Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 179 : Tidak sadar seminggu.


__ADS_3

Tap tap tap!


Langkah kakinya terasa lemah dan berat. Pandangan nya juga kosong menatap arah depan. Seakan separuh dari jiwanya sudah menghilang. Keluar dari pintu utama rumah Justin. Marvin berjalan lunglai ke arah mobilnya yang terparkir sembarangan di pekarangan rumah mewah itu.


Dadanya naik turun, bernafas dengan lambat. Menahan sesuatu yang sangat-sangat sesak di dalam dirinya. Bergoyang, ia menatap jalanan yang seperti ombak di lautan. Membuat kepalanya pusing, pandangan nya juga mengabur. Belum sempat ia mencapai mobil, kakinya sudah lemas dan tidak sanggup menahan berat tubuhnya. Alhasil ia terjatuh di tanah. Buram-buram ia sempat melihat wajah Killa sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.


***


"Marvin." Seorang wanita memanggilnya dengan sangat lembut.


"Killa." Ia terkejut ketika membuka mata melihat sosok yang sangat ingin ia temui.


"Kau kemana saja? Aku sangat mencemaskan mu, kenapa kau pergi tanpa memberikan aku kesempatan." Langsung ia memeluk erat wanita yang sangat ia cintai itu.


"Aku tidak pergi."


Ia melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Killa. Menyentuh keseluruhan nya sambil berkata, "Apa ini nyata?"


"Menurutmu bagaimana Vin? Hanya kau yang tahu apakah ini nyata atau tidak," jawab Killa tersenyum sangat indah padanya. Membuat ia menghela nafas lega dan kembali memeluk Killa dengan erat. Seakan enggan untuk melepaskannya.


"Maafkan aku, maafkan aku yang sudah membuatmu terluka. Aku salah, aku sadar jika air matamu begitu berharga. Melihatmu menangis membuat ku ikut tersiksa, aku minta maaf. Aku mohon jangan tinggalkan aku," ucapnya dengan begitu lirih.


Killa melepaskan pelukan nya. Lalu mengelus lembut pipinya dan tersenyum. "Maaf, tapi aku sudah tidak bisa seperti ini lagi. Terlebih kau pasti mengingat dengan jelas, jika pernikahan kita tidaklah nyata. Pernikahan ini hanya kontrak sementara. Tidak ada yang perlu disesali, maaf, aku harus pergi," ucap Killa.


Deg!


Matanya membulat dan dadanya berdenyut. Mendengar perkataan yang Killa lontarkan. Killa beranjak dan berjalan mundur menjauhinya. Tangan Marvin terulur ingin menggapai Killa yang semakin menjauh.


"Killa, Killa, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, KILLA!" teriaknya berkali-kali. Ingin mengejar namun kakinya terasa membeku tidak bisa bergerak sama sekali.


"TIDAK, KILLA KEMBALI LAH, PLISS! AKU MOHON JANGAN TINGGALKAN AKU, KILLA!"

__ADS_1


Killa semakin menjauh dan menghilang di kilauan cahaya putih di depan sana. Membuatnya semakin menggila. Menangis sambil meraung-raung memanggil-manggil nama Killa. Mengatakan jangan tinggalkan dia, jangan pergi, maafkan kesalahan nya, betapa besar rasa cintanya. Namun tidak ada yang berubah, Killa tak kunjung muncul. Dia sudah pergi.


***


"KILLA!!!!!"


Dengan nafas tersengal-sengal dan kejutan mata yang terbuka lebar. Keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya. Pandangan nya tertuju pada langit-langit ruangan yang nampak sangat familiar.


Saat hendak mengusap keringat di wajahnya, ia terkejut. Mendapati punggung tangan nya yang dipasangi selang infus. Dia sadar jika dia sekarang ada di dalam kamarnya.


"Kau sudah bangun?"


"Ayah," ucapnya melihat Ayah Kevin yang berdiri tak jauh dari tempat tidurnya. Sedang berbicara dengan paman nya bernama Tara, yang profesi nya sebagai kepala rumah sakit Group Louis.


"Apa yang kau rasakan? Apa kepala mu terasa sakit?" tanya Paman Tara padanya.


Ia menggeleng dan mencoba untuk duduk. "Aku baik-baik saja, kenapa aku bisa ada disini? Aku ingat jika aku ada dirumah Justin," ucapnya.


Ayah Kevin dan Paman Tara membantunya untuk duduk. "Kau jatuh dan pingsan di depan rumah Tuan Justin," ucap Ayah Kevin memberitahunya.


