
Sedangkan disisi lain.
Killa berjalan memasuki mansion milik Kikan itu, tempat dimana dulu dia bekerja. Sambil memperbaiki letak topi nya, ia menoleh ke kiri dan kanan. Merasa ada yang tidak beres. Karena tidak ada penjaga yang menjaga di pintu gerbang. Bahkan disetiap sudut dimana biasanya ada penjaga, kini kosong tidak ada sama sekali orang.
"Kemana mereka semua?" gumam nya.
Perlahan ia membuka pintu besar yang terbuat dari baja berwarna emas itu. Ia terkejut melihat semua penjaga itu menunggu di dalam. Ketika ia masuk semua pandangan mereka tertuju padanya.
"Sial," pekiknya pelan.
Ia mencoba untuk tetap tenang. Meskipun saat ini ia dalam keadaan gugup dan panik. Waspada akan serangan yang mungkin datang dari arah mana saja.
"Dimana bos kalian?" tanya nya dengan berteriak.
Mereka tak menjawab dan hanya membuang muka ke arah lain. Killa mendengus kesal. Menarik nafas dalam-dalam lalu berjalan kearah salah satu pintu. Di bukanya perlahan dan memeriksa ke dalam ruangan itu.
Manik matanya menajam ketika mendapati sosok yang sangat ingin ia temui. Ia tersenyum miring menyeringai dan berjalan mendekati sosok itu. Wanita paruh baya yang tengah duduk santai di atas meja kaca. Sambil menyesap sebatang rokok yang terselip di jari lentik nya. Ialah Kikan.
"Killa, sudah lama kita tidak bertemu?" sambut Kikan.
"Hahaha." Ia tergelak. " Benar, aku sangat merindukanmu. Sampai-sampai tangan ku ini sudah tidak sabar ingin meremas isi perut mu."
Raut wajah Kikan berubah masam. "Dasar jalang, kau masih saja tetap angkuh."
"Baiklah, aku tak ingin ber-basa-basi terlalu lama, karena melihat wajahmu membuat ku ingin muntah," ucap Killa.
"Cih, kurang ajar. Kau memang gadis tidak tau terima kasih. Ingat dulu siapa yang mau menampung mu dan adik mu. Sekarang kau sudah menjadi Marvin Louis malah sombong dan angkuh."
"Ini hidup ku, dan apa pun yang aku jalani adalah pilihan ku sendiri. Kau tidak berhak ikut campur, bahkan merusak nya sekali pun. Aku tidak akan membiarkan mu mempengaruhi ku lagi."
Namun tiba-tiba saja, terdengar suara ledakan yang sangat keras. Bahkan seisi mansion itu terguncang. Dinding-dinding retak dan kaca pun pecah. Beberapa perabotan juga rusak. Seorang pria menerobos masuk ke dalam ruangan lalu menghampiri Kikan.
"Bos, ruangan brankas meledak dan terbakar," lapor pria itu pada Kikan.
"APA?" Kikan terkejut dan berteriak. Ia menjadi panik. Bagaimana tidak jika di ruangan yang meledak itu, adalah tempat dimana ia menyimpan uang dan emas-emas nya.
Killa tertawa nyaring membuat pandangan mata tertuju padanya. Dengan langkah lebar Kikan berjalan menghampiri Killa. Lalu di cengkram nya kuat leher Killa. Hingga tubuhnya terdorong kebelakang menabrak dinding.
"Bisa-bisanya kau melakukan itu padaku," ucap Kikan dengan rahang keras dan wajah memerah.
"Itu salah mu sendiri, jika kau tidak main-main dengan ku. Mungkin aku tidak akan melakukan nya, terima balasan dari ku atas kebohongan yang kau buat. Hebat juga, kau mempengaruhi Nona Hanna untuk menyerang ku."
Seketika rambut Killa dijambak membuat kepalanya terdongak ke atas. Kikan pun menodongkan pisau di leher Killa. "Aku akan membunuhmu sekarang juga, AKU AKAN MEMBUNUHMU." Kikan berteriak.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
__ADS_1
Killa berhasil melepaskan diri dan balik memukuli Kikan. Wanita itu tersungkur lemah dilantai. Tak menunggu lama Killa berlari mendekati Kikan. Tangan nya mengayun menusukkan pisau yang tadi Kikan pake untuk menodong nya ke perut pemilik nya.
"Errghh!" Kikan meringis pelan. Lalu memuntahkan darah dari mulutnya. Dia mencengkram bahu Killa dengan kuat. Membuat Killa menahan sakit.
Killa tersenyum menyeringai. "Bagaimana rasanya?"
Tiba-tiba saja.
"Gerry, ayolah tolong bantu aku kali ini saja. Aku sangat membenci Bos Kevin. Dia harus menerima akibatnya karena telah menghamili Anna. Dia juga tidak pantas untuk Nyonya Bos."
Sebuah rekaman suara di putar oleh Kikan dari ponselnya. Membuat Killa tercengang, ia mengenali suara tersebut. "Papah Arsen?" lirihnya.
Ia pun merampas ponsel itu dari tangan pemilik nya. Lalu mendengarkan kelanjutan rekaman itu dengan seksama.
"Apa kau serius? Kau tahu Bos Kevin pasti akan membunuh kita berdua. Jika dia tahu bahwa kau meminta ku untuk bersekongkol mengkhianati nya." -Gerry.
"Aku tidak perduli. Kau pasti akan membantuku bukan? Kita sudah lama berteman, bahkan sebelum Bos Kevin merekrut kita berdua." -Arsen.
"Baiklah." -Gerry.
Rekaman selesai.
"Ayah," lirihnya sembari meringsut memegangi kepalanya. Ia menggeleng dan melirik ke arah Kikan. Wanita itu tersenyum miring dengan raut wajah menahan sakit.
