Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 140 : Makan malam seperti kuburan.


__ADS_3

Malam pun tiba. Suasana di meja makan terasa sangat sepi seperti kuburan dimalam hari. Hanya terdengar suara dentingan garpu yang diketuk-ketuk kan pada piring kaca tiada henti.


Huft!


"Kakak ipar, berhentilah membunyikan suara dentingan itu. Membuat telingaku lelah mendengarnya."


Naya menghela nafas dan menggerutui sang kakak ipar. Karena melihatnya yang sedang melamun. Dia tidak menyentuh sama sekali makanannya.


"Kakak ipar!" Naya berteriak mengagetkan Marvin.


Marvin tersentak dan menatap tajam kearah Naya. "Apa-apaan kau ini, kau mau membuatku terkena serangan jantung lalu mati? Dan membiarkan kakakmu menikah dengan pria lain? Jangan mimpi, aku tidak akan pernah melepaskan kakak mu ingat itu."


Naya mengerutkan dahinya. Ada apa dengan pria itu, mengapa dia mengatakan hal aneh. Padahal dia tidak mengatakan apapun yang menyambung kearah perkataan Marvin.


"Kakak ipar, aku rasa otak mu sudah benar-benar tidak berfungsi lagi. Karena rasa cintamu yang terlalu besar pada kakakku," ucap Naya menyeringai miring.


"Dasar anak kecil, kau tidak akan mengerti apa itu namanya cinta. Berhenti bersikap seperti orang dewasa."


"Cih, kau yang berhenti bersikap seperti anak kecil dan habiskan makananmu kakak ipar."

__ADS_1


Naya tak mau kalah dari Marvin. Begitu pun Marvin yang langsung menghentikan makannya. Lalu pergi meninggalkan Naya sendirian dimeja makan.


Naya hanya geleng-geleng kepala menatap kepergian kakak iparnya yang labil itu. Terkadang cinta membuat seseorang melupakan segala hal yang wajar, dan selalu melakukan hal gila setiap harinya. Sama halnya dengan kakak iparnya yang mulai berubah dari sifat asli sebelumnya.


Segera Naya menyelesaikan makan malamnya. Lalu menyusul Marvin yang berdiri melamun di balkon. Memandangi keindahan kota Seoul dimalam hari.


***


Marvin tidak bisa berhenti memikirkan Killa. Apa yang sedang dilakukan Killa disana dengan para karyawan. Terkadang dia juga merutukki para karyawan di departemen itu. Bisa-bisanya mereka tidak mengundang dirinya, walaupun hanya sekedar makan malam sederhana seperti itu.


"Memangnya mereka pikir aku ini apa? Bagaimana jika aku memotong gaji mereka, agar mereka tahu rasa. Tidak-tidak, aku akan menarik cuti liburan mereka saat tahun baru."


Akkhh!


Marvin mengacak-acak rambutnya dan berteriak frustasi.


"Kakak ipar, apa yang kau lakukan disini?" tanya Naya.


Marvin menghela nafas nya dan menjawab ketus, "Bukan urusanmu."

__ADS_1


"Cih, kau benar-benar sangat kekanak-kanakan kakak ipar." Naya mendekat dan berdiri berpegangan pagar balkon disebelah Marvin.


"Kau tahu kakak ipar, jika wanita tidak suka pria yang terlalu menyebalkan," ucap Naya.


"Apa maksdmu? Aku tidak menyebalkan," sahut Marvin. Ia merasa tidak terima jika yang dimaksud Naya pria menyebalkan adalah dia.


"Menyebalkan apa dulu, aku tidak menyebutkan jika pria menyebalkan itu adalah dirimu. Hahaha," ucap Naya lagi lalu tergelak.


"Berhenti mengejek ku," cetus Marvin.


"Baiklah, aku tidak akan mengejek mu lagi kakak ipar. Tapi apakah kau ingin aku beri tahu tips agar tidak menjadi pria menyebalkan bagi wanita?" Naya berbisik pelan.


Marvin menyipitkan matanya menatap Naya dengan penuh selidik. Gadis nakal itu sangat licik, dia pasti akan mengerjai dirinya lagi. Marvin tidak mau terus jatuh dalam jebakan Naya.


"Tidak perlu, lagi pula aku bukanlah pria yang menyebalkan," tolak Marvin dengan penuh percaya diri.


"Kau yakin kakak ipar?" Naya menyeringai.


Marvin kembali berpikir. Apa benar dia harus mendengarkan perkataan Naya lagi. Marvin menjadi tidak percaya diri. Mengingat dirinya tidak boleh kalah dari Justin dan juga June. Marvin mau dirinya menjadi satu-satunya pria yang sempurna di mata Killa. Tanpa kekurangan sedikit pun apalagi jika menjadi pria yang menyebalkan. Marvin tidak mau seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2