
Keesokan harinya.
Marvin berdiri di depan kaca wastafel kamar mandinya. Dengan memakai celana kain hitam, kemeja hitam, dan sepatu hitam. Marvin bersama keluarga, mengantarkan Papah Arsen ke peristirahatan terakhirnya.
Setelah semua orang pergi. Di depan gundukan tanah dengan pusara yang bertuliskan nama Papah Arsen. Marvin bertekuk lutut memandangi bingkai gambar wajah Papah Arsen.
Setetes air matanya terjatuh ketanah. Ia pun membuka kaca mata hitam yang ia kenakan. Lalu mengusap sisa air mata menggunakan sapu tangan nya. Kemudian mengenakan kembali kaca mata hitam itu, untuk menutupi kesedihan nya dari orang lain.
"Aku berharap di kehidupan selanjutnya, aku dan kau bertemu di usia dan angkatan yang sama. Agar aku bisa memarahi bahkan memukulmu jika kau mengambil jalan yang salah. Semoga kau tenang disana," ucapnya tersenyum, dengan penuh harapan.
Marvin pun beranjak dari tempat itu. Ia bergegas menyusul yang lain nya ke mobil. Di dalam mobil sudah ada Mamah Anna dan Ken yang menunggunya. Ia duduk di kursi penumpang belakang bersama dengan Mamah Anna.
Sedih ia melihat Mamah Anna yang terus menangis. Sampai-sampai wajah cantik nya menjadi kusam dan berantakan.
"Mah," panggilnya lembut. Seraya meraih dagu Mamah Anna.
"Berhentilah menangis, Papah Arsen akan sedih jika melihatmu seperti ini." Ia mengusap air mata Mamah Anna yang terus mengalir.
"Bagaimana bisa Vin? Aku benar-benar tidak pernah menyangka akan ditinggal olehnya secepat ini?" ucap Mamah Anna dengan penuh emosional.
"Iya Marvin tahu Mah, tapi jika kita terus berlarut dalam kesedihan. Papah Arsen akan semakin tersiksa. Seharusnya kita bersyukur, paling tidak Papah Arsen tidak akan merasa kesakitan lagi. Dia sudah terbebas dari penyakitnya," jelas Marvin mencoba menenangkan Mamah Anna.
"Tapi Vin, dia meninggalkan Mamah sendiri."
"Hussstt." Marvin menutup mulut Mamah Anna menggunakan jarinya. "Mamah tidak sendiri, masih ada Marvin dan Gavin. Yang akan selalu ada buat Mamah."
Mamah Anna menatap lekat manik mata Marvin. Ia sangat bersyukur memiliki anak yang begitu perhatian seperti Marvin. Meskipun dia bukan ibu kandung Marvin, tapi Marvin selalu bersikap baik kepadanya.
"Terima kasih sayang, Mamah sangat bahagia memiliki kalian berdua." Mamah Anna mengelus kepala Marvin dan memberikan kecupan hangat dikening nya.
"Mamah bisa tinggal bersama Marvin disini," ucap Marvin.
__ADS_1
"Tapi Gavin ... " kata-kata Mamah Anna menggantung.
"Mamah tidak perlu khawatir, Gavin sudah besar dia tidak perlu perhatian dari mamah lagi. Terlebih dia sekarang sudah punya Reghata. Yang kurang perhatian itu adalah Marvin."
Mamah Anna mencubit pipi Marvin. "Kau ini, jangan bilang seperti itu. Baiklah, Mamah akan memikirkan nya."
"Marvin juga sudah bicara pada Gavin dan Ayah, mereka setuju jika Mamah tinggal bersama Marvin disini."
Mamah Anna mengalihkan pandangan nya, menatap sendu ke arah luar jendela. Marvin mengerinyit, apakah ada yang salah dengan perkataan nya?
"Marvin akan membeli sebuah rumah untuk kita tinggali, karena Marvin tahu Mamah tidak akan suka tinggal di sebuah Apartemen bukan?"
Mamah Anna pun menoleh kembali ke arah Marvin. "Bagaimana dengan Killa?" tanya Mamah Anna tiba-tiba.
Marvin terdiam dan menarik nafas panjang. Memalingkan wajahnya keluar jendela, karena tak ingin memperlihatkan kesedihan nya pada Mamah Anna. Jika berbicara tentang Killa, jujur saja Marvin tidak akan sanggup menahan air matanya.
"Maafkan Mamah," lirih Mamah Anna, merasa bersalah.
"Kecewa?"
"Marvin kecewa karena sampai sekarang belum bisa menemukan Killa. Jika saja waktu itu Marvin tidak egois, dan mau memaafkan. Pasti semua nya tidak akan menjadi seperti ini."
Mamah Anna meraih wajah Marvin. Di usapnya air mata Marvin yang sedikit lagi menetes dari pelupuk mata. "Bersabarlah, Mamah yakin kau dan Killa sudah ditakdirkan satu sama lain. Kalian akan bertemu secepatnya," ucap Mamah Anna.
Marvin mengangguk, dan langsung memeluk Mamah Anna. Punggungnya di usap-usap dengan lembut oleh Mamah Anna. Membuat dirinya sedikit merasa nyaman.
Namun tiba-tiba saja.
Drrt drrt drrt!
Ponsel Marvin bergetar. Segera ia merogoh sakunya. Menggerinyitkan keningnya melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
__ADS_1
"Justin?"
Marvin pun menerima panggilan tersebut dan menempelkan benda pipih itu di daun telinganya. "Halo!"
"Ya, bagaimana kabar mu?" tanya Justin.
"Ada apa? Tidak perlu ber-basa-basi," sahut Marvin ketus.
"Baiklah, aku langsung pada inti nya saja. Apa kau mau bertemu dengan Killa?"
Seketika mata Marvin membulat dengan tangan yang mengepal. "Marvin," ucap Mamah Anna memegang tangan Marvin.
"Apa maksudmu? Apa kau selama ini tahu dimana Killa berada?" tanya Marvin dengan nada sedikit meninggi.
"APA?" pekiknya kemudian.
"Ken, siapkan Jet pribadi!" perintahnya pada Ken.
"Marvin ada apa sayang? Kenapa kau jadi panik?" tanya Mamah Anna melihat anaknya itu menjadi gusar.
"Maafkan Marvin Mah, nanti Marvin ceritakan setelah Marvin pulang dari Berlin."
"Berlin? Untuk apa kau pergi ke Berlin sayang?" tanya Mamah Anna lagi bingung.
"Untuk menjemput menantu mu," jawab Marvin dengan mata berbinar dan senyum yang merekah.
Mamah Anna pun memeluk Marvin. "Selamat sayang, Mamah doakan semoga perjalanan mu sukses. Berjanjilah untuk membawa Killa pulang."
"Pasti Mah, Marvin pasti akan membawa Killa pulang.
Killa tunggu aku, aku akan membawamu kembali. Aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi. Sampai kapan pun bahkan sampai aku mati, kau akan tetap menjadi milik ku! batin Marvin.
__ADS_1
...🌹 Jangan lupa like dan tinggalkan komentar 🌹...