Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 163 : Saham yang turun drastis.


__ADS_3

Sampai di sore hari nya. Killa tak kunjung kembali ke kantor. June yang merasa ada yang aneh, segera menghubungi Marvin. Memberitahukan nya tentang Killa yang meminta izin pergi siang tadi, lalu dengan darah yang dia yakini milik Killa.


Marvin yang mendengarnya pun menjadi panik. Ia meminta Ken untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Agar bisa segera pulang dan melihat keadaan Killa. Killa adalah hal yang paling utama untuk nya sekarang.


Meskipun dia juga sedang dalam masalah besar. Mengenai pertemuan tadi siang. Saham keseluruhan perusahaan Louis dan juga termasuk hotel-hotel milik nya turun drastis. Akibat berita mengenai masa lalu kelam seorang istri CEO Marvin Louis. Membuat gempar seluruh dunia. Namun ia masih sempat-sempatnya memikirkan keadaan Killa. Walau nasib perusahaan dan hotel-hotel nya sedang dalam keadaan kritis dan diujung tombak, kebangkrutan.


Ponselnya bergetar. Dengan helaan nafas panjang, ia meraih benda pipih itu lalu menempelkan nya di telinga.


"Halo," ucapnya.


"Marvin, ini ayah," sahut seseorang dari seberang panggilan. Ternyata itu adalah Ayah Kevin.


"Ayah." Ia menelan salivanya sambil menggaruk kepala belakangnya. "Ayah tidak usah khawatir, aku akan menangani nya."


"Biarkan Gavin menolong mu, pastikan masalah ini cepat selesai. Ayah tidak mau penilaian buruk mengenai keluarga kita berangsur lama."


"Baik Ayah."


Panggilan terputus. Marvin melempar ponselnya ke atas meja. Lalu ia mengusap wajahnya dengan kasar, merasa frustasi. Namun ia sadar, masih ada urusan yang lebih penting. Ia pun beranjak dan langsung bergegas keluar dari ruang kerjanya itu.


"Ken, lakukan yang terbaik." Ia menepuk bahu Ken sebelum akhirnya pergi meninggalkan pria itu.


"Baik Tuan," jawab Ken dengan sigap.


***


Keadaan di dalam kamar tidur. Killa sedang duduk di depan meja hias. Dengan mengenakan piyama mandi yang bagian kanan nya ia buka sedikit. Perlahan ia mulai mengobati luka akibat tusukan pisau yang dilakukan Hanna pada bahu kanan nya.


"Awwh shit!" pekik nya pelan. Menahan rasa nyeri ketika menempelkan kapas yang dibasahi alkohol pada luka tersebut.

__ADS_1


"Hanna brengsek," umpat nya. " Dasar wanita gila."


Namun tiba-tiba saja. Pintu kamar dibuka dengan kuat. Matanya membulat terkejut ketika melihat Marvin tengah berdiri di ambang pintu. Dengan cepat ia memperbaiki piyama mandi tersebut, agar lukanya tidak terlihat.


"Marvin."


Ia tersenyum dengan kikuk. Menyembunyikan rasa sakit yang ia rasakan. Tanpa berkata apa-apa Marvin langsung memeluk tubuhnya. Ia tersentak merasakan sakit di bagian lukanya. Namun ia tak bisa menjerit, melainkan hanya bisa menggigit bibir bawahnya.


"Ada apa?" tanya nya.


"Kau dari mana saja?" Marvin bertanya balik.


"Aku, aku tidak dari manapun." Mencoba menghindari tatapan menyelidik Marvin.


"Sejak siang kah tidak kembali ke kantor, ada apa dengan mu? Kau sangat aneh Killa, apa ada yang kau sembunyikan dariku?"


"Lepaskan aku, aku tidak menyembunyikan apa pun darimu." Ia melepaskan diri dari Marvin, lalu membelakangi pria itu.


"Aku sudah bilang, aku tidak apa-apa." Tetap tidak mau menatap wajah Marvin.


"Kau tahu, aku paling tidak suka dibohongi Killa. Apalagi jika di khianati, katakan sekarang atau aku akan mencari tahunya sendiri?"


Deg!


Bingung, jelas dia sangat bingung. Apa yang harus ia jawab. Ia tidak mungkin memberitahu Marvin tentang kebenaran yang belum terbukti tentang ayah nya.


"Aku ada janji, jadi jangan tunggu aku untuk makan malam. Tolong jaga Naya," ucapnya seraya melangkah pergi.


Namun langkahnya terhenti. Dadanya berdebar sangat kencang ketika Marvin memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Jangan pergi," lirih Marvin.


"Lepaskan aku Vin, aku tidak pergi kemana pun. Aku hanya ada janji malam ini."


"Aku tau, karena itu tetap lah dirumah dan jangan pergi kemana pun."


"Tidak bisa, ini sangat penting."


"Kalau begitu aku akan ikut bersama mu." Marvin membalikan tubuhnya dan menatapnya dalam-dalam.


Ia menggelengkan kepala, "Tetaplah disini dan pastikan Naya baik-baik saja."


"Dasar keras kepala." Marvin menarik tubuhnya dan mendekapnya sangat erat.


"Lepaskan aku Vin," ucap nya.


"Sebentar saja."


Ia pun membiarkan Marvin memeluk nya seperti itu. Tanpa sadar ia pun juga membalas pelukan Marvin. Merasakan kenyamanan yang begitu dalam. Berharap kenyamanan itu tidak akan pernah berubah atau pun hilang.


"Kalau begitu, bolehkah aku bertanya?"


Marvin merenggangkan pelukannya untuk bisa melihat wajah Killa. Namun ia tak ingin melihat wajah Marvin. Ia tetap mengeratkan pelukan nya.


"Apa?" ucap Marvin.


Ia menarik nafas panjang dengan ragu-ragu ia berkata, "Apa yang akan kau lakukan jika pembunuh ibu mu terungkap?"


"Apa maksdmu? Aku sudah tahu jika Papah Arsen yang telah membunuh ibuku." Nada suara Marvin terdengar tidak nyaman dengan pertanyaan Killa.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu teringat. Tapi bagaimana jika ada campuran tangan orang lain tentang kejadian waktu itu? Mungkin saja Papah Arsen sudah bersekongkol dengan orang lain?"


Ia yang berkata ia juga yang merasakan sesak. Dadanya seakan mau meledak, karena berdenyut kuat saat mengatakan hal itu. Bagaimana jika kebenaran nya memang seperti itu? Ayahnya lah yang telah membunuh ibu Marvin? Ia benar-benar merasa hancur, tidak tahu harus berkata apa lagi.


__ADS_2