"Kau kira kau bisa terus bersama dengan Marvin? Jangan harap, ayah mu adalah orang paling berdosa yang telah membunuh ibunya Marvin."
"DIAM KAU BRENGSEK," teriak Killa seraya ia menendang kuat wajah Kikan hingga terjungkal balik.
Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing, pandangan nya berputar. Cepat-cepat ia berpegangan dengan sebuah bangku agar tidak terjatuh ke lantai.
"Heh, aku tidak sabar melihat reaksi Marvin jika dia tahu. Bahwa mertuanya lah yang membunuh ibunya."
Lagi-lagi Killa merasa geram. Ia kembali menendang Kikan dan menginjak-injak nya di lantai. Kikan pun pingsan tidak sadarkan diri.
Killa pun segera berlari keluar dari mansion itu. Di halaman besar ia berlari sambil menangis menuju pintu gerbang. Ledakan kembali terdengar, beberapa detik kemudian. Mansion mewah itu meledak dan terbakar. Killa yang masih dalam jarak dekat. Terhempas ke tanah, ia menoleh kebelakang.
"Itu tidak mungkin, ayah ku tidak membunuh ibunya Marvin. "
"Aaaghhh, brengsek."
Killa mencengkram rerumputan hijau itu. Lalu mencabik-cabik nya. Ia menangis sekeras mungkin. Berteriak memaki, mengumpat, bahkan meraung seperti orang gila.
"Kenapa? Kenapa ya tuhan, kenapa kenapa kenapa? Kau sungguh tidak adil padaku? Jika kau tahu ini akan terjadi, kenapa kau buat aku jatuh cinta padanya? Aku sangat mencintai nya? Aku tidak akan sanggup jika harus meninggalkan nya. Hiks hiks hiks."
"Katakan padaku, kenapa kau buat aku bertemu dengan nya? Kenapa kau buat hatiku yang keras ini luluh pada nya? Sekarang? Apakah aku pantas untuk menerima cintanya yang tulus? Jika dia tahu aku adalah anak dari pembunuh ibunya? Apa yang akan dia lakukan?"
"Hatiku sakit, sangat sakit. Apa lagi dengan nya? Aku tak sanggup harus menyakiti hatinya yang rapuh dengan kebenaran ini. Dia pasti akan membenciku."
Dia terus menangis dan berteriak. Membayangkan betapa sakitnya hati Marvin jika tahu yang sebenarnya. Ia belum siap untuk pergi meninggalkan Marvin. Bahkan tidak akan pernah siap, karena dia begitu mencintai Marvin. Separuh hidupnya sekarang milik Marvin.
__ADS_1
"KILLA!" teriak seseorang dari arah pintu gerbang.
Deg!
Suara yang familiar, Killa langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia terkejut melihat Marvin yang tengah berlari menghampirinya. Raut wajahnya sangat jelas menampakan sebuah kecemasan.
"Marvin," lirih nya tersenyum. Namun sedetik kemudian senyuman itu luntur. Mengingat kenyataan pahit tentang ayahnya yang telah membunuh ibunya Marvin. Perasaan bersalah yang teramat-amat dalam. Menghampiri hati Killa, membuat dadanya berdenyut-denyut.
Dor!
Dor!
Dor!
Suara tembakan terdengar beberapa kali. Seiring dengan suara Killa yang berteriak memanggil nama Marvin.
"TIDAK, MARVIN."
"TIDAK."
"TIDAK."
Killa berlari dengan cepat menghampiri Marvin yang telah terbaring lah di tanah. Dengan luka tembak di lengan dan dadanya.
"Marvin, bertahanlah. Buka matamu tetaplah bangun."
Dengan tangan gemetaran Killa merebahkan kepala Marvin di pahanya. Dia juga memegangi dada Marvin yang mengeluarkan banyak darah.
"Tuan Marvin." Ken terkejut melihat Marvin yang dalam keadaan mengerikan.
"Ken, Ken tolong Marvin. Ken cepat tolong Marvin. Aku tidak mau dia mati. Ken plis tolong Marvin. Hiks hiks hiks." Killa tidak sadar sudah memohon sambil terisak-isak pada Ken.
Ken pun segera berlari ke mobil dan menghubungi tim penyelamat.
Sedangkan Killa tak berhenti menggenggam tangan Marvin yang sedingin es. Bibirnya pucat dan matanya tertutup rapat.
Killa semakin menggila. Ia menggerak-gerakkan tubuh Marvin, dan memeluknya. Sambil menangis dan meraung. "Marvin bertahan lah, buka matamu. Tetaplah bersamaku."
Marvin pun membuka matanya perlahan dan tersenyum. Tangan nya meraih pipi Killa. Lalu mengusap nya dengan lembut. "Jangan menangis gadis bodoh, aku baik-baik saja," ucapnya dengan suara lemah.
"Marvin, bertahan lah. Aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku." Killa meraih tangan Marvin yang mengelus pipinya.
Mata Killa membulat dan menajam. Ketika merasakan tangan yang ia genggam mulai melemas dan terjatuh ke tanah. Seiring dengan mata Marvin yang mulai tertutup.
"MARVIN, TIDAK JANGAN TUTUP MATAMU. TETAPLAH BERSAMAKU."
"MARVIN."
"Hiks hiks hiks," Killa semakin meraung dan terisak. Sampai dadanya terasa sesak. Melihat orang yang dia cintai terluka parah seperti itu. Killa tak kuasa menahan air mata yang terus menerus keluar dengan derasnya.
__ADS_1
...🌹 Jangan lupa like, mohon pengertian nya yah. Mengingat bulan ramadhan, banyak sekali kegiatan Author. 🙏🏻🙏🏻🌹...