
Di dapur, Marvin tengah membuatkan sesuatu untuk Killa. Namun tiba-tiba saja Naya datang dan menyapa nya. "Kakak ipar," ucap Naya.
Marvin menengadah menatap ke arah sumber suara. Ia tersenyum, " Nay, kau belum tidur? Besok kau masih harus ke sekolah bukan?"
"Hmm, aku tidak bisa tidur kak," jawab Naya lirih sambil menatap ke arah lain, menghindari tatapan mata Marvin.
"Tidur lah sana, tidak usah mencemaskan kakak mu. Ada aku yang akan menjaganya, dia sudah lebih baik kan," ucap Marvin.
"Benarkah?" ucap Naya bersemangat mendengar ucapan Marvin tentang kakak nya.
Marvin hanya mengangguk dan tersenyum, sembari mengaduk isi gelas menggunakan sendok.
"Syukurlah, kalau begitu aku bisa tidur nyenyak. Kakak ipar terima kasih, aku senang bisa memiliki kakak ipar sepertimu." Naya langsung menghambur memeluk Marvin.
"Terima kasih banyak kakak ipar," sambungnya.
"Sama-sama, pergilah istirahat. Oh iya ini untuk mu, jangan lupa dihabiskan." Marvin melepaskan pelukan Naya dan memberikan satu gelas minuman hangat yang ia buat kepada Naya.
Naya meraih gelas tersebut lalu berjalan beberapa langkah, kemudian berbalik kembali. "Kakak ipar terima kasih," ucapnya seraya membungkuk hormat. Setelah itu ia pun tertawa dan berlari masuk ke dalam kamarnya.
"Cih, dasar anak nakal. Mau berterima kasih tapi tidak sungguh-sungguh." Marvin tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala, melihat tingkah Naya.
Ia pun segera membawakan minuman hangat untuk Killa ke dalam kamar. Ketika membuka pintu kamar, Marvin langsung terpandang ke arah Killa yang tengah tersenyum padanya.
Langkahnya sempat terhenti karena tertegun betapa manisnya senyuman Killa. Terbesit di benaknya sosok Killa yang sangar dan kejam. Sebenarnya di balik sosok nya yang seperti itu ada sisi wanita yang lembut dan lemah dalam dirinya.
Aku akan selalu ada untuk mu Killa! Batin Marvin.
Marvin berjalan menghampiri Killa. Ia duduk dipinggiran tempat tidur dan memberikan gelas minuman itu pada Killa. Dengan senang hati Killa menerima nya.
__ADS_1
"Minumlah, agar tubuhmu hangat," ucap Marvin.
"Terima kasih," sahut Killa sembari meminum nya.
Tangan nya terulur mengusap lembut pucuk kepala Killa. Andai saja waktu bisa diputar, ia berharap bertemu dengan Killa lebih awal. Marvin ingin menjadi orang pertama yang ada di hati Killa bukan Justin. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada seseorang di dunia ini yang bisa memutar atau mengulang kembali waktu. Cukup menatap dan melangkah kedepan, menjalani kehidupan yang lebih baik lagi.
"Besok kau tak harus pergi bekerja," ucap Marvin.
Killa mengerinyit heran, "Memang nya kenapa? Apa aku dipecat?" tanya nya.
"Aku hanya tidak mau--," ucapan Marvin terhenti.
"Hei, apa kau lupa? Aku adalah Killa, Killa Roses. Aku tidak selemah yang kau pikirkan Tuan Marvin Louis. Aku tidak akan tenang jika belum mengetahui siapa orang yang sudah mengekspos kehidupan pribadi ku." Killa menatap lurus ke depan dengan mata yang berapi-api dan tangan yang mengepal.
"Baiklah, jika itu mau mu." Marvin beranjak dan berjalan ke sisi lain tempat tidur.
Killa mengerinyit heran melihat sikap Marvin. Biasanya dia akan bersikeras tidak ingin di bantah. Namun kenapa kali ini dia langsung mengiyakan ucapan Killa.
"Apa ada yang salah denganku?" jawab Marvin.
"Tidak, maksudku kau biasanya tidak seperti ini."
"Aku seperti apa?"
"Kau, kau biasanya marah jika aku membantah. Tapi mengapa sekarang kau baik-baik saja dengan itu? Kau sudah tidak perduli lagi padaku?"
"Cih, dasar gadis bodoh! Aku merasa serba salah padamu, aku marah salah, tidak marah juga salah? Jadi aku harus bagaimana?"
"Aku merasa kau sudah tidak perduli lagi padaku."
__ADS_1
Killa menekuk wajah nya dan memalingkan nya ke arah lain. Marvin tertawa lalu menarik Killa ikut berbaring dan memeluknya erat.
"Kenapa kau akhir-akhir ini selalu bersikap manja padaku?" tanya Marvin.
"Aku? Aku bersikap manja? Hahaha, tidak mungkin." Killa tertawa sumbang tak percaya dirinya dibilang manja.
"Aku serius, awalnya aku juga tidak percaya. Tapi kau terus-terusan bersikap manja padaku." Marvin mencubit hidung Killa.
"Hahaha, itu perasaanmu saja." Lagi-lagi Killa menepisnya.
"Terserahlah, aku mengantuk. Berdebat dengan mu tidak akan ada habisnya. Kau bukan hanya gadis bodoh, tapi kau juga sangat cerewet."
"Apa kau bilang?" Killa membalikan tubuhnya, lalu menatap sengit wajah Marvin.
"Apa?" tanya Marvin yang ditatap sengit oleh Killa. Gadis itu tak menjawab dan terus menatapnya dengan seperti itu.
Marvin pun dengan cepat memajukan wajahnya, lalu mencium bibir Killa. Membuat Killa tersentak kaget dengan wajah yang memerah.
"Itu hukuman karena kau sudah berani menatap ku seperti itu," ucap Marvin tersenyum miring.
"Kau sangat menyebalkan," gerutu Killa sembari memukul pelan dada Marvin.
"Ayo tidur," ucap Marvin seraya mendekap erat Killa.
Nyaman, itulah yang dirasakan oleh Killa. Ia semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Marvin. Tangan nya juga sudah melingkar memeluk balik tubuh Marvin.
"Ada aku disini, jadi kau tidak perlu merasa sendirian. Bersandar lah padaku jika kau membutuhkan sandaran. Aku akan selalu ada," ucap Marvin. Tangan nya mengelus-elus kepala Killa.
"Aku mencintaimu Marvin," sahut Killa.
__ADS_1
Marvin terkejut mendengar nya, ia tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku juga mencintaimu," ucap Marvin.
Mereka berdua pun terhanyut dalam kehangatan. Terlelap menuju alam mimpi masing-masing. Saling melengkapi satu sama lain dalam suatu hubungan dan menerima pasangan apa adanya. Akan membuat hubungan itu bertahan lama. Killa berharap ia tidak akan pernah berpisah dengan Marvin. Begitu pun sebaliknya, Marvin tidak ingin melepaskan Killa. Karena ia sudah sangat mencintai Killa, Killa adalah separuh nafasnya sekarang.