan akhirnya tertutup.


Justin pun tersadar dan langsung melepaskan cengkraman nya. Karena terlalu terbawa emosi dia hampir membuat Naya kehilangan nyawanya. Padahal awalnya dia hanya ingin menggeretak gadis itu. Agar tidak berani melakukan hal tadi, apalagi di depan semua orang.


Naya terjatuh di lantai. Ia terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang memerah bekas tangan Justin. Dia kira hari ini adalah hari kematiannya. Mati ditangan mantan pacar sang kakak, adalah hal yang paling ia takuti.


"Kau tidak apa-apa?"


Naya terkejut saat merasakan sepasang tangan memegangi pinggulnya. Lalu membantunya untuk berdiri. Naya menoleh, dan tak sengaja pandangan keduanya saling bertemu.


Deg Deg Deg!


Jantungnya berdegup kencang. Ada apa denganku? Tatapan nya membuat perasaan ku tak menentu! Ada apa sebenarnya. Batin Naya.


Dia pasti sangat ketakutan, karena perlakuan ku tadi! Batin Justin.


Justin melepaskan tubuh Naya, dan langsung mendorong gadis itu. "Ambil itu, tutupi memar merah itu."


Ia melempar sebuah syal kepada Naya. Memerintahkan gadis itu untuk mengenakan nya, menutupi memar akibat cengkraman nya.

__ADS_1


"Ayo masuk, kakak mu akan cemas jika kau terlalu lama pergi." Justin melangkah pergi meninggalkan Naya.


...🌹 Jangan lupa like 🌹...


__ADS_2