"Jangan terlalu cepat untuk mencoba bangun dari tempat tidur. Tubuhmu bisa kembali lemah, apa kau mau kembali tertidur panjang?" ucap Paman Tara menasihati nya.


Ia mengerinyit tidak mengerti ucapan Paman Tara. Seper-kian detik kemudian dia langsung tersadar. "Jangan bilang ... " kata-katanya menggantung.


Ayah Kevin mengangguk dengan raut wajah merasa bersalah. "Kau tidak sadarkan diri selama seminggu penuh."


"Apa? Tidak mungkin." Ia terkejut setengah mati. Impossible, tidak mungkin pikirnya.


"Ayah mu benar, kau sudah terbaring dikamar ini selama seminggu penuh. Hasil dari pemeriksaan menyatakan, jika tubuh dan otakmu tidak sanggup menerima tekanan. Hingga membuatnya drop dan berhenti bekerja selama beberapa hari. Paman tahu masalah mu dengan istrimu, dan paman yakin. Jika penyebabnya tekanan itu berasal dari masalah kalian ini. Paman harap kau juga harus memperhatikan kondisi tubuhmu Marvin. Dari kecil kau memang sangat lemah di organ bagian dalam tubuhmu, karena kelahiran prematur. Jadi jangan buat otak mu berpikir keras yang mengakibatkan tubuhmu ikut melemah," jelas Paman Tara panjang lebar, dengan penuh perhatian.


Ia diam mendengarkan penjelasan dari Paman Tara. Yang sekarang ia pikirkan bukan lah kesehatan nya. Melainkan sosok yang baru saja dia temui dalam mimpi. Killa, dimana dia sekarang? Satu-satunya orang yang bisa membuatnya pulih hanya Killa.

__ADS_1


"Dimana Ken Ayah?"


"Ken ada diluar, apa kau mau bertemu dengan nya?"


"Panggilkan dia masuk!"


Ayah Kevin pun memanggil Ken masuk untuk bertemu Marvin.


"Apa kau sudah menemukan nya?" tanya nya pada Ken.


"Maaf Tuan, saya tidak berhasil melacak keberadaan Nona Killa." Ken menunduk merasa sangat tidak berguna. Karena tidak bisa menemukan keberadaan Killa untuk membantu Tuan nya.


"Sial, kenapa kau tidak bertanya pada Justin?" Ia berteriak membentak Ken. Membuat Ken tersentak sedikit. Ia hanya bisa menunduk.


"Tuan Justin selalu mengelak, dan berkata jika dia tidak tahu kemana Nona Killa pergi. Maafkan saya Tuan, saya tidak becus dalam bekerja. Saya siap menerima hukuman." Ken menjawab dengan sigap dan tanggap.


Huft!


Ia menghela nafas dan menutup matanya sekejap. "Pergilah, kau tidak salah. Terima kasih sudah bekerja keras," perintahnya.


Ken terkejut, matanya berkaca-kaca mendengar nada bicara Marvin yang putus asa. "Tapi Tuan ... "


"Pergilah Ken, lakukan tugas mu yang lain. Masih banyak pekerjaan kantor yang harus kau tangani." Ia kembali membentak Ken.


"Siap Tuan." Ken pun segera pergi dari ruangan itu.


Sepeninggal Ken, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Wajahnya begitu pucat dan rambutnya berantakan. Ia menyandarkan kepala dan menutup matanya.


Dari sudut matanya keluar cairan bening. Menandakan betapa putus asa nya dirinya kali ini. Apa yang harus dia perbuat? Kemana dia harus mencari Killa? Dengan kondisi tubuhnya yang begitu lemah, dia tidak bisa berbuat apa-apa?


Sakit dan sesak di dadanya semakin terasa. Berkali-kali ia menghela nafas, untuk mencegah tangisan nya di depan ayah dan paman nya.

__ADS_1


Sedangkan Ayah Kevin dan Paman Tara yang melihat Marvin seperti itu. Sungguh tidak tega, mereka juga merasa kasihan pada Marvin. Ternyata di balik sifat dingin Marvin, terselip sifat tangguh dan bijak sana Mia ibunya di dalam nya. Meskipun dia begitu putus asa dan ingin marah karena tidak bisa menemukan sang istri. Tapi dia tidak mau melampiaskan amarah nya itu kepada siapapun, termaksud Ken asisten pribadinya. Dia tetap bersikap bijak sana dan mencoba setenang mungkin walau tidak bisa sepenuhnya.


...🌹 Jangan lupa VOTE biar makin semangat Update nya🎉🎉🎉🌹...


__ADS_2